Pulang untuk Pengabdian

Selasa, 2 September 2008
Sumber : Padang Ekspres, Minggu, 31 Agustus 2008

Berbicara tentang Indra Jaya Piliang memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah, Bukan saja karena Indra menamatkan S-1 nya di Jurusan Sejarah Universitas Indonesia (UI), tapi juga karena sejarahlah yang mengajarkan kepada Indra tentang politik. Bagi Indra, politik adalah sejarah masa kini, sementara sejarah adalah politik masa lalu. Siapa yang tidak kenal Haji Agus Salim, Tan Malaka, Muhammad Hatta, Muhammad Natsir, Sutan Syahrir, Buya Hamka atau tokoh yang baru meninggal, Syahrir? Mereka berpolitik, masuk partai politik, menjadi singa podium di parlemen, sekalipun tetap menempuh kehidupan intelektual yang hangat. Bagaimana rentang perjalanan hidupnya, berikut dirangkum wartawan Padang Ekspres, Rommi Delfiano.

Tentu saja Indra tidak ingin menjadi salah satu di antara mereka. Meskipun ayah Indra adalah pengagum Natsir dan Hamka, yang karena itu pula ayah Indra pernah aktif di Masyumi. Indra mengagumi semuanya. Karena itu pula Indra tidak berandai-andai dianggap sebagai pelanjut Hatta, Tan, Natsir, Hamka atau Syahrir. Indra adalah Indra, Indra Jaya yang suku ibunya Piliang dan suku bapaknya Koto. Indra adalah Indra Jaya Piliang yang anak pisang orang bersuku Koto. Indra adalah bagian dari keluarga besar yang kawin-mawin dengan suku-suku yang lain, selain etnis Minangkabau juga Sunda, Jawa, dan lain-lain.

Merantau adalah satu-satunya jalan bagi Indra —dan juga pemuda Minangkabau lainnya— untuk mewujudkan mimpi menjadi orang. Fase perkembangan intelektualnya pun dimulai dengan memilih kuliah di Jurusan Ilmu Sejarah UI. Memilih UI sebagai ”surau baru” baginya adalah karena tekad yang bulat bahwa setelah menyelesaikan sekolah menengah, Indra harus hidup di Jakarta. Banyak yang tidak yakin Indra bisa kuliah di UI mengingat tingkat persaingan yang ketat dalam Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) waktu itu.

Karena di SMA Indra ditempatkan di jurusan A-1 (Fisika), Indra pun memilih Jurusan Meteorologi dan Geofisika Institut Teknologi Bandung pada tempat pertama, Ilmu Sejarah UI pada tempat kedua, lalu Ilmu Antropologi UI pada tempat ketiga. Bayangan Indra sebagai anak kampung, dengan mengambil jurusan Meteorologi dan Geofisika di ITB, ia bisa menjadi seorang astronot. Pikirannya waktu itu, jurusan ini adalah mempelajari meteor dan benda-benda angkasa lain. Sebuah novel tentang kehidupan angkasa yang dibacanya waktu SMA telah mengembangkan imajinasi Indra tentang galaksi yang jauh itu.

Tapi Indra ditakdirkan untuk masuk Jurusan Ilmu Sejarah UI. Sebelumnya Ia memilih jurusan ini karena menghitung probabilitas jumlah pelamar setiap tahun dengan kursi yang tersedia, sebuah pikiran yang teramat logis. Begitu pula jurusan Antropologi FISIP UI. Indra baru mengetahui bahwa ia diterima di UI pada hari ketiga pengumuman UMPTN. Karena tidak bisa mendapatkan koran lokal, Ia datang ke Rektorat UI bersama kakaknya, lalu menyaksikan di dinding bahwa nama dan nomor ujiannya diterima sebagai mahasiswa baru UI. Itulah hari pertama Indra datang ke kampus UI dan langsung melompat kegirangan, sekaligus khawatir atas biaya kuliah yang mahal.

Kehidupan kampus yang sebenarnya langsung menyambutnya, terutama inisiasi di tingkat jurusan. Para senior Ilmu Sejarah waktu itu terdiri dari kelompok merah, hijau dan anak-anak Kansas (Kantin Sastra) alias kelompok borjuis. Kelompok merah terdiri dari para senior yang begitu mengagumi pemikiran-pemikiran intelektual Indonesia seperti Tan Malaka dan Sutan Syahrir. Sebaliknya, kelompok hijau mengagumi pemikiran Muhammad Natsir. Sedikit sekali yang mengagumi Muhammad Hatta dan Hamka, dua orang pemikir yang kemudian dijadikan referensi oleh Indra.

Masing-masing kelompok ingin memperbesar pengaruh di kalangan anak-anak baru. Sistem pertahanan diri Indra mengatakan bahwa ia harus masuk ke kedua kelompok itu, terutama karena referensi mereka sebagian besar adalah intelektual yang dilahirkan di ranah Minang. Sekalipun begitu, sebagai anak Minang, Indra lebih banyak beraktivitas di kalangan kelompok hijau. Tetapi, secara sendirian, Indra tetap berinteraksi dengan kelompok merah. Ia menemukan dirinya sebagai pelintas batas. Baik buku hijau atau buku merah selalu dibacanya.

Supel dalam Pergaulan

Dan di kampus ini juga Indra berkenalan dengan banyak orang. Sebagian di antara mereka sudah menjadi tokoh pada bidangnya masing-masing. Atau, bisa dikatakan, banyak di antara mereka yang menjadi tokoh. Puan Maharani (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) waktu itu masuk ke Jurusan Sastra Jepang, tetapi tahun berikutnya pindah ke FISIP UI. Fadli Zon (Partai Gerindra) masuk Jurusan Sastra Rusia dan segera menjadi teman Indra. Mustafa Kamal (Partai Keadilan Sejahtera) adalah tokoh yang mendidik Indra tentang ajaran agama Islam, lalu menawarkan posisi Sekretaris Umum Senat Mahasiswa FSUI, ketika dia menjadi ketua senatnya. Indra termasuk sekretaris umum termuda, karena sekretaris umum sebelumnya berasal dari angkatan 1988, sementara ia adalah angkatan 1991.

Chandra M Hamzah (kini Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi) adalah Ketua Harian SM-UI dan Komandan Resimen Mahasiswa UI yang sering menegur Indra karena gagap bicara. Zulkieflimansyah (Partai Keadilan Sejahtera) adalah Ketua Senat Mahasiswa UI berikutnya di mana Indra adalah anggota senatnya.

Dalam kesempatan berikutnya di organisasi kemahasiswaan, Indra juga mengenali tokoh-tokoh mahasiswa lain atau mantan mahasiswa. Di ISAFIS, ia bertemu dengan Rizal Mallarangeng (UGM, PhD, sekarang direktur eksekutif Freedom Institute, FOX Indonesia, dan lainnya) dalam satu kesempatan diskusi. Dalam kegiatan mahasiswa, ia juga berjumpa dengan Anies Baswedan (UGM, sekarang PhD, Rektor Universitas Paramadina). Beberapa teman orang yang menjadi teman-temannya, juga bertemu dalam kegiatan kemahasiswaan itu, seperti Arief Satria (IPB, PhD, sekarang dosen di IPB) dan Budiman Sudjatmiko (UGM, tetapi sering ditemuinya di Jakarta, sekarang politisi PDI Perjuangan). Beberapa orang yang disebut sebagai mitos dalam pergerakan mahasiswa, ia jumpai, termasuk ketika menulis skripsi: ”Koreksi demi Koreksi: Aktivitas Pergerakan Mahasiswa Pasca-Malari sampai Penolakan NKK/BKK (1974-1980)”.

Pada 1995 Indra memutuskan maju menjadi Ketua Senat Mahasiswa UI. Waktu itu, tidak ada kandidat ketua senat mahasiswa lain yang maju, selain Komaruddin dari FISIP UI. Indra pada akhirnya memajukan diri dengan didukung oleh sebagian kecil teman dan sahabat, sekalipun sempat dianak-emaskan sebagai kandidat terkuat Ketua Senat Mahasiswa FS-UI. Indra kalah, kecuali di Fakultas Sastra UI, Fakultas Psikologi UI dan Fakultas Hukum UI. Selebihnya disapu oleh Komaruddin yang sebetulnya adalah guru mengaji kelompok tarbiyah yang Indra ikuti.

Barangkali, dari pengalaman itulah visi dan intuisi politiknya terbentuk. Teman-temannya dari ”sebelah kiri” mengatakan tidak bisa membantunya, karena yang terjadi adalah ”hijau kontra hijau”. Indra memang aktif di Himpunan Mahasiswa Islam, satu organisasi ekstra kampus. Sementara lawannya dianggap berasal dari kubu Tarbiyah. Fakultas Teknik UI, dimana Indra berharap dukungan banyak, ternyata mengatakan tidak ikut dalam proses pemilihan raya itu. Kelompok-kelompok lain juga tidak menawarkan bantuan, malah minggir dengan mengatakan betapa mereka bukan bagian yang harus ikut.

Manajer Kampanye Pusat Indra adalah Rifky Mochtar (FMIPA, sekarang di kantor Menegpora), Muhammad Qodari (Fakultas Psikologi, sekarang Direktur Eksekutif Indo Barometer), Rama Pratama (Fakultas Ekonomi, sekarang politisi PKS dan anggota DPR), dan lainnya. Di Fakultas Sastra, Indra didukung oleh Agung Pribadi, Luthfi Ihsana Nur, Noor Intan, JJ Rizal, dan lainnya. Inilah fase pertama ketika Indra melihat beberapa kawannya menghindar ”masuk dunia politik” itu. Selama masa kampanye, Indra lebih banyak membaca puisi, daripada melakukan orasi.

Ketika menyelesaikan skripsi, Indra sempat cuti selama satu semester. Waktu itu Indra jatuh sakit, terkena penyakit bronkitis akut. Mungkin karena kondisi kontrakan Indra yang buruk. Indra berobat ke kampung. Mereka percaya, kalau satu keluarga sakit di rantau, maka sungai yang mengalir di dekat rumahnya akan menghanyutkan penyakit itu. Mandi di sungai yang mengalir adalah obat dari segala macam penyakit. Sebetulnya, alasan cuti yang lain adalah untuk menemani Agung Pribadi, sahabatnya yang kurang sempurna fisik, agar bisa menyelesaikan skripsi secara bersamaan. Waktu itu, Agung hampir menyerah. Demi membantu temannya itu, Indra bahkan kost tepat di sebelah kamar kost Agung. Jiwa sosial dan humanismenya memang sudah terbentuk sejak lama.

Kehidupan Intelektual

Fase hidup selanjutnya membawa Indra larut dengan kehidupan di kalangan intelektual, menjadi penulis, mengisi seminar, membuat gerakan ini dan itu atas nama masyarakat sipil. CSIS dan penulis Kompas adalah dua kata kunci yang memudahkan untuk masuk ke kalangan elite, sekalipun juga menyulitkan masuk ke kalangan masyarakat lainnya yang terbiasa dengan isu. Seperti yang sudah Indra ceritakan pada bagian atas, Indra menjelajahi banyak wilayah. Ketertarikan Indra langsung mencuat atas masalah-masalah Papua, Maluku dan Aceh. Sebelumnya Indra tertarik kepada Riau dan Bali.

Jadilah Indra menekuni masalah-masalah yang berkaitan dengan otonomi daerah, sehingga pada suatu kali dalam acara PKS di Bogor, Prof Dr Ryaas Rasyid mengatakan kepada Indra betapa ia senang ada orang selain dia dan Andi Mallarangeng yang menggeluti bidang otonomi daerah. Indra juga mendirikan Yayasan Harkat Bangsa Indonesia untuk meningkatkan pengetahuan di bidang otonomi dan pemerintahan. Yayasan ini memang tidak terlalu beruntung dalam mendapatkan bantuan dari pihak asing. Satu-satunya yang membiayai beberapa proyek adalah Kemitraan untuk Reformasi Tata Kelola Pemerintahan.

Selain menulis, Indra juga sering menjadi narasumber dalam kegiatan-kegiatan di Departemen Dalam Negeri, Lemhannas, Wantannas, Badan Intelijen Negara, DPD RI, DPR RI, pemerintahan daerah, partai politik, televisi, DPRD, serta “lahan tradisional” lain seperti LSM. Dalam delapan tahun terakhir, Indra sudah menghadiri 500 lebih arena diskusi, seminar, pelatihan, juga sejumlah kursus. Indra juga menulis sekitar 500 artikel yang tersebar di banyak media harian, mingguan, bulanan, serta jurnal dan buku.

Indra juga memasuki daerah-daerah konflik, seperti Ambon dan Aceh, ketika peluru masih meletus. Indra juga pergi ke Ternate, menjadi peninjau dalam Sidang Dewan Adat Papua Pertama di Sentani, memasuki Banda Aceh ketika Cessation of Hostilities Agreement, serta mengunjungi hampir semua ibukota provinsi di Indonesia, kecuali Mamuju, Kendari, Pangkal Pinang dan Manokwari. Indra meneliti, mengadvokasi, menulis, melakukan training, berbicara di media, melakukan konferensi pers, serta kegiatan-kegiatan lain.

Indra mendapatkan kenyataan bahwa dunia masyarakat sipil terlalu prejudice terhadap dunia politik, padahal dalam advokasi di Senayan pasti membutuhkan politisi. Karena itu juga Indra memperingatkan kalangan masyarakat sipil dengan tulisan “Akar-Akar Hancurnya Masyarakat Sipil” di Kompas, serta tulisan-tulisan lain.2 Belakangan, aktivis masyarakat sipil begitu disibukkan dengan masalah-masalah Aceh. Indra bahkan sampai pada hari ke-8 tsunami di Aceh dan menjadi “kurang waras” selama dua minggu setelah pulang dari sana. Dengan tulisan dan pernyataan di media nasional, Indra mengawal proses damai Aceh. Ia juga menulis tentang partai lokal yang kemudian menjadi salah satu hasil perundingan Helsinki. Ia mengirimkan sms kepada Sofyan Djalil, salah satu perunding pemerintah di Helsinki.

Sekalipun menjadikan filosofi dan pengalaman hidup sebagai putra Minangkabau, Indra hanya mempelajari kejadian-kejadian di Sumatera Barat lewat bahan bacaan dan komunikasi dengan sejumlah kawan, sahabat dan adik-adik. Pilkada di Sumatera Barat tahun 2005 menyebabkan ketertarikan Indra kepada kampung halaman kembali berkobar. Indra membantu Jeffrie Geovanie untuk menjadi kandidat calon Gubernur Sumatera Barat 2005-1010 dan gagal. Indra mulai berpikir, betapa selama ini ia lebih paham atas Aceh dan Papua, ketimbang atas kampung halamannya sendiri.

Gempa di Sumatera Barat yang menghancurkan sekolah dasar Indra menghenyakkannya. Indra merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Air sungai di depan rumah Indra juga menggila. Pembangunan Batu Beronjong meluruskan aliran sungai itu mengingatkan Indra bahwa sekali air banjir, maka sekali tepian berubah.
Peduli Kampung

Pelan, namun pasti, Indra mulai memperhatikan kampung halamannya. Ia menolak tawaran untuk bekerja di Aceh. Baginya, cukup sudah menjaga perdamaian Aceh dengan tidak terlibat dalam proses yang lebih detil. Tetapi, ia masih sempat beberapa kali ke Aceh, bertemu dengan para mahasiswa, kalangan aktivis, anggota GAM, polisi, tentara, serta pihak-pihak lainnya. Ia merasa sudah menjadi bagian dari masyarakat Aceh. Kadang, orang Aceh sendiri keliru mengira bahwa dia adalah keturunan Aceh. Untuk masalah Papua, ia juga beberapa kali datang. Ia mendirikan Pokja Papua bersama Patra M Zen, Usman Hamid, Amiruddin Ar-Rahab, Andrinof Chaniago, dan lain-lain. Seiring dengan peningkatan stabilitas politik dan pemerintahan di Papua, Indra makin jarang datang. Ia memang terus mengikuti pemberitaan tentang Aceh dan Papua, tetapi semakin jarang menulis.

Perhatian Indra yang terakhir soal Aceh Ia tuangkan lewat tesis guna meraih gelar Magister Sains di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI. Tesis itu berjudul: ”Bouraq-Singa Kontra Garuda sebagai Lambang Perlawanan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) terhadap Negara Republik Indonesia (NRI): Kajian Semiotika dalam Perspektif Komunikasi Antar-Budaya”. Indra menuntaskan keterlibatan secara emosional dan intelektual atas persoalan Aceh dengan tesis itu. Semula, sebagaimana ditulis dalam kata pengantar tesis itu, ia ingin menulis tentang Organisasi Papua Merdeka, Republik Maluku Selatan dan GAM sekaligus, tetapi menyadari betapa luasnya studi yang harus dilakukan. Ia berjanji bahwa dalam studi doktoralnya, Ia akan menulis lagi soal Aceh, Papua dan Maluku itu, entah dalam sudut pandang apa.

Dan pada tanggal 6 Agustus 2008, di depan lebih dari 100 koleganya di Universitas Paramadina, Indra menyampaikan pidato: ”Pamit sebagai Akademisi: Pulang sebagai Politisi”. Pesannya sungguh jelas, betapa dalam perantauan intelektual yang dia lakukan, ia telah mengabdikan diri kepada dunia ilmu pengetahuan, sekecil apapun sumbangannya. Kini, ia telah memilih.

Ia pulang ke kampung halamannya. Ia membawa pengalaman panjang. Juga jaringan yang sudah lama ia bentuk. Dari Aceh sampai Papua, dari Mianggas sampai Lembata. Akankah masyarakat Minang menerimanya, ataukah kehidupan intelektualnya berakhir di atas tanah keluarganya, menjadi petani, sebagai cita-cita paling luhurnya? Kita lihat saja nanti. (Rommi Delfiano)
© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com