“Saya Dulu Telat Bicara”
INDRA JAYA PILIANG:

Pengamat politik yang kerap bicara lugas ini, hingga menjadi mahasiswa selalu berkeringat dingin dan gagap kalau disuruh bicara. Sekarang ketika putranya dianggap telat bicara, ia tetap bisa tenang.
PENGARUH GENETIK
Indra Jaya Piliang (36) baru menyadari kalau Afzaal Zapata Aghista (4;9), mengalami keterlambatan bicara, saat buah hatinya itu berusia 2 tahun. “Dia sempat menjalani terapi bicara selama 6 bulan, tapi karena trauma, kita hentikan. Sebetulnya kalau dibilang autis, tidak juga. Tatapan matanya baik dan dia tidak pernah mengamuk. Kalau saya, sih, tidak khawatir dan menganggapnya normal-normal saja,” tutur pengamat politik dan peneliti pada CSIS (Center for Strategic and International Studies) ini.
Menurut Indra, banyak faktor yang memengaruhi keterlambatan bicara si buah hati. “Bisa terjadi di masa hamil, apalagi ia berada dalam kandungan lebih dari 9 bulan hingga harus disesar. Bisa juga pengaruh genetik. Soalnya, saya juga dulu telat bicara. Sampai mahasiswa pun kalau mau bicara harus ditulis dulu, lalu keringat dingin dan gagap,” ungkap lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jurusan Sejarah ini.
Ketidakkhawatiran Indra terhadap perkembangan bicara Afzaal itu pun terbukti. “Saya perhatikan, Afzaal senang sekali diajak ke alam, seperti ke tempat asal saya di Minang. Dia senang main di sungai, persawahan dan lainnya. Biasanya setelah itu terlihat kemajuan perkembangan bicaranya. Ia bisa bercerita lebih banyak dengan sistematis dan logikanya pun jalan. Jadi, saya memang tidak khawatir dengan perkembangannya.”
Bagaimanapun, tambah Indra, setiap anak memiliki perkembangan berbeda. Ada yang untuk perkembangan tertentu lebih cepat dan ada yang lebih lambat. Yang terpenting baginya adalah pola asuh orangtua agar anak bisa dekat dengan orangtua dan orangtua pun harus jadi model bagi anak sehingga anak tidak bingung.
TAK SEPARAH DULU
Di awal-awal kehadiran Afzaal, Indra mengaku sempat kehilangan momen sebagai ayah lantaran tuntutan pekerjaannya. “Dulu saya bertemu istri dan anak hanya pagi dan malam saja. Itu pun tidak selalu setiap hari karena waktu saya lebih banyak dihabiskan di luar. Usia-usia awal anak saya lebih banyak diurus oleh istri dan neneknya. Sementara saya lebih banyak membangun kedekatan dan komunikasinya saat di perjalanan, apakah lewat telepon ataupun kebiasaan antar jemput ke dan dari bandara,” papar pengurus yayasan Harkat Bangsa dan anggota dewan penasihat Indonesian Institute ini.
Sekarang, aku Indra, kesibukannya tidak lagi “separah” dulu. “Saya masih bisa mengantar dia sekolah, mengisi waktu luang dan berlibur bersama keluarga. Meski kadang-kadang ada saja orang atau media yang mencari untuk tanya-tanya, apalagi menjelang pemilu seperti sekarang ini, tapi anak dan istri sudah maklumlah.”
Bagi Indra, keluarga adalah yang utama sehingga harus dibina dengan baik. “Kalau kita tidak mampu membina intern keluarga, maka di luar pun kita akan berantakan. Jadi, sebetulnya keluarga memengaruhi seseorang untuk dapat bersikap dewasa. Bagaimana kita bisa mengatasi dan meredam konflik yang ada dengan baik, sehingga keluar pun kita bisa menjadi aspiran dan contoh bagi keluarga besar maupun orang lain. Jika dalam keluarga bermasalah, maka apa-apa yang kita sampaikan di luar tentunya tak akan berarti apa-apa,” paparnya.
EKSPERIMEN NAMAMenyoal nama buah hatinya, Indra mengaku terinspirasi oleh organisasi perlawanan kaum tani di Meksiko yang dipimpin Emilio Zapata. Namun sebelum itu, “Saya dan istri sempat bereksperimen mencari nama buat anak. Waktu itu tengah ramai invasi Amerika ke Irak, jadi sempat mencari nama yang diambil dari nama-nama kota di Irak, tapi tidak jadi. Kemudian saya cari-cari lagi sampai akhirnya diambillah kata Zapata,” kisah suami dari Faridah (36) ini.
Kemudian, lanjut Indra, “Kami cari-cari nama lain untuk melengkapinya sampai akhirnya terpilihlah nama lengkap Afzaal Zapata Aghista. Kalau namanya disingkat jadi AZA yang kita artikan sendiri yaitu dari abjad A kembali ke A, atau dari alam kembali ke alam. Begitulah kira-kira. Diharapkan agar ia kelak menjadi anak yang arif, dermawan, bijaksana, dan membela orang kecil.”
Begitu Afzaal lahir, Indra langsung menghadiahkah buku berjudul Bayang Tak Berwajah kepada anak lelakinya itu. “Ya, buku mengenai gerakan perlawanan di Meksiko tadi. Nanti kalau umurnya sudah 17 tahun saya akan mengajaknya jalan-jalan ke Meksiko,” tutupnya.Dedeh Kurniasih. Foto: Agus/nakita
