Kembalikan, Kampung Halamanku…

August 17, 2008

Enam Puluh Tiga

Filed under: Puisi — indrapiliang @ 6:37 pm

Enam Puluh Tiga 

Kami bukanlah Jin Aladin yang datang dari Baghdad, lantas meniup para serdadu Jepang dan Belanda kembali ke negerinya.  

Kami juga bukan tentara berkuda utusan Gengis Khan yang berlama-lama menelusuri debu menggentarkan seluruh dunia Barat dan Timur. 

Jangan juga bilang kami Attila yang rela membunuh saudaranya untuk menyebarkan perang dan penaklukan.  

Kalian salah, apabila memandang kami adalah orang-orang Sparta, lantas setiap orang yang bersemangat baja disebut spartan, yang dengan 300 pasukan menghadapi selaksa kaum barbar dari Timur.   

Siapa kami? Kalian sudah mencatatnya, tetapi lupa membacanya.  

Kami bersidang, tidak sampai 70 orang, membuat konstitusi. 

Kami menghormati setiap kata dan kalimat, sejarah, tradisi dan tak hendak berdiri berdesakan merebut podium.  

Kami tidak bermobil-beriringan ketika menculik Bung Karno dan Bung Hatta. 

Kami juga tidak begitu banyak ketika hadir di Jl Pegangsaan 56 yang kalian runtuhkan bangunannya itu.  

Kami tidak sampai sepuluh orang, ketika mengendap pada kantor berita Jepang, lantas menyiarkan bunyi proklamasi ke seluruh dunia. 

Siapa kami? Ya, catatan itu, renungan beberapa menit dalam upacara kalian. Kalian sebut kami pahlawan dan negarawan, tetapi kalian hinakan negeri ini. Kalian kunjungi maqam-maqam kami, tetapi kalian undang jaringan wartawan untuk bersaksi.  

Sudah enam puluh tiga tahun kami ada pada hilir waktu. Sudah enam puluh tiga tahun juga kami terbelenggu. Kalian tidak pernah bebaskan kami oleh mimpi buruk kalian sendiri. 

Kini, kami hanya meminta: merdekakan kami! Bebaskan kami! Merdeka!!! 

Jakarta, 18 Agustus 2008.

January 20, 2008

Tafakur

Filed under: Puisi — indrapiliang @ 3:19 pm

Seharian, aku tafakur dalam sepi

Mencekam, mencengkram, membuat sakit pada punggung

Sepi yang datang berhari-hari dan memuncak hari ini

Sepi yang menjadi sahabat setia  Kulamur mukaku dengan kencur doa

Kukirim ia ke langit-langit kamarKulantunkan dalam setiap ketukan palu dari tukang-tukang yang berkeringat

Di atap rumah  Aku seperti balon itu

Yang dibelikan bunda buat anakku di Ancol

Sendirian ia di langit-langit kamar

Tanpa tali

Hanya mencari jalan untuk keluar menembus angkasa  Tidak ada jalan yang kutapak hari ini

Seperti kemaren dan kemaren, besok dan besok

Hanya anak-anak tangga

Kamar mandi, meja makan, serta dunia tanpa batas di internet

Lalu siaran sepakbola di televisi 

Sepi yang hening, sebelum semua berubah Ketika anakku datang, membongkar mainan, memencet tombol-tombol di laptop

Menggaruk punggungnya

Ya, kumandikan ia, bersama guyuran sepi

Kusuapi ia, tentu dengan indomie, makanan yang entah mengapa sering mengikat kami berdua Sepi yang hilang, bersama cerita bunda

Tentang anak-anak kurus dan tirus yang ditemui siang tadi

Di pedalaman sana, dua jam perjalanan dari sini  Bunda tafakur dengan ceritanya

Tentang orang-orang yang menderita

Anak-anak yang lapar ditinggal ibunya

Bersama sang ayah hanya berteman sisa makanan tetangga

Buruh tani yang bekerja keras di musim paceklikKetika semua harga naik untuk benih-benih padi dan kedelai Sepi itu lenyap, bersama derita orang-orang

Di kampungku, nun di pantai barat Sumatera, tabut-tabut dibuang ke laut

Kisah keluarga Ali bin Abi Thalib yang mati di Padang Karbala

Dihantam sepi gurun pasir tandus, dibuang menelusuri hening samudera Hindia  Ya, aku tafakur, bersama orang-orang yang menderita itu

Nyawa-nyawa yang hilang sia-sia

Dendam kesumat turun temurun Sungguh, aku di sini, terlalu dipenuhi dengan cinta tak bertepi

Dari hati yang suci  Selamat malam… Jakarta, 18/01/2008  

January 1, 2008

Cerita Lembah pada Desember

Filed under: Puisi — indrapiliang @ 3:33 pm

Cerita Lembah pada Desember Lembah itu basah, ditiup angin Desember.Ia datang, menyapa angin, mengundang hujan.Bukit-bukit yang mengelilingi kadang terang, kadang membayang.Malam hanya menyediakan kerlap-kerlip lampu. 

Pada kunang-kunang ia titipkan pesan:“Katakan pada bintang di langit sana, disini juga banyak cahaya berpendar.”  Sering ia berharap, para malaekat membawa pesan itu. Dan bidadari menjawab lewat mimpi.  

Lembah itu dingin, membawa gigil. Para petani meneruka lahan, mengucap syukur. Lalat-lalat juga beterbangan, sembari mengatupkan kedua kaki depan, bersujud pada setiap sisa makanan yang tersentuh.  Ya, kita adalah anak-anak alam. Kita akan menderita bila mengutuk setiap pertemuan.  

Ada pertemuan pada Desember itu, tetapi juga ada penggal perpisahan didesak tahun. Namun, bukankah juga ada Januari yang meneruskan? Serta bulan-bulan lain, Maret, Juli.. sampai Desember berikutnya? “Telah kuselimuti kau, Desember, dengan hangat tubuhku. Telah juga kulingkari dengan rintik-rintik hujan. Pohon-pohon yang tumbuh tidak akan meranggas. Percayalah. Aku ada karena ia ada dan kita ada menjadi sempurna,” berkata Lembah. 

Desember tidak sempat berhenti. Ia hanya menunggu, setahun lagi. Ia berikan kesetiaan kepada waktu. Ia abadi, bersama waktu.   Hujan datang, setelah letusan mercon terakhir, pada malam tahun baru ini. 1 Januari 2008 

July 22, 2007

Luka

Filed under: Puisi — indrapiliang @ 10:53 am

Dia datang, pada suatu pagi, ke hadapan algojo itu. “Berikan aku luka. 35 luka lagi!” katanya, sambil membuka bajunya.Di tubuhnya, sekuyur badannya, sudah ada 265 luka.

(kain hitam terbentang, pada sosok hitam, berbaju hitam itu. Dua bolamatanyapun hitam, tersembunyi pada tutup kepala itu)

(more…)

Powered by WordPress