Nafas Politik Taufik Kiemas

Jumat, 25 Juli 2008
Sumber : Majalah Adil, Edisi 35, II, 24 Juli – 20 Agustus 2008, halaman 16-17

Oleh Indra Jaya Piliang, Analis Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Jakarta

Dalam setahun terakhir ini, PDIP menjadi partai yang meraih posisi puncak dalam setiap survei yang diadakan oleh Lembaga Survei Indonesia, Indo Barometer dan lembaga lain. Kemampuan PDIP mempertahankan popularitasnya itu tidak terlepas dari strategi yang diambil untuk menjadi partai oposisi di tingkat nasional. Pasca-kenaikan BBM, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyalip Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono sebagai calon presiden pilihan. Kekecewaan kepada SBY menyebabkan pemilih mengalihkan suara ke Megawati.  

Dari sejumlah pilkada, PDIP juga mampu memenangkan calon-calon yang diusung, terutama pada level gubernur dan wakil gubernur. Terlihat sekali PDIP telah mempersiapkan diri dengan baik guna menjalankan roda pemerintahan, setelah pada periode 1999-2004 terkepung dengan kue kekuasaan yang membesar, namun tidak memiliki sumberdaya manusia yang tangguh. Bisa dikatakan PDIP dalam periode 2004-2009 melakukan strategi “daerah mengepung pusat” dengan cara memenangkan pilkada demi pilkada, sembari menebar sumberdaya manusia yang baik di level bupati, walikota dan gubernur.  Lalu, darimana kekuatan PDIP itu? Maghnet kekuasaan PDIP masih terletak pada pilar Soekarnoisme, termasuk juga anak-anak Soekarno. Namun, maghnet itu bisa bermakna lain, kalau tidak dikendalikan dengan telaten. Dari sinilah muncul nama Taufik Kiemas, suami Megawati Soekarnoputri dan sekaligus menantu Soekarno. Taufik yang sejak muda adalah pengagum dan pembela Soekarno ini telah melewati usia matang, yakni 64 tahun. Dalam usia itu, ia sudah melewati zaman-zaman keemasan Soekarno, ketertindasan Soekarno, sampai kepada kebangkitan kembali trah Soekarnoisme.  

Manusia tiga zaman barangkali bisa dikaitkan dengan Taufik. Dan keseluruhan zaman itu diisi dengan kegiatan-kegiatan politik dan bisnis. Taufik tidak tiba-tiba muncul sebagai polikus ulung, tetapi sekaligus memiliki kegairahan atas politik. Ia mampu membangun tali-temali hubungan yang dekat, namun juga berjarak, dengan semua pihak. Dalam satu dan dua kali pertemuan dengannya, saya merasakan begitu rapi dan jelinya pandangan-pandangan politik Taufik. Ia menyantuni anak-anak muda. Pengalaman panjang di dunia politik telah menggerakkan pandangannya ke masa depan, betapa anak-anak muda akan mampu membangun Indonesia menjadi lebih baik.  Demokrasi 

Kenapa nafas politik Taufik begitu panjang? Barangkali karena kepercayaan yang tinggi atas demokrasi. Demokrasi bukanlah hal yang tabu bagi Indonesia. Demokrasi juga tidak pantas dimasukkan kedalam urutan ke sekian, setelah pertumbuhan ekonomi atau stabilitas keamanan. Dukungan Taufik bagi demokrasi jelas tidak sebanding dengan tokoh-tokoh lain yang mendapatkan kekuasaan lewat celah-celah lapang sistem yang otoritarian di masa lalu. Sekalipun makin banyak mantan-mantan jenderal, pejabat atau pengusaha yang kini menghuni ranah politik, Taufik jelas lebih berpengalaman dari mereka.  Maka, sulit untuk mengatakan kalau Taufik akan membajak demokrasi demi kepentingan dirinya sendiri, keluarganya, atau kelompoknya semata. Kalaupun ada “gaya Palembang” dalam menjalankan aktivitas politiknya, yakni kemampuan menggerakkan massa dan berorasi di depan massa, Taufik tidak menggunakan itu dalam setiap fase politik yang ia alami. Bahwa PDIP telah berubah menjadi partai yang dikendalikan oleh tokoh-tokoh muda yang masih miskin pengalaman, itu adalah tanda Taufik mampu menjembatani kesenjangan-kesenjangan strata sosial, intelektual dan ekonomi di kalangan anggota-anggota PDIP.  

Kemampuan PDIP menyulap diri menjadi partai yang berkelas, tidak terlepas dari metamorfosa Taufik. “Dulu saya tidak percaya dengan survei, tetapi sekarang saya paham bahwa survei bisa menjadi barometer untuk menentukan kemenangan,” ungkapnya, suatu hari kepada saya. Dalam kesempatan itu, ia sedang menguji seorang teman saya yang ingin maju lewat PDIP untuk menjadi calon gubernur. Taufik tidak segan-segan mengundang orang-orang yang dianggapnya ahli untuk berdiskusi dengannya.  Dalam kesempatan yang lain, saya melihat Taufik dikeliling oleh tokoh-tokoh politik yang secara tradisional berseberangan dengan aliran politik nasionalis. Seorang maestro di dunia politik tidak akan mempunyai kata penolakan untuk ditemui oleh siapapun. Dalam politik, PDIP mewujudkan dengan mendirikan Baitul Muslimin. Untuk sejumlah pilkada, PDIP malah bergandeng tangan dengan partai-partai Islam atau berbasis Islam, seperti PKS. Taufik mungkin tidak secanggih Soekarno dalam memformulasikan ide-idenya. Tetapi riwayat Soekarno yang rajin berdebat dengan kalangan manapun, termasuk tokoh-tokoh Islam, seolah juga hidup dalam dirinya.  

Basis Politik Pengalaman panjang di dunia politik membantu Taufik untuk mengingat riwayat perjalanan politik seseorang atau suatu daerah. Ia bisa dengan mudah mengenali seseorang, ketika tahu orang itu bersuku tertentu. “Saya juga datuk,” katanya, ketika tahu saya adalah orang Minang dan memiliki ayah yang juga seorang datuk atau penghulu kaum. Ketika seseorang mengaku dekat dengan tokoh-tokoh tertentu, ia dengan cepat akan mengeceknya lewat riwayat tokoh itu yang diingatnya.  

Sebanyak 20 juta pemilih PDIP telah menjadi massa rakyat yang loyal. Basis politik utama PDIP tetap di Pulau Jawa, pulau yang sebetulnya tidak terlalu bergairah dalam kegiatan politik praktis, namun selalu jadi barometer kehidupan politik nasional mengingat jumlah pemilihnya di pulau ini mencapai angka 60% lebih. Taufik jelas tidak berasal dari pulau ini, namun memiliki kemampuan untuk mengenali setiap detil kehidupan politik di sini. Kelas-kelas feodal dan kaum fasis, sebagai dua lawan revolusi Indonesia selain kolonialisme menurut Tan Malaka, tidak banyak hidup di Sumatera. Taufik, untuk ukuran itu, bukanlah seorang bangsawan atau raja yang menikmati kekuasaan turun temurun tanpa bersusah payah memeliharanya.  Basis politik Taufik adalah pengalaman panjangnya, perjalanan dalam riuh-rendah dunia politik, serta kemampuan untuk menyapa setiap orang. Ia mungkin sulit ditemui, sekarang, tetapi kehidupannya tidaklah misterius. Ia mengandalkan massa, memang, tetapi lebih banyak membangun komunikasi di kalangan orang-orang dekatnya dari beragam latar belakang. Politik jelas bukan ruang hampa, dimana anda tiba-tiba saja menggenggam kepercayaan orang banyak, tanpa harus bersusah payah. Politik membutuhkan kerja-keras, uji-nyali, sampai kemampuan untuk menyelami pribadi setiap orang yang belum anda kenal yang pada suatu waktu bisa menjadi teman atau musuk politik anda.  

Ibarat perlombaan, partai adalah kendaraan yang harus dirawat dengan baik. Bukan hanya siapa yang akan menjadi sopir, melainkan juga bagaimana para mekanis memantau dan mempersiapkan mesin, ban, bensin, sampai baut-baut yang diperlukan. Diperlukan juga kemampuan untuk memprediksikan cuaca ketika perlombaan diadakan, apakah hujan atau panas. Salah dalam penggunaan ban basah atau ban kering akan bisa membuahkan petaka, karena jalanan bisa berubah basah seketika atau kering. Taufik adalah pengawas dan sekaligus mekanik bagi PDIP, juga kadang menjadi tukang nujum untuk cuaca-cuaca politik.  Sebelum PensiunLalu, apa yang hendak dicapai seorang Taufik untuk usia yang tidak lagi muda? Ia menantu presiden dan pernah menjadi suami seorang presiden. Ia nyaman dengan musik klasik di ruang kerjanya di Pejompongan. Ia memiliki para loyalis yang masing-masing diberi kebebasan untuk berpikir, bertindak dan berbuat dalam politik. Apalagi?  

Yang jelas, untuk jangka pendek, Taufik tentu hendak membuktikan bahwa politik itu bisa dibuat senyaman mungkin buat pekerja keras semacam dirinya. Mempertahankan kemenangan PDIP dalam pemilu legislatif dan kemungkinan Megawati sebagai presiden, sebagaimana tercermin dalam survei, jelas menjadi bagian dari agenda politik itu. Lalu, untuk 2014, memberikan tambahan pengetahuan dan pengalaman kepada Puan Maharani, srikandi politik baru PDIP, juga menjadi pekerjaan berikut.  Taufik sedang dalam posisi seorang resi atau datuk dalam kancah politik: mengambil peran di belakang, meluruskan yang bengkok, membangunkan yang tidur, serta menghalau segala bentuk serangan politik dengan kesigapan seorang pesilat. Ia akan sangat kecewa kalau zaman berbalik kearah sistem yang tertutup, otoriter, serta serba intimidatif. Ia pernah menghadapi zaman itu, tatkala para tentara menjadi pengawas dan mandor kehidupan politik.  

Taufik jelas sedang memupuk demokrasi agar tumbuh rimbun dan tambun, seperti perawakannya. Wajahnya yang seakan selalu tersenyum memperlihatkan keramahan dari demokrasi itu. Taufik, apapun yang ia kerjakan kini, sedang mempersiapkan pensiunnya, dengan baik, sangat baik. 

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com