Penyala Lilin
Bila Indra Memilih Menjadi Penyala Lilin
Pengamat politik CSIS, Indra Jaya Piliang, mengutip salah satu kalimat paling terkenal dari negarawan Soetan Syahrir. Kutipan itu ia letakkan di bagian akhir pidatonya sebagai pengamat politik. Sebab, sebentar lagi Indra akan menceburkan diri sepenuhnya menjadi politikus dan ingin berkantor di Senayan.
”Janganlah mengutuk kegelapan, mulailah menyalakan lilin,” kata Indra, Rabu (6/8) siang. Bersama pengamat ekonomi yang kritis soal utang luar negeri dan BLBI, Binny Buchori, dia menyatakan masuk menjadi kader Partai Golkar.Keduanya mengaku realistis. Mereka lelah berteriak tanpa didengar. Butuh pengorbanan tertentu untuk menyuarakan aspirasinya. Jadilah mereka masuk sistem politik dan menjadi calon legislatif.”Menjadi pengamat tidak akan bisa mengubah keadaan sekalipun penuh idealisme. Pengamat hanya berada di posisi pressure group bukan pengambil kebijakan,” ungkap Indra.
Apalagi, dia optimistis terhadap situasi politik saat ini. Di tengah kecaman demi kecaman melanda DPR dengan korupsi berjamaah dan pelecehan seksualnya, Indra mengaku masih menemukan sisi positif dari politik Indonesia.”Sejak konstitusi kita diubah maka mulai saat itu partai politik (parpol) menempati posisi sentral. Sehingga, harus benar-benar diisi politikus yang berkarakter,” tegas Indra.
Melepas status pengamat politik dari CSIS yang malang melintang menulis di berbagai media dan menjadi pembicara di ratusan seminar, Indra menggelar acara unik yang bertajuk ‘Indra J Piliang : Transformasi dari Analis Politik ke Politisi’.Tentu pertanyaannya mengapa ke Golkar? Indra mengaku ditawar banyak parpol. Sebelumnya, ia menjadi fungsionaris di Partai Amanat Nasional. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengaku kepincut Indra sejak 1,5 tahun yang lalu. Partai Matahari Bangsa pun ikut terpesona.
Indra akrab dengan Golkar sejak mengamati dari dekat Konvensi Nasional Golkar di Bali yang berlangsung beberapa waktu lalu. Di sana, kata dia, ternyata banyak pihak yang mendorongnya agar masuk ke Golkar. Bahkan, katanya, cendekiawan Azyumardi Azra melobi kalangan Golkar untuk menerima Indra. Begitu juga, Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, yang perlu mengirim SMS khusus ke Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla, terkait desakan kepada dirinya itu.
Pilihannya masuk Golkar makin kuat setelah sejumlah tokoh militer Golkar angkat kaki. Ia menyebut secara khusus Jenderal Wiranto dan Prabowo Subianto. ”Saya merasa lebih nyaman melihat pertarungan sesama elit sipil di Golkar berlangsung secara baik.”Diakui Indra, tak semua setuju ia masuk Golkar. Saat dia berbicara di podium dan mengatakan resmi menjadi calon anggota legislatif (caleg) di daerah pemilihan Sumatra Barat II untuk Golkar, sebagian rekannya yang tak rela sontak berteriak, ”Huuuuu … huuuuuu … huuuuu …. Masuk Golkar.”
Namun, sejumlah rekan lainnya memberi dukungan. Amiruddin ar Rahab, misalnya, mengatakan, ”Saya mendukung Indra bukan karena Golkarnya. Tapi, karena pilihan yang ia berani lakukan dan program yang akan ia lakukan.”Andrinof Chaniago yang dipanggil ‘uda’ oleh Indra mengaku spontan mendukungnya. Meski begitu, Andrinof mengaku tetap merasa cemas, apakah Indra cukup kuat iman menghindari godaan politik praktis. Ia lantas berpesan, Indra jangan menggunakan istilah politikus. ”Nanti, ia terjebak ke dalam wilayah yang banyak tikus-tikus politiknya,” kata Andrinof bercanda.
Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, mengatakan, Indonesia butuh lebih banyak Indra untuk masuk ke parlemen. Ia melihat Indra harus diberi kesempatan untuk membuktikan apa yang selama ini ia katakan sebagai politikus dan program yang disusunnya.Yang terakhir dan terpenting juga adalah dukungan keluarga. Istri Indra, Farida, secara mengejutkan didaulat maju untuk berkomentar. Perempuan mungil yang tampak malu-malu itu rela suaminya masuk ke sarang wakil rakyat.
”Tidak takut tercemar korupsi?” Farida menggeleng sambil tersenyum simpul. ”Bagaimana kalau terlibat selingkuh dengan sekretaris seperti kasus yang menimpa akhir-akhir ini,” celetuk rekan Indra, Effendy Ghazali.Indra hanya mesem-mesem mendengar pertanyaan itu. Sementara Farida tampaknya percaya dengan suaminya. ”Saya percaya dia tidak akan selingkuh. Menjadi anggota DPR juga menjadi cobaan bagi dia untuk menjadi suami yang baik,” kata Farida dengan lugu. evy
Saya terima kasih sekali atas undangan ini. Walaupun saya tidak terlalu lama kenal Indra Jaya Piliang, Saya sangat respek dari membaca tulisan-tulisannya. Dan terlihat betul bahwa beliau adalah seorang tokoh muda. Justru kalau tida ...
Terima kasih. Pada dasarnya Saya kenal Indra ini 15 tahun yang lalu. Jadi kebetulan waktu itu saya Ketua Senat Mahasiswa UI dan kemudian Beliau ini masuk dalam seksi kepengurusan.Sejak pertama saya kenal yang namanya Indra itu memang tukang kritik, tukang ribut, apapun dipertanyakan. ...