|
Oleh : Bastiam, Direktur Andalas Centre
Membaca tulisan saudara Indra Jaya Piliang dengan judul ”Berjuang dalam Sistem” dan tulisan saudara M Alfan Alfian yang berjudul ”Intelektual kok nyaleg?” di harian Seputar Indonesia terbitan 6 Agustus 2008, rasanya kurang pas kalau saya juga tidak nimbrung menanggapi fenomena yang berkembang menjelang pemilu 2008, rame-ramenya para tokoh ikut mencalonkan diri menjadi calon legislatif, rame-ramenya para artis terjun menjadi politisi, yang lebih menarik lagi bagi saya adalah keputusan sahabat saya Indra Jaya Piliang memutuskan untuk terjun langsung menjadi calon legislatif dari Partai Golkar yang selama ini sering dia kritisi.
(more…)
August 12, 2008
Barangkali, akan ada beberapa kolega yang membantu saya. Sampai kini, belum lagi ada. Barangkali, Partai Golkar juga akan membantu saya. Namun, sampai kini, belum juga ada.
Saya tahu, Partai Golkar selama ini identik dengan partai orang-orang kaya. Anggapan yang tidak keliru, tetapi tentu juga tidak seluruhnya benar. Partai Golkar tetaplah partai politik yang memiliki keterbatasan. Dengan memutuskan menggunakan suara terbanyak, maka masing-masing kandidat akan berjuang secara kolektif dan sekaligus individual, sebagai bagiandari demokrasi internal.
Sebagai orang baru di ranah politik, saya memulai langkah ini dengan belajar dari teori-teori ilmu politik. Pertama, saya kembali ke basis, ke lokal. Kata teori dan selalu diingatkan oleh teman-teman saya, all politics is local. Semua politik itu lokal. Image bahwa saya selama ini adalah urang Minang di pentas nasional tentu tidak salah, tetapi yang lebih benar adalah saya adalah politisi lokal yang kini sedang menjaring matahari untuk maju ke pentas nasional itu.
Kedua, saya mengajukan pidato resmi pengunduran diri sebagai pengamat politik. Tentu saya tetap adalah penulis, penelitisi, lalu memiliki spesifikasi keilmuan khusus, ilmu sejarah dan ilmu komunikasi. Karena itu pula, saya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan politik ini dari sudur keilmuan. Ketiga, saya sudah memiliki Nomor Pokok Anggota Partai Golkar (NPAG), yakni 090503.2.0194. NPAG ini baru saya miliki satu minggu yang lalu. Resmi sudah saya menjadi bagian dari anggota Partai Golkar.
Nah, untuk melengkapi itu, saya dengan berat hati, memperkenalkan nomor rekening pribadi yang bisa digunakan sebagai bentuk sumbangan kampanye saya. Nomor rekening : 121.000.426.22.95
Atas Nama : INDRA JAYA
Nama Bank : Bank Mandiri Cabang Kebun Sirih, Jakarta Pusat.
Bagi saudara, saudari, bapak, ibu, nenek, kakek, sampai kepada niniak-mamak, urang sumando, cerdik-pandai, sanak-keponakan, serta kawan-kawan, sahabat, handai-tolan, silakan mengirimkan dana kampanye ke nomor rekening di atas. Rekening itu sebagai penyalur ke rekening resmi yang nanti akan diaudit oleh auditor yang ditunjuk oleh Komisi Pemilihan Umum. Bagi pihak perusahaan, tidak boleh lebih dari Rp. 5 Milyar. Bagi perseorangan, tidak boleh lebih dari Rp. 1 Milyar. Untuk informasi, silakan hubungi Sidi Boby Lukman di nomor: 081908370695 - 08562900100
Salam hormat saya. Wassalamu’alaikum Wr Wb Indra Jaya Piliang
Caleg DPR RI Partai Golkar dengan Daerah Pemilihan Sumatera Barat 2 Nomor Urut 2. Kota: Bukittinggi, Pariaman dan Payakumbuh. Kabupaten: Padang Pariaman, 50 Kota, Agam, Pasaman dan Pasaman Barat.
Pergi ke Rantau untuk Belajar, Kembali ke Ranah Menuju Akar
August 11, 2008
| Waspada Online, Monday, 11 August 2008 18:00 WIB |
| Pendidikan satu-satunya majukan bangsa, kata IJP |
|
|
|
Peluang Jusuf Kalla paling besar, Ali Umri dan Amru Daulay harus besarkan GolkarBursa calon legislatif untuk Pemilu 2009 dibanjiri dengan artis dan kaum muda yang masuk ke berbagai partai. Sebagian besar memang dari kalangan selebriti, tapi banyak juga dari kalangan akademisi, salah satunya Indra J Piliang, pengamat dan pakar politik dari Center for Strategic and International Studies (CSIS). Baru-baru ini, Indra gelar orasi politik untuk memperkenalkan diri sebagai calon legislative. Pada acara itu, dia mengumumkan mulai dari hari pertama menjadi politisi Partai Golkar, dia ingin dikenal sebagai Indra Jaya Piliang. (more…)
Sinar Harapan, Sabtu, 09 Agustus 2008
Indra Piliang, Pulang sebagai Politisi
Jakarta– Mengalir bersama ombak itulah moto pengamat politik yang akhirnya terjun menjadi politisi. Indra Jaya Piliang, yang lahir 36 tahun lalu di Kampung Balacan, Kota Pariaman ini akhirnya memilih menjadi caleg Partai Golkar. Indra juga sudah pamit sebagai akademisi dan pulang sebagai politisi.
Mengapa memilih menjadi politisi? Indra mengatakan, menjadi pengamat tidak akan bisa mengubah keadaan, sekalipun penuh dengan idealisme yang meluap. “Pengamat hanya berada pada posisi pressure groups, tetapi bukan pengambil kebijakan,” kata aktivis tahun 1990-an ini.
Di Partai Golkar, Indra memilih Daerah Pemilihan Sumatera Barat II akan konsentrasi di daerah pemilihannya. Langkah awal itu di antaranya, dengan konsentrasi berupa perhatian yang lebih atas masalah di bidang kemasyarakatan dan pemerintahan yang berkenaan dengan daerah.
Selain itu, ia juga mendorong lahirnya UU tentang otonomi khusus Provinsi Minangkabau, yang berbasis konsep adat basandi syara, syara basandi kitabullah.
Bagi suami dari Faridhah Thulhotimah, dirinya tidak perlu menangisi pentas nasional yang tidak banyak politisi Minang berkarakter dan menonjol. Untuk Indra pentas nasional hanyalah pentas, kebutuhan yang paling real ada di desa-desa, dusun-dusun, nagari, parak, atau di tengah sawah, yakni manusia yang tersebar di banyak titik hidup.
“Kampung saya membutuhkan pembangunan yang humanis, selain tentu demokrasi yang sudah mengakar dan mendarah daging,” jelas Indra yang selama ini merupakan peneliti di CSIS.
Indra menuturkan, dirinya bergabung ke Partai Golkar terkesan mendadak dan tiba-tiba. Dirinya tetap yakin bisa menjadi diri sendiri setelah masuk partai yang dinilainya sebagai rumah partai nyaman.
Proses dua bulan untuk menjadi caleg dituturkan bermula dari tawaran Golkar, tapi pada akhirnya Indra mengajukan diri untuk bergabung. Indra menilai partai Golkar termasuk partai yang paling akomodatif atas ide-ide yang ditulisnya.
(ninuk cucu suwanti)
August 10, 2008
Indo Pos, Kamis, 07 Agt 2008,
Jadi Politikus, Indra Pamit kepada Intelektual
JAKARTA - Pengamat politik CSIS Indra Jaya Piliang secara resmi mendeklarasikan diri sebagai politikus. Dalam Pemilu 2009, dia dipastikan maju sebagai salah satu caleg Partai Golkar dari daerah pemilihan (dapil) II Sumbar. Di sana, dia akan menemui rival berat. Yaitu, Halida Nuriah Hatta, putri proklamator Mohammad Hatta yang maju dari Partai Gerindra.
Seremoni “pelepasan” Indra di Auditorium Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subaroto, kemarin (6/8) itu dikemas sederhana. Meski begitu, sekitar seratus sahabatnya dari kalangan akademisi dan aktivis LSM hadir.
Tampak, antara lain, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, pengasuh Republik Mimpi Effendy Ghozali, Wakil Ketua KPK Chandra Hamzah, peneliti senior LIPI Syamsudin Haris, peneliti senior The Habibie Centre Andrinof Chaniago, artis yang juga politikus Nurul Arifin, Direktur Eksekutif Formappi Sebastian Salang, Ridaya La Ode Ngkowe dari ICW, serta Koordinator Kontras Usman Hamid. Ada pula Abdul Ghafur Sangaji dan Amiruddin Ar Rahab.
Secara bergantian, mereka memberi testimoni terhadap sosok Indra. “Kalau Partai Golkar mengadakan welcome party buat Indra, acara kami ini justru menjadi semacam farewell party (pesta perpisahan, Red),” ujar Anies Baswedan bercanda.
Dia menuturkan, butuh keberanian besar bagi seorang pengamat yang kritis untuk menjadi politikus. Sebab, kata Anies, selama sepuluh tahun terakhir pascareformasi, banyak tokoh muda idealis yang “bertumbangan” setelah masuk ke wilayah politik praktis. “Saya hanya bisa berharap Indra survive, sukses dengan karir barunya, dan tidak mengalami krisis integritas,” tegasnya. (pri)
Republika
2008-08-07 11:18:00
Bila Indra Memilih Menjadi Penyala Lilin
Pengamat politik CSIS, Indra Jaya Piliang, mengutip salah satu kalimat paling terkenal dari negarawan Soetan Syahrir. Kutipan itu ia letakkan di bagian akhir pidatonya sebagai pengamat politik. Sebab, sebentar lagi Indra akan menceburkan diri sepenuhnya menjadi politikus dan ingin berkantor di Senayan.
”Janganlah mengutuk kegelapan, mulailah menyalakan lilin,” kata Indra, Rabu (6/8) siang. Bersama pengamat ekonomi yang kritis soal utang luar negeri dan BLBI, Binny Buchori, dia menyatakan masuk menjadi kader Partai Golkar.Keduanya mengaku realistis. Mereka lelah berteriak tanpa didengar. Butuh pengorbanan tertentu untuk menyuarakan aspirasinya. Jadilah mereka masuk sistem politik dan menjadi calon legislatif.”Menjadi pengamat tidak akan bisa mengubah keadaan sekalipun penuh idealisme. Pengamat hanya berada di posisi pressure group bukan pengambil kebijakan,” ungkap Indra.
Apalagi, dia optimistis terhadap situasi politik saat ini. Di tengah kecaman demi kecaman melanda DPR dengan korupsi berjamaah dan pelecehan seksualnya, Indra mengaku masih menemukan sisi positif dari politik Indonesia.”Sejak konstitusi kita diubah maka mulai saat itu partai politik (parpol) menempati posisi sentral. Sehingga, harus benar-benar diisi politikus yang berkarakter,” tegas Indra.
Melepas status pengamat politik dari CSIS yang malang melintang menulis di berbagai media dan menjadi pembicara di ratusan seminar, Indra menggelar acara unik yang bertajuk ‘Indra J Piliang : Transformasi dari Analis Politik ke Politisi’.Tentu pertanyaannya mengapa ke Golkar? Indra mengaku ditawar banyak parpol. Sebelumnya, ia menjadi fungsionaris di Partai Amanat Nasional. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengaku kepincut Indra sejak 1,5 tahun yang lalu. Partai Matahari Bangsa pun ikut terpesona.
Indra akrab dengan Golkar sejak mengamati dari dekat Konvensi Nasional Golkar di Bali yang berlangsung beberapa waktu lalu. Di sana, kata dia, ternyata banyak pihak yang mendorongnya agar masuk ke Golkar. Bahkan, katanya, cendekiawan Azyumardi Azra melobi kalangan Golkar untuk menerima Indra. Begitu juga, Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, yang perlu mengirim SMS khusus ke Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla, terkait desakan kepada dirinya itu.
Pilihannya masuk Golkar makin kuat setelah sejumlah tokoh militer Golkar angkat kaki. Ia menyebut secara khusus Jenderal Wiranto dan Prabowo Subianto. ”Saya merasa lebih nyaman melihat pertarungan sesama elit sipil di Golkar berlangsung secara baik.”Diakui Indra, tak semua setuju ia masuk Golkar. Saat dia berbicara di podium dan mengatakan resmi menjadi calon anggota legislatif (caleg) di daerah pemilihan Sumatra Barat II untuk Golkar, sebagian rekannya yang tak rela sontak berteriak, ”Huuuuu … huuuuuu … huuuuu …. Masuk Golkar.”
Namun, sejumlah rekan lainnya memberi dukungan. Amiruddin ar Rahab, misalnya, mengatakan, ”Saya mendukung Indra bukan karena Golkarnya. Tapi, karena pilihan yang ia berani lakukan dan program yang akan ia lakukan.”Andrinof Chaniago yang dipanggil ‘uda’ oleh Indra mengaku spontan mendukungnya. Meski begitu, Andrinof mengaku tetap merasa cemas, apakah Indra cukup kuat iman menghindari godaan politik praktis. Ia lantas berpesan, Indra jangan menggunakan istilah politikus. ”Nanti, ia terjebak ke dalam wilayah yang banyak tikus-tikus politiknya,” kata Andrinof bercanda.
Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, mengatakan, Indonesia butuh lebih banyak Indra untuk masuk ke parlemen. Ia melihat Indra harus diberi kesempatan untuk membuktikan apa yang selama ini ia katakan sebagai politikus dan program yang disusunnya.Yang terakhir dan terpenting juga adalah dukungan keluarga. Istri Indra, Farida, secara mengejutkan didaulat maju untuk berkomentar. Perempuan mungil yang tampak malu-malu itu rela suaminya masuk ke sarang wakil rakyat.
”Tidak takut tercemar korupsi?” Farida menggeleng sambil tersenyum simpul. ”Bagaimana kalau terlibat selingkuh dengan sekretaris seperti kasus yang menimpa akhir-akhir ini,” celetuk rekan Indra, Effendy Ghazali.Indra hanya mesem-mesem mendengar pertanyaan itu. Sementara Farida tampaknya percaya dengan suaminya. ”Saya percaya dia tidak akan selingkuh. Menjadi anggota DPR juga menjadi cobaan bagi dia untuk menjadi suami yang baik,” kata Farida dengan lugu. evy
August 9, 2008
www.oke-zone.com
KPK Berikan Testimoni untuk Indra J Piliang
Rabu, 6 Agustus 2008 - 20:32 wib
JAKARTA - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bidang Penindakan Chandra Hamzah, menyampaikan testimoni kepada mantan pengamat politik Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indra Jaya Piliang.
Dalam testimoninya, Chandra bersikap skeptis dengan mengatakan, seseorang yang bergabung dengan kelompok tertentu akan ikut menjadi bagian dari kelompok itu.
“Sekarang ini banyak sekali korupsi di DPR. Saya tidak ingin menyampaikan banyak hal, tapi saya ingin katakan, orang yang bergabung dengan penyamun biasanya akan menjadi penyamun,” kata Chandra dalam testimoninya di acara Orasi Politik dan Siaran Pers Transformasi Indra Jaya Piliang: Dari Analis Politik ke Politisi di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (6/8/2008).
Chandra mengaku, menghargai semua orang yang ingin membawa angin segar perubahan. Tapi dia juga berharap Indra bisa konsisten dengan pilihannya. Dia mencontohkan kondisi yang terjadi di tubuh lembaga perwakilan rakyat itu.
“Saat ini banyak sekali korupsi, terutama yang juga kita soroti adalah dalam pengesahan Undang-Undang. Ini harus dipecahkan,” ujar mantan Ketua Senat Universitas Indonesia (UI) ini.
Selain Chandra, hadir dalam acara itu antara lain Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, calon anggota legislatif (caleg) Partai Golkar Nurul Arifin, pengamat komunikasi politik UI Effendy Ghazali, Koordinator Formappi Sebastian Salang, dan istri Indra, Faridhah Thulhotimah. (Rosmiyati Dewi Kandi/Sindo/ded)
06/08/2008 20:36
Pengamat Akan Tutupi Kelemahan Golkar
Samsul Maarif
|
|
Indra Piliang
(inilah.com/Abdul Rauf) |
|
INILAH.COM, Jakarta – Partai Golkar telah sukses merekrut kalangan intelektual dalam daftar calon anggota legislatifnya. Hal ini, dianggap dapat menutupi kelemahan anggota DPR yang berasal dari Fraksi Partai Golkar untuk mengimbangi pemerintah.Selain untuk memperkuat kedudukan DPR, Darul Siska, anggota komisi V DPR FPG, menilai masuknya kalangan intelektual sebagai caleg juga untuk menutupi kekurangan staf ahli fraksi. “Ke depan, beban DPR akan semakin berat baik menyusun UU, anggaran maupun pengawasan,” kata Darul Siska kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (6/8).
Menurut Darul, dukungan staf ahli komisi dirasakan sangat minim, sehingga memberatkan tugas politik anggota dewan. Sehingga, dengan masuknya kalangan intelektual, diharapkan mampu menutupi kelemahan staf ahli tersebut dan menekan kesenjangan dengan pemerintah.
“Nah, untuk menjalankan fungsi dengan baik dibutuhkan kalangan intelektual untuk mengimbangi pemerintah sebagai mitra kerja DPR,” katanya.
Seperti diketahui, Indra Piliang, pengamat politik CSIS (Central for Strategic and International Studies), hari ini resmi mendeklarasikan kepindahannya dari seorang pengamat menjadi politisi. Ia bergabung dengan Partai Golkar dan mengaku telah menyiapkan uang Rp100 juta demi kepentingan kampanyenya sebagai caleg. [R2]
Next Page »
Powered by WordPress
| |