Kembalikan, Kampung Halamanku…

August 22, 2007

Profil

Filed under: Uncategorized — Indra @ 5:33 pm

Anak Kampung, Anak Kota

indra-j-pilliang.jpgIndra Jaya Piliang lahir di Pariaman, Sumatera Barat, pada 19 April 1972. Ayahnya bernama Boestami dengan gelar Datuak Nan Sati. Suku ayahnya Koto. Sementara ibunya bernama Yarlis dari suku Piliang. Koto dan Piliang adalah rumpun suku utama di Minangkabau. Lareh Koto Piliang adalah sistem sub-budaya dalam budaya Minangkabau yang didirikan oleh Datuk Ketumanggungan, menganut sistem aristokrasi militeristik dalam pengambilan keputusan dan pemerintahan tempo doeloe, sebagaimana disebut dalam wikipedia. Lareh ini berbeda dengan Bodi Chaniago yang lebih egaliter dan demokratis yang dikembangkan oleh Datuk Perpatih Nan Sebatang.

Ayah dan ibunya memiliki tujuh orang anak, enam laki-laki dan satu perempuan. Nama-namanya adalah Achmad Busra, Zaenul Bahri, Yunas Setiawan, Mardiyah Hayati, Benni Perwira dan Akbar Fitriansyah. Indra adalah anak ketiga.

Indra menikah dengan Faridah Thulhotimah, putri pasangan Syamsul Bachri dan Syamsiah. Syamsul adalah keturunan dari suku Yogyakarta dan Betawi, sementara Syamsiah adalah keturunan suku Sunda. Faridah memiliki satu kakak, Hadi Suwarman. Faridah adalah lulusan Jurusan Ilmu Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. Keduanya memiliki dua orang putra, Afzaal Zapata Abhista (21 Juni 2003) dan Fadha Dang Sati Ababil (03 April 2008).  

Indra menamatkan kuliah di Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Selanjutnya ia meneruskan kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Selama kuliah, ia aktif dalam Studi Klub Sejarah dan pernah menjadi Ketuanya. Pernah juga menjadi Sekretaris Umum Senat Mahasiswa Fakultas Sastra UI dan pengelola Tabloid Ekspresi FS-UI. Di tingkat UI, Ia aktif pada majalah Suara Mahasiswa UI, Senat Mahasiswa UI, Senator Badan Perwakilan Mahasiswa UI, Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya dan pernah ikut latihan marching band Madah Bahana. Ia juga sempat menjadi redaktur pelaksana Surat Kabar Kampus Warta UI.

Indra pernah maju sebagai calon Ketua Senat Mahasiswa UI periode 1995-1996. Namun dia kalah oleh Kamaruddin. Metode pemilihannya adalah secara langsung, termasuk dengan kampanye terbuka dan debat kandidat. Pada masa kampanye itulah ia bertemu dengan Faridah yang waktu itu menjadi Panitia Pemira (Pemilihan Raya) Senat Mahasiswa UI. Ia kalah, tetapi berhasil menggondol pialanya.

Sebagai aktifis kampus, Indra juga menjadi pendiri dan Sekjen Pertama Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Indonesia (IKAHIMSI) periode 1995-1997. Ia juga tercatat sebagai pendiri Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ) bersama Ubaidillah, Henky, Danar, dll. Ia juga pernah tercatat sebagai Koordinator Wilayah A (Sumatera dan Jawa) Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Indonesia (FKSMI) yang dibentuk di Universitas Mulawarman, Samarinda, pada 1995. Dalam organisasi intra kampus, Ia juga sempat aktif di Forum Amal dan Studi Islam (Formasi) Fakultas Sastra UI, yakni sebagai Ketua Badan Pertimbangan (Majelis Syuro). Indra juga tercatat sebagai anggota dan pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Depok.

Dalam organisasi-organisasi kemahasiswaan itulah Indra mendapatkan teman, sahabat dan juga musuh dan lawan. Sebagai aktifis, ia bepergian ke pelbagai tempat, bersidang, berdebat dan merumuskan pikiran-pikiran khas kemahasiswaan. Begitulah. Dan tiba-tiba ia menemukan diri sebagai seorang penulis, peneliti dan analis, terutama untuk bidang-bidang politik. Namun, kecintaannya kepada kampung halaman dan sikap kritisnya atas kota, juga muncul dalam tulisan-tulisannya. Ia mulai menggeluti masalah-masalah Aceh dan Papua, bahkan juga tertarik mengeksploirasi Bali dan Riau. Dalam aspek yang lebih luas, ia meminati masalah-masalah yang berkaitan dengan otonomi daerah.

Ketika mahasiswa, ia dikenal memiliki sikap anti-kemapanan. Sesuatu yang dianggap kekiri-kirian atau kemerah-merahan. Tetapi ia juga dianggap kehijau-hijauan. Ia terkadang lebih suka disebut seperti semangka: hijau diluar, merah di dalam.

10 Comments »

  1. ajo indra yang baik,
    kayaknya cv-nya kurang lengkap tuh..
    oknum W koq ga disebut siy.. he he he
    salam,
    intan

    Comment by intan — March 25, 2008 @ 10:05 am

  2. hehe. bener, WieNce Emoel.

    thans, Ntan. mestinya aku tulis dalam “Catatan Lain-Lain, hahaha

    Ijp

    Comment by indrapiliang — March 25, 2008 @ 10:40 am

  3. Salam kenal Pak..
    assalaamu’alaikum…

    Comment by Zulfi — May 19, 2008 @ 4:26 am

  4. halo bang Indra, sejak kuliah saya senang membaca artikel abang di media cetak, ide abang segar-segar dan gaya bahasanya jelas.

    salam.

    Comment by ika — May 22, 2008 @ 3:04 pm

  5. ass. bang
    semoga sehat dan sukses selalu,
    saya terkejut ketika bang indra menuliskan tentang pembicaraan dikampung abang.
    saya salut terhadap perjuangan abang.
    siapapun yang datang ke kampung abang pasti ikut terkejut,
    Nun jauh daerah kampung dalam sana di pariaman, lahir tokoh muda cerdas yang salau dikagumi oleh penulis muda seperti saya
    saya juga bercita-cita seperti bang indra
    Bang Indra telah menjadi motivasi saya untuk terus berjuang, tidak ada halangan dalam berjuang…itu yang saya dapatkan selama saya menemani abang ke kampung.
    Dan itu selalu saya ceritakan ke kawan-kawan di Sumbar, sambil kampanye gitu……he..he..he
    Bang Indra pantas jadi pemimpin nasional dimasa yang akan datang…saya mendukung …
    Wassalam. Revi Marta Dasta, Ketum Badko HMI Sumbar

    Comment by Revi Marta Dasta — July 8, 2008 @ 2:15 pm

  6. hanya ada satu kata untuk bang indra

    Salut

    teruslah memperjuangkan nagari!!!

    Comment by Puji — July 23, 2008 @ 2:27 pm

  7. kemaren awak lihat abang di tv

    kayaknya pada acara mukernas pks

    Comment by Puji — July 23, 2008 @ 2:28 pm

  8. Bung IJP salam kenal dari saya, selamat berjuang menuju senayan “mengalir seperti ombak”

    Comment by andijupardi — July 24, 2008 @ 6:04 am

  9. Congrats Udo Indra! Ayunan langkahmu rupanya makin mantap. Semoga tak seperti orang-orang lain yang begitu sukses lupa sama teman-teman lama. Walau cuma oknum, W-nya Intan termasuk yang pernah mengisi hari-hari awal perjuanganmu di UI bukan? Buat Intan, apa kabar Bu? Apa perlu kita kawan-kawan lamanya IJP ini membentuk tim sukses?

    Comment by Bhayu M.H. — August 6, 2008 @ 12:02 pm

  10. ass
    ajo indra yth;

    bangga rasanya punya pendahulu yang seperti uda…(apolagi sanak sa suku..)
    membaca tulisan uda dimilis kahmi ttg 10 hari jd politisi jadi bikin pengen mengunjungi website ini..
    walaupun juga dari kemaren2 udah familiar …
    terus melangkah dan tetap pegang teguh sama pendirian yang uda yakini baik..
    insyaAllah akan barokah dan bermaslahat bagi umat..sukses buat uda..
    amin..

    Comment by dhinie — August 15, 2008 @ 9:18 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress