Bendera
Bendera
Berkibar tinggi, di rumah2 kumuh, di pohon2 lapuk, di jiwa2 yang meranggas. Ia juga ada di istana2 kaca, mobil2 mewah, hotel2 berbintang.
Bendera, ia bisa menyerupai apapun yang kau suka.
Ia adalah partai politik, kampus, sekolah, hobby, ilmu pengetahuan, atau sekadar semut rangrang atau semut hitam.
Kau anjungkan ia tinggi2 melebihi dirimu dengan benang2 panjang, hingga kau sendiripun tidak bisa menjangkaunya.
Kau gerek ia di saat hujan, panas, dingin, sampai ketika orang lain tidur.
Kau tetap terjaga dengan benderamu itu. Kau seduh bergelas2 kopi hitam biar tetap terjaga bersama benderamu. Kau gambar bendera2 itu di setiap sudut kota. Kau coret buku pelajaranmu untuk bendera itu.
Kemaren, bendera itu bernama presiden, sebelumnya pesinden. Beberapa minggu lalu, bendera itu berupa asap di JW Marriott dan Ritz Carlton. Dan bahkan bendera itu kau gambar di tubuh2 yang terjengkang, terpotong, tidak peduli itu tubuhmu sendiri. Ada kebanggaan di dadamu, ketika bendera yang kau kibarkan itu juga berupa serpihan tubuhmu.
Bendera2 itu membuatmu hirau pada dunia. Acuh pada orang lain. Kaupun tidak peduli yang sakit semakin sakit, yang gila semakin gila, hanya demi kebanggaan bahwa benderamu lebih banyak dari bendera orang lain.
Tanpa kau sadari betapa bendera itu telah menjadi Tuhan, menjelma Tuhan, menghegemonimu, duniamu, mimpimu, juga masa depanmu.
Kenapa tidak kau sobek saja bendera itu, biar langit terlihat indah? Kenapa? Bukankah bintang2 di atas sana tidak bisa terkatakan dan terlukiskan olehmu, apalagi oleh benderamu?
Kenapa?
Jakarta, 2 Agustus 2009. Ketika dua anakku sibuk dengan benderanya masing2.