Peluang Jusuf Kalla paling besar, Ali Umri dan Amru Daulay harus besarkan Golkar
Pendidikan Majukan Bangsa
Senin, 11 Agustus 2008
Sumber : Waspada Online, Monday, 11 August 2008 18:00 WIBBursa calon legislatif untuk Pemilu 2009 dibanjiri dengan artis dan kaum muda yang masuk ke berbagai partai. Sebagian besar memang dari kalangan selebriti, tapi banyak juga dari kalangan akademisi, salah satunya Indra J Piliang, pengamat dan pakar politik dari Center for Strategic and International Studies (CSIS). Baru-baru ini, Indra gelar orasi politik untuk memperkenalkan diri sebagai calon legislative. Pada acara itu, dia mengumumkan mulai dari hari pertama menjadi politisi Partai Golkar, dia ingin dikenal sebagai Indra Jaya Piliang.Apa agenda dia? Berikut wawancaranya dengan Pemimpin Redaksi Waspada Online Avian E Tumengkol.
Sebenarnya apa yang membuat Anda memutuskan untuk menjadi politisi?
Politisi adalah pekerjaan terhormat. Hanya saja, selama ini dianggap sebagai musuh publik. Padahal, setiap pemilu, publik harus memilih politisi yang berkualitas. Selama ini saya bekerja untuk publik, kepentingan publik, sebagai pengamat dan intelektual. Nah, perpindahan profesi sebagai politisi tidak mengubah posisi saya untuk bekerja untuk publik. Hanya saja, sekarang harus sedikit partisan, karena partai politik memliki aturan main tersendiri.
Apakah Anda yang menginginkan untuk transformasi atau ada parpol yang menawarkan untuk bergabung sebagai caleg?
Keduanya saling berhubungan. Partai politik membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, berkarakter, tentu juga mampu memberikan kontribusi kepada parpol yang bersangkutan. Sementara saya sendiri merasa sudah selayaknya masuk parpol dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan pengalaman dan kemampuan saya, terutama di bidang ilmu pengetahuan. Soal parpol yang mengajak bergabung, banyak. Hampir semua: PDIP, PAN, PMB, PPI, dll. Tidak mungkin saya menerima pinangan semua parpol, karena itu sama saja dengan saya tidak menjadi politisi.
Selama Anda menjadi akademisi dan pengamat, Anda dikenal cukup kritis terhadap perpolitikan Indonesia. Bagaimana sikap Anda setelah menjadi seorang politisi?
Saya tidak akan berubah, kecuali untuk kepentingan rakyat, demi kepentingan humanisme, serta tentu kepada kepentingan kalangan yang paling menderita. Sikap kritis saya selama ini berasal dari pemahaman pikiran dan hati saya atas apa yang menjadi dasar bagi pengambilan-pengambilan kebijakan publik, yakni rakyat itu sendiri. Barangkali partai memberikan instruksi kepada saya dan tentu saya ikuti instruksi itu. Bagaimanapun, sebagai pribadi, saya tetaplah seperti sekarang. Tetapi tidak mungkin juga saya bicara pendapat pribadi, ketika keputusan organisasi sudah dibuat. Selama belum ada keputusan dan masih dalam ruang wacana, tentu saya akan menyampaikan pikiran-pikiran pribadi saya.
Apa agenda Anda sebagai caleg yang ingin dicapai?
Pendidikan. Saya telanjur percaya bahwa pendidikan adalah jalan satu-satunya guna mencapai kemajuan individu, masyarakat, bangsa dan negara. Kebetulan di daerah pemilihan saya, Sumatera Barat II, tingkat pendidikan masyarakat masih rendah. Usia rata-rata pendidikan kurang dari 12 tahun, sebagian besar 6 tahun, alias hanya sampai jenjang sekolah dasar dan menengah. Itupun jumlahnya terbatas. Bagaimana bisa masyarakat saya bisa maju, kalau usia rata-rata pendidikan itu begitu rendah? Saya mencoba membangun jalan arternatif dengan membangun perpustakaan berbasis nagari. Itu salah satu jalan keluar yang bisa dilakukan.
Mengapa Anda memilih Partai Golkar?
Partai ini berpengalaman dengan pembangunan. Hanya saja, partai ini dianggap bersalah karena sistem otoriter Orde Baru yang dulu ditopang oleh PPP, PDI dan Golkar. Kalau mau jujur, Golkar bisa saja tidak menjadi Partai Golkar, melainkan menjadi Partai Bambu, misalnya, tetapi diisi oleh orang-orang Golkar. Dengan tetap menyebut sebagai Partai Golkar, saya merasa selama sepuluh tahun terakhir ini partai ini sudah mengalami banyak tantangan dan tetap bertahan. Selain itu, Partai Golkar cocok dengan program-program yang saya bayangkan sebagai calon anggota legislatif dan politisi.
Apa yang dijanjikan oleh Golkar? Apakah ada kontrak politik?
Partai Golkar tidak menjanjikan apa-apa, kecuali dukungan dan bantuan buat saya. Saya bersyukur mendapatkan nomor urut bagus, yakni nomor 2 di Sumbar 2. Dalam pemilu 2004, Partai Golkar mendapatkan dua kursi DPR di Sumbar 2. Tugas saya dan fungsionaris Partai Golkar dan segenap kader dan pendukung lainnya untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan perolehan kursi itu. Saya lebih optimis Partai Golkar bisa mendapatkan suara yang lebih banyak. Saya tidak menekan kontrak politik apapun. Seluruh persyaratan sebagai calon anggota legislatif saja yang saya tandatangani.
Bagaimana kedekatan Anda dengan masyarakat Sumbar?
Biar masyarakat Sumbar yang menjawab pertanyaan ini. Tetapi yang jelas, sejak saya muncul sebagai pengamat atau intelektual, saya kira masyarakat Sumbar cukup terwakili dari nama yang saya pakai. Nama yang identik dengan Minangkabau, sebagai nama suku ibu saya. Istilah yang saya gunakan ketika menulis dan berkomentar, adalah khas istilah-istilah yang terserak dalam alam budaya Minangkabau. Saya hanya menggabungkan antara keindonesiaan saya dengan keminangkabauan, dalam satu alur pikir yang terus saya kembangkan selama ini.
Jika Anda tidak lolos jadi anggota legislative nanti bagaimana?
Politisi dalah jalur yang kompleks. Saya yakin, saya akan dimaksimalkan untuk membantu Partai Golkar dalam setiap usaha memajukan, membesarkan dan memoderenkan partai ini. Saya bisa aktif dalam lembaga pengkajian Partai Golkar nanti. Saya juga bisa menjadi juru bicara untuk isu-isu tertentu. Bisa juga saya memberikan pelatihan internal di Partai Golkar, dari Sabang sampai Merauke, dengan silabus, modul atau kurikulum yang terukur. Menjadi legislator hanya salah satu bidang pekerjaan saja di Partai Golkar.
Dulu Jusuf Kalla sangat menentang sosok muda untuk memimpin bangsa. Tapi sekarang justru kaum muda menjadi prioritas bagi Golkar. Apa pendapat Anda dengan ketidak konsistensi JK?
JK bukan tidak konsisten, tetapi memberikan penilaian pada level kepemimpinan yang berbeda. Saya setuju dengan JK soal menjadi pemimpin nasional. Tidak perlu ada dikotomi tua dan muda. Prestasi politik bisa dicapai kalangan tua atau muda. Tetapi untuk mengisi lapisan politisi, JK bersama pimpinan Partai Golkar yang lain paling ngotot dengan regenerasi. Tidak mungkin saya mendapatkan kepercayaan yang begitu baik, begitu antusias, kalau JK tidak peduli dengan kepemimpinan kaum muda.
Siapa saja sosok muda Golkar yang menjadi andalan?
Banyak. Sangat banyak. Selain yang sudah ada seperti Yuddhy Chrisnandi, Pompida Hidayatullah, Priyo Budi Santoso, Ferry Mursidan Baldan, Agun Gunanjar, Idrus Marham, dan lain-lain, akan ada wajah-wajah lain, seperti Nurul Arifin, Jeffrie Geovanie, Binny Buchori, dan lain-lain. Segera akan ada pengumuman tentang wajah baru Partai Golkar ini.
Menurut Anda, siapa yang akan dicalonkan Golkar?
Jadi presiden? Sesuai dengan apa yang dicanangkan, kalau kemenangan Partai Golkar besar, katakan di atas 20%, maka Partai Golkar akan mencalonkan kalangan internal. Dan stoknya banyak. Sekarang belum saatnya bicara soal pilpres. Pilpres kan digelar setelah pemilu legislatif. Kita tunggu saja tahun depan, usai hasil pemilu 2009 diumumkan.
Bagaimana peluang Jusuf Kalla?
Peluang JK besar, paling besar. Partai Golkar siap menyumbangkan pimpinan terbaiknya untuk memimpin negeri ini.
Akbar Tanjung masih mendapat simpati dari masyarakat. Kenapa Golkar tidak mau merangkul dia untuk memperkuat Golkar?
Waduh, saya tidak terlalu paham tentang siapa yang dirangkul, siapa yang merangkul. Bang Akbar sampai sekarang masih anggota Partai Golkar, belum seincipun keluar dari Partai Golkar atau menggunakan kartu anggota partai politik lain. Saya kira Bang Akbar sedang mencoba cara yang berbeda untuk mewujudkan idealismenya, tetapi dari yang beliau ucapkan di media, Bang Akbar kan hatinya di Partai Golkar. Buktinya, sering Bang Akbar mengkritik Partai Golkar. Ini kan salam dan sinyal sayang yang beliau kirimkan.
Apakah pendapat Anda tentang Ali Umri dan Amru Daulay?
Keduanya pimpinan Partai Golkar di Sumatera Utara yang berkualitas. Gayanya saja yang berbeda, tetapi beliau berdua kan berjaket sama. Platformnya juga sama. Saya dengar ada perbedaan-perbedaan pendapat, tetapi untuk itu partai politik lahir. Kalau tidak ada perbedaan pendapat, bukan demokrasi namanya. Saya hanya menitipkan harapan agar Bang Umri dan Bang Amru bisa membesarkan Partai Golkar bersama-sama. Saya yakin, keduanya sangat dibutuhkan oleh Partai Golkar.
Credit foto: iPhA
(j01)
Berita Sebelumnya
Saya terima kasih sekali atas undangan ini. Walaupun saya tidak terlalu lama kenal Indra Jaya Piliang, Saya sangat respek dari membaca tulisan-tulisannya. Dan terlihat betul bahwa beliau adalah seorang tokoh muda. Justru kalau tida ...
Terima kasih. Pada dasarnya Saya kenal Indra ini 15 tahun yang lalu. Jadi kebetulan waktu itu saya Ketua Senat Mahasiswa UI dan kemudian Beliau ini masuk dalam seksi kepengurusan.Sejak pertama saya kenal yang namanya Indra itu memang tukang kritik, tukang ribut, apapun dipertanyakan. ...