Revolusi dari Jawa Barat

Rabu, 16 April 2008
Suara Merdeka, Semarang, 16 April 2008 

KEMENANGAN pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf (Hade) dalam Pilgub Jawa Barat menghentakkan publik politik nasional. Bisa dikatakan, tidak ada yang mampu memprediksikan secara presisi potensi kemenangan ini. Hampir semua lembaga survei menyebut bahwa Agum Gumelar akan memenangkan pilkada ini dengan mudah. Mengutip kalimat salah satu tim sukses, ’’Agum tanpa perlawanan’’.

Apa yang terjadi dengan hasil pilkada yang mengejutkan ini? Pertama, tentu dikaitkan dengan problem klasik dalam sebuah pertarungan, yakni menganggap enteng lawan. Agum terlalu berkonsentrasi menghadapi Danny Setiawan, sehingga manuver-manuver politik Hade tidak terlalu dideteksi.

Kedua, lanskap politik Jawa Barat berbeda dengan provinsi-provinsi lain, dimana ikatan ideologis lebih mendominasi, ketimbang ikatan primordial lain, seperti kesukuan. Dari sini, kegagalan untuk membangun kerja sama kelompok nasionalis, sebagaimana terjadi di DKI Jakarta, menjadi salah satu penyebab. Bagaimana pun, sejak Pemilu 1955, Jawa Barat adalah basis kekuatan Masyumi. PAN dan PKS adalah dua partai politik yang mewakili Islam modernis.

Ketiga, Agum dan Danny adalah representasi dari kelompok status quo, termasuk sebagai incumbent. Agum pernah menjadi petinggi militer selama Orde Baru, lalu menjadi menteri dan bahkan juga pernah menjadi cawapres dalam Pemilu 2004. Sementara Danny adalah gubernur incumbent yang miskin prestasi memukau. Lebih mudah mengalahkan tokoh yang tidak jelas prestasinya, ketimbang yang mempunyai trademark politik tertentu.

Keempat, keberadaan massa mengambang dalam jumlah besar, pemilih pemula, sampai dengan kelompok golongan putih yang kecewa terhadap politik. Massa mengambang berhasil diseberangkan lewat metode serangan udara, yakni iklan di televisi, dengan memanfaatkan popularitas Dede Yusuf. Sementara, jumlah massa PKS yang militan begitu besar di Jawa Barat, termasuk dengan penguasaan sejumlah kabupaten dan kota oleh bupati dan wali kota dari PKS. Mereka mengikat loyalis-loyalis setia PKS dengan mesin politik yang terjaga dengan baik.

***

Tentu masih banyak faktor lain yang hanya bisa dianalisis setelah kemenangan pasangan Hade. Tetapi, memang, kemenangan Hade terasa dramatis dan langsung menyentakkan perhatian. Sejumlah pihak langsung mengatakan kekhawatirannya, terutama Partai Golkar yang tidak juga belajar dari sejumlah kekalahan dalam pilkada gubernur dan wakil gubernur. Golkar lebih mengandalkan tokoh yang sudah ada, terutama dari generasi birokrat lama. Sementara, PDI Perjuangan yang sebetulnya punya peluang lebih besar, berkonsentrasi untuk mengamankan Pulau Jawa untuk Pemilu 2009 dengan menempatkan purnawirawan militer sebagai kandidat.

Metode survei untuk menjaring kandidat rupanya mulai tidak efektif. Bagaimana pun, survei hanyalah salah satu alat ukur, sebagaimana juga apa yang dikenal sebagai serangan udara lewat iklan. Tetapi, mulai banyak elite politik yang percaya bahwa survei adalah segalanya. Cara berpikir seperti ini juga memengaruhi proses kandidasi, sehingga yang digadang-gadangkan sejak awal adalah tokoh yang paling populer, bukan yang paling potensial meraih kemenangan. Sebaliknya, dengan hasil quick count yang diumumkan kepada publik, banyak yang mengatakan tidak percaya, karena mereka berdasarkan survei justru merasa menang. Inilah kebablasan atas hasil quick count.

Dengan demikian, apa yang terjadi di Jawa Barat adalah sebuah revolusi atau perubahan dalam skala cepat di bidang politik. Revolusi ini mengejutkan kelompok-kelompok status quo, konvensional, dan tradisional. Bagi kelompok yang lain, politik menjadi serba mungkin. Dari seseorang yang diperkirakan sebagai pecundang, lalu kemudian menjadi pemenang, adalah kemungkinan terbesar itu. Bisa jadi ada juga yang berpikir bahwa berpolitik ibarat memainkan perjudian, sehingga tergantung kepada keberuntungan. Saya sungguh tidak percaya itu. Politik jelas memiliki logikanya sendiri.

Kemenangan Hade di Jawa Barat menjadi berita yang menggembirakan bagi kelompok-kelompok yang menginginkan perubahan. Sementara bagi yang lain pelan-pelan akan melihat keruntuhan dari klan-klan lokal yang berkuasa. Hade jelas belum cukup banyak pengalaman di pemerintahan, sehingga bisa jadi akan mengalami SBY Sindrome, yakni terus-menerus melihat kepada kekuatan politik di parlemen. Untuk itu, sebaiknya pasangan ini segera menelepon para kepala daerah lain yang memiliki kursi minoritas di parlemen lokal.

***

Lalu, akankah ada pengaruh kemenangan Hade kepada politik nasional? Tentu ada, yakni orang merasa mulai pesimistik dengan stok kandidat pemimpin nasional yang ada. Terasa sekali betapa Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Soekarno Putri, Sultan Hamengkubuwono X, Wiranto, Akbar Tandjung, dan lain-lain sebagai pemimpin tua dan karatan. Apabila mereka terus dihadapkan kepada jutaan pemilih dalam pilpres mendatang, ada dugaan bahwa popularitas mereka akan merosot dengan cepat.

Revolusi politik di Jawa Barat telah memunculkan harapan akan kepemimpinan alternatif dalam Pemilu 2009 nanti. Media mulai berspekulasi bahwa akan ada pasangan calon presiden dan wapres dari PKS dan PAN. Bagi saya, bisa saja. Pasangan itu bisa jadi Soetrisno Bachir dan Tifatul Sembiring. Apabila kinerja mesin politik PKS dan PAN juga bagus di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sebagaimana ditunjukkan oleh PKS di Banten, Jakarta, dan Jawa Barat, ada kemungkinan kenduri atas pasangan Soetrisno dan Tifatul akan dilakukan.

Tetapi jangan lupa bahwa Partai Golkar, PDI Perjuangan, dan Partai Demokrat juga menyiapkan antisipasi dini. Saya kira belum terlalu terlambat. Yang dibutuhkan adalah kesiagaan terus-menerus untuk menjaga sentimen positif di ranah publik, termasuk atas penentuan kandidat gubernur dan wakil gubernur di daerah-daerah yang belum menyelenggarakan pilkada, seperti Sumatera Selatan dan Riau. Jawa Barat bisa menjadi tempat bercermin bagi partai-partai ini.

Selamat kepada pasangan Hade, dua sosok yang masih hijau di politik, tidak punya pengalaman di birokrasi, tetapi sudah menjadi pilihan rakyat. Kalau pasangan ini bekerja dengan baik maka tidak mustahil mereka nanti akan maju berdua untuk capres-cawapres 2014-2019. Tinggal keduanya mencetak rekor-rekor fantastis di pemerintahannya, kelak. Selamat bekerja...(62)
© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com