Kembalikan, Kampung Halamanku…

July 3, 2008

Tali Geni dan BIN

Filed under: Berita — indrapiliang @ 7:55 am

Catatan: Aku hadir di Tugu Proklamasi atas undangan Adian Napitupulu, dll. Berdiskusi disana. Tapi aku tidak ikut aksi. Nah, lalu ada anarki, penangkapan Ferry, dll. Rumit.

Senin, 23 Juni 2008 23:18 WIB

Aktivis Lintas Generasi Tolak Kenaikan Harga BBM

Penulis : Kennorton Hutasoit

JAKARTA–MI: Aktivis mahasiswa menggelar temu lintas generasi di Tugu Proklamasi, Jakarta, Senin (23/6). Pada pertemuan itu mereka menolak kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Temu aktivis yang diikuti mahasiswa dari berbagai daerah itu berlangsung 23-25 Juni 2008. Mereka menggelar rangkaian kegiatan seperti diskusi dan aksi unjukrasa.

Hari ini temu aktivis menggelar diskusi yang menampilkan mantan aktivis mahasiswa 1998 sebagai pembicara yakni Indra J Piliang, Roy Simanjuntak, Yanuharis Frans Banjarmasin, dan Asilema.

Roy mengatakan pemerintah seharusnya tidak menaikkan harga BBM kalau mampu memberantas penyelundupan. “Penyelundupan jelas merugikan keuangan negara, kalau itu diberantas keuangan kita bisa diselamatkan,” kata Roy yang saat ini rohaniawan.

Ansilema mengatakan Indonesia harus memiliki posisi tawar dalam pengelolaan minyak dan gas (migas). “Bila perlu, negara melakukan nasionalisasi aset tambang migas seperti yang dilakukan Ivo Morales di Bolivia dan Hugo Chavec di Venezuela,” kata aktivis yang kini menjadi dosen.

Menurut Ansilema privatisasi sektor migas menyengsarakan rakyat karena menimbulkan multiefek krisis sandang, pangan dan pendidikan yang mahal. “Tapi saya pesimistis pemerintah mampu mengadopsi nasionalisasi itu,” katanya.

Soal kenaikan BBM Indra J Piliang berpendapat beda. Menurutnya mau tak mau harga BBM akan tetap naik sesuai harga internasional. “Saya perkirakan kenaikan harga BBM akan terus terjadi, menjelang pemilu dan pascapemilu 2009 akan terjadi lagi kenaikan BBM,” katanya.

Sementara itu, sebagian besar mahasiswa yang hadir menginginkan terjadi revolusi sosial. Yanuharis Frans Banjarmasin mantan aktivis mahasiswa 1998 mengatakan pertanggungjawaban pemerintah soal produksi migas tidak pernah dilakukan.

“Revolusi 2008 harus dilkukan mahasiswa, lebih baik kita harakiri, daripada diam. Soal nasionalisasi aset tambang migas, itu bisa diwujudkan karena sesuai UUD 1945,” katanya.

Ketua Panitia Temu Aktivis Jefry Silalahi mengatakan temu aktivis menggelar diskusi dan ujukrasa penolakan kenaikan harga BBM. “Acara ini akan dihadiri ribuan mahasiswa dari berbagai daerah,” katanya. Para mahasiswa yang sudah hadir memasang tenda di lokasi Tugu Proklamasi. Mereka akan menginap di sana hingga 25 Juni. (KN/OL-2)

Minggu, 29 Juni 2008 12:41 WIB

Ucapan “Sontoloyo” Kepala BIN Undang Kecaman PDF Cetak E-mail
WASPADA ONLINE

(JAKARTA) - Kepala Badan Intelejen Negara(BIN) Syamsir Siregar mendapat serangan dari berbagai kalangan masyarakat, mulai dari politisi hingga ilmuwan atau akademisi gara-gara melontarkan ucapan “sontoloyo” kepada menteri-menteri yang dianggap tidak loyal kepada Presiden.

Menteri tersebut dianggapnya di satu pihak mendukung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menaikkan harga BBM, namun di lain pihak mengeluarkan ucapan menentang di tempat lain.

“Presiden sebaiknya mengangkat saja Kepala BIN (Syamsir Siregar, red) sebagai juru bicara,” kata akademisi Indra Piliang baru-baru ini ketika  menanggapi ucapan keras  Syamsir bahwa ada menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu alias KIB yang bersikap mendua terhadap Presiden.

Mendua karena di satu sisi mendukung keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM namun di lain pihak mengecam keputusan Yudhoyono untuk menaikkan harga BBM akibat melonjaknya harga minyak mentah di pasaran internasional.

Sikap pro dan kontra ini berawal ketika  di Istana Negara, mantan Panglima Kodam II Siliwangi itu mengungkapkan bahwa ada menteri yang di dalam sidang-sidang kabinet mendukung rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM tapi ternyata di tempat-tempat lainnya malahan melontarkan ucapan yang menolak kenaikan harga BBM itu.

“Itu kan engga benar. Sontoloyo,” kata Syamsir yang juga pernah menjadi Kepala Badan Intelejen dan Strategis(Bais) Mabes TNI. Bahkan Syamsir menyebutkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah mengetahui adanya menteri yang “sontoloyo” itu.

“Ya, sudah tahulah,” kata Syamsir yang dikenal sebagai salah  satu orang dekat Yudhoyono itu terutama karena mereka sama-sama pernah mengabdi di lingkungan TNI-AD.

Mendengar ucapan seorang pejabat tinggi yang tidak lazim itu, karena menyerang sesama pejabat tinggi pemerintah lainnya apalagi menteri, maka reaksi yang beraneka ragam pun mulai  bermunculan.

Mantan Rektor Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Profesor Sofian Effendi mengemukakan ucapan Kepala BIN itu mencerminkan adanya sikap saling menghujat di antara para pejabat, sesuatu hal yang tidak jamak di tanah air.

“Ini hal yang paling menyedihkan. Pejabat negara  saling hujat satu dengan yang lainnya. Karena itu, Presiden harus turun tangan,” kata Sofian Effendi yang juga merupakan mantan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara (BAKN).

Namun, di lain pihak ada pula akademisi yang berusaha memahami kejengkelan Syamsir Siregar tersebut, antara lain Daniel Sparingga.

“Ada parpol-parpol yang seolah-olah konsisten  mendukung kebijakan pemerintah. tapi ternyata suaranya (parpol, red) di DPR berseberangan dan hal itu menunjukkan integritas parpol yang tidak baik,” kata Daniel Sparingga.

Ucapan sontoloyo yang dilontarkan Syamsir tersebut ternyata bisa menumbuhkan kesadaran dalam  masyarakat  bahwa ada hal yang aneh dalam kehidupan politik  di tanah air, bahwa ada parpol  yang sekalipun memiliki “kaki” di kabinet, tapi ternyata juga masih berani mengeluarkan  sikap menentang atau tidak menyetujui langkah pemerintah yang amat strategis termasuk  kenaikan harga BBM.

DPR baru-baru ini menyetujui digunakannya  Hak Angket terhadap keputusan pemerintah  untuk menaikkan harga BBM belum lama berselang.

Semula ada lima fraksi di DPR yang menolak penggunaan Hak Angket ini yakni Fraksi Partai Golkar, Fraksi PPP, Fraksi PDS, Fraksi Partai  Demokrat , serta Fraksi  Partai Keadilan Sejahtera atau PKS.

Namun dalam kenyataannya, malahan akhirnya F-PPP, F-PKS serta F-PDS menyetujui penggunaan Hak Angket tersebut.

“Utusan” PPP dalam KIB adalah Ketua Umum  DPP-PPP Suryadharma Ali serta Bachtiar Chamsyah  yang merupakan  Ketua Majelis Pertimbangan Partai. Sementara itu, wakil  PKS dalam kabinet ada tiga yakni Anton Apriyantono( Mentan), Adhyaksa Dault( Menpora) serta Yusuf Asyari( Menteri Negara Perumahan Rakyat).

Tugas BIN
Ucapan Kepala BIN tentang menteri” sontoloyo”  ini menarik perhatian masyarakat, karena sejak dahulu hingga sekarang, tidaklah lazim badan intelejen ini mengeluarkan hasil penelitiannya kepada masyarakat, apalagi jika menyangkut adanya “penentangan ” sikap kalangan para pejabat terhadap kebijakan  yang telah diambil pemerintah termasuk seorang presiden.

Kalaupun ada sikap “oposisi” dari kalangan pemerintah maka tentu hal semacam itu akan langsung disampaikan kepada presiden atau wakil presiden, siapapun pun orangnya .

Karena itulah, tidak  mengherankan jika mantan Rektor UGM Sofian Effendi mengatakan jika BIN menunjukkan gejala atau tanda-tanda yang tidak lazim maka sebaiknya disampaikan  langsung kepada presiden dan kemudian kepala negara-lah yang menyampaikan teguran atau memarahi” anak buahnya” itu.

“Yang berhak menegur menteri adalah presiden.  Jangan biarkan  para pejabat saling  menghujat,” demikian peringatan Sofian Effendi .

Belasan tahun lalu, ketika  Sarwono Kusumaatmadja  duduk dalam kabinet sebagai menteri dan kemudian mengritik para menteri lainnya, maka dia langsung dipanggil Presiden Soeharto ke Bina Graha untuk ” dimarahi”.  Akhirnya sejak itu , Sarwono tidak lagi pernah berani secara terbuka untuk mengritik para pejabat pemerintahan yang lainnya.

Ucapan Syamsir Siregar  tentang para menteri “sontoloyo”  yang dalam kamus Bahasa Indonesia artinya adalah”bodoh, konyol, tidak beres atau brengsek” bisa diperkirakan bukan  tanpa dasar  sehingga dia berani mengeluarkan ucapan yang keras itu.

Mungkin ada menteri dari parpol tertentu yang sekalipun menjadi bawahan Yudhoyono,  tapi tetap ingin kelihatan sebagai anggota partai yang kritis sehingga terus ingin bicara bagaikan tokoh yang vokal apalagi pada tahun  2009 bakal berlangsung pemilihan anggota DPD, DPR, DPRD serta pilpres dan berambisi menjadi menteri lagi atau pejabat tinggi .

Namun yang mungkin penting bagi masyarakat adalah bahwa  menteri yang mana pun juga –apalagi jika dari parpol– harus tetap menunjukkan kesetiaan mereka kepada Presiden Yudhoyono walaupun ada pemilu dan pilpres tahun mendatang karena berasal dari parpol-parpol yang berlainan.

Kesetiaan terhadap Presiden yang memimpin saat ini untuk menunjukkan bahwa Kabinet Indonesia Bersatu tetap kompak dan tidak “pecah” karena  mereka masih tetap punya tugas untuk mengabdi kepada seluruh rakyat Indonesia .

Sementara itu, Syamsir juga patut mendengarkan harapan  Indra Piliang, serta  Sofian Effendi agar lebih berhati-hati dalam mengeluarkan ucapan  apalagi jika menyangkut hal-hal kontroversial , karena rakyat masih menanggung  beban kehidupan yang semakin berat  akibat kenaikan harga BBM.(ann)

1 Comment »

  1. ah memang semuanya sontoloyo… hahahaha… heran pejabat kok embernya kayak itu… tapi pantes kok dibilang begitu. ah negara ini memang…….

    nah kalo anggota DPR yang konon terlibat skandal seks itu mungkin lantaran tidak mau dibilang *ontoloyo!!! ah negeriku!!!

    Comment by bangpay — July 6, 2008 @ 4:02 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

Powered by WordPress