Kembalikan, Kampung Halamanku…

August 11, 2008

Indra Piliang, Pulang sebagai Politisi

Filed under: Berita — indrapiliang @ 10:45 am

Sinar Harapan, Sabtu, 09 Agustus  2008

Indra Piliang, Pulang sebagai Politisi  


Jakarta– Mengalir bersama ombak itulah moto pengamat politik yang akhirnya terjun menjadi politisi. Indra Jaya Piliang, yang lahir 36 tahun lalu di Kampung Balacan, Kota Pariaman ini akhirnya memilih menjadi caleg Partai Golkar. Indra juga sudah pamit sebagai akademisi dan pulang sebagai politisi.

Mengapa memilih menjadi politisi? Indra mengatakan, menjadi pengamat tidak akan bisa mengubah keadaan, sekalipun penuh dengan idealisme yang meluap. “Pengamat hanya berada pada posisi pressure groups, tetapi bukan pengambil kebijakan,” kata aktivis tahun 1990-an ini.

Di Partai Golkar, Indra memilih Daerah Pemilihan Sumatera Barat II akan konsentrasi di daerah pemilihannya. Langkah awal itu di antaranya, dengan konsentrasi berupa perhatian yang lebih atas masalah di bidang kemasyarakatan dan pemerintahan yang berkenaan dengan daerah.

Selain itu, ia juga mendorong lahirnya UU tentang otonomi khusus Provinsi Minangkabau, yang berbasis konsep adat basandi syara, syara basandi kitabullah.

Bagi suami dari Faridhah Thulhotimah, dirinya tidak perlu menangisi pentas nasional yang tidak banyak politisi Minang berkarakter dan menonjol. Untuk Indra pentas nasional hanyalah pentas, kebutuhan yang paling real ada di desa-desa, dusun-dusun, nagari, parak, atau di tengah sawah, yakni manusia yang tersebar di banyak titik hidup.

“Kampung saya membutuhkan pembangunan yang humanis, selain tentu demokrasi yang sudah mengakar dan mendarah daging,” jelas Indra yang selama ini merupakan peneliti di CSIS.

Indra menuturkan, dirinya bergabung ke Partai Golkar terkesan mendadak dan tiba-tiba. Dirinya tetap yakin bisa menjadi diri sendiri setelah masuk partai yang dinilainya sebagai rumah partai nyaman.

Proses dua bulan untuk menjadi caleg dituturkan bermula dari tawaran Golkar, tapi pada akhirnya Indra mengajukan diri untuk bergabung. Indra menilai partai Golkar termasuk partai yang paling akomodatif atas ide-ide yang ditulisnya.
(ninuk cucu suwanti)

August 10, 2008

Pamit kepada Intelektual

Filed under: Berita — indrapiliang @ 10:04 am

1218056159b.jpg 

Indo Pos, Kamis, 07 Agt 2008,
Jadi Politikus, Indra Pamit kepada Intelektual

JAKARTA - Pengamat politik CSIS Indra Jaya Piliang secara resmi mendeklarasikan diri sebagai politikus. Dalam Pemilu 2009, dia dipastikan maju sebagai salah satu caleg Partai Golkar dari daerah pemilihan (dapil) II Sumbar. Di sana, dia akan menemui rival berat. Yaitu, Halida Nuriah Hatta, putri proklamator Mohammad Hatta yang maju dari Partai Gerindra.

Seremoni “pelepasan” Indra di Auditorium Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subaroto, kemarin (6/8) itu dikemas sederhana. Meski begitu, sekitar seratus sahabatnya dari kalangan akademisi dan aktivis LSM hadir.

Tampak, antara lain, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, pengasuh Republik Mimpi Effendy Ghozali, Wakil Ketua KPK Chandra Hamzah, peneliti senior LIPI Syamsudin Haris, peneliti senior The Habibie Centre Andrinof Chaniago, artis yang juga politikus Nurul Arifin, Direktur Eksekutif Formappi Sebastian Salang, Ridaya La Ode Ngkowe dari ICW, serta Koordinator Kontras Usman Hamid. Ada pula Abdul Ghafur Sangaji dan Amiruddin Ar Rahab.

Secara bergantian, mereka memberi testimoni terhadap sosok Indra. “Kalau Partai Golkar mengadakan welcome party buat Indra, acara kami ini justru menjadi semacam farewell party (pesta perpisahan, Red),” ujar Anies Baswedan bercanda.

Dia menuturkan, butuh keberanian besar bagi seorang pengamat yang kritis untuk menjadi politikus. Sebab, kata Anies, selama sepuluh tahun terakhir pascareformasi, banyak tokoh muda idealis yang “bertumbangan” setelah masuk ke wilayah politik praktis. “Saya hanya bisa berharap Indra survive, sukses dengan karir barunya, dan tidak mengalami krisis integritas,” tegasnya. (pri)

Penyala Lilin

Filed under: Berita — indrapiliang @ 10:00 am

Republika

2008-08-07 11:18:00

Bila Indra Memilih Menjadi Penyala Lilin

Pengamat politik CSIS, Indra Jaya Piliang, mengutip salah satu kalimat paling terkenal dari negarawan Soetan Syahrir. Kutipan itu ia letakkan di bagian akhir pidatonya sebagai pengamat politik. Sebab, sebentar lagi Indra akan menceburkan diri sepenuhnya menjadi politikus dan ingin berkantor di Senayan.

”Janganlah mengutuk kegelapan, mulailah menyalakan lilin,” kata Indra, Rabu (6/8) siang. Bersama pengamat ekonomi yang kritis soal utang luar negeri dan BLBI, Binny Buchori, dia menyatakan masuk menjadi kader Partai Golkar.Keduanya mengaku realistis. Mereka lelah berteriak tanpa didengar. Butuh pengorbanan tertentu untuk menyuarakan aspirasinya. Jadilah mereka masuk sistem politik dan menjadi calon legislatif.”Menjadi pengamat tidak akan bisa mengubah keadaan sekalipun penuh idealisme. Pengamat hanya berada di posisi pressure group bukan pengambil kebijakan,” ungkap Indra.

Apalagi, dia optimistis terhadap situasi politik saat ini. Di tengah kecaman demi kecaman melanda DPR dengan korupsi berjamaah dan pelecehan seksualnya, Indra mengaku masih menemukan sisi positif dari politik Indonesia.”Sejak konstitusi kita diubah maka mulai saat itu partai politik (parpol) menempati posisi sentral. Sehingga, harus benar-benar diisi politikus yang berkarakter,” tegas Indra.

Melepas status pengamat politik dari CSIS yang malang melintang menulis di berbagai media dan menjadi pembicara di ratusan seminar, Indra menggelar acara unik yang bertajuk ‘Indra J Piliang : Transformasi dari Analis Politik ke Politisi’.Tentu pertanyaannya mengapa ke Golkar? Indra mengaku ditawar banyak parpol. Sebelumnya, ia menjadi fungsionaris di Partai Amanat Nasional. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengaku kepincut Indra sejak 1,5 tahun yang lalu. Partai Matahari Bangsa pun ikut terpesona.

Indra akrab dengan Golkar sejak mengamati dari dekat Konvensi Nasional Golkar di Bali yang berlangsung beberapa waktu lalu. Di sana, kata dia, ternyata banyak pihak yang mendorongnya agar masuk ke Golkar. Bahkan, katanya, cendekiawan Azyumardi Azra melobi kalangan Golkar untuk menerima Indra. Begitu juga, Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, yang perlu mengirim SMS khusus ke Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla, terkait desakan kepada dirinya itu.

Pilihannya masuk Golkar makin kuat setelah sejumlah tokoh militer Golkar angkat kaki. Ia menyebut secara khusus Jenderal Wiranto dan Prabowo Subianto. ”Saya merasa lebih nyaman melihat pertarungan sesama elit sipil di Golkar berlangsung secara baik.”Diakui Indra, tak semua setuju ia masuk Golkar. Saat dia berbicara di podium dan mengatakan resmi menjadi calon anggota legislatif (caleg) di daerah pemilihan Sumatra Barat II untuk Golkar, sebagian rekannya yang tak rela sontak berteriak, ”Huuuuu … huuuuuu … huuuuu …. Masuk Golkar.”

Namun, sejumlah rekan lainnya memberi dukungan. Amiruddin ar Rahab, misalnya, mengatakan, ”Saya mendukung Indra bukan karena Golkarnya. Tapi, karena pilihan yang ia berani lakukan dan program yang akan ia lakukan.”Andrinof Chaniago yang dipanggil ‘uda’ oleh Indra mengaku spontan mendukungnya. Meski begitu, Andrinof mengaku tetap merasa cemas, apakah Indra cukup kuat iman menghindari godaan politik praktis. Ia lantas berpesan, Indra jangan menggunakan istilah politikus. ”Nanti, ia terjebak ke dalam wilayah yang banyak tikus-tikus politiknya,” kata Andrinof bercanda.

Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, mengatakan, Indonesia butuh lebih banyak Indra untuk masuk ke parlemen. Ia melihat Indra harus diberi kesempatan untuk membuktikan apa yang selama ini ia katakan sebagai politikus dan program yang disusunnya.Yang terakhir dan terpenting juga adalah dukungan keluarga. Istri Indra, Farida, secara mengejutkan didaulat maju untuk berkomentar. Perempuan mungil yang tampak malu-malu itu rela suaminya masuk ke sarang wakil rakyat.

”Tidak takut tercemar korupsi?” Farida menggeleng sambil tersenyum simpul. ”Bagaimana kalau terlibat selingkuh dengan sekretaris seperti kasus yang menimpa akhir-akhir ini,” celetuk rekan Indra, Effendy Ghazali.Indra hanya mesem-mesem mendengar pertanyaan itu. Sementara Farida tampaknya percaya dengan suaminya. ”Saya percaya dia tidak akan selingkuh. Menjadi anggota DPR juga menjadi cobaan bagi dia untuk menjadi suami yang baik,” kata Farida dengan lugu.  evy

August 9, 2008

Testimoni Chandra Hamzak (KPK)

Filed under: Berita — indrapiliang @ 12:06 pm

www.oke-zone.com 

KPK Berikan Testimoni untuk Indra J Piliang

Rabu, 6 Agustus 2008 - 20:32 wib

JAKARTA - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bidang Penindakan Chandra Hamzah, menyampaikan testimoni kepada mantan pengamat politik Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indra Jaya Piliang.

Dalam testimoninya, Chandra bersikap skeptis dengan mengatakan, seseorang yang bergabung dengan kelompok tertentu akan ikut menjadi bagian dari kelompok itu.

“Sekarang ini banyak sekali korupsi di DPR. Saya tidak ingin menyampaikan banyak hal, tapi saya ingin katakan, orang yang bergabung dengan penyamun biasanya akan menjadi penyamun,” kata Chandra dalam testimoninya di acara Orasi Politik dan Siaran Pers Transformasi Indra Jaya Piliang: Dari Analis Politik ke Politisi di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (6/8/2008).

Chandra mengaku, menghargai semua orang yang ingin membawa angin segar perubahan. Tapi dia juga berharap Indra bisa konsisten dengan pilihannya. Dia mencontohkan kondisi yang terjadi di tubuh lembaga perwakilan rakyat itu.

“Saat ini banyak sekali korupsi, terutama yang juga kita soroti adalah dalam pengesahan Undang-Undang. Ini harus dipecahkan,” ujar mantan Ketua Senat Universitas Indonesia (UI) ini.

Selain Chandra, hadir dalam acara itu antara lain Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, calon anggota legislatif (caleg) Partai Golkar Nurul Arifin, pengamat komunikasi politik UI Effendy Ghazali, Koordinator Formappi Sebastian Salang, dan istri Indra, Faridhah Thulhotimah. (Rosmiyati Dewi Kandi/Sindo/ded)

Darul Siska: Pengamat Akan Tutupi Kelemahan Golkar

Filed under: Berita — indrapiliang @ 11:58 am

06/08/2008 20:36

Pengamat Akan Tutupi Kelemahan Golkar

Samsul Maarif

 
Indra Piliang
(inilah.com/Abdul Rauf)
 

INILAH.COM, Jakarta – Partai Golkar telah sukses merekrut kalangan intelektual dalam daftar calon anggota legislatifnya. Hal ini, dianggap dapat menutupi kelemahan anggota DPR yang berasal dari Fraksi Partai Golkar untuk mengimbangi pemerintah.Selain untuk memperkuat kedudukan DPR, Darul Siska, anggota komisi V DPR FPG, menilai masuknya kalangan intelektual sebagai caleg juga untuk menutupi kekurangan staf ahli fraksi. “Ke depan, beban DPR akan semakin berat baik menyusun UU, anggaran maupun pengawasan,” kata Darul Siska kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (6/8).

Menurut Darul, dukungan staf ahli komisi dirasakan sangat minim, sehingga memberatkan tugas politik anggota dewan. Sehingga, dengan masuknya kalangan intelektual, diharapkan mampu menutupi kelemahan staf ahli tersebut dan menekan kesenjangan dengan pemerintah.

“Nah, untuk menjalankan fungsi dengan baik dibutuhkan kalangan intelektual untuk mengimbangi pemerintah sebagai mitra kerja DPR,” katanya.

Seperti diketahui, Indra Piliang, pengamat politik CSIS (Central for Strategic and International Studies), hari ini resmi mendeklarasikan kepindahannya dari seorang pengamat menjadi politisi. Ia bergabung dengan Partai Golkar dan mengaku telah menyiapkan uang Rp100 juta demi kepentingan kampanyenya sebagai caleg. [R2]

Piliang Siap Bunuh Diri Kalau Korupsi

Filed under: Berita — indrapiliang @ 11:52 am

20080806_072110_indra.jpg

09/08/2008 16:34

Piliang Siap Bunuh Diri Kalau Korupsi

M Husni Nanang

 
Indra J Piliang
(inilah.com/Subkhan)
 

INILAH.COM, Jakarta - Pengamat banting setir jadi politisi dikhawatirkan berubah menjadi politisi busuk. Indra J Piliang mengaku siap ketika ditantang bunuh diri jika terbukti mencari keuntungan pribadi dari kedudukannya.“Ya, saya siap,” kata Indra J Piliang dalam diskusi di Warung Daun Pakubuwono, Jakarta, Jumat (9/8).

Indra menegaskan komitmennya menjadi politikus. Terjun ke dunia politik, menurut pengamat dari CSIS itu, dia akan menggunakan seluruh kemampuannya untuk mengabdi kepada masyarakat. Menjadi politisi humanis, politisi yang melihat penderitaan, melihat yang paling tertidas dan masyarakat yang paling butuh, dikatakan dia, menjadi tujuan utamanya menjadi politisi.

Indra menambahkan, menjadi politisi bukanlah ajang sesuatu yang berlebih. Begitu juga untuk mengambil kekayaan. Mental korup menjadi hal yang sangat dihindarinya. Indra merasa saat ini sudah berlebih, dengan apa yang dipunyainya. “Saya juga nggak kere-kere banget untuk jadi seorang politisi,” ceplosnya.

Dengan gaji yang sudah besar, lanjut Indra, seharusnya anggota dewan tidak perlu korupsi lagi. “Gaji Rp 100 juta. Itu menurut saya lebih dari cukup. Kalau anggota DPR sekarang melakukan korupsi melalui kebijakan yang mereka buat, itu sangat buruk dan tidak baik,” ungkapnya.

Indra pun berjanji, ketika menjadi politisi, selama 5 tahun menolak menjadi menteri hingga presiden sekali pun. “Begitu pun menolak dicalonkan menjadi gubernur dan walikota apalagi dicalonkan untuk menjadi artis. Saya kira ini harus ditunjukkan konsistensi untuk dalam parlemen,” pungkasnya.[L8]

“Kalau Gagal di Golkar, Saya Jadi Petani Saja”

Filed under: Berita — indrapiliang @ 12:52 am

Rakyat MerdekaJumat, 08 Agustus 2008
Indra J Pilliang, Pengamat Politik CSIS: “Kalau Gagal di Golkar, Saya Jadi Petani Saja.”

Pemuda kelahiran Pariaman, Sumatera Barat ini rela meninggalkan profesinya sebagai akademisi dan pengamat politik demi kursi di Senayan. Pengamat politik CSIS ini terdaftar sebagai caleg dari Partai Golkar yang dulu sering dikritisinya.

BERKALI-KALI, Indra J Pilliang me­negaskan, menjadi anggota de­wan bukan suatu tujuan hidup­nya. Cita-citanya hanya ingin mem­bangun atmosfer politik yang sehat.

Kepada Rakyat Merdeka, Indra mengatakan, dengan banting setir dari akademisi menjadi politisi me­merlukan banyak pengor­ba­nan.

“Motivasi saya adalah mem­bangun ranah pengetahuan yang ba­ru di dunia partai politik. Arti­nya, membangun partai politik yang modern dan saya me­ngor­bankan diri saya dan penghasilan sa­ya untuk menjadi politisi,” ujar­nya.

Indra juga mengungkapkan, dirinya terjun di parpol bukan hal yang baru. Sebelumnya, alumnus Universitas Indonesia (UI) ini pernah terlibat politik praktis bersama Partai Amanat Nasional (PAN).

Mengapa memilih Golkar untuk comeback ke panggung politik? Apa saja bargaining-nya? berikut bincang-bincang Indra J Pilliang dengan Rakyat Merdeka, kemarin.

Apa alasan Anda masuk po­litik praktis?
Sebenarnya saya pernah di par­tai politik. Saya pernah berada di Partai Amanat Nasional (PAN) bahkan saya ikut mendirikan DPD PAN Kabupaten Tangerang bah­kan sempat menjadi Ketua Departemen Seni dan Budaya. Tapi, kemudian saya me­ngun­dur­kan diri.

Saat ini, jelas kalau saya adalah bagian dari civil society. Karena itu, saya beranggapan jauh lebih efektif kalau masuk pada political so­ciety karena partai politik men­jadi tulang punggung de­mokrasi.

Tak khawatir dianggap aji mumpung (karena ada yang lamar)?
Nggak juga, saya justru nggak punya modal. Bahkan, partai-partai yang mendekati saya tidak meminta modal dari saya. Tapi apa yang saya lakukan selama 8 tahun ini mungkin melebihi apa yang dilakukan para Jenderal untuk mendapatkan pangkatnya dan masuk parpol.

Apa yang Anda miliki?
Saya hanya memiliki Curri­culum Vitae (CV). Artinya, apa yang saya kerjakan adalah modal dasar saya berupa intelektual dan memang itu yang telah saya capai hingga saat ini karena saya tidak bisa maju dengan popularitas seperti para artis.

Kenapa Anda memilih Golkar?
Saya sebenarnya sudah me­ngata­kan berkali-kali tapi nggak enak kepada parpol lainnya ka­rena saya tidak bermaksud men­diskre­ditkan parpol lain. Mi­sal­nya, saya masuk PDIP maka saya harus menjadi seorang Soe­kar­nois, padahal saya bukan Soe­karnois. Walaupun saya mem­pe­lajari paham-paham Soekarno, tapi saya juga mempelajari pe­mi­kir­an-pemikiran dari tokoh lain­nya.

Ada Berapa partai yang me­minang Anda?
Satu setengah tahun yang lalu PDIP, PMB, PAN, PPI, PBR dan yang lainnya adalah partai-partai baru. Ini artinya banyak teman-teman partai yang menginginkan saya. Saya pada saat itu merasa dalam posisi yang sedang di­ta­war.

Makanya, saya mencoba se­dikit untuk melakukan bar­gai­ning.

Kenapa tidak kembali masuk ke PAN?
Karena PAN itu selalu berubah dan tidak konsisten. Saya keluar dari sana penyebabnya adalah PAN tidak memiliki konsistensi yang tegas. Karena pemikirannya berubah-ubah.

Menurut Anda, apakah par­tai-partai memilih Anda karena terlalu kritis?
Ketika partai politik me­ng­alami proses demoralisasi karena dihantam dengan isu golput sehingga orang makin tidak percaya lagi dengan parpol, maka saya masuk ke dalam parpol dan saya rasa itu akan memberikan support yang positif bagi semua politisi dan parpol bukan hanya Golkar.

Siapa yang meminta Anda masuk Golkar?
Saya bisa sebut 2 orang yang paling gigih untuk meminta saya menjadi caleg adalah dari ka­la­ngan mudanya. Di an­taranya Ha­sanudin Ibrahim (Be­kas Ketua Umum PB HMI), Cholis Ma­lik dan lain se­ba­gainya.

Itu karena mereka merasa saya bisa menjadi semacam pengaman bagi kepentingan dari kalangan muda.

Anda merasa ajakan tersebut sebagai pembungkaman?
Saya tidak melihat itu dan bisa jadi mereka tidak menghitung itu.
Bahkan, saya sendiri tidak me­rasa terlalu kritis dan tulisan saya mengenai parpol sedikit kok. Saya lebih banyak bicara tentang sistem dan itu tersebar di berbagai media baik buku, makalah, dan sebagainya.

Ada anggapan bahwa partai itu adalah sarang penyamun. Apakah Anda akan menjadi penyamun juga nantinya?
Saya bisa pastikan bahwa saya tidak akan korupsi. Demi Allah, itu tidak akan saya lakukan, ka­rena saya bukan orang seperti itu.
Kalau saya tidak suka maka saya akan bilang tidak suka.

Apakah Anda akan ikut arus di Golkar?
Justru nanti saya akan me­nga­tak­an, kalau Golkar me­nye­lewengkan kekuasaan maka saya siap mengungkapkan pi­kiran yang beda dengan Partai Golkar. Tapi kalau mengenai platform saya harus ikut partai.

Komi­si mana yang akan Anda incar?
Yang saya tahu saat ini ada komisi mata air dan komisi air mata.
Kalau saya disuruh me­mi­lih maka saya akan pilih komisi air mata.

Kenapa?
Komisi ini betul-betul me­nga­rah pada sistem yang lebih baik buat negara kita terutama untuk mendorong otonomi dan de­mo­krasi. Saya kira itu lebih banyak ter­jadi konfrontasi antarpartai. Jadi kontribusi intelektual saya lebih banyak ketimbang saya berada di komisi mata air.

Apakah dengan diterimanya Anda di Golkar, kekritisan Anda akan terbungkam?
Tentu itu beda. Selama ini, saya bekerja menjadi seorang yang profesional. Ke depan, saya bu­kan akademisi lagi dan saya me­nyatakan mundur dari akademisi karena kini saya menjadi politisi.

Ada anggapan Anda berkoar-koar karena punya tujuan jadi anggota dewan, apa benar?
Saya tidak punya tujuan. Saya tidak memikirkan menjadi seo­rang pengamat, bahkan saya tidak pu­nya pikiran akan kuliah. Ka­rena saya dulu malah berpikir akan menjadi tukang sate. Sebab, saat ke sini (Jakarta) saya jualan sate dan karena kebetulan saja sa­ya diterima di CSIS. Padahal, cita-cita saat itu adalah menjadi seorang wartawan atau penulis.

Perlu diketahui bahwa saya tidak melihat menjadi anggota dewan ini suatu tujuan. Teman-teman perlu tahu bahwa sebentar lagi banyak orang yang seperti saya yang diajukan parpol dan mengatakan hal yang sama se­perti apa yang saya lakukan.

Jadi apa tujuan Anda yang sebenarnya?
Saya tidak menjadikan par­lemen untuk menjadi tujuan. Tu­juan saya adalah menjadikan partai Golkar sebagai partai yang modern dan disegani serta tidak lagi bergantung pada yang lain.

Motivasi Anda hanya sebatas itu?
Motivasi saya adalah mem­ba­ngun ranah pengetahuan yang baru di dunia partai politik. Arti­nya, membangun partai politik yang moderen dan saya me­ngor­bankan diri saya dan penghasilan saya untuk menjadi politisi.

Kabarnya Anda tidak izin ke CSIS, kenapa?
Menurut saya ini adalah urusan dan pilihan pribadi. Saya tidak mau CSIS dilibatkan dalam proses ini dan tidak mau ada anggapan bahwa CSIS mengirim saya ke Partai Golkar. Sama se­perti keputusan saya untuk ga­bung ke CSIS dan ini adalah lang­kah pribadi saya.

Saya melihat partai Golkar memberikan kebebasan kepada saya. Artinya, saya melihat Yud­dy Chrisnandi dan tidak ber­ubah. Persoalannya dia “ber­lari sen­diri­an” sehingga diberikan kartu kuning. Ini cuma masalah gaya personal saja.

Jadi Golkar itu ibarat gelas, me­­ngikuti apa yang ada di da­lamnya. Maka Golkar, CSIS dan republik kita ini adalah hanya se­buah wadah. Apakah wadah itu harus kita hancurkan karena banyak koruptornya? Kan tidak. Karena itu, saya berjuang dari dalam untuk memperbaiki itu semua.

Bagaimana hubungan Anda dengan kawan-kawan setelah menjadi politisi?
Tentu akan terjadi hubungan simbiosis mutualisme. Saya yakin teman-teman LSM akan senang karena menghibahkan saya dengan agak mengancam partai agar saya mendapatkan no­mor bagus. Sebab, ini per­taruhan dari kawan-kawan LSM juga.

Kalau pertaruhan ini gagal bagaimana?
Kalau gagal, tentunya wajah mereka juga akan tercoreng begitu juga dengan partai Golkar. Karena Golkar merekrut orang baru yang tidak pernah ter-Gol­kar-kan. Kalau ini meng­han­curkan sistem internalnya, maka Golkar akan gagal. Jadi bakal ada dua kegagalan kalau saya tidak melaluinya dengan mulus.

Jika saya gagal, tentunya saya tidak akan menjadi pengamat atau penulis lagi. Bahkan, saya akan menjadi petani di tanah kelahiran saya kecuali saya akan menulis sejarah kejatuhan saya sen­­diri sebagai pengamat ha..ha… EDY 

August 6, 2008

Pamit sebagai Akademisi, Pulang sebagai Politisi

Filed under: Catatan Lepas — indrapiliang @ 10:09 am

Pamit sebagai Akademisi, Pulang sebagai Politisi[1] 

OlehIndra Jaya Piliang, SS, MSi[2] Assalamu’alaikum Wr WbSelamat Pagi dan Salam Sejahtera

Untuk memulai pidato ini, saya mengutip MOHAMMAD HATTA yang pada tanggal 11 Juni 1957 menegaskan:

“Revolusi kita menang dalam menegakkan negara baru, dalam menghidupkan kepribadian bangsa. Tetapi revolusi kita kalah dalam melaksanakan cita-cita sosialnya…. Krisis ini dapat diatasi dengan memberikan kepada negara pimpinan yang dipercayai rakyat! Oleh karena krisis ini merupakan krisis demokrasi, maka perlulah hidup politik diperbaiki, partai-partai mengindahkan dasar-dasar moral dalam segala tindakannya. Korupsi harus diberantas sampai pada akar-akarnya, dengan tidak memandang bulu. Jika tiba di mata tidak dipicingkan, tiba di perut tidak dikempiskan. Demoralisasi yang mulai menjadi penyakit masyarakat diusahakan hilangnya berangsur-angsur dengan tindakan yang positif, yang memberikan harapan kepada perbaikan nasib.”[3]

Keadaan yang kita hadapi sekarang kurang-lebih sama dengan yang dikatakan oleh Hatta, lebih dari 50 tahun yang lalu itu. Perbedaannya, demokrasi kini merupakan salah satu keajaiban yang dialami oleh rakyat Indonesia. Sepuluh tahun lalu, kita tidak pernah membayangkan bahwa demokrasi akan hadir sederas sekarang. Sementara hidup masyarakat semakin susah, sekalipun kesempatan juga terbuka luas untuk mewujudkan mimpi apapun, selama ada ikhtiar dan kerja keras.

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, izinkanlah saya menyampaikan pokok-pokok pikiran kenapa saya berubah haluan, dari seorang pengamat politik menjadi pelaku politik atau politisi. Sekaligus, ijinkanlah saya pamit sebagai analis politik dan perubahan sosial, termasuk juga dalam mengamati persoalan-persoalan otonomi daerah, resolusi konflik, juga perkembangan masyarakat sipil. Ini adalah pidato pertama dan terakhir saya sebagai pengamat politik yang sedang melakukan transformasi di bidang politik.

Demokrasi yang berbasiskan partai politik hampir berusia sepuluh tahun. Banyak pihak yang secara sinis menyebut sebagai keadaan yang jauh lebih buruk daripada zaman sebelumnya. Kehidupan tanpa partai politik yang bergemuruh barangkali memberikan kenyamanan struktural kelompok penguasa formal, juga kesenangan kultural penguasa tradisional. Partai politik dianggap sebagai benalu bagi kehidupan, serta bahkan penghambat bagi pencapaian keadilan dan kesejahteraan sosial. Pola pikir semacam itu adalah sisa dari zaman lalu yang ikut terseret ke zaman sekarang, sehingga selalu terdapat para penentang demokrasi, bahkan di kalangan kelompok intelektual sekalipun.[4]

Masyarakat belum sepenuhnya percaya kepada demokrasi. Orang-orang cerdas berpendidikan tinggi tinggal menunjukkan data-data statistik tentang perilaku buruk orang-orang yang ada dalam partai politik, tetapi tidak membedakan bahwa perilaku buruk itu dipupuk oleh ketidak-pahaman tentang demokrasi secara mendalam. Sebagai suku bangsa yang terlalu  lama mengalami kolonialisme, ditambah dengan praktek kekuasaan yang rakus dan korup, masyarakat Indonesia seakan terus memelihara pemikiran tentang keberadaan raja yang baik. Padahal, kenyataannya tidaklah semudah dan sesederhana itu.

Karena itulah saya menggeluti bidang pekerjaan yang tidak terbayangkan sebelumnya, yakni mengamati peristiwa, perilaku, aktor, sistem sampai gejala-gejala politik yang ada di tengah-tengah masyarakat, bangsa dan negara. Dunia politik praktis bukanlah sesuatu yang asing bagi saya. Sekalipun tidak langsung terlibat sebagai politikus, fase-fase kehidupan saya sudah melewati dunia politik, baik teoritis, empiris, maupun praktis. Fase pertama kehidupan politik yang saya tempuh adalah menjadi fungsionaris Partai Amanat Nasional (PAN) selama hampir dua tahun, yakni sejak tahun 1998 sampai tanggal 21 Januari 2001. Setelah itu, saya konsentrasi sebagai penulis, analis, narasumber atau pembicara dalam banyak seminar.

Saya juga aktif dalam beragam aktivitas kelompok masyarakat sipil dan apa yang dikenal sebagai kelompok pro-demokrasi. Saya memiliki banyak sekali kawan, termasuk dari beragam partai politik, kelompok nasionalis, kelompok separatis, sampai aktivis garis keras dan pragmatis. Saya sudah berjalan ke hampir semua titik penting di republik ini, juga berbicara, menulis dan menganalisa. Saya juga berada pada pusat-pusat peristiwa perubahan politik penting. Bisa dikatakan keseharian saya adalah politik. Peristiwa-peristiwa politik besar dan kecil ditanyakan dengan rajin oleh para jurnalis. Tentu, ada kelelahan dan kebosanan, terutama akibat apa yang kita tulis atau katakan tidak sesuai dengan realitas yang diinginkan. Namun saya tetap setia menggeluti profesi ini.

Untuk menghindari kesalahpahaman orang atas gelar kesarjanaan saya, maka mulai tahun 2006 saya memutuskan untuk kuliah Magister atau Pasca Sarjana Bidang Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia yang saya tamatkan dalam dua tahun. Sebelumnya, saya menamatkan kuliah di jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra UI pada tahun 1997. Ada ribuan buku yang sudah saya baca, tetapi tidak semuanya terekam dengan baik dalam pikiran. Kegiatan perkuliahan juga tidak menghentikan rutinitas kehidupan sebagai aktivis, analis politik dan perubahan sosial. Saya tetap menyempatkan diri menulis, terutama pada media massa yang rajin menelepon saya untuk menganalisis peristiwa, regulasi, hasil survei, ataupun tokoh-tokoh politik tertentu. Saya juga berbicara pada media televisi dan radio. Tidak kurang dari 60 lebih mailing-list yang saya ikuti di internet.

Tetapi, dari hari-ke-hari, beragam jajak pendapat dan hasil pemilihan langsung kepala daerah menunjukkan antipati masyarakat terhadap partai politik dan politisi. Bagi saya, keadaan ini mencemaskan, bahkan menakutkan. Demokrasi yang diraih hari ini adalah buah perjuangan banyak pihak, terutama mahasiswa, dengan mengorbankan nyawa sekalipun. Sebagai aktivis mahasiswa 1990-an, termasuk terlibat dan berada di Gedung MPR-DPR pada malam tanggal 19-20 Mei 1998, saya merasakan bagaimana sulitnya mengungkapkan pendapat pada masa lalu itu. (Saya ingat bagaimana kami harus lari dari Samarinda ke Balikpapan pada Desember 1996, setelah hasil Pertemuan SMPT se-Indonesia di Universitas Mulawarman meminta agar Soeharto tidak dipilih lagi). Minimnya kepercayaan publik terhadap partai politik dan politisi memberikan sinyal bahaya bahwa suatu hari masyarakat kembali merindukan masa-masa kelam otoritarianisme.  Mengapa?

Memasuki tahun 2008, saya menyatakan tidak lagi ingin bicara di atas mimbar dengan duduk, melainkan berdiri dan memberikan orasi. Saya lebih memilih gaya orasi, ketimbang diskusi santai, untuk memberikan tekanan kepada kalimat-kalimat yang saya rangkai dan ucapkan, disertai dengan bahasa tubuh. Saya juga mengubah tampilan blog saya di friendster. Yang lebih penting lagi, saya membuka penyebutan nama dalam tulisan-tulisan di media massa, tidak lagi menyebut INDRA J PILIANG, melainkan INDRA JAYA PILIANG. Indra Jaya adalah kepanjangan dari Indonesia Raya Jaya. Perubahan cara menulis nama ini mempunyai arti besar, tidak hanya sekadar menghindari kesalahan penulisan.

Tetapi lagi-lagi itu saja tidak cukup. Masyarakat terus memberikan pernyataan betapa buruknya wajah partai politik dan politisi kita lewat beragam survei, serta minimnya keikutsertaan dalam pilkada.. Saya berpikir, apakah akan meneruskan apa yang sudah saya kerjakan selama hampir sewindu terakhir ini sebagai analis politik? Saya sudah sangat akrab dengan siaran malam di radio dan televisi, ataupun pagi-pagi buta. Berangkat sebelum azan subuh, atau sampai di bandara menjelang tengah malam, juga bagian dari pekerjaan ini.  Pekerjaan ini sudah menjadi rutinitas. Ataukah saya harus menyelesaikan studi doktoral, bukan di dalam negeri, melainkan di luar negeri, yakni ke India, mengikuti jejak puluhan orang teman-teman terdekat saya? Barangkali tersedia juga peluang untuk mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang konsultansi dan komunikasi politik, lalu mendapatkan kemelimpahan finansial, sebagaimana dilakukan oleh kawan-kawan saya yang lain? Sebagai analis saya sudah terlalu nyaman, bahkan mapan, tetapi gejolak hati saya tidak bisa reda hanya dengan pekerjaan ini.

Rupa-rupanya, pilihan yang lebih menantang segera datang. Ketika saya pulang kampung sebelum ujian tesis, saya bertemu dengan kedua orang-tua saya, memintakan doa restu agar nilai saya bagus dalam ujian tesis. Persis ketika berada di teras rumah di tengah-tengah sawah itu beragam telepon datang. Tawaran itu jelas, menjadi calon anggota legislatif. Sebelumnya, saya juga sudah ditawarin oleh satu partai besar. Saya langsung bertanya kepada ayah saya, saudara, teman-teman, serta para tokoh yang saya hormati dengan menelepon dari tengah sawah, dalam aura dan energi yang terhisap dari kampung saya. Pilihan menjadi politisi adalah pilihan yang sulit. Pro dan kontra terjadi, tetapi sebagian besar memberikan dukungan.

Karena desakan itu tidak berhenti setelah saya dinyatakan lulus ujian, saya langsung memutuskan: inilah saatnya. To be or not to be. Partai politik menurut saya benar-benar sedang membutuhkan pikiran-pikiran saya, sekecil atau setidak-berarti apapun, terutama bagi kepentingan masyarakat. Hanya dengan menjadi pengamat tidak akan bisa mengubah keadaan, sekalipun penuh dengan idealisme yang meluap. Pengamat hanya berada pada posisi pressure groups, tetapi bukan pengambil kebijakan. Sejak konstitusi diubah, partai politik telah menempati posisi sentral, sehingga harus benar-benar diisi oleh politikus yang berkarakter.  

Secara tidak langsung, dorongan menjadi politisi juga berjalan seiring dengan perubahan sikap masyarakat sipil atas dunia politik. Suasananya tidak lagi saling berhadap-hadapan, diametral, tetapi membangun kerjasama yang sinergis. Karena wacana kepemimpinan muda sedang berlangsung secara hangat, pilihan politik seseorang menjadi penting. Apalagi pada tanggal 21 April 2008, harian terbesar dan disegani, Kompas, memuat nama saya pada urutan keenam sebagai calon Presiden Republik Indonesia versi Lembaga Swadaya Masyarakat. Itu adalah sebuah kehormatan, sekaligus “pengusiran” bahwa saya sebaiknya tidak lagi berkiprah di dunia LSM, melainkan melompat ke dunia politik murni. Langkah pensiun sebagai aktivis LSM dan pengamat sedang saya siapkan.

Dengan mengucapkan Bismillah, saya melangkahkah kaki ke dunia politik praktis. Saya sudah mengurangi dengan keras memberikan analisa-analisa politik, sekalipun terkadang melanggarnya karena khawatir dianggap aneh oleh para jurnalis yang bertanya. Kerja-kerja politikpun dilakukan, yakni dengan mengecek kebenaran tentang pencarian politisi baru di dalam tubuh parrai politik itu. Karena memiliki banyak kenalan di jajaran petinggi partai, saya mengetahui bahwa partai tidak main-main alias serius.

Di tengah semakin banyak undangan untuk menulis, berbicara, dan menjadi konsultan paro waktu, mengingat kalender pemilu sudah berjalan, saya menyusun kembali Daftar Riwayat Hidup. Dalam riwayat itu terlihat sekali bahwa saya memang hidup dalam dunia politik. Daftar itu lebih dari 50 halaman, sekalipun tidak berhasil dicatat seluruhnya. Selama ini, saya tidak begitu peduli dengan daftar itu. Saya toh menggunakan motto: MENGALIR BERSAMA OMBAK. Kehidupan yang saya jalani tidak saya rencanakan dengan matang. Yang perlu hanyalah insting saya yang selalu mewaspadai akibat-akibat buruk atas diri saya, keluarga dan orang lain, kalau saya memasuki suatu kehidupan yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat luas. Tetapi, bukan berarti saya mudah larut, sebagaimana air, karena motto hidup saya bukan MENGALIR BERSAMA AIR. Ombak adalah buah dari badai, angin, topan, atau tsunami, sehingga saya harus betul-betul mampu bertahan, sekuat apapun ombak itu.

Belakangan, motto itu saya ganti menjadi MENGALIR MENITI OMBAK. Sebagai anak yang dilahirkan di Kampung Balacan, Kota Pariaman, saya adalah anak pesisir. Sekalipun begitu, karena ayah saya berasal dari Air Angat, Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar, saya juga melewati sekolah dasar sampai SMP di sana, tepatnya SD 1 dan SDN 2 Air Angat dan SMP Koto Lawas. Air Angat terletak di kaki Gunung Merapi. Hantu si Bunian, mitos Harimau jejadian dan letusan gunung adalah bagian yang akrab dalam keseharian. Karena itu, saya adalah anak yang hidup di pesisir dan pegunungan, sehingga udara hangat yang membakar dan dingin yang menusuk tulang selalu datang bergantian. Saya terbiasa dengan perubahan iklim, tetapi saya merasa tidak mudah diubah oleh iklim itu.

Bermodalkan itu, saya merasa inilah saat yang tepat untuk menjadi politikus. Saya tidak berubah dan tidak berharap untuk berubah. Yang saya lakukan hanyalah perpindahan tempat, dari analis, pengamat atau peneliti, menjadi praktisi, pelaku atau politisi. Perbedaannya adalah ketika saya menjadi analis atau peneliti, saya bekerja untuk masyarakat, termasuk ilmu pengetahuan, secara individual. Paling banter saya bekerja dalam tim kecil, seperti Pokja Papua atau Tim Depdagri untuk Revisi UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Sekarang, saya tetap bekerja untuk masyarakat atau lebih tepat rakyat, terutama di daerah pemilihan saya, tetapi lewat jalur kolektif, yakni partai politik.

Karena dilahirkan di Pariaman, dibesarkan di Kepulauan Mentawai, Tanah Datar, Padang Pariaman, Pariaman, dan Sawah Lunto Sijunjung, saya merasa akan sangat durhaka apabila tidak memperhatikan kepentingan masyarakat di sana. Saya bukan Malin Kundang yang harus dikutuk menjadi batu. Saya jelas tidak punya bakat menjadi seorang saudagar, sekalipun ketika pertama kali ke Jakarta saya berjualan Sate Padang – sampai kini – bersama dengan saudara-saudara saya. Selama 19 tahun saya tidak pernah meninggalkan Sumatera Barat. Bahkan, saya tidak pernah ke Jakarta ataupun ke Pekanbaru. Saya diwajibkan sekolah oleh kakak-kakak saya yang mengirimkan uang lewat wesel pos. Ketika di Jakarta, saya juga tidak boleh mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kakak-kakak saya, seperti menjadi kernet bis kota atau jualan sate. Saya hanya membantu, tetapi tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan pokok. Tugas saya jelas, kuliah,kuliah dan kuliah.

Atas dasar itu juga saya memilih untuk dicalonkan di Daerah Pemilihan Sumatera Barat II yang meliputi Kota Pariaman, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten 50 Kota, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat. Ada tiga gunung yang menjadi wilayah geografis-politik saya, yakni Merapi, Singgalang dan Tandikat, serta ada Danau Maninjau yang indah. Juga ada Pantai Gondoriyah dan Pantai Arta yang menawarkan kesejukan hati.  

Barangkali, saya juga akan dicalonkan di Sumbar I yang meliputi Kota Padang, Kota Padang Panjang, Kota Solok, Kota Sawah Lunto, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Solok, Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Sijunjung dan Kabupaten Tanah Datar. Toh saya pernah hidup di Kabupaten Tanah Datar, daerah asal ayah saya, serta tempat saya menamatkan Sekolah Dasar sampai SMP kelas I semester I di Koto Lawas. Ada Danau Singkarak, Danau Di Atas, Danau Di Bawah, Gunung Talang, serta perkebunan teh di Kayu Aro di daerah ini. Saya juga pernah belajar mengukir di Pandai Sikat.

Tapi, kalau disuruh memilih, maka saya lebih memilih kampung ibu, bukan kampung ayah, karena saya merasa lebih mampu untuk membina hubungan dengan banyak kalangan, baik dalam lingkungan keluarga besar saya sendiri, teman-teman sekolah, sampai para ninik-mamak, cerdik-pandai, alim-ulama, bundo kanduang dan seluruh pemangku agama Islam dan adat di Ranah Minang.  

Menjadi Politisi Lalu, datanglah hari ini. Saya menyatakan sebagai politikus Partai Golkar. Sebagai langkah awal, saya memilih daerah pemilihan Sumatera Barat 2, ketimbang Sumbar I itu. Bisa saja Partai Golkar menempatkan saya di DKI Jakarta, Banten atau Jawa Barat, terutama karena saya pernah tinggal di Banten dan berdomisili di DKI Jakarta, selama 17 Tahun, atau karena saya beristrikan Faridhah Thulhotimah yang memiliki kampung di daerah dingin Kabupaten Bogor. Tetapi, saya merasa harus memulai di tempat yang tepat, yakni kampung halaman sendiri.

Dulu, saya diberangkatkan ke rantau sebagai akademisi, kini saya pulang ke ranah sebagai politisi. Rantau dan ranah harus terus disambung dengan menggunakan hati. Inilah perbedaan yang saya buat dengan Agus Salim yang kini berubah menjadi nama stadion sepak bola, Muhammad Hatta yang berubah menjadi universitas dan perpustakaan, Tan Malaka yang hinggap dalam grafiti anak-anak muda Minang, atau HAMKA dan Natsir yang ada dalam buku-buku pelajaran agama dan etika. Kalau mereka menjadi politisi di rantau, saya tidak mengulangi itu lagi dengan cara menjadi politisi di ranah.

Saya bukanlah anak muda pelajang bukit yang harus berurusan dengan zaman saisuak. Tidak perlu saya ikut menangisi kenapa di pentas nasional tidak banyak lagi politisi Minang yang berkarakter dan menonjol. Pentas nasional hanyalah pentas, sementara kebutuhan yang paling real ada di desa-desa, dusun-dusun, nagari, parak, atau di tengah sawah, yakni manusia yang tersebar di banyak titik hidup. Manusia yang hidup dalam penderitaan zaman ini. Biarlah saya mencoba menganyam filosofi manusia Minang:

Panakiak pisau sirauik,Ambiak galah batang lintabuang, Salodang ambiak ka nyiruSatitiak Jadikan Lauik (Setitik Jadikan Laut)Sakapa jadikan gunuang (Sekepal jadikan gunung)Alam terkembang jadikan guru.  

Kini, saya sedang mempersiapkan kembali ke kampung halaman, tidak hanya datang dan pergi, sebagaimana selama ini, kadang hanya semalam. Tagline dalam website saya selama ini (www.indrapiliang.com) dan nada tunggu pada handphone saya berbunyi: “Kembalikan, Kampung Halamanku”. Untuk persiapan ini, saya menulis artikel “Rezim Developmentalisme Demokratis” yang saya kirim ke harian Padang Ekspres.[5] Kampung saya membutuhkan pembangunan yang humanis, selain tentu demokrasi yang sudah mengakar dan mendarah-daging. Bukan hanya kampung saya, barangkali, yang membutuhkan pembangunan, tetapi juga kampung orang lain. Biarlah puluhan ribu politisi dari 34 partai politik ikut mengubah kampung halaman masing-masing untuk tugas berat ini.

Tentu saya tidak tiba-tiba datang dan masuk Partai Golkar, sekalipun prosesnya berlangsung mendadak dan tiba-tiba. Orang Minang tidak bisa melakukan serangan cepat, akan selalu mengulur waktu, tetapi juga membutuhkan perdebatan keras dalam kancah musyawarah di rumah gadang. Orang Minang selain sinis dan skeptis kepada orang lain, juga lebih sinis dan skeptis kepada diri sendiri. Sudah sejak pemilu 2004 saya mulai mengenali para petinggi Partai Golkar, ketika mengamati dari dekat Konvensi Nasional Partai Golkar.  

Saya juga terus berkomunikasi dengan Prof Dr Djohermansyah Djohan, Deputi Bidang Politik Sekretariat Kantor Wakil Presiden RI, untuk mengetahui pikiran-pikiran Pak Jusuf Kalla. Prof Djo adalah Ketua Dewan Pendiri Yayasan Harkat Bangsa Indonesia yang menempatkan saya sebagai Ketua Dewan Pengurus. Belakangan saya juga tahu, Prof Dr Azzumardi Azra juga melobi kalangan Partai Golkar untuk menerima saya, barangkali setelah membaca di internet tentang keputusan saya untuk menjadi politikus. Sebagai warga Muhammadiyah dan buyut dari keluarga Masyumi, saya juga perlu sebutkan dukungan Prof Dr Din Syamsuddin yang dari Los Angeles, Amerika Serikat, dengan mengirimkan sms kepada Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla. Pak Syahrul Ujud, staf khusus Wakil Presiden, juga memberikan dorongan dan dukungan kuat.

Selain itu tentu ada Priyo Budi Santoso, Pompida Hidayatullah, Agung Laksono, Yudhy Chrisnandi, Yamin Tawari, Iskandar Mandji, Rully Chaerul Azwar, Aulia Rahman, Burhanuddin Napitupulu, Yan Hiksas, Agus Gumiwang Kartasasmita, Harry Azhar Azis, Happy Bone Zulkarnaen, Ali Wongso, Yorris Raweyai, serta para petinggi Partai Golkar lainnya yang menyambut saya dengan hangat. Rumah Partai Golkar ternyata lebih nyaman, jauh dari bayangan saya. Tidak perlu lagi saya merasa sungkan menyebut bagaimana bersahayanya teguran dan sapaan yang diberikan. Orang-orang itulah yang membukakan pintu Partai Golkar untuk saya masuki dengan hati yang lebih damai. Kegigihan Jeffrie Geovanie dalam memberikan informasi juga perlu saya sebutkan. Tentu, ada yang terganggu dengan kehadiran saya, tetapi itulah politik yang penuh dengan dinamika.

Dalam komunikasi dan advokasi penyusunan undang-undang, saya banyak bergaul dengan politisi Partai Golkar, seperti Agun Gunandjar, Idrus Marham dan Ferry Mursidan Baldan. Saya juga perlu sebutkan Nurul Arifin, salah satu donatur kegiatan ini, sebagai tokoh yang gigih yang bekerja sebagai aktivis Anti-HIV dan terus-menerus belajar sebagai politikus yang tidak kehilangan integritas dirinya. Nurul bagi saya adalah seorang senior sebagai politikus, karena ia tidak lantas kecewa atas kegagalan menjadi anggota DPR RI tahun 2004 lalu, sekalipun mendapatkan suara terbanyak di daerah pemilihannya. Nurul tentu berbeda dengan artis lain yang menyeberang ke ranah politik praktis yang juga sebagian adalah teman-teman saya.  

Dalam banyak perdebatan yang saya ikuti dan sorongkan ke publik, Partai Golkar termasuk yang paling akomodatif atas ide-ide yang saya tulis, selain PAN. Tanpa Partai Golkar, ide-ide otonomi daerah akan mengalami kemacetan dan kemandegan. Liberalisasi di bidang politik diusung penuh oleh Partai Golkar, sekalipun juga tampak kesulitan dalam mengendalikan dan mendisiplinkannya. Pemekaran wilayah juga bagian dari cara Partai Golkar untuk mendekatkan pemerintahan kepada publik, sekalipun daerah-daerah pemekaran itu kini direbut sebagian oleh PDIP. Proses perdamaian di Aceh dimana saya terkadang menitikkan air mata ketika menulis kolom, didukung dengan baik oleh Partai Golkar. Peranan aktif dari Jusuf Kalla dalam perdamaian itu memberikan semangat bagi saya untuk menyerang kelompok-kelompok ultra-nasionalis dalam perdebatan di ruang publik.

Dulu, rezim Orde Baru adalah rezim developmentalisme represif dengan keberadaan birokrasi dan militernya. Dibandingkan dengan partai politik yang lain, kini Partai Golkar dihuni oleh kaum demokrat, terutama dari kalangan sipil. Tentu, ada terlalu banyak pengusaha di dalamnya, tetapi bukankah demokrasi lahir dari kelompok borjuasi yang tidak memiliki tanah dan kekuasaan dalam sistem feodal dan monarki awal? Pilihan untuk bergabung ke dalam Partai Golkar juga semakin dikuatkan oleh keluarnya sejumlah petinggi yang berlatar-belakang militer, seperti Wiranto dan Prabowo Subianto. Saya tidak tahu alasan-alasan dari para tokoh itu keluar dari Partai Golkar dan mendirikan partai baru, tetapi saya merasa lebih nyaman melihat “pertarungan” sesama elite sipil dalam tubuh Partai Golkar dalam perebutan pimpinan nantinya. Kompetisi di Partai Golkar berlangsung secara baik. Seseorang yang dikalahkan akan tidak memiliki kekuasaan turunan, dibandingkan dengan ketika ia menjabat. Seseorang yang baru aktif akan diberikan tempat baik, apabila memiliki prestasi.

Tentu pertanyaan penting yang bakal diajukan adalah perilaku korupsi, baik yang sudah terbukti atau yang baru dugaan, yang menimpa politisi Partai Golkar. Kalangan pers atau Indonesian Corruption Watch (ICW) yang membeberkan data-data korupsi itu menunjukkan keterlibatan semua partai politik, baik di tingkat nasional, maupun lokal. Ada yang belum sama sekali disentuh, karena membutuhkan kinerja aparat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang lebih baik dengan bukti-bukti yang kuat. Korupsi di Republik Indonesia lebih merupakan persoalan mentalitas individual, ketimbang melihat itu sebagai perilaku organisasi, agama atau ideologi seseorang. Korupsi sudah berakar sejak empat abad silam, ketika VOC-pun bangkrut karenanya. Selain lembaga-lembaga negara dan partai politik, masyarakatlah yang selayaknya memiliki peranan aktif untuk menolak meminta sumbangan kepada politisi.  

Saya akan bekerja dengan serius. Keluarga juga secepatnya menetap di Sumatera Barat. Sebagai bentuk pertanggungjawaban sebagai politisi, saya akan bekerja mendapatkan suara, berapapun nomor urut yang diberikan oleh Partai Golkar. Saya akan berbicara dalam bahasa ibu, bahasa Minang, kepada setiap orang yang bertemu di Sumbar dengan modal sebatang rokok, setampuk pinang, serta secangkir kopi yang ditemani penganan khas Minang lain.

(Perlu saya sampaikan juga bahwa sejak saya mengumumkan menjadi politikus, sejumlah orang tua, niniak mamak, cerdik pandai, dalam mailing list Rantau.Net sudah dan akan menyumbangkan biaya kampanye kapada saya, mulai dari Rp. 25.000,-, Rp. 50.000,-, dan seterusnya. Saya sungguh terharu dan tidak bisa tidur atas sumbangan materi itu).

Kalau sebelum ini saya bekerja secara individual untuk mengejar karier akademis dan intelektual, maka sekarang membutuhkan dan melibatkan kerja orang banyak, rakyat banyak, untuk menuju Senayan. Karena itu saya akan datang dalam ota di lapau (obrolan warung) dan kaji di surau, sebagai bentuk tradisional dari politikus Minang: bergelanggang mata orang banyak, bersuluh matahari. Pergi tampak punggung, pulang tampak muka. Transparansi dalam bahasa moderen. Karena anggota parlemen adalah wakil rakyat, maka rakyat jualah yang mengantarkan ke Senayan. Tanpa dukungan rakyat, politisi bukanlah apa-apa dan siapa-siapa. Seandainya masuk parlemen atas dukungan rakyat di Ranah Minang, maka saya akan mengerjakan komitmen sebagai berikut:

Pertama, konsentrasi kepada daerah pemilihan saya. Konsentrasi itu berupa perhatian yang lebih atas masalah-masalah utama di bidang kemasyarakatan dan pemerintahan yang berkenaan dengan daerah pemilihan saya. Saya akan menaruh di dalam ruangan kerja saya PETA DAERAH PEMILIHAN saya, lengkap dengan perkembangan data-data statistiknya.

Kedua, mencoba mendorong lahirnya Undang-Undang tentang Otonomi Khusus Provinsi Minangkabau yang berbasiskan konsep ADAT BASANDI SYARA, SYARA BASANDI KITABULLAH. Sekalipun ide ini masih menuai kontroversi, saya merasa sistem pemerintahan ala UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah yang berlaku di ranah Minang sekarang belum begitu cocok dengan kultur masyarakat Minang. Bersama teman-teman seide, sebuah lembaga think tank lokal diperlukan guna mendorong konsep ini.  

Ketiga, bertempat tinggal di daerah pemilihan saya, sekalipun tetap berkedudukan di Ibu Kota Negara sebagaimana kewajiban undang-undang. Kalaupun saya harus ke Jakarta selama masa kampanye ini, atau ke daerah lain, itu berupa penugasan Partai Golkar atau kegiatan lain, misalnya memenuhi undangan kalangan jurnalis atau lembaga-lembaga lain. Saya tentu tidak akan berhenti memberikan seminar, pelatihan, menulis dan lain-lain, tetapi dengan label yang berbeda.

Keempat, menerbitkan jurnal atau laporan berkala, bisa harian, mingguan atau bulanan. Website www.indrapiliang.com akan tetap saya pertahankan.  Baik penugasan oleh partai, komisi, fraksi atau kegiatan lainnya sebagai anggota parlemen, akan saya sampaikan kepada publik sebagai bentuk pertanggung-jawaban saya.

Kelima, bertugas sampai akhir masa jabatan di parlemen. Saya tidak akan tergoda menjadi calon gubernur, bupati, walikota, duta besar atau menteri dan bahkan presiden dan wakil presiden sekalipun. Bagi saya, pilihan menjadi anggota parlemen adalah pilihan terhormat. Saya harus hormati pilihan rakyat dan tidak akan mengubah pilihan itu sampai akhir masa jabatan. Seorang Barrack Obama, dalam konteks kini, atau singa-singa podium semacam Agus Salim, Natsir, Muhammad Yamin, HAMKA dan Syahrir dalam konteks dulu, tidak akan lahir tanpa diasah lewat perdebatan sengit di parlemen.

Di tingkat Partai Golkar, saya menyediakan diri untuk membentuk semacam lembaga think tank internal, sebut saja The Golkar Institute. Memang selama ini sudah ada Badan Penelitian dan Pengembangan, tetapi jauh lebih baik sebuah partai politik melahirkan lembaga think-tanknya sendiri. Pembentukan sejumlah Center dan Institute yang bersifat personal selama ini menurut saya belum bisa melakukan implementasi atas rekomendasi yang dihasilkan, hanya sebatas gagasan. Sudah lama ide ini saya dorong dilakukan oleh partai politik, tetapi sampai sekarang belum banyak yang menerapkannya. Partai politik moderen selayaknya memiliki institusi-institusi pengkaderan dan pengetahuan yang baik, kalau perlu mengembangkan semacam kampus-kampus kecil, guna memajukan pemikiran dan ideologi politiknya.

Tentu, saya masih memiliki sejumlah agenda lain. Tetapi kurang elok kalau disampaikan semua dalam kesempatan ini. Loyalitas, konsistensi, komitmen dan integritas menurut saya jauh lebih penting, ketimbang hanya sekadar kekuasaan. Menjadi presiden sekalipun tetap tidak akan terhormat, kalau rakyat ditinggalkan dalam keadaan papa dan menderita.  Terima Kasih

Tentu, saya berterima kasih kepada teman-teman partai politik lain yang juga mengundang saya bergabung, terutama PAN, PDIP dan PMB. Saya tidak merasa malu untuk mengatakan permohonan maaf saya. Kehadiran teman-teman partai lain dalam forum ini menunjukkan bahwa saya tidak sedang mencari musuh, melainkan mencari teman sebanyak-banyaknya, dalam lapangan politik praktis.

Saya juga berterima kasih atas sambutan yang hangat dari teman-teman, adik, kakak, abang, saudara, saudari, serta orang-orang tua di Partai Golkar. Sungguh saya merasa terkejut ketika menyadari bahwa Partai Golkar tidak menaruh dendam atas kehidupan profesional saya selama ini. Bahwa saya berbeda pendapat dengan Partai Golkar, misalnya dalam soal pemenang Pilkada Maluku Utara atau Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak atau Sistem Proporsional Terbuka Tanpa Nomor Urut, sehingga merugikan citra Partai Golkar, adalah bagian dari kehidupan profesional saya selama ini. Bahwa sekarang ini saya akan bekerja membesarkan partai ini adalah kehidupan profesional berikutnya di bidang politik. Saya ingin profesional di dunia politik, seprofesional saya sebagai analis, peneliti, pembicara dan kolomnis.  

Kepada institusi tempat saya menyepi dan menyendiri dalam kamar yang dipenuhi debu dan buku, Centre for Strategic and International Studies (CSIS), saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan sejak 1 Desember 2000. Saya sungguh banyak belajar atas konsep Nalar Ajar Terusan Budi, sikap ketelanjangan dalam membaca dan menerima ilmu pengetahuan. Ada banyak tangan yang telah membentuk dan menyentuh saya dalam lembaga ini: Pak Daoed Joesoef, Pak Jusuf Wanandi, Pak Harry Tjan Silalahi, Pak Djisman Simanjuntak, Mas J Kristiadi, Pak Hadi Soesastro, Mbak Clara Juwono, Bu Mari Pangestu, Bang Rizal Sukma, Bang Kusnanto Anggoro, Mas Tommi Legowo, Bu Asnani Usman, Bang Pande Radja Silalahi, Mas Edy Prasetyono, Mbak Medelina K Hendytyo, Mas Raymond, Mas Haryo, Mas Faustinus Andrea, Mas Bantarto Bandoro, Nico Haryanto, Ari A. Perdana, Arya Gaduh, Yose Rizal Damuri, Kurnia Roesad, Philips Jusario Vermonte, Christine Susanne Tjin, Puspa Delima Amri, Lina Alexandra, Alexandra Retno Wulan, Syafiah Fifi Muhibat, Imelda Maidir, Uni Titik Anas, Mas Djadiono, Mas Made, Mas Dibyo, Mas Anton Djawamaku, Mas Ismanto, Bang Udin Silalahi, Begi, Sunny, Donny, Teguh, Landry, dan semua nama lain yang tidak bisa saya sebutkan satu demi satu. Saya tidak tahu bagaimana nasib saya di CSIS setelah pidato ini, karena memang saya tidak meminta izin khusus.

Kepada kalangan jurnalis, saya mengucapkan terima kasih. Kalian adalah teman sejati yang paling setia, tidak lelah menelepon atau bertanya kepada saya. Saya tidak pamitan, karena sebagai politikus saya tentu membutuhkan kerjasama berikutnya.

Kepada teman-teman, sahabat-sahabat, serta kolega saya yang bahu-membahu menjadi pengamat sosial, politik, hukum, agama, dan lain-lainnya, serta kalangan aktivis masyarakat sipil, saya meminta ijin untuk dijadikan sebagai kelinci percobaan nanti dalam analisa kalian. Jangan kampanye positif untuk saya, kalau apa yang saya lakukan memang tidak berbuah kepada kebaikan buat orang banyak. Kritiklah saya setajam mungkin, kalau perlu dengan mencari sembilu pada pohon bambu di kampung saya nanti. Buat mata saya perih, hati saya tersayat, serta harga-diri saya luka, ketika kalian menulis tentang program yang saya tawarkan yang tidak sesuai dengan pikiran hati kalian.

Kalau di politik terkenal adagium tiada musuh yang abadi, justru saya minta agar dijadikan sebagai musuh abadi Anda, maka saya tetap menawarkan persahabatan sejati kepada Anda. Dan jangan lupa untuk menyumbang ke rekening khusus yang saya buka, sebagai dana kampanye nanti. Jelas saya tidak punya uang yang cukup dari honor menulis, berbicara atau menjadi konsultan, sebagai modal masuk ke dunia politik. Saya tidak memiliki modal material, tetapi saya punya modal sosial dan modal ilmu pengetahuan.  

Apatisme hanya membuat kita kehilangan waktu yang terlalu banyak untuk menangisi keadaan. Adagium yang sering dikatakan oleh Syahrir menyebut: Janganlah Mengutuk Kegelapan, Mulailah Menyalakan Lilin. Barangkali, pilihan saya bergabung dengan Partai Golkar hanyalah nyala sebatang lilin pada kegelapan malam. Satu tiupan angin lembutpun bisa memadamkannya..  Padi Menguning di Rengas Dengklok.

Kapas Mengelupas Jatuh ke Perigi.

Pusaka Dibawa Para Saudagar.

Jaketku Kuning di Kampus Depok.

Samalah Nian dengan di Slipi.

Padi dan kapas akan berkibar. Wabillahi Taufik Walhidayah

Wassalamu’alaikum Wr Wb.

Jakarta, 06 Agustus 2008


[1] Naskah pidato dalam ”Transformasi Indra Jaya Piliang: Dari Analis Politik ke Politisi”, bertempat di Aula Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto Jakarta, tanggal 06 Agustus 2008, pukul 09.00-12.00.

[2] Calon Anggota Legislatif Partai Golkar pada Daerah Pemilihan Sumatera Barat.

[3] Deliar Noer, Mohammad Hatta: Biografi Politik, LPE3S, Jakarta, 1990, halaman 504-505. Bandingkan, Mohammad Hatta, Bung Hatta Berpidato Bung Hatta Menulis, Penerbit Mutiara, Jakarta, 1979, halaman 73-93.

[4] Indra J. Piliang, ”Kalau Bukan Demokrasi, Apa?”, Koran Tempo, 26 Desember 2007.

[5] Indra J Piliang, “Rezim Developmentalisme Demokratis”, Padang Ekspres, 25 Juli 2008.

Berjuang Dalam Sistem

Filed under: Kolom — indrapiliang @ 9:36 am
Berjuang dalam Sistem
Sindo, Wednesday, 06 August 2008
Hari ini saya akan mengakhiri kiprah sebagai analis politik dan perubahan sosial secara formal. Saya melangkah memasuki dunia yang saya amati.

Dalam metodologi kualitatif, ketika seorang peneliti memasuki wilayah amatannya, penelitiannya disebut penelitian terlibat.Tetapi saya tidak sedang meneliti, melainkan menjadi politikus. Kepada pembaca SINDO, saya mengucapkan permohonan maaf atas keputusan ini dan memohon doa restu. Tentu saya tidak akan berhenti menulis. Bagi saya menulis adalah bagian dari proses pembebasan pikiran. (more…)

August 5, 2008

Jangan Presiden By Iklan

Filed under: Catatan Lepas — indrapiliang @ 2:56 pm

Selasa, 05/08/2008 10:08 WIB
Indra J Piliang: Jangan Sampai Dapat President by Iklan
Rafiqa Qurrata A - detikNews


Jakarta - Sering lihat TV? Jika iya, maka anda akan sering melihat bahkan sampai bosan dengan iklan tokoh politik. Sudah jadi rahasia umum, para tokoh itu beriklan untuk maju pada Pilpres 2009.

Pengamat politik dan peneliti CSIS Indra Jaya Piliang mengkritisi kondisi tersebut. Ia memilih menjadi caleg terlebih dulu. Ia lantas mengimbau sejumlah tokoh mengikuti jejaknya.
(more…)

« Previous PageNext Page »

Powered by WordPress