Sepuluh Hari Jadi Politisi

Jumat, 15 Agustus 2008
Sudah sepuluh hari saya menyatakan diri sebagai politisi. Apakah ada yang berubah? Banyak yang berubah, namun banyak juga yang tetap seperti semula. Susunan buku-buku masih rapi, ada beberapa buku baru, baik hadiah atau saya beli. Pulang ke rumah masih tetap larut malam, sekalipun juga sesekali mengatur waktu untuk dinner bersama keluarga. Pergi ke kantor juga tetap pagi, seusai mengajak kedua anak bermain dan berbicara.  

Yang berubah?  

Pertama, tentu saya tidak bisa lagi tampil di layar televisi sebagai pengamat. Ada dua stasiun TV sebetulnya yang meminta atau mengijon saya sebagai pengamat tetap. Beberapa pekerjaan sebagai public speaker untuk kegiatan voters education, baik yang diadakan oleh pemerintah atau pihak non-pemerintah, juga harus dibatalkan. Perubahan drastis terjadi pada saldo pemasukan dalam rekening. Siapa bilang ini bukan pengorbanan yang berat?

Kedua, semakin banyak telepon dari kampung halaman, daerah pemilihan saya. Ada kegiatan lomba layang-layang, liga bola antar kampung, pengajian rutin, pembangunan pesantren, dan lain-lain. Ibu sayapun terpaksa mengambil tabungan hari tuanya, guna membantu biaya sosialisasi anaknya. Politik memang membutuhkan dana. Aneh, kalau politik tanpa dana. Idealisme betapa politik cukup dengan ide atau gagasan, tertanggalkan.  

Ketiga, ada banyak sms yang masuk, begitu juga email. Minggu lalu handphone saya sampai hang. Terpaksa diservis dan 4000-an nomor telepon hilang. Tapi karena punya back up di laptop, kembali hanya tersisa 3000-an nomor telepon. Kemaren saya hapus lebih dari 300 nomor telepon. Sepuluh hari lalu saya masih menganggap sebagai nomor-nomor penting, sekarang tidak perlu lagi dijaga. Namun bukan berarti kalau ada teman yang sms atau menelepon, lalu saya bertanya :”Maaf, ini siapa? Handphone saya rusak dan semua nomor hilang,” barangkali masuk kategori nomor yang hilang, bukan sengaja saya hilangkan.  

Keempat, undangan keluar kota terpaksa saya batalkan. Ke Aceh, Manado dan Ambon yang sudah pasti tidak bisa. Biasanya, saya senang untuk pergi keluar kota, membebaskan diri dari belenggu Jakarta. Menghirup udara segar dan energi alam. Saya betul-betul berhitung atas waktu, kesempatan dan kegiatan. Tapi saya tetap punya jadwal ke Mataram, Bali dan Yogya bulan depan. Barangkali juga ke kota-kota lain. Sebagian adalah sisa dari persetujuan yang sudah saya berikan sebelumnya.  

Kelima, saya makin paham dengan struktur, sistem dan jaringan internal Partai Golkar. Ada beberapa kegiatan yang saya hadiri. Dalam tiga minggu, saya bertemu Jusuf Kalla tiga kali. Bertemu dengan pimpinan yang lain juga berkali-kali. Bahkan mulai dipanggungkan oleh Partai Golkar, sebagai debater, dalam kegiatan kepartaian. Saya sudah memiliki dua jaket, satu dibeli sendiri oleh sekretaris saya di Slipi, satu lagi diberikan oleh pimpinan MKGR.  

Keenam, saya mulai mengumpulkan orang di lingkaran terdekat, termasuk di kawasan tempat saya tinggal. Istri saya mengatakan, muncul isu bahwa satu mobil yang kami punya adalah pemberian Partai Golkar. Juga permintaan, “Apa yang Golkar bisa berikan?” Satu partai politik mengirimkan ambulans buat kebutuhan warga. Kalau sepuluh hari lalu orang tidak peduli dengan warna dan pilihan baju yang saya pakai, maka sekarang apapun baju yang saya gunakan, pastilah itu baju Partai Golkar. Baju merah sekalipun pasti dianggap kuning.  

Ketujuh, saya merasa “merdeka” dari status pengamat. Tiga telepon dari luar negeri: Singapura, Jerman dan Australia, yang meminta komentar saya soal-soal politik, dengan sigap saya katakan: “Saya bulan lagi analis politik.” Ya, ada keterkejutan, tetapi juga ada “Congratulation!” Sampai kinipun saya tidak begitu paham kenapa orang terkejut dengan perubahan status itu. Selama ini saya melayani wartawan dengan baik, semampu saya. Sekarang, saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan dan katakan. Apakah mereka juga mencibirkan, lantas mengatakan dalam wajah sumringah: “Nah, Indra sekarang sudah berperut buncit!” Saya juga tahu dan sadari, beberapa wartawan, sebagian dari lapisan muda usia, dengan wajah tirus dan terenyuh menyatakan dalam hatinya: “Bang, kami membantumu. Tapi tolong pahami posisi kami.”  

Kedelapan, saya sudah pasti kehilangan banyak teman, tetapi belum tentu dapat teman baru. Politik lebih banyak menyiptakan kesendirian, daripada kehangatan persahabatan. Tentu saya juga menguji sejumlah nilai “pertemanan”, “persahabatan”, serta kata-kata apapun yang selama ini ada dan terpelihara. Apakah itu benar-benar ada? Ketika seorang politikus meminta bantuan kepada teman dan sahabatnya, apakah itu benar-benar dimaknai sebagai permintaan yang tulus atau imbal jual-beli? Selama ini, saya tidak banyak “menghitung” soal-soal seperti ini, tetapi sekarang saya pantas mengujinya.  

Kesembilan, ada semangat baru di kalangan orang yang mengenal saya, terutama dari pihak keluarga dekat. Datuk saya menangis ketika saya telepon, lalu setelah itu mengatakan dengan bersemangat bahwa dia sudah membuat sejumlah posko untuk pemenangan saya. “Apa saya harus melepas jabatan datuk ini dan memberikan kepadamu?” Saya menolaknya. Sejak dulu saya menolak jabatan datuk. Beberapa paman saya dari luar Sumbar pulang ke kampung halaman, mengikuti jejak saya pulang, lantas berkeliling. Guru-guru sekolah dasar dan menengah saya juga ikut berbisik ke orang-orang. Sejumlah teman, yang benar-benar teman, terutama teman SD, SMP dan SMA saya, dengan nada kecut mengatakan keterkejutan, tetapi ada juga yang dengan sepenuh hati mengirimkan semangat yang paling murni dari perkawanan paling abadi: persahabatan masa kanak-kanak, ketika kami dulu bahkan sering berkelahi.  

Kesepuluh, ada beberapa nomor telepon yang selama ini rajin berteleponan tidak lagi bisa ditelepon. Politikus mungkin sejenis anjing kurap, siapapun yang mengenalinya akan terkena virus menular. Mungkin saya terlalu sentimentil, tetapi memang itu yang saya rasakan. Berbahagialah politikus yang merasa dirinya dewa, pengatur kehidupan manusia, namun tidak diketahui rakyat tentang apa yang dia kerjakan atau pikirkan.  

Ya, cukup sepuluh itu saja dulu. Sebagai catatan selama sepuluh hari ini. Saya tidak tahu, apakah catatan ini pantas dikirimkan ke koran-koran. Catatan seorang politikus pemula, di tengah kerumunan pikiran dan permasalahan orang banyak. Dari 20.000 lebih calon anggota DPR-RI, saya hanya satu di antaranya. Bayangkan kalau catatan 20.000 politisi itu hadir di koran-koran, masihkah kita membutuhkan kalangan penulis lain. Biar blog ini memberikan pelepasan, dari beban pikiran seorang politikus. Jalan masih panjang, hadangan terus membayang.  

Jakarta, 16 Agustus 2008.

Indra Jaya Piliang, Msi

Pergi ke Rantau untuk Belajar, Kembali ke Ranah Menuju Akar.
» KOMENTAR (8)
  • sangat saya sayangkan...anda masuk kubangan sampah..busuk..tapi itulah godaan akan nafsu yang namanya kekuasaan..dan 99% anda akan sama busuknya..maaf sebelumnya.

    Posted by
    ibnunurcahyo on September 7th, 2008, 02:30:43 PM
  • Bapak, tetap semangat yah... *\(^_^)/*
    Bapa sebagai Pengamat Politik atau Politikuspun, Bapa tetap Bapa...Indra Jaya Piliang tetap Indra Jaya Piliang...
    Jangan biarkan cibiran orang-orang mengganggu pikiran-pikiran Bapa...tapi jadikan cibiran-cibiran tersebut sebagai alat pendorong untuk kemajuan Bapa...
    Maju terus, pantang mundur, dan tetap'lah menjadi Indra Jaya Piliang yang seperti ini...
    Saya dukung Bapa dalam doa.
    Semangat!!! *\(^_^)/*

    Posted by Niyaku on August 19th, 2008, 08:54:25 AM
  • Bagi urang politik, Insinyur nan banyak ma-mark-up harago. Kalau seluruh proyek para insinyur ndak maambiak untuang banyak, alah maju bana Indonesia iko, hehe.

    Bukan itu pulo nan ambo nio kecek-an. Politisi ado karajonyo, insinyur juo ado. Kalau politisi alun mengetok palu pengalokasian dana untuak pambangunan, basamo pemerintah pusat atau daerah, indak ado karajo insinyur doh. Kalau investasi asing ndak disetujui politisi di parlemen, ndak ado pitih nan masuak doh. politisi ado ilimunyo, insinyur juo ado.

    Dan sabana banyak insinyur nan mandakek ka politisi, agar prioritas anggaran mauntuangkan profesinyo. insinyur masin, paralu bana jo komisi nan mauruih perhubungan, transportasi, et. insinyur sipil, paralu jo komisi nan mauruih perumahan, etc.

    Setiap profesi, ado tampeknyo. Dan ndak mungkin pulo politisi mangarajoan karajo insinyur.

    Bagi ambo, politisi pekerjaan mulia. Karano itu ambo masuak. Kalau persepsi urang indak samo jo ambo, kan kito hiduik di alam kemerdekaan dan demokrasi?

    ijp

    Posted by indrapiliang on August 17th, 2008, 06:31:09 AM
  • Perubahan yang drastis, Pak... tapi semoga tidak merubah pula semangat anda untuk melakukan perubahan besar bagi negeri ini... menuju Indonesia yang lebih adil dan sejahtera... Amien!

    Posted by Zulfi on August 16th, 2008, 04:37:36 AM
  • PROKLAMASI
    Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan (dari kaum tua konservatif ke kaum muda progresif) d.l.l (dan mewujudkan Indonesia sebagai negeri untuk tempat beribadah kepada Tuhan) diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
    Yogyakarta, hari 17 bulan Agustus tahun 2008
    Atas nama bangsa Indonesia
    Kaum muda negarawan

    Posted by Hendra Sugiantoro on August 17th, 2008, 11:55:12 AM
  • Maju terus Bung Indra. Siapa, takut ? Bung tetaplah pengamat politik, tetapi pengamat partisipan dari dalam. Enak, tak enak, jangan dipikir dulu. Hidup adalah perjuangan. Berjuang di pelataran politik, asal ikhlas untuk Allah swt, itu adalah jihad. Jihad politik namanya.

    Posted by Shofwan Karim on August 17th, 2008, 10:14:34 AM
  • Assalammualaika bang Indra. Ambo sabananyo ndak tau sia gerangan bang Indra J Piliang itu do. Partamo kali mandanga namo Indra J Piliang dari senior kuliah ambo kiro-kiro duo bulan yang lalu. Senior ambo tu minta tolong mancarian nomor kontak pribadi bang Indra. Awalnyo ambo ndak mangarati baa sampai ka ambo mamintak nomor hape bang indra, padahal ambo sendiri alun pernah mandanga namo nan tu do... Saketek maranuang, ambo paham. Mungkin karano 1-2 taun yang lalu ambo pernah manjadi "aktivis mahasiswa" di kampus yang kecek urang-urang baaliran "kiri" dan akrab jo dunia politik... (padahal ambo maraso indak, cuma kalau "kiri" versi ambo, mungkin iyo...)
    Akhirnya 3 hari sasudah itu ambo langsuang dapek nomor hape bang indra dari kawan sakampuang nan kuliah di UI, bahkan kato inyo "Baru samalam den maota-ota jo bang indra tu, asik urang nyo mah..."
    Hehe, maaf bang, indak itu sabananyo inti koen ambo doh...
    Kalau buliah jujur bang, ambo agak "alergi" samo kato-kato politikus itu bang, baa baitu?
    Dalam pikiran ambo, manyadur dari kato-kato salah sorang staff dari kementrian BUMN, yang sasuai bana jo pikiran ambo, urang politikus sejati tu indak ado nan bana do. Beda bana samo sakalompok urang nan disabuik insinyur. Kalau insinyur sejati, inyo mangabdikan iduik, pikiran samo karya-karyanyo untuk kamaslahatan umat, untuak manaiakkan derajat hidup masyarakat, bapikia baa caronyo dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinyo mambuek karya yang bisa mansejahterakan urang banyak. Sadangkan politikus, labiah banyak manggunoan urang banyak untuak mansejahterakan dirinyo surang. Baa baitu bang???
    Soalnyo salamo ko ambo caliak, indak dima-dima kabanyakan politikus pado wakatu kampanye, mandakei masyarakat, mahimpun dukungan, mampabanyak suaro pakai sagalo macam caro, ilmu pengetahuan bahkan materi nan inyo punyo sahinggo waktu pemilihan namo inyo ado di ateh, partainyo manang, inyo duduak di birokrasi. Tapi sasudah itu, "boro-boro" mamikiaan rakyat, yang partamo dipikiaanyo iyolah "baa caronyo baliak modal..." Jikok basobok jo urang nan mandukuang/mamiliah inyo di jalan, paliang tageh inyo maagiah senyum atau lambaian tangan (itu kalao inyo ndak sadang "sibuk" lo paliang). Katiko inyo alah duduak di birokrasi, lupo lah jo nan sudah-sudah...
    Tapi iyo mungkin indak sadonyo politisi sarupo itu do, dan ambo harokkan abang Indra J Piliang bukan politisi sarupo itu, atau "bukan politisi sejati" manuruik versi ambo....
    Lah sagitu dulu yo bang, awak salaku manusia ko yo saliang maingekkan se lah, nan ambo ko indak lo pernah maraso urang nan samparono do...
    Wassalam.
    Anak Minang yang sadang baraja ka tagak...

    Posted by Rieko on August 16th, 2008, 02:55:07 PM
  • TERUS BEJUANG ...
    BangKITkan Batang Tarandam,,,

    Posted by virlina on August 15th, 2008, 09:24:25 AM

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com