PROFIL

Anak Kampung, Anak Kota

Anak Kampung, Anak Kota

Testimoni:

Akbar Faizal (Partai Hanura):
Tidaklah mudah menjadi seorang yang ‘paripurna’ di usia muda seperti Indra J Piliang. Dia seorang pemikir, pelaku sejarah (peristiwa politik dan sosial) dan penulis yang sangat baik. Banyak peristiwa besar di Republik ini tercatat di memori kita berkat torehan tinta Indra. Buku ini menjadi sangat menarik, karena persinggungan tiga karakter tadi. Buku ini sangat penting bagi mereka yang ingin memahami sebuah proses berpolitik yang berkarakter.

Bima Arya Sugiarto, PhD (Partai Amanat Nasional):
Tidak banyak orang yang mau belajar dari kekalahan, apalagi menulis buku tentang kekalahannya. Sahabat saya IJP adalah representasi dari generasi politisi baru yang telah merintis tradisi itu. Bagi IJP, politik bukan sekedar hasil namun juga proses. Rentetan drama kekalahan politik dimaknai IJP sebagai proses pembelajaran dan pematangan berpolitik. Jika saja semua politisi memiliki keikhlasan untuk menerima dan belajar dari kekalahan serta menuliskannya menjadi buku, Insya Allah politik Indonesia akan sesak dengan generasi politisi baru. Generasi politisi yang menjadikan politik sebagai lahan perjuangan bukan mata pencaharian.

Budiman Sudjatmiko (PDI Perjuangan):
Indra adalah seorang pujangga yang sedang berpolitik. Dia memutuskan menapaki tebing terjal dan berbatu ini, karena dia menolak untuk mendapatkan puji dan puja untuk kata-kata yang dirangkainya dalam artikel atau puisi-puisinya saja, tanpa berbuat apapun. Dalam berpolitik dia sadar bahwa dia tidak mungkin menyenangkan semua orang, karena pada akhirnya sebuah cita-cita harus ditarungkan. Sebagaimana sebuah pertarungan, maka kadang ada bagian dari tubuhnya yang terluka, di samping ada piala-piala kecil yang dikumpulkannya. Dalam bukunya ini, dia mau berbagi dengan kita tentang perihnya luka yang dikecap di tengah manisnya sebuah perjuangan melaksanakan cita-cita. Dengan berjuang melalui politik, dia tidak kecut karena dimaki dan menolak membusungkan dada saat diperolehnya kemenangan. Bagi Indra, hidup yang baik adalah kumpulan dari kisah kekalahan-kekalahan yang pantas dan kemenangan-kemenangan yang wajar. Kita harus berterima kasih padanya, karena mau membagi kisah tersebut dalam bukunya ini...

Denny Indrayana (Staf Khusus Presiden SBY):
IJP. Sobat yang tak henti bekerja, berpikir, menulis - dan sekarang - makin berpolitik. Di tangan tuturan Politisi-Pemikir-Penulis handal sekaliber IJP, tiga kekalahan yang diabadikan dalam buku ini amat mungkin menjadi kemenangan yang tertunda. Saya tahu persis dan merasakan, tidak mudah bermetamorfosa dari kepompong pengamat menjadi kupu-kupu politisi pejuang. Selamat berjuang sobat, keep fighting for the better Indonesia.

Dwie Aroem Hadiatie (AMPI):
Sosok pahlawan bagi Titanic, itulah IJP bagi saya. Seorang kader muda PG yang teruji, yang pergi bertempur ke medan perang dengan segala kemampuannya dan kembali dengan selamat, dengan kepala tegak, senyuman dan ketegaran. Lukanya tak membuat konsistensinya berubah haluan, tetap ikut menjadi bagian dari Titanic itu, siapa pun nahkodanya. Ketika kita bicara tentang kaderisasi, intelektualitas, nasionalisme, kerja keras, kemandirian dan loyalitas, itulah IJP. Sosoknya memberikan inspirasi, harapan baru, bahwa Titanic itu masih ada harapan bagi kami, kader-kader muda bangsa, bahwa ia masih bisa kembali kepada ruh KARYA dan KEKARYAAN-nya. Kau ada, bukan karena masa lalu, tapi karena masih ada harapan bagi yang Baru. Salam Pembaharuan.

Erwin Aksa (Ketua Umum HIPMI):
Indra mengukir reputasinya sebagai peneliti politik yang matang, yang diulas indah dengan keberanian  mengaplikasikan ilmunya dalam kompetisi demokrasi yang nyata, dan pahit. Kedewasaannya ditunjukkan denga berbagi pengalaman yang pasti berharga untuk dirinya dan kita semua. Kini hanya waktu yang akan membuktikan Indra J Piliang sebagai negarawan masa depan.

Fadli Zon (Partai Gerindra):
IJP adalah sosok intelektual yang tak mau berdiri di atas menara gading. Ia ingin terlibat. Ia menyadari bahwa perubahan bisa sangat efektif dilakukan lewat politik. Terjun ke dunia politik yang telanjur dianggap sebagai dunia  yang penuh kemunafikan dan kekotoran memang beresiko. Tetapi semakin sedikit orang baik-baik menjauhi politik, semakin banyak preman politik yang berkuasa. Sosok IJP adalah sosok yang diperlukan bangsa dan negara ini, politisi yang intelektual, intelektual yang politisi. Meskipun belum berhasil dalam pertarungan jangka pendek, saya yakin IJP akan ikut mengukir sejarah masa depan Indonesia.

Hasan Nasbi (Cirus Surveyor Group):
Biasanya memoar diterbitkan setelah seseorang berusia lanjut dan “selesai” dari pergumulan dunia. IJP tampil beda, gara-gara pengaruh ombak dalam hidupnya. Memoar ini memberikan sesuatu: siapa bilang IJP berhenti jadi peneliti dan analis?  Dengan ringkas, kita mendapatkan cerita dan informasi detil tentang peristiwa, tempat kejadian dan nama-nama orang yang terlibat di dalamnya. Catatan dan ingatan IJP sangat rapi. Tidak lupa pula dia memberikan analisis untuk setiap orang dan kejadian itu. Sebagai analis, saya rasa “alam”-nya saja yang kini berbeda. IJP sudah menjadi participant observer. Buku ini jadi bukti dan itu sukar dibantah. Politisi “karier” mungkin akan sulit menulis dan berani berterus-terang seperti IJP.

Dr. Ir. Johan O Silalahi, MH (Negarawan Center)
Saya mengenal sosok IJP sebagai sahabat sejati, seorang intelektual politik yang sekarang bermetamorfosa menjadi praktisi politik. Kehidupan bagi seorang IJP ibarat mengalir meniti ombak, tiada kenal letih dan tidak ada kata menyerah.

Jusuf Kalla:
Terus terang, saya tersenyum kecut membaca buku ini. Sekan penulisnya mengatakan bahwa bagian dari riwayatnya juga bagian dari riwayat saya...Buku ini layak dibaca oleh siapapun yang masih percaya, bahwa apa yang dinamakan sebagai kekalahan hanya sekadar tempelan sesaat dari pengalaman hidup yang lebih kaya.

M. Hanif Dhakiri (Partai Kebangkitan Bangsa):
Membaca buku IJP ini, orang yang berpikiran sinistik akan segera komentar: "Kalah kok bangga!". Bukankah lazimnya kemenangan yang dibanggakan? Tetapi sahabat lama saya yang termasuk kategori enlightened young politician ini  punya perspektif lain, dan kita tahu itu benar adanya: bahwa pada kenyataannya lebih banyak orang bisa belajar dari kekalahan ketimbang kemenangan. Kemenangan acapkali memabukkan, membutakan mata hati dan pada gilirannya membelokkan kita dari tujuan perjuangan. Melalui memoar kekalahannya ini, IJP sepertinya sedang memaknai setiap detil proses perjuangannya dalam politik dan kehidupan yang lebih luas.

Sebagian besar orang berkeyakinan pertarungan dalam arena politik bermuara pada soal menang-kalah, bukan benar-salah. Yg pertama menghasilkan claim of power dan yang lain menghasilkan claim of truth. Tetapi bagi IJP, pokok soal politik sepertinya tidak disitu. Menang kalah adalah hal biasa. Bukankah politik adalah tempat dimana kita bisa mati berkali-kali dan hidup berkali-kali pula? Kuncinya justru terletak pada pemaknaan kita terhadap setiap detil proses perjuangan yg mendorong kita menjadi lebih dewasa dan lebih baik.

Kemenangan dan kekalahan sama-sama bisa menyesatkan ketika masing-masing menjadi tujuan. Tetapi jika benar memaknai prosesnya niscaya akan menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Itulah mungkin yang diniatkan IJP dengan membagikan "the dark side of his political life" melalui memoar ini. Sesuatu yang bermanfaat bagi siapa saja yang mencintai hidup dan menghargai proses kehidupan.


Martin Manurung, SE, MA (Kabinet Indonesia Muda):
Seperti sosok penulisnya, buku ini juga unik. Banyak yang menulis tentang gemilang kemenangan, tetapi sedikit yang menerbitkan catatan tentang kekalahan. Celakanya, sejarah selalu milik sang pemenang dan kekalahan biasanya berakhir sunyi tanpa kata-kata. IJP ingin memberontak dari “hukum sejarah” itu, dengan sketsa kekalahan dan perjuangan yang berpeluh tak pernah berakhir sia-sia. Ia adalah awal yang baik bagi generasi muda seperti kami untuk belajar meniti gelombang, naik-turun dan hiruk-pikuk perjuangan. Pelajaran yang terpenting dari buku ini adalah: menggapai kehormatan jauh lebih penting daripada sekadar menang atau kalah.


Meutya Viada Havid (Nasional Demokrat):
IJP, seorang cerdik pandai, intelektual muda. Dia tetap begitu, hingga sekarang, meski telah menjadi politisi bersama saya di PG. Dalam buku ini, Indra memperlihatkan dirinya sebagai intelektual cum politisi pencatat. Sesuatu yang langka di negeri kita, saat ini. Seorang politisi aktif tak banyak yang memiliki kemampuan dan waktu untuk menulis dengan baik. Tapi Indra kebalikannya, semakin tinggi aktivitas politiknya, semakin produktif Ia menulis. Sosok politisi pandai, tapi kesepian. Sendiri di jalan itu.

Mohammad Qodari (Indo Barometer):
Menarik. Biasanya orang menulis tentang kemenangan, bukan kekalahan, apalagi tiga kali berturut-turut. Namun menulis tentang kekalahan penting, karena dari kekalahan kita menuju kemenangan. Semoga dari otokritik ini Bung Indra meraih kemenangan dalam ikhtiar politik selanjutnya.

Mustafa Kamal (Partai Keadilan Sejahtera):
Tidak banyak yang bisa berlapang dada dengan kekalahan demi kekalahan, apalagi mampu menarik hikmah dan menuliskannya demi pembelajaran kolektif publik. Tentulah semua itu berangkat dari seorang pertapa yang ulet, yang senantiasa mencari kebenaran dan tak jemu memperjuangkannya. Saya menjadi saksi tentang seorang IJP semenjak pertama kali berjumpa di kampus UI. Memang tidak dalam semua hal saya membersamainya, tapi suatu ketika kami pernah sama-sama duduk melingkar berjanji setia atas nama-Nya untuk berbuat yang terbaik bagi diri sendiri, keluarga, bangsa dan negara. Terus berjuang, saudaraku!

Nurul Arifin (DPR-RI):
Membaca buku ini menuntun kita mengenal sosok IJP lebih jauh. Seperti terinspirasi oleh tokoh favoritnya Soe Hok-gie, menulis artikel, puisi dan berdebat adalah bagian yang sama dari dua manusia ini. Hal yang menurut saya menempel pada IJP adalah perpaduan kecerdasan, semangat, ketekunan, idealisme dan keberanian menentukan sikap pada saat kritis.  Sejujurnya saya lebih menyukai jika buku ini diberi judul "Memoar Kritis Tiga Kemenangan''. Karena saya meyakini bahwa kalah adalah menang yang tertunda. Selamat berjuang kawan! 

Poempida Hidayatullah, PhD (Partai Golkar):

Sobatku IJP, Saya kenal baik dengan Anda belum lama ... Tapi saya melihat ketulusan dalam persahabatan kita. Buku yang Anda tulis ini semoga dapat bermanfaat bagi mereka yang harus paham bahwa setiap perjuangan mengejar suatu nilai tidak selalu mulus. Diperlukan ketabahan, keyakinan, keteguhan dan keuletan ekstra. Jangan pernah menyerah sampai tujuan akhir tercapai. Apa yang Anda alami dalam buku tersebut selalu bersinggungan dengan apa yang saya alami juga. Saya adalah saksi hidup atas kebenaran buku ini. Semoga jilid kedua dari buku Anda akan menceritakan suatu yang lebih memberikan inspirasi. Jangan berhenti berkarya, sobat. Mari bersama kita warnai sejarah Indonesia ke depan. Perjuangan belum selesai ....Salam persahabatan.

Dr Saafruddin Bahar (Niniak Mamak Ranah Minang)
Rasanya tidak banyak politisi muda, yang setelah kondang di tingkat nasional sebagai cendekiawan yang mumpuni, mau 'turun gunung' ke lapangan mengadakan kontak langsung dengan rakyat yang akan ia wakili. Mungkin hanya Bung IJP yang bersedia berkeringat demikian. Saya beruntung bertemu dengan bung IJP sewaktu sama-sama meninjau eks benteng Paderi di Bukik Tajadi, Lubuk Sikaping, Pasaman. Saya doakan beliau sukses selalu.

Teuku Kemal Fasya (Universitas Malikussaleh, Lokseumawe):
Keputusan Indra J Piliang memasuki politik dengan menjadi kader Golkar menyebabkan ia seperti seseorang yang terlalu lama tidur siang dan bangun di kepekatan senja sehingga menyangka telah pagi. Dunia baru itu sangat disorientatif dan manipulatif, padahal dunia kata-kata adalah orkrestra terbaik baginya.

T Taufiqulhadi (Partai Persatuan Pembangunan):
Saya selalu menyukai diksi dan gaya bahasa Indra J Piliang yang lincah dan menggelitik. Setiap saya mulai membaca artikel-artikel atau buku-buku yang ditulis Indra, maka saya ingin menyelesaikan tulisan-tulisan Indra itu. Anak-anak kalimatnya begitu segar...

Yuddy Chrisnandi (Calon Ketua Umum Partai Golkar 2009):
Indra adalah sosok yang lugas, penuh percaya diri, ceplas-ceplos, kritis, berpikiran radikal, anti kemapanan dan pemberontak. Itulah setidaknya penilaian saya terhadap karakternya. Bagi saya, mengenal Indra seperti mendekati sesuatu yang unik. Tidak bisa dipegang terlalu kencang, namun juga tidak  bisa ditinggalkan terlalu jauh.  Indra yang saya kenal bukanlah termasuk golongan kaum Gerontokrasi, yaitu orang muda pengekor kaum tua, karena takut kehilangan jabatan, takut tidak punya materi dan takut jauh dari kekuasaan.

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com