Pengamat Terjun Berpolitik
Tulisan dari Uda Bastiam. Terima kasih, Uda.
Oleh : Bastiam, Direktur Andalas Centre
Membaca tulisan saudara Indra Jaya Piliang dengan judul ”Berjuang dalam Sistem” dan tulisan saudara M Alfan Alfian yang berjudul ”Intelektual kok nyaleg?” di harian Seputar Indonesia terbitan 6 Agustus 2008, rasanya kurang pas kalau saya juga tidak nimbrung menanggapi fenomena yang berkembang menjelang pemilu 2008, rame-ramenya para tokoh ikut mencalonkan diri menjadi calon legislatif, rame-ramenya para artis terjun menjadi politisi, yang lebih menarik lagi bagi saya adalah keputusan sahabat saya Indra Jaya Piliang memutuskan untuk terjun langsung menjadi calon legislatif dari Partai Golkar yang selama ini sering dia kritisi.
Dalam tulisan tersebut saudara Indra intinya ingin menyampaikan alasan dia kenapa memilih jalur terjun langsung sebagai seorang politikus dengan mengakhiri kiprahnya sebagai analis politik dan perubahan sosial secara formal dan melangkah ke dunia yang selama ini hanya dia amati dari luar. Menurut hemat saya keputusan ini tentunya tidak begitu saja datang tiba-tiba tanpa pemikiran dan perhitungan matang dari seorang Indra yang kita kenal selama ini memiliki amatan yang cukup cermat.
Tetapi politik itu banyak lubang, kalau tidak hati-hati bisa kejeblos, jangan sampai anekdot ini terbukti, kalau dulu para aktivis masuk penjara baru jadi pejabat, sekarang jadi pejabat dulu baru masuk penjara (M Alfan Alfian, koran Sindo 6 Agustus 2008). ini merupakan kata-kata bersayap dan penuh makna yang perlu menjadi perhatian bagi siapapun yang akan memutuskan masuk dan terjun langsung di dunia politik saat ini yang sering dilihat orang cukup enak namun penuh onak. Mudah-mudahan peringatan yang dilontarkan oleh saudara M Alfan Alfian ini dapat menjadi pedoman bagi saudara Indra dalam meniti karier di politik praktis yang akan dia lakoni.
Di bagian lain Indra mengatakan, ”Parpol menurut saya benar-benar sedang membutuhkan pikiran-pikiran saya, sekecil atau setidak-berarti apapun, terutama bagi kepentingan masyarakat. Hanya dengan menjadi pengamat tidak akan bisa mengubah keadaan, sekalipun penuh dengan idealisme yang meluap. Pengamat hanya berada pada posisi pressure groups, tetapi bukan pengambil kebijakan. Sejak konstitusi diubah, partai politik telah menempati posisi sentral, sehingga harus benar-benar diisi oleh politikus yang berkarakter” (konsep pidato Indra Jaya Piliang ”Pamit sebagai akademisi, pulang sebagai politisi”).
Kalau kita cermati ungkapan tersebut merupakan luapan hati dan kegalauan yang dirasakan oleh saudara Indra dalam melihat fenomena perpolitikan kita akhir-akhir ini. Kiranya ini sebuah ekspresi dan sekaligus sebagai alasan kenapa Indra memilih langkah tersebut di tengah banyaknya kasus yang menimpa para politikus DPR yang menjadi bintang dari pemberitaan media massa justru bukan karena prestasi yang diperbuat untuk kepentingan rakyat, melainkan karena reputasinya yang buruk dengan mengingkari kehendak rakyat.
Di satu sisi saya sependapat dengan saudara Indra, bahwa untuk mengubah sesuatu tersebut tidak cukup hanya dari luar, untuk lebih efektifnya perubahan tersebut kita harus masuk ke dalam sistem yang akan kita rubah. Namun disisi lain, banyak kasus karena keterbatasan dan kalah kekuatan serta tergiur dengan suasana glamour kekuasaan, sering idealisme yang dimiliki justru tergerus dan lebih fatal lagi terbawa arus sewaktu sudah berada di dalam.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah saudara Indra mampu merubah suasana sesuai keinginannya? Ataukah mungkin justru akan terbawa arus dan tenggelam dalam suasana yang ada? Harapan kita tentunya dengan terjunnya saudara Indra ke kancah politik praktis dapat berperan menjadi agen perubahan yang berarti dan membawa angin segar dan positif bagi aroma perpolitikan kita yang rada carut marut.
Ada yang menarik lagi dari ungkapannya saudara Indra, ”Barangkali pilihan saya bergabung dengan Partai Golkar hanyalah nyala sebatang lilin pada kegelapan malam. Satu tiupan lembutpun bisa memadamkannya” (konsep pidato “Pamit sebagai akademisi, pulang sebagai politisi”). Kalau boleh kita memaknai ungkapan ini memperlihatkan adanya keraguan dari saudara Indra, apakah dia akan berhasil mengemban misinya sesuai idealisme awal atau justru akan mengalami kegagalan, apakah dia akan mampu memberi warna dalam dunia perpolitikan kita yang karut marut ini ataukah justru akan diwarnai dan larut dengan suasana? Hanya perjalanan waktulah yang akan menjawab.
Namun yang pasti, tulisan-tulisan dan buah pikiran yang tajam dan tidak berpihak yang selama ini menjadi ciri khas Indra relatif akan berkurang. Jujur saja, tentunya pikiran-pikirannya akan disesuaikan dengan kepentingan politik parpolnya. Bagi kita itu tidak akan menjadi persoalan, sejauh saudara Indra dapat mewarnai pemikiran dan kebijakan parpol, sehingga ketajaman analisanya dan sikap kritisnya dalam merespons setiap persoalan tetap terpelihara dan tersalurkan.
Sebagai sahabatnya, saya hanya ingin menempatkan diri memberi dorongan positif, mudah-mudahan sepak terjangnya di dunia politik dapat memberikan makna signifikan, baik bagi Partai Golkar sendiri maupun bagi perbaikan dunia perpolitikan kita. Dapat mengubah perilaku korup sebagian anggota legislatif kita, yang selama ini disinyalir sering memperjualbelikan kewenangannya dalam hal kebijakan baik dalam hal perumusan Undang-Undang maupun dalam hal penentuan jabatan-jabatan strategis yang membutuhkan kewenangan DPR dalam pemilihannya, seperti Gubernur BI, Kapolri, Panglima TNI dlsb.
Dengan rekam jejak dan reputasi sebagai akademisi serta popularitas selama ini kemampuan Indra dalam mengarungi dunia politik tentunya tidak perlu kita ragukan. Tetapi dalam hal keberhasilan untuk mendapatkan posisi jadi dalam Pemilu nanti saudara Indra perlu mempertimbangkan daerah pemilihan yang memungkinkan dia mendapat kursi.
Sebab sebagai analis dan akademisi Indra justru lebih dikenal oleh para pembaca dan pemirsa media massa yang nota bene berada di daerah Jawa pada umumnya, tetapi di Sumatera Barat walaupun ranah dimana Indra dilahirkan dan dibesarkan popularitasnya relatif tidak sedahsyat di Jakarta, Jabar dan banten (bukan mengenyampingkan popularitas Indra di Sumbar). Sekali lagi, hal ini perlu menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan daerah pemilihan.
Namun demikian, sebagai sahabat sekali saya memberikan acungan jempol dengan keberanian dan sikap Indra menentukan jalan dan arah perjuangannya sesuai kapasitas yang dia miliki. Memang perubahan jauh akan lebih efektif bisa kita lakukan bila kita masuk dan berkecimpung di dalamnya. Selamat berjuang sahabatku, masyarakat menunggu sepak terjangmu. ***
Saya terima kasih sekali atas undangan ini. Walaupun saya tidak terlalu lama kenal Indra Jaya Piliang, Saya sangat respek dari membaca tulisan-tulisannya. Dan terlihat betul bahwa beliau adalah seorang tokoh muda. Justru kalau tida ...
Terima kasih. Pada dasarnya Saya kenal Indra ini 15 tahun yang lalu. Jadi kebetulan waktu itu saya Ketua Senat Mahasiswa UI dan kemudian Beliau ini masuk dalam seksi kepengurusan.Sejak pertama saya kenal yang namanya Indra itu memang tukang kritik, tukang ribut, apapun dipertanyakan. ...