Kembalikan, Kampung Halamanku…

April 23, 2008

“Saya Dulu Telat Bicara”

Filed under: Catatan Lepas — indrapiliang @ 4:37 am

INDRA JAYA PILIANG:

“Saya D09469tokoh02.jpgulu TELAT BICARA”

09469tokoh01.jpg

Pengamat politik yang kerap bicara lugas ini, hingga menjadi mahasiswa selalu berkeringat dingin dan gagap kalau disuruh bicara. Sekarang ketika putranya dianggap telat bicara, ia tetap bisa tenang.

PENGARUH GENETIK

Indra Jaya Piliang (36) baru menyadari kalau Afzaal Zapata Aghista (4;9), mengalami keterlambatan bicara, saat buah hatinya itu berusia 2 tahun. “Dia sempat menjalani terapi bicara selama 6 bulan, tapi karena trauma, kita hentikan. Sebetulnya kalau dibilang autis, tidak juga. Tatapan matanya baik dan dia tidak pernah mengamuk. Kalau saya, sih, tidak khawatir dan menganggapnya normal-normal saja,” tutur pengamat politik dan peneliti pada CSIS (Center for Strategic and International Studies) ini.

Menurut Indra, banyak faktor yang memengaruhi keterlambatan bicara si buah hati. “Bisa terjadi di masa hamil, apalagi ia berada dalam kandungan lebih dari 9 bulan hingga harus disesar. Bisa juga pengaruh genetik. Soalnya, saya juga dulu telat bicara. Sampai mahasiswa pun kalau mau bicara harus ditulis dulu, lalu keringat dingin dan gagap,” ungkap lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jurusan Sejarah ini.

Ketidakkhawatiran Indra terhadap perkembangan bicara Afzaal itu pun terbukti. “Saya perhatikan, Afzaal senang sekali diajak ke alam, seperti ke tempat asal saya di Minang. Dia senang main di sungai, persawahan dan lainnya. Biasanya setelah itu terlihat kemajuan perkembangan bicaranya. Ia bisa bercerita lebih banyak dengan sistematis dan logikanya pun jalan. Jadi, saya memang tidak khawatir dengan perkembangannya.”

Bagaimanapun, tambah Indra, setiap anak memiliki perkembangan berbeda. Ada yang untuk perkembangan tertentu lebih cepat dan ada yang lebih lambat. Yang terpenting baginya adalah pola asuh orangtua agar anak bisa dekat dengan orangtua dan orangtua pun harus jadi model bagi anak sehingga anak tidak bingung.

TAK SEPARAH DULUDi awal-awal kehadiran Afzaal, Indra mengaku sempat kehilangan momen sebagai ayah lantaran tuntutan pekerjaannya. “Dulu saya bertemu istri dan anak hanya pagi dan malam saja. Itu pun tidak selalu setiap hari karena waktu saya lebih banyak dihabiskan di luar. Usia-usia awal anak saya lebih banyak diurus oleh istri dan neneknya. Sementara saya lebih banyak membangun kedekatan dan komunikasinya saat di perjalanan, apakah lewat telepon ataupun kebiasaan antar jemput ke dan dari bandara,” papar pengurus yayasan Harkat Bangsa dan anggota dewan penasihat Indonesian Institute ini.

Sekarang, aku Indra, kesibukannya tidak lagi “separah” dulu. “Saya masih bisa mengantar dia sekolah, mengisi waktu luang dan berlibur bersama keluarga. Meski kadang-kadang ada saja orang atau media yang mencari untuk tanya-tanya, apalagi menjelang pemilu seperti sekarang ini, tapi anak dan istri sudah maklumlah.”

Bagi Indra, keluarga adalah yang utama sehingga harus dibina dengan baik. “Kalau kita tidak mampu membina intern keluarga, maka di luar pun kita akan berantakan. Jadi, sebetulnya keluarga memengaruhi seseorang untuk dapat bersikap dewasa. Bagaimana kita bisa mengatasi dan meredam konflik yang ada dengan baik, sehingga keluar pun kita bisa menjadi aspiran dan contoh bagi keluarga besar maupun orang lain. Jika dalam keluarga bermasalah, maka apa-apa yang kita sampaikan di luar tentunya tak akan berarti apa-apa,” paparnya.

EKSPERIMEN NAMAMenyoal nama buah hatinya, Indra mengaku terinspirasi oleh organisasi perlawanan kaum tani di Meksiko yang dipimpin Emilio Zapata. Namun sebelum itu, “Saya dan istri sempat bereksperimen mencari nama buat anak. Waktu itu tengah ramai invasi Amerika ke Irak, jadi sempat mencari nama yang diambil dari nama-nama kota di Irak, tapi tidak jadi. Kemudian saya cari-cari lagi sampai akhirnya diambillah kata Zapata,” kisah suami dari Faridah (36) ini.

Kemudian, lanjut Indra, “Kami cari-cari nama lain untuk melengkapinya sampai akhirnya terpilihlah nama lengkap Afzaal Zapata Aghista. Kalau namanya disingkat jadi AZA yang kita artikan sendiri yaitu dari abjad A kembali ke A, atau dari alam kembali ke alam. Begitulah kira-kira. Diharapkan agar ia kelak menjadi anak yang arif, dermawan, bijaksana, dan membela orang kecil.”

Begitu Afzaal lahir, Indra langsung menghadiahkah buku berjudul Bayang Tak Berwajah kepada anak lelakinya itu. “Ya, buku mengenai gerakan perlawanan di Meksiko tadi. Nanti kalau umurnya sudah 17 tahun saya akan mengajaknya jalan-jalan ke Meksiko,” tutupnya.Dedeh Kurniasih. Foto: Agus/nakita

 

Pemilu 2009 dan Masa Depan Aceh

Filed under: Catatan Lepas — indrapiliang @ 3:03 am

Pemilu 2009 dan Masa Depan Aceh[1]OlehIndra Jaya Piliang[2] 

PendahuluanNota Kesepahaman antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Finlandia, tanggal 15 Agustus 2005 telah membawa harapan baru bagi keberlanjutan proses perdamaian abadi di tanah Aceh. Sampai menjelang tiga tahun Nota Kesepahaman itu dijalankan, telah terlihat banyak perkembangan berarti di Aceh, paling tidak dari segi keamanan dan politik. Penculikan, pembunuhan, sampai kepada isu-isu yang tidak perlu makin berkurang secara drastis.   (more…)

April 20, 2008

Menahan Laju Malaysia

Filed under: Kolom — indrapiliang @ 4:52 am
Sindo, Periskop, Minggu, 20/04/2008

Malaysia adalah negara yang sedang mengalami transisi demokrasi dan pertumbuhan ekonomi yang baik.Transisi di Malaysia ditandai dengan kemenangan sejumlah partai oposisi di lima negara bagian di Malaysia dalam pemilu lalu.

Kedigdayaan Barisan Nasional, sebagai kelompok politik yang lama berkuasa, seakan diruntuhkan kekalahan terbesar itu. Namun, sekalipun menghadapi persoalan transisi demokrasi itu, unjuk gigi kemampuan ekonomi Malaysia tetap bertahan di Indonesia. Hal itu ditandai dengan kepemilikan perusahaan-perusahaan Malaysia, baik pemerintah ataupun swasta, atas sejumlah perusahaan Indonesia. (more…)

April 16, 2008

Revolusi dari Jawa Barat

Filed under: Kolom — indrapiliang @ 12:21 am

Suara Merdeka, Semarang, 16 April 2008 

KEMENANGAN pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf (Hade) dalam Pilgub Jawa Barat menghentakkan publik politik nasional. Bisa dikatakan, tidak ada yang mampu memprediksikan secara presisi potensi kemenangan ini. Hampir semua lembaga survei menyebut bahwa Agum Gumelar akan memenangkan pilkada ini dengan mudah. Mengutip kalimat salah satu tim sukses, ’’Agum tanpa perlawanan’’. (more…)

April 15, 2008

Memuseumkan Pemilu

Filed under: Kolom — indrapiliang @ 11:55 pm

Kompas, Rabu, 16 April 2008

Dalam rapat dengar pendapat umum yang dilakukan Pansus RUU Pilpres (7/4/2008), saya menyampaikan satu usulan ”lain-lain” tentang pentingnya pembentukan semacam museum pemilu. Tidak banyak yang merespons usulan ini. Padahal, semakin dipikirkan, usulan ini semakin menarik untuk ditindaklanjuti. (more…)

Wakil Pusat di Daerah

Filed under: Kolom — indrapiliang @ 3:47 am

Koran Tempo, Selasa, 15 April 2008 

Pemilihan langsung kepala daerah atau pilkada sudah berlangsung sejak 1 Juni 2005. Ada banyak pelajaran yang dapat dipetik. Pertama, tidak semua incumbent terpilih kembali–seperti dalam kasus pemilihan Gubernur Jawa Barat, yang sementara memenangkan pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf. Kedua, pola koalisi antarpartai politik kabur-mabur. Ketiga, biaya atau ongkosnya begitu mahal. Keempat, belum muncul calon perseorangan, kecuali di tanah Aceh. (more…)

April 14, 2008

Ayat-Ayat Perang

Filed under: Kolom — indrapiliang @ 3:51 pm
Ayat-Ayat Perang
Sindo, Senin, 14/04/2008
Hari-hari belakangan ini Republik Indonesia diharu biru oleh film Hanung Bramantyo, Ayat-Ayat Cinta (AAC). Banyak yang sudah menonton.Bukan hanya yang harus membayar sendirian atau sekeluarga, tetapi juga gratis atas nama ”nobar (nonton bareng)”.Nah,dalam barisan ini terdapat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta para kepala daerah. AAC adalah produk tontonan paling massal, selain film tentang Gerakan 30 September 1965 dulu. (more…)

April 8, 2008

Apa & Siapa

Filed under: Berita — indrapiliang @ 1:25 pm
Sindo Edisi Sore Apa & Siapa
INDRA J PILIANG, Berbagi Tugas dengan Istri
Selasa, 08/04/2008

Di balik kegembiraan menimang anak kedua membuat pengamat politik Indra J Piliang mempunyai tugas baru.Sebab,dia harus mengurus anak pertamanya,Afzaal Zapata Abhista. Pasalnya,Afzaal sedang dilanda cemburu (sibling rivalry) karena kehadiran sang adik,Fadha Dang Sati Ababil. Indra mengaku kesulitan mengatasi polah tingkah Afzaal,5,yang berubah akhir-akhir ini.’’Dia sering rewel, mudah menangis,dan setiap kali tidur harus ditemani. Biasanya,dia mau tidur sendiri di kamarnya,sekarang enggak mau.Bukan hanya itu,jika kita lebih memperhatikan Afzaal,gantian Fadha yang rewel,”ujar pria kelahiran Pariaman 19 April 1972.

Untuk mengatasi kedua anaknya yang sama-sama membutuhkan perhatian,Indra dan istrinya mempunyai trik.Indra kebagian tugas menjaga dan menenangkan Afzaal,sedangkan sang istri lebih berkonsentrasi kepada Fadha. ’’Tetap diusahakan membagi perhatian kepada kedua jagoan kami,”tuturnya,sembari tertawa.Pantas saja, kesibukan Indra semakin bertambah.Saat pulang ke rumah,Indra belum bisa benar-benar menikmati waktu istirahat. Lihat saja tambahan kesibukan Indra seminggu ini. Rutinitas baru dikerjakan Indra seperti menemani Afzaal sampai tertidur,membuatkan susu,serta bergadang menunggu istri memberikan ASI ke Fadha.Keesokannya, Indra masih menjalani segudang pekerjaan di ranah politik.’’Sampai ada seorang teman yang menegur karena kantong mata saya hitam,”tandas jebolan Universitas Indonesia ini.(hendrati h)  

April 6, 2008

Bahan RDPU RUU Pilpres

Filed under: Catatan Lepas — indrapiliang @ 3:35 pm

Pilpes, Kinerja Presiden dan Warga Negara:
Disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonsia, Senen, 07 April 2008

Indra Jaya Piliang: Analis Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Jakarta 

Evaluasi Pemilu 2004

oPemilu Legislatif 2004 diwarnai oleh pertarungan tokoh-tokoh partai politik, sehingga mengurangi makna dari pemilu legislatif.oKebanyakan isu-isu yang dibawa adalah isu-isu nasional yang terhubung dengan kekurangan atau kelemahan presiden-presiden sebelumnya. oPublik lebih banyak dipaksa untuk mengikuti keunggulan personal capres/cawapres, tetapi tanpa diikuti dengan program-program unggulan.   (more…)

Indonesia dan Daerah

Filed under: Berita — indrapiliang @ 2:06 pm

Dalam sejumlah kesempatan, kucoba utarakan bahwa masa depan Indonesia ada di daerah..

PEMILU 2009
Golkar Harus Fokus
pada Pemilih Kelas Bawah

DISKUSI POLITIK — Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono memberikan sambutan sebelum membuka Expert Duscussion “Partai Golkar, Turbulensi Politik dan Stabilitas Pemerintahan” yang berlangsung di kantor DPP Partai Golkar, Jumat (4/4). Diskusi ini menampilkan sejumlah pakar ilmu politik. (Suara Karya/Muhammad Reza) (more…)

Next Page »

Powered by WordPress