Gus Dur di Mata dan Hati yang Sehat

Kamis, 31 Desember 2009
Sumber : Majalah Tempo, 2002

Resensi

Judul : Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid

Penulis : Greg Barton

Penerbit : Equinox Publishing Jakarta Singapore

Tahun : 2002

Jumlah Halaman : 414

Gus Dur di Mata dan Hati yang Sehat

Sepak bola Asia sedang bangkit, dengan tampilnya tuan rumah Korea Selatan dalam semifinal World Cup 2002. Kebangkitannya dibantu oleh Guuz Hiddink, orang Belanda yang memadukan gaya konfusinisme Korea dengan kecepatan, ketekunan, dan kemampuan teknis individual sepak bola Eropa. Kini, Guuz Hiddink menjadi buah bibir di seantero Korea Selatan dan Asia.

Lalu, apa hubungannya dengan Gus Dur? Gus Dur juga terkenal dengan teori sepakbolanya. Ia menjadi komentator dan penulis yang baik tentang sepakbola, ketika masih bisa menikmati sepakbola dengan pandangan matanya. Dalam salah satu fase gejolak politik yang dia hadapi, Gus Dur melantunkan dengan fasih caranya memenangkan pertarungan politik, dengan teori cattenacio khas Italia. Tapi toh, Gus Dur lantas diberhentikan dengan hormat oleh MPR dari jabatannya sebagai Presiden RI keempat, tanggal 23 Juli 2001. Teori cattenacionya tak laku, menghadapi gelombang serangan tak mengenal siang dan malam dari faksi-faksi politik di MPR. Apa yang salah dari Gus Dur?

Greg Barton yang pertama kali bertemu Gus Dur tahun 1989 mencoba menyampaikan kesaksiannya atas Gus Dur, fenomena Gus Dur, juga pilihan-pilihan politik yang ditempuh Gus Dur. Barton tak main-main, dia mengerjakan buku ini sepanjang lima tahun, sejak 1997. Barton malah melengkapi buku ini dengan dua riset yang dilakukannya tentang pengaruh Islam Liberal, dan Islam dan Civil Society di Indonesia. Gus Dur menjadi salah satu aktor kunci dalam alur pergulatan ide-ide Islam Liberal dan Civil Society ini, ketika Indonesia hanya punya pengalaman dengan ide-ide Islam Sosialis (HOS Tjokroaminoto, Muhammad Hatta, Tan Malaka), Islam Modernis (Masyumi dan Muhammadiyah), Islam Tradisional (NU), dan yang belakangan hadir berupa fenomena Islam Fundamentalis dan Islam Puritan yang biasanya dikaitkan dengan Partai Keadilan, Laskar Jihad atau Front Pembela Islam.

Buku ini terbagi dalam tiga periode dan wacana. Pertama, sepanjang tahun 1940-1982, ketika Gus Dur asyik dengan gagasan dasar Islam Kultural. Barton menelusurinya jejak tapak Gus Dur menempuh kehidupannya sebagai trah biru NU yang hidup di lingkungan pesantren, juga menjelajah sampai ke Kairo (Mesir), Baghdad (Irak) dan Eropa. Dari hasil eksplorasi individual itu, Gus Dur melakukan reformasi di wilayah pesantren. Kedua, sepanjang tahun 1982-1994, ketika Gus Dur melakukan quantum stepping keluar wilayah pesantren dengan gagasan dasar liberalisme Islam dan penguatan civil society ketika hegemoni negara Orde Baru begitu dominan, represif dan otoriter-birokratik. Ketiga, sepanjang tahun 1994-2001, ketika Gus Dur akrab dengan politik, dengan gagasan Islam Politik dan Struktural, termasuk interaksinya dengan keluarga Soeharto, dan terpilihnya Gus Dur sebagai Mr. President Dur.

Boleh dikatakan, jarang tokoh seperti Gus Dur yang lahir di Indonesia, melintasi banyak tapal batas wilayah wacana, tetapi tetap dalam bingkai Islam. Ia bergerak dari level paling bawah dari strata masyarakat Indonesia, sampai level teratas dengan jabatan orang nomor satu di antara 200 Juta lebih jumlah penduduk Indonesia, tetapi tetap dengan segala kejutan, polemik, dan pusaran ide-ide lama dan pencarian ide-ide baru.

Sampai batas itu, Barton luar biasa berhasil. Ia tak tersandung dalam lingkaran, jebakan, atau permainan Gus Dur. Dan itu dilakukan dan diperoleh Barton dengan tingkat kedekatan yang amat mesra dengan Gus Dur, keluarga Gus Dur, juga individu-individu yang berpengaruh dalam hidup Gus Dur. Sebagaimana Gus Dur yang terlihat lebih suka berpikir sendiri, mengalami imunitas pikiran dan tindakan dari orang-orang di sekelilingnya, Barton juga tampil nyaris tanpa pemitosan dan pensakralan sosok Gus Dur. Minimal, dua kali Barton menekankan bahwa tidak ada seorangpun di sekitar Gus Dur, bahkan Gus Dur sendiri, yang terlibat atau melakukan intervensi atas keseluruhan isi buku ini, langsung atau tidak langsung (hal. 4 dan 6).

Tak jarang Barton menyampaikan pikirannya sendiri. “Perilaku dan pernyataan-pernyataannya lebih digerakkan oleh tuntutan-tuntutan sementara dari manuver taktis untuk pertahanan jangka pendek dibandingkan dengan rencana strategis untuk jangka panjang, “ tulis Barton (hal. 292) ketika Gus Dur dihadapkan dengan persoalan Aceh diantara dua kepentingan: militer dan rakyat Aceh. Padahal, dari keseluruhan jalan hidupnya, Gus Dur sangat terlatih dengan pikiran-pikiran jangka panjang, mulai dari persoalan Islam, kemanusiaan, kebudayaan, demokrasi sampai filsafat dan mistisisme dalam alam pikiran Islam tradisional dan budaya Jawa. Situasi bising dan turbulensi (kekacauan) pemerintahannya, juga pola manajemen pesantren dan ‘ala LSM’ yang selama ini diterapkan Gus Dur, ternyata tak cukup untuk membongkar jalinan dan rajutan birokrasi yang membatu selama dibawah Soeharto.

Faisal Basri, dalam sebuah monograf yang tidak dipublikasikan, menceritakan pengalaman seorang anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang dibuat Gus Dur. “Kiatnya sederhana: awali pembicaraan dengan musik, utamanya musik klasik. Kalau Gus Dur mulai bosan, selingi dengan joke. Jika sudah masuk pada pemecahan masalah, sodorkan nama...mengingat Gus Dur kerap ‘menyelesaikan’ masalah dengan mengganti orang pada posisi-posisi kunci”, tulis Faisal.

Humor inilah yang tak tampak dalam tulisan Barton. Barton terlalu serius dan rasional, bahkan ketika masuk dalam halaman terakhir bukunya. “He is kasar rather than halus,” tulis Barton (385). Tokoh Semar dalam wayang kulit yang disukai Gus Dur, juga disebut Barton sebagai tokoh yang kasar dan vulgar. Untung, Barton mengakui bahwa ia dibesarkan dengan televisi Amerika, ketimbang wayang kulit, sekalipun Gus Dur sudah mengingatkan tentang karakter Peter Falk dalam (film) Colombo yang juga disebut Barton kadang-kadang mirip Gus Dur. Buku ini, sekalipun tak mencapai kejeniusan isi buku yang ditulis Muhammad Haekals tentang Anwar Sadat, telah mampu mendefenisikan siapa Gus Dur, paling tidak dimata orang yang punya mata dan hati yang sehat. Tidak seperti Gus Dur yang hadir terlambat ketika kesehatan fisik menjadi kendala utamanya...

Jakarta @ 2002

Indra J. Piliang, peneliti politik dan perubahan sosial CSIS, Jakarta.

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com