Kembalikan (Lagi) Kampung Halamanku
Aku pulang kampung, sebentar. Pertama, aku mau sungkem dengan nenek dan kedua orangtuaku, karena minggu depan aku ada ujian di kampus. Kedua, untuk melihat perubahan sungai di kampungku, di depan rumah kami, setelah dibangun dam batu (batu baronjong) untuk mengendalikan banjir.
Dan tiba-tiba, aku merasa sedih. Kampungku tidak lagi kampung. Aku sejenak terpana, betapa arus sungai tidak lagi berupa arus yang mencari jalannya sendiri, tetapi dibuatkan jalan. Jalan yang lurus, sungai yang lurus. Tidak lagi berbelok, lurus, belok lagi, sesukanya. “Tiap kali air banjir, tiap kali tepian berubah”, menurut pepatah lama, mungkin kini jadi kenangan.
Mobil yang dulu jauh sekali ditaruh, kira-kira 2 km, kini hanya berjarak kurang dari 500 meter dari rumahku. “Magis” sebuah perjalanan pulang, sebagai tetirah, berjalan kaki, menginjak rumput berduri, celana tersingsih, sepatu yang dibimbing, apalagi kalau ada hujan dan banjir, tidak lagi terasa.
Duh, aku menjadi tahu, mengapa aku tidak terlalu suka dengan pembangunan fisik. Mengapa aku tidak kagum dengan gedung-gedung tinggi. Mengapa aku takut pada ketinggian. Aku merasa sebagai manusia tanah dan lumpur, juga manusia air. Hidup dengan sawah, sungai, laut, ombak, gelombang, lalu terkadang badai, guruh, segalanya yang alami dan datang dari alam. Aku menjadi kesulitan menemukan tempat, kini, sebuah tepian berpasir dan berkerikil, lalu malam-malam pukul 10, aku tiduran, merebahkan diri, mendengar desis air dan desis angin, lalu memandang kepada bintang-bintang di langit, mengingat lagi mana bintang pari dan bintang-bintang lain.
Aku merasa kehilangan kampungku, kampungku yang dulu. Lubuk yang paling dalam kini sudah berkerikil. Bumi yang kian terkelupas, dihimpit oleh benda-benda raksasa yang masuk kampungku, lalu membidangi tanah, membongkar menimbun, dan mengarahkan air bergerak lurus. Permukaan bumi yang dibangun oleh manusia, telah menghilangkan kampungku, hidupku, masa laluku, ingatanku, kegairahanku.
Revi Marta Dasta, yang menemaniku ke kampungku, bersama satu mahasiswa lain, malah tercengang, “Bang, aku tidak pernah berpikir, ini kampung abang. Segeralah tulis. Bagaimana bisa kampung seperti menghasilkan orang seperti abang?”
Begitulah komentar-komentar yang sudah lama hinggap di telingaku. Ah, kau, Revi, seandainya kau datang sebelum dam ini datang, sebelum sungai ini lurus, apa lagi komentarmu? Apa seperti komentar teman-temanku yang lain, Refly Harun, Saldi Isra, ES Ito, Miftah M Sabri, serta teman-temanku yang lain yang datang sebelum dam ini ada? Ketika sesuatu dibangun, saat itu juga sesuatu yang lain ditimbun. Manusia, dengan penuh gembira, membangun sesuatu, lalu menimbun yang lain. Yang aku rasa jauh lebih berharga, dibandingkan dengan listrik yang masuk ke kampungku tahun 2002, televisi yang datang, radio yang memekakkan telinga.
Kembalikan lagi kampungku, kampung halamanku. Kemana ia pergi? Aku justru tafakur, sedih, dengan situasi yang tidak alami ini.
Aku tidak bisa membayangkan, ketika nanti, suatu hari, jembatan juga berdiri, sehingga kami tidak lagi menjadi “orang seberang”, lalu mobil langsung masuk pagar halaman, sawah-sawah ditimbun untuk dibuatkan jalan. Aku tidak sanggup membayangkan itu. Kesedihan yang kurasakan, kehancuran yang memukul-mukul dadaku.
Tapi itu yang diinginkan oleh orang-orang kampungku. Seperti biasa, ketika aku ketemu dengan amai-amai, etek-etek, nenek-nenek, para perempuan yang kuat berjalan, lalu kini menjadi renta dan nestapa, selalu saja mereka membisikkan kalimat-kalimat halus, “Yaya (panggilanku), sudah makin letih kaki ini menyeberangi sungai ini. Yaya, entah kapan kami bisa meniti di sungai ini. Yaya…”
Jiwaku menggelegak. Apakah aku harus mengubah motto hidupku untuk itu? Tidak lagi mengalir bersama ombak?
Kampungku, kembalikan ia..
Jakarta, 3 Juli 2008