Kembalikan, Kampung Halamanku…

August 18, 2008

Milis FPK dan 10 Catatan

Filed under: Catatan Lepas — indrapiliang @ 7:25 am

Peserta milis Forum Pembaca Kompas Yth Mohon maaf atas email yang saya kirimkan ini. Saya terpaksa mampir ke email ini untuk mengklarifikasi sejumlah hal.  

Pertama, saya menyayangkan tanggapan Darmaningtyas soal CSIS. Di CSIS, aspirasi politik perseorangan tidaklah sama. Rizal Sukma, Wakil Direktur Eksekutif CSIS sekarang, dulu pernah menjadi fungsionaris DPP PAN. Begitu pula saya. Pilihan politik seseorang adalah pilihan personal. Dalam pemilu 2004, ada beberapa orang di CSIS yang menjadi caleg, termasuk lewat partai almarhum Syahrir. Saya sudah mengirimkan email kepada Darmaningtyas soal ini, karena dia sudah beberapa kali mengungkapkan soal CSIS di beberapa forum. Perlu diketahui juga bahwa saya masuk CSIS tanggal 1 Desember 2000. sebuah lembaga, apapun namanya, Kompas sekalipun, hanya namanya yang sama, tetapi apa yang dilakukan berbeda dari masa-ke-masa. Seorang Darmaningtyas sekalipun juga menjalankan fase kehidupan yang tidak sama dan saya tidak akan mengomentarinya.  

Kedua, sebagaimana disampaikan dalam berita JK hari ini (http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/18/00090116/jalur.khusus.partai.golkar.10.persen), maka sebuah perubahan sudah dilakukan di internal Partai Golkar. Saya memasuki partai ini demi ikhtiar dan itikad perubahan itu. Dan itikad itu bukan hanya dilakukan oleh Partai Golkar, melainkan juga Partai Bintang Reformasi (ada Dita Indah Sari), PDI Perjuangan (Budiman Sudjatmiko & Zuhaeri Misrawi), dllnya. Dita dan Budiman saya kenal sejak mahasiswa, tahun 1992-1993. Zuhaeri adalah sama-sama kolomnis di Kompas.  

Ada banyak kawan, para aktivis mahasiswa 1990-an yang kini masuk ke hampir semua partai politik. Fadli Zon di Gerindra, misalnya. Nanti akan terlihat siapa saja mereka. Saya tidak bisa mengesampingkan pilihan politik generasi 1990-an ini, sekalipun tidak semua masuk ke dalam partai politik. 

Ketiga, saya dilepas oleh 100-an lebih kawan-kawan di Universitas Paramadina justru menunjukkan bahwa pilihan ini objektif dan rasional. Nanti saya taruh di blog saya testimoni mereka: Chandra M Hamzah (saya kenal 17 tahun lalu), Anies Baswedan (saya kenal 15 tahun lalu), dllnya. Generasi 1990-an adalah generasi yang sudah terbiasa dengan perdebatan yang keras dan tajam. Bahwa ada yang menentukan pilihan menjadi dosen di universitas, profesional di perbankan, aktivis di lembaga swadaya masyarakat, penulis, atau bahkan yang menikmati pekerjaan di luar negeri (brain drain), adalah bagian dari pilihan itu. Bagi saya, ini adalah sebuah pertanggungjawaban generasi tentang Indonesia yang didambakan dan dicita-citakan. Generasi 1990-an adalah generasi yang mengalami gejolak antara kebebasan dan ketidak-bebasan, di tengah rezim yang mulai berusia senja.  

Keempat, bahwa saya memilih Partai Golkar tentu disertai oleh sejumlah pertimbangan. Dalam pidato saya sebutkan beberapa butir dari pertimbangan itu. Ada pilihan untuk mengembangkan rezim Developmentalisme Demokratis yang berbeda secara diametral dengan rezim Developmentalisme Represif. Bahwa saya masuk Partai Golkar setelah Pak Wiranto dan Pak Prabowo Subianto keluar adalah bagian dari pertimbangan yang menguatkan. Partai Golkar kini lebih berwajah sipil. Kalaupun ada tuduhan bahwa Partai Golkar dihuni oleh sejumlah pengusaha, saya kira literatur sejarah juga menunjukkan bahwa demokrasi memang dibangun oleh kalangan borjuis yang menentang kaum feodal (yang punya tanah) dan kaum agamawan (yang punya Tuhan dan Rumah Tuhan) sebagaimana ditulis oleh Barrington Moore. Betapa kaum borjuis kini menjadi bagian dari kelompok penguasa, bukan lagi kelompok lobi yang aktif (baca disertasi Rizal Mallarangeng) terutama menggantikan kaum intelektual yang pada awal kemerdekaan menjadi kelas penguasa (baca Harry J Benda), adalah bagian dari fase sejarah. Dan sebagai sebuah penyikapan, saya memajukan diri untuk memasuki celah sempit kehidupan politik itu, apapun status yang diberikan kepada saya selama ini.  

Kelima, kepada kakak-kakak saya, seperti Bambang Sulistomo dan Manneke Budiman, dllnya, saya mengerti kepedulian dan keprihatinan kalian. Yang dikhawatirkan adalah Partai Golkar akan mengubah saya. Yang terpenting adalah saya sudah menjatuhkan pilihan. Saya tidak ingin menilai partai-partai politik lain, tetapi saya berasumsi bahwa apapun partai politik pilihan saya, tetap saja akan memunculkan asumsi yang sama. PDIP, PKS, PAN, PMB, PPI, dan lain-lainnya, adalah beragam warna politik dalam lanskap Indonesia. Bahwa saya akan mengikuti aturan main partai, iya. Bahwa saya akan mencoba melakukan lobi, berdebat, dllnya, guna mengubah aturan main itu, juga iya. Saya percaya bahwa partai politik bukanlah Candi Borobudur yang tidak bisa digeser kedudukan dan pilihan politiknya. Partai politik bukanlah benda, karena di dalamnya berhimpun begitu banyak manusia.  

Keenam, saya maju sebagai caleg dari Daerah Pemilihan Sumatera Barat II yang meliputi tiga kota (Bukittinggi, Payakumbuh dan Pariaman) dan lima kabupaten (Padang Pariaman, 50 Kota, Agam, Pasaman dan Pasaman Barat). Di Sumbar II ini pernah lahir Tuanku Imam Bonjol, HAMKA, Mohammad Hatta, H Agus Salim, Tan Malaka, dllnya. Bahwa mereka dulu bergabung dengan partai politik yang berbeda. Tetapi ada satu kenyataan yang penting, betapa di sebagian besar Dapil Sumbar II ini, kualitas sumberdaya manusia masih lemah. Tidak ada satupun universitas besar berdiri di Sumbar II ini. Apa yang saya maksud dengan rezim Developmentalisme Demokratis lebih terkait dengan daerah pemilihan saya ini. Harus ada pembangunan yang berdimensi kemanusiaan, pembangunan yang humanistis, terutama untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya. Bahwa banyak penduduk di dapil saya hanya berpendidikan SD, sedikit sekali yang berpendidikan SMA (tidak semua kecamatan memiliki SMA),  serta jarang yang masuk pendidikan tinggi (apalagi di universitas bonafid di tanah Jawa dan luar negeri), adalah tantangan yang ada di depan mata.  

Ketujuh, bahwa saya kembali ke kampung halaman saya dengam memakai baju Partai Golkar hanya sebagai ikhtiar kecil untuk tidak membiarkan kampung halaman saya dilindas oleh drakula siang yang bernama globalisasi. Dan saya sudah terlalu lama bersinggungan dengan teman-teman yang pro-pasar bebas, pro pasar-sosial, dllnya, tetapi semakin hari saya paham bahwa masyarakat di dapil saya tidak sedang harus mengunyah-ngunyah gagasan-gagasan besar itu, karena satu tindakan kecil saja belum dijalankan dengan baik. Saya tidak sedang menunggu seorang Mao Tse Tung lahir di Indonesia, lalu menyuruh kaum intelektual pergi ke desa-desa, meninggalkan perpustakaan dan laboratoriumnya, untuk mencapai sebuah lompatan kebudayaan yang dahsyat yang kita lihat dari pembukaan Olimpiade Beijing. Biarlah saya, sendirian, kembali ke kampung saya, setelah 20 tahun sekolah, 17 tahun hidup di gang sempit Jakarta, untuk melakukan sebuah revolusi mentalitas. Tentu saya akan sangat senang apabila puluhan ribu politisi, puluhan ribu intelektual, kembali ke kampung halaman masing-masing, lantas membangun masyarakat di tingkat basis. (Lihat tagline yang lama saya pasang di www.indrapiliang.com dan nada tunggu di handphone saya dari lagu Ahli Fiqir dengan judul sama: ”Kembalikan, Kampung Halamanku!”).  

Kedelapan, tentu saya senang dengan adanya diskusi tentang pilihan politik yang saya ambil. Ada beberapa milis yang mendiskusikan itu. Bagi saya, perdebatan adalah bagian otentik dari buah reformasi dan demokrasi. Tetapi akan sangat tidak berguna apabila diskusi itu hanya bersifat insuniatif, terutama dari orang-orang yang alergi hanya kepada sebuah simbol, sebuah warna, namun kehilangan substansi pada isi. Sudah sepuluh tahun kita melakukan hal ini, berpesta dengan kebebasan, sampai kita mabuk dengan kebebasan itu, serta kehilangan kesadaran tentang apa yang lebih baik dilakukan ketika seluruh anggur sudah tertelan ke perut dan toilet dipenuhi oleh bau busuk, ditambah dengan sampah-sampah yang berserakan.  

Kesembilan, saya sudah menguji beberapa ”textbook” ilmu politik dan perubahan sosial, antara lain dengan membuka nomor rekening pribadi. Sampai sekarang tidak ada yang bisa saya laporkan, karena memang tidak ada dana yang masuk. Saya tidak kecewa, tetapi yang penting adalah satu eksperimen individual untuk menguji sejauh mana kita memiliki solidaritas sosial sudah saya lakukan. Jadi, sampai hari ini saya belum menggunakan dana publik untuk kegiatan politik saya, serupiahpun. Sekalipun begitu saya tetap memiliki kepercayaan bahwa publik bisa mengubah keadaan, terutama kelompok yang meyakini dirinya sebagai entitas yang terhormat dalam sebutan creative minority (perubahan digerakkan oleh kelompok ini sebagaimana ditulis oleh Arnold Toynbee).  

Kesepuluh, terakhir, saya secara terbuka meminta bantuan teman-teman di milis FPK ini untuk menyumbangkan pemikiran-pemikiran alternatif ataupun pemikiran-pemikiran lama tentang apa yang harus saya lakukan, minimal di daerah pemilihan saya. Saya sudah mengumpulkan sejumlah data, tetapi belum bisa disampaikan secara terbuka. Dapil saya termasuk kategori pesisir dan pegunungan. Ada tiga gunung yang terletak di dapil saya, ada lembah dalam seperti Ngarai Sianok, juga Danau Maninjau yang didalamnya terdapat sembilan ikan sebagai perubahan wujud Bujang Sembilan. Silakan dilacak di internet. Saya menerima masukan-masukan tentang bagaimana membangun nagari demi nagari di kampung kami. Terdapat 73 kecamatan dan 266 nagari di dapil saya. 

Demikianlah sepuluh catatan untuk teman-teman di milis FPK ini. Semoga milis ini tetap memberikan harapan akan kebaikan demi kebaikan yang hendak ditempuh di Indonesia.  

Hormat Saya, 

INDRA JAYA PILIANG Msi 

Pergi ke Rantau untuk Belajar, Kembali ke Ranah Menuju Akar. 

 

http://www.mail-archive.com/forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com/msg48639.html. 

http://www.mail-archive.com/forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com/msg48668.html. 

http://www.mail-archive.com/forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com/msg48657.html.

 

August 15, 2008

Sepuluh Hari Jadi Politisi

Filed under: Catatan Lepas — indrapiliang @ 6:57 am

Sepuluh Hari Jadi Politisi 

Sudah sepuluh hari saya menyatakan diri sebagai politisi. Apakah ada yang berubah? Banyak yang berubah, namun banyak juga yang tetap seperti semula. Susunan buku-buku masih rapi, ada beberapa buku baru, baik hadiah atau saya beli. Pulang ke rumah masih tetap larut malam, sekalipun juga sesekali mengatur waktu untuk dinner bersama keluarga. Pergi ke kantor juga tetap pagi, seusai mengajak kedua anak bermain dan berbicara.  

Yang berubah?  

Pertama, tentu saya tidak bisa lagi tampil di layar televisi sebagai pengamat. Ada dua stasiun TV sebetulnya yang meminta atau mengijon saya sebagai pengamat tetap. Beberapa pekerjaan sebagai public speaker untuk kegiatan voters education, baik yang diadakan oleh pemerintah atau pihak non-pemerintah, juga harus dibatalkan. Perubahan drastis terjadi pada saldo pemasukan dalam rekening. Siapa bilang ini bukan pengorbanan yang berat? 

Kedua, semakin banyak telepon dari kampung halaman, daerah pemilihan saya. Ada kegiatan lomba layang-layang, liga bola antar kampung, pengajian rutin, pembangunan pesantren, dan lain-lain. Ibu sayapun terpaksa mengambil tabungan hari tuanya, guna membantu biaya sosialisasi anaknya. Politik memang membutuhkan dana. Aneh, kalau politik tanpa dana. Idealisme betapa politik cukup dengan ide atau gagasan, tertanggalkan.  

Ketiga, ada banyak sms yang masuk, begitu juga email. Minggu lalu handphone saya sampai hang. Terpaksa diservis dan 4000-an nomor telepon hilang. Tapi karena punya back up di laptop, kembali hanya tersisa 3000-an nomor telepon. Kemaren saya hapus lebih dari 300 nomor telepon. Sepuluh hari lalu saya masih menganggap sebagai nomor-nomor penting, sekarang tidak perlu lagi dijaga. Namun bukan berarti kalau ada teman yang sms atau menelepon, lalu saya bertanya :”Maaf, ini siapa? Handphone saya rusak dan semua nomor hilang,” barangkali masuk kategori nomor yang hilang, bukan sengaja saya hilangkan.  

Keempat, undangan keluar kota terpaksa saya batalkan. Ke Aceh, Manado dan Ambon yang sudah pasti tidak bisa. Biasanya, saya senang untuk pergi keluar kota, membebaskan diri dari belenggu Jakarta. Menghirup udara segar dan energi alam. Saya betul-betul berhitung atas waktu, kesempatan dan kegiatan. Tapi saya tetap punya jadwal ke Mataram, Bali dan Yogya bulan depan. Barangkali juga ke kota-kota lain. Sebagian adalah sisa dari persetujuan yang sudah saya berikan sebelumnya.  

Kelima, saya makin paham dengan struktur, sistem dan jaringan internal Partai Golkar. Ada beberapa kegiatan yang saya hadiri. Dalam tiga minggu, saya bertemu Jusuf Kalla tiga kali. Bertemu dengan pimpinan yang lain juga berkali-kali. Bahkan mulai dipanggungkan oleh Partai Golkar, sebagai debater, dalam kegiatan kepartaian. Saya sudah memiliki dua jaket, satu dibeli sendiri oleh sekretaris saya di Slipi, satu lagi diberikan oleh pimpinan MKGR.  

Keenam, saya mulai mengumpulkan orang di lingkaran terdekat, termasuk di kawasan tempat saya tinggal. Istri saya mengatakan, muncul isu bahwa satu mobil yang kami punya adalah pemberian Partai Golkar. Juga permintaan, “Apa yang Golkar bisa berikan?” Satu partai politik mengirimkan ambulans buat kebutuhan warga. Kalau sepuluh hari lalu orang tidak peduli dengan warna dan pilihan baju yang saya pakai, maka sekarang apapun baju yang saya gunakan, pastilah itu baju Partai Golkar. Baju merah sekalipun pasti dianggap kuning.  

Ketujuh, saya merasa “merdeka” dari status pengamat. Tiga telepon dari luar negeri: Singapura, Jerman dan Australia, yang meminta komentar saya soal-soal politik, dengan sigap saya katakan: “Saya bulan lagi analis politik.” Ya, ada keterkejutan, tetapi juga ada “Congratulation!” Sampai kinipun saya tidak begitu paham kenapa orang terkejut dengan perubahan status itu. Selama ini saya melayani wartawan dengan baik, semampu saya. Sekarang, saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan dan katakan. Apakah mereka juga mencibirkan, lantas mengatakan dalam wajah sumringah: “Nah, Indra sekarang sudah berperut buncit!” Saya juga tahu dan sadari, beberapa wartawan, sebagian dari lapisan muda usia, dengan wajah tirus dan terenyuh menyatakan dalam hatinya: “Bang, kami membantumu. Tapi tolong pahami posisi kami.”  

Kedelapan, saya sudah pasti kehilangan banyak teman, tetapi belum tentu dapat teman baru. Politik lebih banyak menyiptakan kesendirian, daripada kehangatan persahabatan. Tentu saya juga menguji sejumlah nilai “pertemanan”, “persahabatan”, serta kata-kata apapun yang selama ini ada dan terpelihara. Apakah itu benar-benar ada? Ketika seorang politikus meminta bantuan kepada teman dan sahabatnya, apakah itu benar-benar dimaknai sebagai permintaan yang tulus atau imbal jual-beli? Selama ini, saya tidak banyak “menghitung” soal-soal seperti ini, tetapi sekarang saya pantas mengujinya.  

Kesembilan, ada semangat baru di kalangan orang yang mengenal saya, terutama dari pihak keluarga dekat. Datuk saya menangis ketika saya telepon, lalu setelah itu mengatakan dengan bersemangat bahwa dia sudah membuat sejumlah posko untuk pemenangan saya. “Apa saya harus melepas jabatan datuk ini dan memberikan kepadamu?” Saya menolaknya. Sejak dulu saya menolak jabatan datuk. Beberapa paman saya dari luar Sumbar pulang ke kampung halaman, mengikuti jejak saya pulang, lantas berkeliling. Guru-guru sekolah dasar dan menengah saya juga ikut berbisik ke orang-orang. Sejumlah teman, yang benar-benar teman, terutama teman SD, SMP dan SMA saya, dengan nada kecut mengatakan keterkejutan, tetapi ada juga yang dengan sepenuh hati mengirimkan semangat yang paling murni dari perkawanan paling abadi: persahabatan masa kanak-kanak, ketika kami dulu bahkan sering berkelahi.  

Kesepuluh, ada beberapa nomor telepon yang selama ini rajin berteleponan tidak lagi bisa ditelepon. Politikus mungkin sejenis anjing kurap, siapapun yang mengenalinya akan terkena virus menular. Mungkin saya terlalu sentimentil, tetapi memang itu yang saya rasakan. Berbahagialah politikus yang merasa dirinya dewa, pengatur kehidupan manusia, namun tidak diketahui rakyat tentang apa yang dia kerjakan atau pikirkan.  

Ya, cukup sepuluh itu saja dulu. Sebagai catatan selama sepuluh hari ini. Saya tidak tahu, apakah catatan ini pantas dikirimkan ke koran-koran. Catatan seorang politikus pemula, di tengah kerumunan pikiran dan permasalahan orang banyak. Dari 20.000 lebih calon anggota DPR-RI, saya hanya satu di antaranya. Bayangkan kalau catatan 20.000 politisi itu hadir di koran-koran, masihkah kita membutuhkan kalangan penulis lain. Biar blog ini memberikan pelepasan, dari beban pikiran seorang politikus. Jalan masih panjang, hadangan terus membayang.  

Jakarta, 16 Agustus 2008. 

Indra Jaya Piliang, Msi 

Pergi ke Rantau untuk Belajar, Kembali ke Ranah Menuju Akar.

August 6, 2008

Pamit sebagai Akademisi, Pulang sebagai Politisi

Filed under: Catatan Lepas — indrapiliang @ 10:09 am

Pamit sebagai Akademisi, Pulang sebagai Politisi[1] 

OlehIndra Jaya Piliang, SS, MSi[2] Assalamu’alaikum Wr WbSelamat Pagi dan Salam Sejahtera

Untuk memulai pidato ini, saya mengutip MOHAMMAD HATTA yang pada tanggal 11 Juni 1957 menegaskan:

“Revolusi kita menang dalam menegakkan negara baru, dalam menghidupkan kepribadian bangsa. Tetapi revolusi kita kalah dalam melaksanakan cita-cita sosialnya…. Krisis ini dapat diatasi dengan memberikan kepada negara pimpinan yang dipercayai rakyat! Oleh karena krisis ini merupakan krisis demokrasi, maka perlulah hidup politik diperbaiki, partai-partai mengindahkan dasar-dasar moral dalam segala tindakannya. Korupsi harus diberantas sampai pada akar-akarnya, dengan tidak memandang bulu. Jika tiba di mata tidak dipicingkan, tiba di perut tidak dikempiskan. Demoralisasi yang mulai menjadi penyakit masyarakat diusahakan hilangnya berangsur-angsur dengan tindakan yang positif, yang memberikan harapan kepada perbaikan nasib.”[3]

Keadaan yang kita hadapi sekarang kurang-lebih sama dengan yang dikatakan oleh Hatta, lebih dari 50 tahun yang lalu itu. Perbedaannya, demokrasi kini merupakan salah satu keajaiban yang dialami oleh rakyat Indonesia. Sepuluh tahun lalu, kita tidak pernah membayangkan bahwa demokrasi akan hadir sederas sekarang. Sementara hidup masyarakat semakin susah, sekalipun kesempatan juga terbuka luas untuk mewujudkan mimpi apapun, selama ada ikhtiar dan kerja keras.

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, izinkanlah saya menyampaikan pokok-pokok pikiran kenapa saya berubah haluan, dari seorang pengamat politik menjadi pelaku politik atau politisi. Sekaligus, ijinkanlah saya pamit sebagai analis politik dan perubahan sosial, termasuk juga dalam mengamati persoalan-persoalan otonomi daerah, resolusi konflik, juga perkembangan masyarakat sipil. Ini adalah pidato pertama dan terakhir saya sebagai pengamat politik yang sedang melakukan transformasi di bidang politik.

Demokrasi yang berbasiskan partai politik hampir berusia sepuluh tahun. Banyak pihak yang secara sinis menyebut sebagai keadaan yang jauh lebih buruk daripada zaman sebelumnya. Kehidupan tanpa partai politik yang bergemuruh barangkali memberikan kenyamanan struktural kelompok penguasa formal, juga kesenangan kultural penguasa tradisional. Partai politik dianggap sebagai benalu bagi kehidupan, serta bahkan penghambat bagi pencapaian keadilan dan kesejahteraan sosial. Pola pikir semacam itu adalah sisa dari zaman lalu yang ikut terseret ke zaman sekarang, sehingga selalu terdapat para penentang demokrasi, bahkan di kalangan kelompok intelektual sekalipun.[4]

Masyarakat belum sepenuhnya percaya kepada demokrasi. Orang-orang cerdas berpendidikan tinggi tinggal menunjukkan data-data statistik tentang perilaku buruk orang-orang yang ada dalam partai politik, tetapi tidak membedakan bahwa perilaku buruk itu dipupuk oleh ketidak-pahaman tentang demokrasi secara mendalam. Sebagai suku bangsa yang terlalu  lama mengalami kolonialisme, ditambah dengan praktek kekuasaan yang rakus dan korup, masyarakat Indonesia seakan terus memelihara pemikiran tentang keberadaan raja yang baik. Padahal, kenyataannya tidaklah semudah dan sesederhana itu.

Karena itulah saya menggeluti bidang pekerjaan yang tidak terbayangkan sebelumnya, yakni mengamati peristiwa, perilaku, aktor, sistem sampai gejala-gejala politik yang ada di tengah-tengah masyarakat, bangsa dan negara. Dunia politik praktis bukanlah sesuatu yang asing bagi saya. Sekalipun tidak langsung terlibat sebagai politikus, fase-fase kehidupan saya sudah melewati dunia politik, baik teoritis, empiris, maupun praktis. Fase pertama kehidupan politik yang saya tempuh adalah menjadi fungsionaris Partai Amanat Nasional (PAN) selama hampir dua tahun, yakni sejak tahun 1998 sampai tanggal 21 Januari 2001. Setelah itu, saya konsentrasi sebagai penulis, analis, narasumber atau pembicara dalam banyak seminar.

Saya juga aktif dalam beragam aktivitas kelompok masyarakat sipil dan apa yang dikenal sebagai kelompok pro-demokrasi. Saya memiliki banyak sekali kawan, termasuk dari beragam partai politik, kelompok nasionalis, kelompok separatis, sampai aktivis garis keras dan pragmatis. Saya sudah berjalan ke hampir semua titik penting di republik ini, juga berbicara, menulis dan menganalisa. Saya juga berada pada pusat-pusat peristiwa perubahan politik penting. Bisa dikatakan keseharian saya adalah politik. Peristiwa-peristiwa politik besar dan kecil ditanyakan dengan rajin oleh para jurnalis. Tentu, ada kelelahan dan kebosanan, terutama akibat apa yang kita tulis atau katakan tidak sesuai dengan realitas yang diinginkan. Namun saya tetap setia menggeluti profesi ini.

Untuk menghindari kesalahpahaman orang atas gelar kesarjanaan saya, maka mulai tahun 2006 saya memutuskan untuk kuliah Magister atau Pasca Sarjana Bidang Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia yang saya tamatkan dalam dua tahun. Sebelumnya, saya menamatkan kuliah di jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra UI pada tahun 1997. Ada ribuan buku yang sudah saya baca, tetapi tidak semuanya terekam dengan baik dalam pikiran. Kegiatan perkuliahan juga tidak menghentikan rutinitas kehidupan sebagai aktivis, analis politik dan perubahan sosial. Saya tetap menyempatkan diri menulis, terutama pada media massa yang rajin menelepon saya untuk menganalisis peristiwa, regulasi, hasil survei, ataupun tokoh-tokoh politik tertentu. Saya juga berbicara pada media televisi dan radio. Tidak kurang dari 60 lebih mailing-list yang saya ikuti di internet.

Tetapi, dari hari-ke-hari, beragam jajak pendapat dan hasil pemilihan langsung kepala daerah menunjukkan antipati masyarakat terhadap partai politik dan politisi. Bagi saya, keadaan ini mencemaskan, bahkan menakutkan. Demokrasi yang diraih hari ini adalah buah perjuangan banyak pihak, terutama mahasiswa, dengan mengorbankan nyawa sekalipun. Sebagai aktivis mahasiswa 1990-an, termasuk terlibat dan berada di Gedung MPR-DPR pada malam tanggal 19-20 Mei 1998, saya merasakan bagaimana sulitnya mengungkapkan pendapat pada masa lalu itu. (Saya ingat bagaimana kami harus lari dari Samarinda ke Balikpapan pada Desember 1996, setelah hasil Pertemuan SMPT se-Indonesia di Universitas Mulawarman meminta agar Soeharto tidak dipilih lagi). Minimnya kepercayaan publik terhadap partai politik dan politisi memberikan sinyal bahaya bahwa suatu hari masyarakat kembali merindukan masa-masa kelam otoritarianisme.  Mengapa?

Memasuki tahun 2008, saya menyatakan tidak lagi ingin bicara di atas mimbar dengan duduk, melainkan berdiri dan memberikan orasi. Saya lebih memilih gaya orasi, ketimbang diskusi santai, untuk memberikan tekanan kepada kalimat-kalimat yang saya rangkai dan ucapkan, disertai dengan bahasa tubuh. Saya juga mengubah tampilan blog saya di friendster. Yang lebih penting lagi, saya membuka penyebutan nama dalam tulisan-tulisan di media massa, tidak lagi menyebut INDRA J PILIANG, melainkan INDRA JAYA PILIANG. Indra Jaya adalah kepanjangan dari Indonesia Raya Jaya. Perubahan cara menulis nama ini mempunyai arti besar, tidak hanya sekadar menghindari kesalahan penulisan.

Tetapi lagi-lagi itu saja tidak cukup. Masyarakat terus memberikan pernyataan betapa buruknya wajah partai politik dan politisi kita lewat beragam survei, serta minimnya keikutsertaan dalam pilkada.. Saya berpikir, apakah akan meneruskan apa yang sudah saya kerjakan selama hampir sewindu terakhir ini sebagai analis politik? Saya sudah sangat akrab dengan siaran malam di radio dan televisi, ataupun pagi-pagi buta. Berangkat sebelum azan subuh, atau sampai di bandara menjelang tengah malam, juga bagian dari pekerjaan ini.  Pekerjaan ini sudah menjadi rutinitas. Ataukah saya harus menyelesaikan studi doktoral, bukan di dalam negeri, melainkan di luar negeri, yakni ke India, mengikuti jejak puluhan orang teman-teman terdekat saya? Barangkali tersedia juga peluang untuk mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang konsultansi dan komunikasi politik, lalu mendapatkan kemelimpahan finansial, sebagaimana dilakukan oleh kawan-kawan saya yang lain? Sebagai analis saya sudah terlalu nyaman, bahkan mapan, tetapi gejolak hati saya tidak bisa reda hanya dengan pekerjaan ini.

Rupa-rupanya, pilihan yang lebih menantang segera datang. Ketika saya pulang kampung sebelum ujian tesis, saya bertemu dengan kedua orang-tua saya, memintakan doa restu agar nilai saya bagus dalam ujian tesis. Persis ketika berada di teras rumah di tengah-tengah sawah itu beragam telepon datang. Tawaran itu jelas, menjadi calon anggota legislatif. Sebelumnya, saya juga sudah ditawarin oleh satu partai besar. Saya langsung bertanya kepada ayah saya, saudara, teman-teman, serta para tokoh yang saya hormati dengan menelepon dari tengah sawah, dalam aura dan energi yang terhisap dari kampung saya. Pilihan menjadi politisi adalah pilihan yang sulit. Pro dan kontra terjadi, tetapi sebagian besar memberikan dukungan.

Karena desakan itu tidak berhenti setelah saya dinyatakan lulus ujian, saya langsung memutuskan: inilah saatnya. To be or not to be. Partai politik menurut saya benar-benar sedang membutuhkan pikiran-pikiran saya, sekecil atau setidak-berarti apapun, terutama bagi kepentingan masyarakat. Hanya dengan menjadi pengamat tidak akan bisa mengubah keadaan, sekalipun penuh dengan idealisme yang meluap. Pengamat hanya berada pada posisi pressure groups, tetapi bukan pengambil kebijakan. Sejak konstitusi diubah, partai politik telah menempati posisi sentral, sehingga harus benar-benar diisi oleh politikus yang berkarakter.  

Secara tidak langsung, dorongan menjadi politisi juga berjalan seiring dengan perubahan sikap masyarakat sipil atas dunia politik. Suasananya tidak lagi saling berhadap-hadapan, diametral, tetapi membangun kerjasama yang sinergis. Karena wacana kepemimpinan muda sedang berlangsung secara hangat, pilihan politik seseorang menjadi penting. Apalagi pada tanggal 21 April 2008, harian terbesar dan disegani, Kompas, memuat nama saya pada urutan keenam sebagai calon Presiden Republik Indonesia versi Lembaga Swadaya Masyarakat. Itu adalah sebuah kehormatan, sekaligus “pengusiran” bahwa saya sebaiknya tidak lagi berkiprah di dunia LSM, melainkan melompat ke dunia politik murni. Langkah pensiun sebagai aktivis LSM dan pengamat sedang saya siapkan.

Dengan mengucapkan Bismillah, saya melangkahkah kaki ke dunia politik praktis. Saya sudah mengurangi dengan keras memberikan analisa-analisa politik, sekalipun terkadang melanggarnya karena khawatir dianggap aneh oleh para jurnalis yang bertanya. Kerja-kerja politikpun dilakukan, yakni dengan mengecek kebenaran tentang pencarian politisi baru di dalam tubuh parrai politik itu. Karena memiliki banyak kenalan di jajaran petinggi partai, saya mengetahui bahwa partai tidak main-main alias serius.

Di tengah semakin banyak undangan untuk menulis, berbicara, dan menjadi konsultan paro waktu, mengingat kalender pemilu sudah berjalan, saya menyusun kembali Daftar Riwayat Hidup. Dalam riwayat itu terlihat sekali bahwa saya memang hidup dalam dunia politik. Daftar itu lebih dari 50 halaman, sekalipun tidak berhasil dicatat seluruhnya. Selama ini, saya tidak begitu peduli dengan daftar itu. Saya toh menggunakan motto: MENGALIR BERSAMA OMBAK. Kehidupan yang saya jalani tidak saya rencanakan dengan matang. Yang perlu hanyalah insting saya yang selalu mewaspadai akibat-akibat buruk atas diri saya, keluarga dan orang lain, kalau saya memasuki suatu kehidupan yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat luas. Tetapi, bukan berarti saya mudah larut, sebagaimana air, karena motto hidup saya bukan MENGALIR BERSAMA AIR. Ombak adalah buah dari badai, angin, topan, atau tsunami, sehingga saya harus betul-betul mampu bertahan, sekuat apapun ombak itu.

Belakangan, motto itu saya ganti menjadi MENGALIR MENITI OMBAK. Sebagai anak yang dilahirkan di Kampung Balacan, Kota Pariaman, saya adalah anak pesisir. Sekalipun begitu, karena ayah saya berasal dari Air Angat, Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar, saya juga melewati sekolah dasar sampai SMP di sana, tepatnya SD 1 dan SDN 2 Air Angat dan SMP Koto Lawas. Air Angat terletak di kaki Gunung Merapi. Hantu si Bunian, mitos Harimau jejadian dan letusan gunung adalah bagian yang akrab dalam keseharian. Karena itu, saya adalah anak yang hidup di pesisir dan pegunungan, sehingga udara hangat yang membakar dan dingin yang menusuk tulang selalu datang bergantian. Saya terbiasa dengan perubahan iklim, tetapi saya merasa tidak mudah diubah oleh iklim itu.

Bermodalkan itu, saya merasa inilah saat yang tepat untuk menjadi politikus. Saya tidak berubah dan tidak berharap untuk berubah. Yang saya lakukan hanyalah perpindahan tempat, dari analis, pengamat atau peneliti, menjadi praktisi, pelaku atau politisi. Perbedaannya adalah ketika saya menjadi analis atau peneliti, saya bekerja untuk masyarakat, termasuk ilmu pengetahuan, secara individual. Paling banter saya bekerja dalam tim kecil, seperti Pokja Papua atau Tim Depdagri untuk Revisi UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Sekarang, saya tetap bekerja untuk masyarakat atau lebih tepat rakyat, terutama di daerah pemilihan saya, tetapi lewat jalur kolektif, yakni partai politik.

Karena dilahirkan di Pariaman, dibesarkan di Kepulauan Mentawai, Tanah Datar, Padang Pariaman, Pariaman, dan Sawah Lunto Sijunjung, saya merasa akan sangat durhaka apabila tidak memperhatikan kepentingan masyarakat di sana. Saya bukan Malin Kundang yang harus dikutuk menjadi batu. Saya jelas tidak punya bakat menjadi seorang saudagar, sekalipun ketika pertama kali ke Jakarta saya berjualan Sate Padang – sampai kini – bersama dengan saudara-saudara saya. Selama 19 tahun saya tidak pernah meninggalkan Sumatera Barat. Bahkan, saya tidak pernah ke Jakarta ataupun ke Pekanbaru. Saya diwajibkan sekolah oleh kakak-kakak saya yang mengirimkan uang lewat wesel pos. Ketika di Jakarta, saya juga tidak boleh mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kakak-kakak saya, seperti menjadi kernet bis kota atau jualan sate. Saya hanya membantu, tetapi tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan pokok. Tugas saya jelas, kuliah,kuliah dan kuliah.

Atas dasar itu juga saya memilih untuk dicalonkan di Daerah Pemilihan Sumatera Barat II yang meliputi Kota Pariaman, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten 50 Kota, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat. Ada tiga gunung yang menjadi wilayah geografis-politik saya, yakni Merapi, Singgalang dan Tandikat, serta ada Danau Maninjau yang indah. Juga ada Pantai Gondoriyah dan Pantai Arta yang menawarkan kesejukan hati.  

Barangkali, saya juga akan dicalonkan di Sumbar I yang meliputi Kota Padang, Kota Padang Panjang, Kota Solok, Kota Sawah Lunto, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Solok, Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Sijunjung dan Kabupaten Tanah Datar. Toh saya pernah hidup di Kabupaten Tanah Datar, daerah asal ayah saya, serta tempat saya menamatkan Sekolah Dasar sampai SMP kelas I semester I di Koto Lawas. Ada Danau Singkarak, Danau Di Atas, Danau Di Bawah, Gunung Talang, serta perkebunan teh di Kayu Aro di daerah ini. Saya juga pernah belajar mengukir di Pandai Sikat.

Tapi, kalau disuruh memilih, maka saya lebih memilih kampung ibu, bukan kampung ayah, karena saya merasa lebih mampu untuk membina hubungan dengan banyak kalangan, baik dalam lingkungan keluarga besar saya sendiri, teman-teman sekolah, sampai para ninik-mamak, cerdik-pandai, alim-ulama, bundo kanduang dan seluruh pemangku agama Islam dan adat di Ranah Minang.  

Menjadi Politisi Lalu, datanglah hari ini. Saya menyatakan sebagai politikus Partai Golkar. Sebagai langkah awal, saya memilih daerah pemilihan Sumatera Barat 2, ketimbang Sumbar I itu. Bisa saja Partai Golkar menempatkan saya di DKI Jakarta, Banten atau Jawa Barat, terutama karena saya pernah tinggal di Banten dan berdomisili di DKI Jakarta, selama 17 Tahun, atau karena saya beristrikan Faridhah Thulhotimah yang memiliki kampung di daerah dingin Kabupaten Bogor. Tetapi, saya merasa harus memulai di tempat yang tepat, yakni kampung halaman sendiri.

Dulu, saya diberangkatkan ke rantau sebagai akademisi, kini saya pulang ke ranah sebagai politisi. Rantau dan ranah harus terus disambung dengan menggunakan hati. Inilah perbedaan yang saya buat dengan Agus Salim yang kini berubah menjadi nama stadion sepak bola, Muhammad Hatta yang berubah menjadi universitas dan perpustakaan, Tan Malaka yang hinggap dalam grafiti anak-anak muda Minang, atau HAMKA dan Natsir yang ada dalam buku-buku pelajaran agama dan etika. Kalau mereka menjadi politisi di rantau, saya tidak mengulangi itu lagi dengan cara menjadi politisi di ranah.

Saya bukanlah anak muda pelajang bukit yang harus berurusan dengan zaman saisuak. Tidak perlu saya ikut menangisi kenapa di pentas nasional tidak banyak lagi politisi Minang yang berkarakter dan menonjol. Pentas nasional hanyalah pentas, sementara kebutuhan yang paling real ada di desa-desa, dusun-dusun, nagari, parak, atau di tengah sawah, yakni manusia yang tersebar di banyak titik hidup. Manusia yang hidup dalam penderitaan zaman ini. Biarlah saya mencoba menganyam filosofi manusia Minang:

Panakiak pisau sirauik,Ambiak galah batang lintabuang, Salodang ambiak ka nyiruSatitiak Jadikan Lauik (Setitik Jadikan Laut)Sakapa jadikan gunuang (Sekepal jadikan gunung)Alam terkembang jadikan guru.  

Kini, saya sedang mempersiapkan kembali ke kampung halaman, tidak hanya datang dan pergi, sebagaimana selama ini, kadang hanya semalam. Tagline dalam website saya selama ini (www.indrapiliang.com) dan nada tunggu pada handphone saya berbunyi: “Kembalikan, Kampung Halamanku”. Untuk persiapan ini, saya menulis artikel “Rezim Developmentalisme Demokratis” yang saya kirim ke harian Padang Ekspres.[5] Kampung saya membutuhkan pembangunan yang humanis, selain tentu demokrasi yang sudah mengakar dan mendarah-daging. Bukan hanya kampung saya, barangkali, yang membutuhkan pembangunan, tetapi juga kampung orang lain. Biarlah puluhan ribu politisi dari 34 partai politik ikut mengubah kampung halaman masing-masing untuk tugas berat ini.

Tentu saya tidak tiba-tiba datang dan masuk Partai Golkar, sekalipun prosesnya berlangsung mendadak dan tiba-tiba. Orang Minang tidak bisa melakukan serangan cepat, akan selalu mengulur waktu, tetapi juga membutuhkan perdebatan keras dalam kancah musyawarah di rumah gadang. Orang Minang selain sinis dan skeptis kepada orang lain, juga lebih sinis dan skeptis kepada diri sendiri. Sudah sejak pemilu 2004 saya mulai mengenali para petinggi Partai Golkar, ketika mengamati dari dekat Konvensi Nasional Partai Golkar.  

Saya juga terus berkomunikasi dengan Prof Dr Djohermansyah Djohan, Deputi Bidang Politik Sekretariat Kantor Wakil Presiden RI, untuk mengetahui pikiran-pikiran Pak Jusuf Kalla. Prof Djo adalah Ketua Dewan Pendiri Yayasan Harkat Bangsa Indonesia yang menempatkan saya sebagai Ketua Dewan Pengurus. Belakangan saya juga tahu, Prof Dr Azzumardi Azra juga melobi kalangan Partai Golkar untuk menerima saya, barangkali setelah membaca di internet tentang keputusan saya untuk menjadi politikus. Sebagai warga Muhammadiyah dan buyut dari keluarga Masyumi, saya juga perlu sebutkan dukungan Prof Dr Din Syamsuddin yang dari Los Angeles, Amerika Serikat, dengan mengirimkan sms kepada Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla. Pak Syahrul Ujud, staf khusus Wakil Presiden, juga memberikan dorongan dan dukungan kuat.

Selain itu tentu ada Priyo Budi Santoso, Pompida Hidayatullah, Agung Laksono, Yudhy Chrisnandi, Yamin Tawari, Iskandar Mandji, Rully Chaerul Azwar, Aulia Rahman, Burhanuddin Napitupulu, Yan Hiksas, Agus Gumiwang Kartasasmita, Harry Azhar Azis, Happy Bone Zulkarnaen, Ali Wongso, Yorris Raweyai, serta para petinggi Partai Golkar lainnya yang menyambut saya dengan hangat. Rumah Partai Golkar ternyata lebih nyaman, jauh dari bayangan saya. Tidak perlu lagi saya merasa sungkan menyebut bagaimana bersahayanya teguran dan sapaan yang diberikan. Orang-orang itulah yang membukakan pintu Partai Golkar untuk saya masuki dengan hati yang lebih damai. Kegigihan Jeffrie Geovanie dalam memberikan informasi juga perlu saya sebutkan. Tentu, ada yang terganggu dengan kehadiran saya, tetapi itulah politik yang penuh dengan dinamika.

Dalam komunikasi dan advokasi penyusunan undang-undang, saya banyak bergaul dengan politisi Partai Golkar, seperti Agun Gunandjar, Idrus Marham dan Ferry Mursidan Baldan. Saya juga perlu sebutkan Nurul Arifin, salah satu donatur kegiatan ini, sebagai tokoh yang gigih yang bekerja sebagai aktivis Anti-HIV dan terus-menerus belajar sebagai politikus yang tidak kehilangan integritas dirinya. Nurul bagi saya adalah seorang senior sebagai politikus, karena ia tidak lantas kecewa atas kegagalan menjadi anggota DPR RI tahun 2004 lalu, sekalipun mendapatkan suara terbanyak di daerah pemilihannya. Nurul tentu berbeda dengan artis lain yang menyeberang ke ranah politik praktis yang juga sebagian adalah teman-teman saya.  

Dalam banyak perdebatan yang saya ikuti dan sorongkan ke publik, Partai Golkar termasuk yang paling akomodatif atas ide-ide yang saya tulis, selain PAN. Tanpa Partai Golkar, ide-ide otonomi daerah akan mengalami kemacetan dan kemandegan. Liberalisasi di bidang politik diusung penuh oleh Partai Golkar, sekalipun juga tampak kesulitan dalam mengendalikan dan mendisiplinkannya. Pemekaran wilayah juga bagian dari cara Partai Golkar untuk mendekatkan pemerintahan kepada publik, sekalipun daerah-daerah pemekaran itu kini direbut sebagian oleh PDIP. Proses perdamaian di Aceh dimana saya terkadang menitikkan air mata ketika menulis kolom, didukung dengan baik oleh Partai Golkar. Peranan aktif dari Jusuf Kalla dalam perdamaian itu memberikan semangat bagi saya untuk menyerang kelompok-kelompok ultra-nasionalis dalam perdebatan di ruang publik.

Dulu, rezim Orde Baru adalah rezim developmentalisme represif dengan keberadaan birokrasi dan militernya. Dibandingkan dengan partai politik yang lain, kini Partai Golkar dihuni oleh kaum demokrat, terutama dari kalangan sipil. Tentu, ada terlalu banyak pengusaha di dalamnya, tetapi bukankah demokrasi lahir dari kelompok borjuasi yang tidak memiliki tanah dan kekuasaan dalam sistem feodal dan monarki awal? Pilihan untuk bergabung ke dalam Partai Golkar juga semakin dikuatkan oleh keluarnya sejumlah petinggi yang berlatar-belakang militer, seperti Wiranto dan Prabowo Subianto. Saya tidak tahu alasan-alasan dari para tokoh itu keluar dari Partai Golkar dan mendirikan partai baru, tetapi saya merasa lebih nyaman melihat “pertarungan” sesama elite sipil dalam tubuh Partai Golkar dalam perebutan pimpinan nantinya. Kompetisi di Partai Golkar berlangsung secara baik. Seseorang yang dikalahkan akan tidak memiliki kekuasaan turunan, dibandingkan dengan ketika ia menjabat. Seseorang yang baru aktif akan diberikan tempat baik, apabila memiliki prestasi.

Tentu pertanyaan penting yang bakal diajukan adalah perilaku korupsi, baik yang sudah terbukti atau yang baru dugaan, yang menimpa politisi Partai Golkar. Kalangan pers atau Indonesian Corruption Watch (ICW) yang membeberkan data-data korupsi itu menunjukkan keterlibatan semua partai politik, baik di tingkat nasional, maupun lokal. Ada yang belum sama sekali disentuh, karena membutuhkan kinerja aparat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang lebih baik dengan bukti-bukti yang kuat. Korupsi di Republik Indonesia lebih merupakan persoalan mentalitas individual, ketimbang melihat itu sebagai perilaku organisasi, agama atau ideologi seseorang. Korupsi sudah berakar sejak empat abad silam, ketika VOC-pun bangkrut karenanya. Selain lembaga-lembaga negara dan partai politik, masyarakatlah yang selayaknya memiliki peranan aktif untuk menolak meminta sumbangan kepada politisi.  

Saya akan bekerja dengan serius. Keluarga juga secepatnya menetap di Sumatera Barat. Sebagai bentuk pertanggungjawaban sebagai politisi, saya akan bekerja mendapatkan suara, berapapun nomor urut yang diberikan oleh Partai Golkar. Saya akan berbicara dalam bahasa ibu, bahasa Minang, kepada setiap orang yang bertemu di Sumbar dengan modal sebatang rokok, setampuk pinang, serta secangkir kopi yang ditemani penganan khas Minang lain.

(Perlu saya sampaikan juga bahwa sejak saya mengumumkan menjadi politikus, sejumlah orang tua, niniak mamak, cerdik pandai, dalam mailing list Rantau.Net sudah dan akan menyumbangkan biaya kampanye kapada saya, mulai dari Rp. 25.000,-, Rp. 50.000,-, dan seterusnya. Saya sungguh terharu dan tidak bisa tidur atas sumbangan materi itu).

Kalau sebelum ini saya bekerja secara individual untuk mengejar karier akademis dan intelektual, maka sekarang membutuhkan dan melibatkan kerja orang banyak, rakyat banyak, untuk menuju Senayan. Karena itu saya akan datang dalam ota di lapau (obrolan warung) dan kaji di surau, sebagai bentuk tradisional dari politikus Minang: bergelanggang mata orang banyak, bersuluh matahari. Pergi tampak punggung, pulang tampak muka. Transparansi dalam bahasa moderen. Karena anggota parlemen adalah wakil rakyat, maka rakyat jualah yang mengantarkan ke Senayan. Tanpa dukungan rakyat, politisi bukanlah apa-apa dan siapa-siapa. Seandainya masuk parlemen atas dukungan rakyat di Ranah Minang, maka saya akan mengerjakan komitmen sebagai berikut:

Pertama, konsentrasi kepada daerah pemilihan saya. Konsentrasi itu berupa perhatian yang lebih atas masalah-masalah utama di bidang kemasyarakatan dan pemerintahan yang berkenaan dengan daerah pemilihan saya. Saya akan menaruh di dalam ruangan kerja saya PETA DAERAH PEMILIHAN saya, lengkap dengan perkembangan data-data statistiknya.

Kedua, mencoba mendorong lahirnya Undang-Undang tentang Otonomi Khusus Provinsi Minangkabau yang berbasiskan konsep ADAT BASANDI SYARA, SYARA BASANDI KITABULLAH. Sekalipun ide ini masih menuai kontroversi, saya merasa sistem pemerintahan ala UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah yang berlaku di ranah Minang sekarang belum begitu cocok dengan kultur masyarakat Minang. Bersama teman-teman seide, sebuah lembaga think tank lokal diperlukan guna mendorong konsep ini.  

Ketiga, bertempat tinggal di daerah pemilihan saya, sekalipun tetap berkedudukan di Ibu Kota Negara sebagaimana kewajiban undang-undang. Kalaupun saya harus ke Jakarta selama masa kampanye ini, atau ke daerah lain, itu berupa penugasan Partai Golkar atau kegiatan lain, misalnya memenuhi undangan kalangan jurnalis atau lembaga-lembaga lain. Saya tentu tidak akan berhenti memberikan seminar, pelatihan, menulis dan lain-lain, tetapi dengan label yang berbeda.

Keempat, menerbitkan jurnal atau laporan berkala, bisa harian, mingguan atau bulanan. Website www.indrapiliang.com akan tetap saya pertahankan.  Baik penugasan oleh partai, komisi, fraksi atau kegiatan lainnya sebagai anggota parlemen, akan saya sampaikan kepada publik sebagai bentuk pertanggung-jawaban saya.

Kelima, bertugas sampai akhir masa jabatan di parlemen. Saya tidak akan tergoda menjadi calon gubernur, bupati, walikota, duta besar atau menteri dan bahkan presiden dan wakil presiden sekalipun. Bagi saya, pilihan menjadi anggota parlemen adalah pilihan terhormat. Saya harus hormati pilihan rakyat dan tidak akan mengubah pilihan itu sampai akhir masa jabatan. Seorang Barrack Obama, dalam konteks kini, atau singa-singa podium semacam Agus Salim, Natsir, Muhammad Yamin, HAMKA dan Syahrir dalam konteks dulu, tidak akan lahir tanpa diasah lewat perdebatan sengit di parlemen.

Di tingkat Partai Golkar, saya menyediakan diri untuk membentuk semacam lembaga think tank internal, sebut saja The Golkar Institute. Memang selama ini sudah ada Badan Penelitian dan Pengembangan, tetapi jauh lebih baik sebuah partai politik melahirkan lembaga think-tanknya sendiri. Pembentukan sejumlah Center dan Institute yang bersifat personal selama ini menurut saya belum bisa melakukan implementasi atas rekomendasi yang dihasilkan, hanya sebatas gagasan. Sudah lama ide ini saya dorong dilakukan oleh partai politik, tetapi sampai sekarang belum banyak yang menerapkannya. Partai politik moderen selayaknya memiliki institusi-institusi pengkaderan dan pengetahuan yang baik, kalau perlu mengembangkan semacam kampus-kampus kecil, guna memajukan pemikiran dan ideologi politiknya.

Tentu, saya masih memiliki sejumlah agenda lain. Tetapi kurang elok kalau disampaikan semua dalam kesempatan ini. Loyalitas, konsistensi, komitmen dan integritas menurut saya jauh lebih penting, ketimbang hanya sekadar kekuasaan. Menjadi presiden sekalipun tetap tidak akan terhormat, kalau rakyat ditinggalkan dalam keadaan papa dan menderita.  Terima Kasih

Tentu, saya berterima kasih kepada teman-teman partai politik lain yang juga mengundang saya bergabung, terutama PAN, PDIP dan PMB. Saya tidak merasa malu untuk mengatakan permohonan maaf saya. Kehadiran teman-teman partai lain dalam forum ini menunjukkan bahwa saya tidak sedang mencari musuh, melainkan mencari teman sebanyak-banyaknya, dalam lapangan politik praktis.

Saya juga berterima kasih atas sambutan yang hangat dari teman-teman, adik, kakak, abang, saudara, saudari, serta orang-orang tua di Partai Golkar. Sungguh saya merasa terkejut ketika menyadari bahwa Partai Golkar tidak menaruh dendam atas kehidupan profesional saya selama ini. Bahwa saya berbeda pendapat dengan Partai Golkar, misalnya dalam soal pemenang Pilkada Maluku Utara atau Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak atau Sistem Proporsional Terbuka Tanpa Nomor Urut, sehingga merugikan citra Partai Golkar, adalah bagian dari kehidupan profesional saya selama ini. Bahwa sekarang ini saya akan bekerja membesarkan partai ini adalah kehidupan profesional berikutnya di bidang politik. Saya ingin profesional di dunia politik, seprofesional saya sebagai analis, peneliti, pembicara dan kolomnis.  

Kepada institusi tempat saya menyepi dan menyendiri dalam kamar yang dipenuhi debu dan buku, Centre for Strategic and International Studies (CSIS), saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan sejak 1 Desember 2000. Saya sungguh banyak belajar atas konsep Nalar Ajar Terusan Budi, sikap ketelanjangan dalam membaca dan menerima ilmu pengetahuan. Ada banyak tangan yang telah membentuk dan menyentuh saya dalam lembaga ini: Pak Daoed Joesoef, Pak Jusuf Wanandi, Pak Harry Tjan Silalahi, Pak Djisman Simanjuntak, Mas J Kristiadi, Pak Hadi Soesastro, Mbak Clara Juwono, Bu Mari Pangestu, Bang Rizal Sukma, Bang Kusnanto Anggoro, Mas Tommi Legowo, Bu Asnani Usman, Bang Pande Radja Silalahi, Mas Edy Prasetyono, Mbak Medelina K Hendytyo, Mas Raymond, Mas Haryo, Mas Faustinus Andrea, Mas Bantarto Bandoro, Nico Haryanto, Ari A. Perdana, Arya Gaduh, Yose Rizal Damuri, Kurnia Roesad, Philips Jusario Vermonte, Christine Susanne Tjin, Puspa Delima Amri, Lina Alexandra, Alexandra Retno Wulan, Syafiah Fifi Muhibat, Imelda Maidir, Uni Titik Anas, Mas Djadiono, Mas Made, Mas Dibyo, Mas Anton Djawamaku, Mas Ismanto, Bang Udin Silalahi, Begi, Sunny, Donny, Teguh, Landry, dan semua nama lain yang tidak bisa saya sebutkan satu demi satu. Saya tidak tahu bagaimana nasib saya di CSIS setelah pidato ini, karena memang saya tidak meminta izin khusus.

Kepada kalangan jurnalis, saya mengucapkan terima kasih. Kalian adalah teman sejati yang paling setia, tidak lelah menelepon atau bertanya kepada saya. Saya tidak pamitan, karena sebagai politikus saya tentu membutuhkan kerjasama berikutnya.

Kepada teman-teman, sahabat-sahabat, serta kolega saya yang bahu-membahu menjadi pengamat sosial, politik, hukum, agama, dan lain-lainnya, serta kalangan aktivis masyarakat sipil, saya meminta ijin untuk dijadikan sebagai kelinci percobaan nanti dalam analisa kalian. Jangan kampanye positif untuk saya, kalau apa yang saya lakukan memang tidak berbuah kepada kebaikan buat orang banyak. Kritiklah saya setajam mungkin, kalau perlu dengan mencari sembilu pada pohon bambu di kampung saya nanti. Buat mata saya perih, hati saya tersayat, serta harga-diri saya luka, ketika kalian menulis tentang program yang saya tawarkan yang tidak sesuai dengan pikiran hati kalian.

Kalau di politik terkenal adagium tiada musuh yang abadi, justru saya minta agar dijadikan sebagai musuh abadi Anda, maka saya tetap menawarkan persahabatan sejati kepada Anda. Dan jangan lupa untuk menyumbang ke rekening khusus yang saya buka, sebagai dana kampanye nanti. Jelas saya tidak punya uang yang cukup dari honor menulis, berbicara atau menjadi konsultan, sebagai modal masuk ke dunia politik. Saya tidak memiliki modal material, tetapi saya punya modal sosial dan modal ilmu pengetahuan.  

Apatisme hanya membuat kita kehilangan waktu yang terlalu banyak untuk menangisi keadaan. Adagium yang sering dikatakan oleh Syahrir menyebut: Janganlah Mengutuk Kegelapan, Mulailah Menyalakan Lilin. Barangkali, pilihan saya bergabung dengan Partai Golkar hanyalah nyala sebatang lilin pada kegelapan malam. Satu tiupan angin lembutpun bisa memadamkannya..  Padi Menguning di Rengas Dengklok.

Kapas Mengelupas Jatuh ke Perigi.

Pusaka Dibawa Para Saudagar.

Jaketku Kuning di Kampus Depok.

Samalah Nian dengan di Slipi.

Padi dan kapas akan berkibar. Wabillahi Taufik Walhidayah

Wassalamu’alaikum Wr Wb.

Jakarta, 06 Agustus 2008


[1] Naskah pidato dalam ”Transformasi Indra Jaya Piliang: Dari Analis Politik ke Politisi”, bertempat di Aula Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto Jakarta, tanggal 06 Agustus 2008, pukul 09.00-12.00.

[2] Calon Anggota Legislatif Partai Golkar pada Daerah Pemilihan Sumatera Barat.

[3] Deliar Noer, Mohammad Hatta: Biografi Politik, LPE3S, Jakarta, 1990, halaman 504-505. Bandingkan, Mohammad Hatta, Bung Hatta Berpidato Bung Hatta Menulis, Penerbit Mutiara, Jakarta, 1979, halaman 73-93.

[4] Indra J. Piliang, ”Kalau Bukan Demokrasi, Apa?”, Koran Tempo, 26 Desember 2007.

[5] Indra J Piliang, “Rezim Developmentalisme Demokratis”, Padang Ekspres, 25 Juli 2008.

August 5, 2008

Jangan Presiden By Iklan

Filed under: Catatan Lepas — indrapiliang @ 2:56 pm

Selasa, 05/08/2008 10:08 WIB
Indra J Piliang: Jangan Sampai Dapat President by Iklan
Rafiqa Qurrata A - detikNews


Jakarta - Sering lihat TV? Jika iya, maka anda akan sering melihat bahkan sampai bosan dengan iklan tokoh politik. Sudah jadi rahasia umum, para tokoh itu beriklan untuk maju pada Pilpres 2009.

Pengamat politik dan peneliti CSIS Indra Jaya Piliang mengkritisi kondisi tersebut. Ia memilih menjadi caleg terlebih dulu. Ia lantas mengimbau sejumlah tokoh mengikuti jejaknya.
(more…)

July 25, 2008

Menjadi Politisi

Filed under: Catatan Lepas — indrapiliang @ 4:43 pm

Sebentar lagi, aku segera akan mengumumkan perubahan status. Tidak lagi menjadi peneliti, pengamat, pekerja swadaya masyarakat, atau komentator. Aku akan menjadi politikus, bahasa majemuknya politisi.

Politikus selama ini menjadi objek kajianku. Nanti, aku justru akan menjadi objek kajian orang-orang yang menjadi peneliti atau pengamat.

Dan aku masih bersabar untuk menunggu momentum yang tepat bagi perubahan status ini, dari subjek menjadi objek.

To be or not to be.

Salam,

Indra Jaya Piliang

Sumbar II: Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Payakumbuh, Kabupaten Agam, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pasaman,Kabupaten 50 Kota, dan Kabupaten Pasaman Barat.

July 3, 2008

Kembalikan (Lagi) Kampung Halamanku

Filed under: Catatan Lepas — indrapiliang @ 7:15 am

Kembalikan (Lagi) Kampung Halamanku  

Aku pulang kampung, sebentar. Pertama, aku mau sungkem dengan nenek dan kedua orangtuaku, karena minggu depan aku ada ujian di kampus. Kedua, untuk melihat perubahan sungai di kampungku, di depan rumah kami, setelah dibangun dam batu (batu baronjong) untuk mengendalikan banjir.  

Dan tiba-tiba, aku merasa sedih. Kampungku tidak lagi kampung. Aku sejenak terpana, betapa arus sungai tidak lagi berupa arus yang mencari jalannya sendiri, tetapi dibuatkan jalan. Jalan yang lurus, sungai yang lurus. Tidak lagi berbelok, lurus, belok lagi, sesukanya. “Tiap kali air banjir, tiap kali tepian berubah”, menurut pepatah lama, mungkin kini jadi kenangan.  

Mobil yang dulu jauh sekali ditaruh, kira-kira 2 km, kini hanya berjarak kurang dari 500 meter dari rumahku. “Magis” sebuah perjalanan pulang, sebagai tetirah, berjalan kaki, menginjak rumput berduri, celana tersingsih, sepatu yang dibimbing, apalagi kalau ada hujan dan banjir, tidak lagi terasa.  

Duh, aku menjadi tahu, mengapa aku tidak terlalu suka dengan pembangunan fisik. Mengapa aku tidak kagum dengan gedung-gedung tinggi. Mengapa aku takut pada ketinggian. Aku merasa sebagai manusia tanah dan lumpur, juga manusia air. Hidup dengan sawah, sungai, laut, ombak, gelombang, lalu terkadang badai, guruh, segalanya yang alami dan datang dari alam. Aku menjadi kesulitan menemukan tempat, kini, sebuah tepian berpasir dan berkerikil, lalu malam-malam pukul 10, aku tiduran, merebahkan diri, mendengar desis air dan desis angin, lalu memandang kepada bintang-bintang di langit, mengingat lagi mana bintang pari dan bintang-bintang lain.  

Aku merasa kehilangan kampungku, kampungku yang dulu. Lubuk yang paling dalam kini sudah berkerikil. Bumi yang kian terkelupas, dihimpit oleh benda-benda raksasa yang masuk kampungku, lalu membidangi tanah, membongkar menimbun, dan mengarahkan air bergerak lurus. Permukaan bumi yang dibangun oleh manusia, telah menghilangkan kampungku, hidupku, masa laluku, ingatanku, kegairahanku.  

Revi Marta Dasta, yang menemaniku ke kampungku, bersama satu mahasiswa lain, malah tercengang, “Bang, aku tidak pernah berpikir, ini kampung abang. Segeralah tulis. Bagaimana bisa kampung seperti menghasilkan orang seperti abang?”  

Begitulah komentar-komentar yang sudah lama hinggap di telingaku. Ah, kau, Revi, seandainya kau datang sebelum dam ini datang, sebelum sungai ini lurus, apa lagi komentarmu? Apa seperti komentar teman-temanku yang lain, Refly Harun, Saldi Isra, ES Ito, Miftah M Sabri, serta teman-temanku yang lain yang datang sebelum dam ini ada? Ketika sesuatu dibangun, saat itu juga sesuatu yang lain ditimbun. Manusia, dengan penuh gembira, membangun sesuatu, lalu menimbun yang lain. Yang aku rasa jauh lebih berharga, dibandingkan dengan listrik yang masuk ke kampungku tahun 2002, televisi yang datang, radio yang memekakkan telinga.  

Kembalikan lagi kampungku, kampung halamanku. Kemana ia pergi? Aku justru tafakur, sedih, dengan situasi yang tidak alami ini.  

Aku tidak bisa membayangkan, ketika nanti, suatu hari, jembatan juga berdiri, sehingga kami tidak lagi menjadi “orang seberang”, lalu mobil langsung masuk pagar halaman, sawah-sawah ditimbun untuk dibuatkan jalan. Aku tidak sanggup membayangkan itu. Kesedihan yang kurasakan, kehancuran yang memukul-mukul dadaku.  

Tapi itu yang diinginkan oleh orang-orang kampungku. Seperti biasa, ketika aku ketemu dengan amai-amai, etek-etek, nenek-nenek, para perempuan yang kuat berjalan, lalu kini menjadi renta dan nestapa, selalu saja mereka membisikkan kalimat-kalimat halus, “Yaya (panggilanku), sudah makin letih kaki ini menyeberangi sungai ini. Yaya, entah kapan kami bisa meniti di sungai ini. Yaya…”  

Jiwaku menggelegak. Apakah aku harus mengubah motto hidupku untuk itu? Tidak lagi mengalir bersama ombak?  

Kampungku, kembalikan ia.. 

Jakarta, 3 Juli 2008 

June 11, 2008

Rencana Aksi Kalimantan Inisiatif Pertama

Filed under: Catatan Lepas — indrapiliang @ 2:42 am

Rencana AksiKalimantan Inisiatif PertamaMuhammad Subuh Center, Palangkara, Kalimantan TengahSelasa, 3 Juni 2008 

Berdasarkan paparan nasasumber dan masukan dari panelis, pelaksanaan Kalimantan Inisiatif Pertama ini disambut dengan baik. Bahkan muncul keinginan untuk mengadakan Kalimantan Inisiatif berikutnya dengan stakeholders yang lebih luas, baik dari Kalimantan, nasional, maupun luar negeri. Untuk itu, kita layak berterima kasih atas keterlibatan semua pihak dalam acara yang berlangsung dengan sangat baik ini. (more…)

May 25, 2008

Blue Energy, Heru Lelono, Aquanus

Filed under: Catatan Lepas — indrapiliang @ 4:13 am

Dalam beberapa hari ini saya membaca di internet soal blue energy. Ketua Tim Kepresidenannya Heru Lelono. Ada orang yang namanya Djoko Suprapto yang disebut sebagai penemu. Lalu dia mendadak kaya, nyumbang mesjid, dll.  

Yang aku bingung, apa itu blue energy? Bagaimana cara bekerjanya? Lalu, apa benar ini menjadi begitu penting, sehingga ada tim kepresidenan dibentuk? Nggak tahulah, dulu aku belajar fisika, kimia, dllnya, tetapi tetap tidak mengerti kaitannya dengan air biru bisa menggantikan minyak untuk menggerakkan mesin.  

Baru saja aku membeli dan membaca komik Aquanus. Walau aku agak kecewa dengan tampilan baru tokoh hero masa kecilku itu, ada juga disinggung tentang blue energy. Apakah produk timnya Heru adalah komik itu? Alias, dunia rekaan anak-anak? Bahwa dengan energi biru itu sebuah dunia kedap air bisa dibangun di dalam samudera luas? Bahwa peralatan canggih bisa diciptakan berdasarkan blue energi itu? Bahkan manusia heropun tergantung blue energi itu? 

Blue energy jangan-jangan hanyalah santet zaman ini. Apa bedanya dulu dengan menteri agama era Gus Dur atau Mega, yang mengatakan ada harta karun yang bisa mengeluarkan Indonesia dari jerat hutang? Selalu saja di masa krisis diterbitkan produk harapan, tetapi segera ketahuan betapa kosong melompongnya harapan itu.  

Kalau benar blue energy ini menjadi produk Istana Kepresidenan, lalu sampai kemudian hari ternyata kosong belaka, aku merasa alangkah hilangnya akal di dalam pemerintahan ini.  

Bagi orang-orang Istana, yang dekat dengan Istana, yang merasa dekat, tolong aku dikasih keterangan. Menurutku, ini skandal besar, kalau tidak terbukti adanya.  

IjpLihat link berikut:http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/25/time/072722/idnews/944680/idkanal/10

May 21, 2008

Pembangunan Kepemudaan

Filed under: Catatan Lepas — indrapiliang @ 10:31 am

Catatan: Bagi teman-teman, terutama di daerah, mohon diberikan masukan/komentar tentang pembangunan kepemudaan ini, dalam LIMA TAHUN ke-depan. saya masih punyai waktu untuk memberikan masukan tambahan kepada Bappenas. Tolong dibuat pointers-nya, ya. Kalaupun mau dikalimatkan, mohon tiga-empat kalimat saja.

Salam Ta’zim

Pembangunan Kepemudaan:
Permasalahan, Peluang dan Tantangan
Indra Jaya PiliangCSIS, The Indonesian Institute & YHB Indonesia 

Bappenas, 21 Mei 2008

KepemudaanuSegmentasi: berdasarkan jenjang pendidikan, jenis pekerjaan, sampai orientasi ke masa depan.uFaktor eksternal: dukungan keluarga, lingkungan sosial kemasyarakatan, sampai kondisi geografis wilayah. uStruktur sosial: berpendidikan, pengangguran, atau non berpendidikan. uPerilaku sosial: pragmatis, idealis, dan ideologis. uDemografi: jumlah pemuda termasuk besar, dibandingkan dengan remaja dan anak-anak, serta orang tua. uPersebaran: semakin banyak pemuda yang tinggal di perkotaan ketimbang pedesaan, sehingga desa menjadi tempat yang dihuni oleh kaum remaja dan anak-anak, perempuan dan orang tua.  

Permasalahan PemudauKetidakjelasan masa depan. Masa depan bagi kaum muda adalah bekerja dan berkeluarga, mencukupi kebutuhan dasar.  uIlmu pengetahuan, teknologi dan informasi: berkembang begitu cepat dan mahal. uPendidikan dan pelatihan: semakin banyak yang tidak mampu memasukinya, terutama karena biaya yang sangat mahal. uEkonomi: Keterbatasan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi yang lambat, serta nihilisme pendapatan.uPolitik: Ketidak-percayaan kepada sistem politik dan pemerintahan. uSosial-Agama: Kegamangan akan nilai-nilai lama dan kegagapan atas nilai-nilai baru.uKehilangan kepercayaan kepada kelompok tua. Ideologi kaum muda tidak bisa lagi dilekatkan dengan semangat kesatuan dan persatuan, karena itu diluar permasalahan yang dihadapi oleh kaum muda itu sendiri.  

PeluanguProduktifitas dan usia harapan hidupè aspek perencanaan dan managerial. uModernisasi sistem pengetahuan dan informasi publikè kecepatan dan kecakapan. uTersingkirnya kelompok-kelompok usia lama dalam memperebutkan jabatan publikè persaingan kelompok muda.uLiberalisasi dari sisi politik dan ekonomiè individualisasi dan konsumerisme. uOtonomi daerah è membutuhkan pengetahuan lokal yang cukup.  

 

TantanganuInternasional:Globalisasi pengetahuan, informasi, transportasi, bisnis dan hiburan. Liberalisasi di segala bidang, sehingga peran negara semakin mengecil dalam perlindungan kepentingan pemuda. uRegional: Pasar bebas ASEAN, ASIA dan dunia.Sumberdaya manusia yang lebih terdidik di negara-negara tetangga. uNasional: Oligarki kekuasaan yang dikendalikan oleh tokoh-tokoh lama.Penumpukan kapital di tangan sekelompok pengusaha raksasa. Pergesekan kekuasaan yang menjadikan pemuda sebagai pendukung saja.uLokal: Spanduikisme politik yang berada pada ranah slogan.Pergerakan politik yang cepat, berdimensi jangka pendek, serta hanya bersifat mobilisasi massa.    

Kebutuhan Kaum MudauInfrastruktur Pemuda: di pelbagai daerah, sedikit atau tidak ada sama sekali infrastruktur yang diperuntukkan bagi kaum muda. Akibatnya, mereka lebih memilih aktivitas jalanan, seperti geng motor atau kelompok-kelompok ekslusif atau sekadar mal tempat bermain. uRuang Publik: ruang publik di sini adalah tempat, area atau wilayah yang menjadi pusat kegiatan kaum muda. Balai-balai pemuda, dahulu, misalnya, kini semakin tidak terurus. uRuang Dialog: ruang ini lebih diperuntukan kepada kelompok pemuda yang sudah terbiasa dengan organisasi, terutama organisasi kemahasiswaan. Dialog di sini adalah kesempatan untuk mengutarakan pikiran dengan stakeholders lain, terutama pemerintah.  

Satu Dekade LagiuUpaya untuk memprediksi apa yang dibutuhkan oleh pemuda dalam sepuluh tahun yang akan datang tidak sama susahnya dengan menginventarisasi apa yang dialami pemuda dalam sepuluh tahun lalu.uSelama sepuluh tahun ke depan, lapisan atau generasi politik 1966-1980-an akan menghilang dari pentas politik, baik lokal atau daerah.uDengan begitu, generasi muda era 1990-an akan mulai menguasai sektor-sektor kenegaraan, politik, bisnis dan masyarakat sipil.uGenerasi 1990-an adalah generasi yang menikmati zaman keguncangan sistem politik Orde Baru. Pelan-pelan, borok-borok kekuasaan yang monopolistik terbuka. Generasi ini menjadi terbuka atas perubahan, terbiasa berdialog, egaliter, namun juga tidak kehilangan idealisme dan ideologi politik masing-masing.uSistem pemerintahan yang ada secara memerlukan perubahan, untuk menampung tingkat diferensiasi yang dialami oleh generasi muda 1990-an ini. Sistem yang lebih menghargai perbedaan pendapat, ketimbang pemaksaan kehendak. 

May 12, 2008

Pengunjung Blog Bulan April

Filed under: Catatan Lepas — indrapiliang @ 4:07 pm
Day Number of visits Pages Hits Bandwidth
01 Apr 2008 128 281 987 76.93 MB
02 Apr 2008 127 411 1238 114.49 MB
03 Apr 2008 130 379 1244 143.51 MB
04 Apr 2008 142 350 1170 115.03 MB
07 Apr 2008 141 338 1167 112.07 MB
08 Apr 2008 19 34 96 4.98 MB
09 Apr 2008 0 0 0 0
10 Apr 2008 4 10 28 2.07 MB
11 Apr 2008 123 329 968 100.42 MB
14 Apr 2008 136 452 1410 125.10 MB
15 Apr 2008 150 359 1216 108.64 MB
16 Apr 2008 140 451 1355 121.05 MB
17 Apr 2008 160 604 1723 168.95 MB
18 Apr 2008 111 323 975 97.35 MB
21 Apr 2008 125 432 1258 136.79 MB
22 Apr 2008 131 491 1683 207.14 MB
23 Apr 2008 149 647 2137 172.02 MB
24 Apr 2008 125 455 1425 157.98 MB
25 Apr 2008 133 483 1807 230.45 MB
28 Apr 2008 121 379 1189 159.79 MB
29 Apr 2008 127 555 1434 155.26 MB
30 Apr 2008 101 325 900 97.40 MB
Next Page »

Powered by WordPress