Sultan HB X
Kamis, 29 Mei 2008
Sultan HB X Jadi Penentu Keterpilihan Pasangannya

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, ketika berkunjung ke kantor Persda Kompas Gramedia, Jakarta, Senin (28/4). Sultan datang untuk berdiskusi bersama jajaran redaksi membahas persoalan kebudayaan dan kebangsaan.
Kompas.com, Kamis, 29 Mei 2008 | 13:07 WIB
JAKARTA, KAMIS - Survei Lembaga Riset Indonesia (LRI) menyebutkan, posisi Wakil Presiden Jusuf Kalla, baik sebagai calon presiden maupun calon wakil presiden, pada Pemilu 2009 adalah tipis.
Pengamat politik Indra J Piliang menyatakan bahwa Sultan HB X bisa menjadi penentu kemenangan kandidat yang memasangkannya. Sedangkan Jusuf Kalla justru menjadi faktor sebaliknya, yang akan merusak keterpilihan pasangannya, siapa pun dia.
Dalam publikasi hasil survei tentang popularitas pemimpin nasional menjelang Pemilu 2009 di Jakarta, Kamis, Jusuf Kalla hanya mendapat 3,13 persen untuk calon presiden di bawah Susilo Bambang Yudhoyono yang menempati posisi teratas dengan 35,6 persen, Megawati mendapatkan 25,51 persen, Sultan Hamengku Buwono X mendapat 17,61 persen, serta Wiranto mendapatkan 8,76 persen.
Demikian pula untuk calon wakil presiden, sebanyak 1.537 responden yang disurvei di 33 provinsi menempatkan Jusuf Kalla pada posisi ketiga di bawah Hidayat Nur Wahid dan Sultan HB X. Survei dengan marjin kesalahan tiga persen dan tingkat kepercayaan 95 persen yang dilakukan pada pertengahan Mei 2008 tersebut menempatkan Hidayat Nur Wahid sebagai calon wakil presiden favorit dengan 29,67 persen, disusul Sultan HB X dengan 27,71 persen, sementara Jusuf Kalla 12,71 persen.
Responden, kata Direktur Eksekutif LRI Johan Silalahi, menempatkan sejumlah nama lain yang juga berprospek sebagai calon wakil presiden, yaitu Kepala Polri Jenderal (Pol) Sutanto dengan 7,09 persen, Din Syamsuddin dengan 6,93 persen, Akbar Tandjung 4,48 persen, dan Panglima TNI Jenderal (TNI) Djoko Santoso 3,75 persen. "Keberadaan Hidayat Nur Wahid dan Sultan mengungguli Jusuf Kalla sebagai cawapres menarik untuk dicermati," katanya.
Popularitas
Data survei menjelaskan, Jusuf Kalla mempunyai popularitas yang tinggi, baik sebagai Ketua Umum Partai Golkar maupun Wakil Presiden yang cukup dikenal masyarakat luas dengan persentase 89 persen. "Sebenarnya popularitas Jusuf Kalla tinggi dan tidak ada yang tidak tahu ia adalah Wapres. Tapi ketika responden ditanya apakah akan memilih dia baik sebagai capres maupun cawapres ternyata persentasenya rendah," kata Johan.
Lebih lanjut, Johan berargumentasi bahwa rakyat sudah semakin cerdas untuk melihat dalam pemerintahan ini sudah ada pembagian tugas antara Presiden dan Wakil Presiden dan ekonomi menjadi kewenangan Wapres. Gejolak ekonomi dan kenaikan harga BBM menjadi salah satu sebab mengapa tingkat elektabilitas (keterpilihan) Jusuf Kalla menjadi rendah. Selain itu, menurut dia, dari sisi komunikasi politik figur Jusuf Kalla ternyata hanya disukai oleh level elite politik dan bukan oleh rakyat.
Pada bagian lain survei, untuk prediksi pasangan capres dan cawapres persentase keterpilihan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla masih di bawah kombinasi Susilo Bambang Yudhoyono-Hidayat Nur Wahid atau Megawati-Sultan HB X yang masing-masing 15,12 persen dan 14,74 persen. Sedangkan Yudhoyono-Kalla diprediksi hanya meraih dukungan 10,75 persen atau sedikit di atas kombinasi Yudhoyono-Sultan HB X sebesar 6,14 persen.
Mengenai kriteria pemimpin yang diinginkan rakyat, 84 persen responden menempatkan kriteria jujur sebagai pilihan utama di samping ketegasan (71 persen), dapat dipercaya (62 persen), konsisten (44 persen), dan mempunyai integritas (28 persen).
ABI
Sumber : ANT
Berita Sebelumnya
Saya terima kasih sekali atas undangan ini. Walaupun saya tidak terlalu lama kenal Indra Jaya Piliang, Saya sangat respek dari membaca tulisan-tulisannya. Dan terlihat betul bahwa beliau adalah seorang tokoh muda. Justru kalau tida ...
Terima kasih. Pada dasarnya Saya kenal Indra ini 15 tahun yang lalu. Jadi kebetulan waktu itu saya Ketua Senat Mahasiswa UI dan kemudian Beliau ini masuk dalam seksi kepengurusan.Sejak pertama saya kenal yang namanya Indra itu memang tukang kritik, tukang ribut, apapun dipertanyakan. ...