Buka Mata atau Tidur Saja
Sindo, 18 Maret 2008
Kita selalu berisik dan ribut ketika menyusun sesuatu, tetapi kita sulit menjadi konsisten ketika sesuatu itu sudah benar-benar ada. Lihat, bagaimana hebohnya kontroversi, polemik, sampai tarik-menarik urat saraf tentang rencana jadi Paket Undang-Undang Politik. Juga spekulasi yang disusun untuk calon presiden dan wakil presiden pada 2009.
Kita sibuk menebak, bersitegang, lalu seusai undang-undang dibuat lagi-lagi kita sibuk menyiksa diri dengan memikirkan muatan dalam peraturan pelaksanaannya. Ketika peraturan dibuat, kita sibuk membongkar lagi, sebelum dilaksanakan.
Begitu pun ketika seseorang terpilih menjadi presiden, menteri, gubernur, dan bupati atau wali kota, kesibukan utama adalah proses pencalonan, kampanye, dan hiruk-pikuk pascapemilihan. Lalu, dua tahun sebelum pergantian,terjadi hal serupa, yakni persiapan untuk pemilihan berikutnya. Nama-nama tertentu naik, selebihnya turun. Tetapi karena itu juga kita lupa ada pemerintah yang sedang memerintah.
Tugas bangsa ini bukan hanya mempersengketakan apa yang akan terjadi, tetapi sebetulnya punya hak menuntut lebih pada apa yang harus dibuat.Untuk itu,mendaftar apa yang menjadi masalah dalam masyarakat sembari merumuskan penyelesaian segera lewat kebijakan tercepat layak dilakukan. Kalau tidak, kita siap-siap lagi memilih, lalu menyalah-nyalahkan yang kalah,mengelu-elukan yang menang.
Kemudian yang pasti,kita akan membongkar lagi undang-undang,mengatakan sistem tidak bersahabat,menawarkan perubahan, lalu mulai mengelus- elus calon. Bayangkan, kesibukan terbesar bangsa ini hanya seputar siapa yang layak dipilih.Setelah terpilih, kita lupa mengingatkan bahwa justru tugas dan tanggung jawab itulah yang pantas dituntut. Ya, kita sibuk dengan segala sesuatu yang akan, sementara kita diam kepada segala sesuatu yang sudah.
Merebut kekuasaan menjadi menggairahkan, tetapi mengisi kekuasaan itu dengan totalitas pengabdian kepada kepentingan publik menjadi tidak lagi menarik.Persitegangan itu lantas membuat orang-orang tertentu mengidam- idamkan masa lalu yang juga tidak lebih baik, sembari menjanjikan masa depan yang belum menentu.
***
Mari coba hanya membuka mata dan berhenti berbicara. Layangkan pandangan ke bawah jembatan-jembatan layang. Tolehkan ke orangorang sakit yang makin menumpuk di rumah-rumah sakit atau barak-barak pengungsian.
Perhatikan antrean di bandar-bandar udara, terminal bus, stasiun kereta,sekolah,kampus,sampai pada area penjualan bahan bakar fosil. Juga, raba monumen-monumen publik, jalan-jalan rusak, pabrik-pabrik tua,sampai alat-alat perang yang dibuat tahun 1950-an dan 1960-an. Buka lagi mata untuk menatap gambar-gambar kekerasan di televisi, gosip-gosip “artis”pemula,penyanyi, dan orang-orang yang ditangkap kamera. Kehidupan ditorehkan lewat jalan- jalan pintas bermodalkan ribuan kiriman SMS.
Peringkat-peringkat tertentu disusun, baik oleh Muri atau pelbagai award oleh pemerintah. Piala- piala dan piagam-piagam penghargaan tersebar dengan sangat cepat, menghiasi ruang-ruang pamer dan lemari-lemari tamu. Hanya dengan membuka mata kita tahu betapa negeri yang elok ini telah disibukkan oleh mencari pengakuan orang lain.
Janganlah lupa, lidah-lidah kekuasaan menjulur-julur di balik upaya pencarian pengakuan itu.Lidah- lidah yang tak berhenti juga mengucurkan air liur, betapa kekuasaan menjadi nikmat, sembari jumlah orang yang kehilangan harapan akan kekuasaan itu juga meningkat pesat. Dengan kemajuan dunia periklanan dan kehumasan, kita mengetahui bahwa produk kemasan semakin mudah didapatkan.Yang paling penting lagi adalah mudah juga mendapatkan penguasa instan.
Mereka dikatrol oleh sokongan dana yang banyak, tentu dengan harapan setelah berkuasa akan mendapatkan dana yang lebih banyak.Maka,berapa pun uang yang ada di negeri ini,tetap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kekuasaan macam itu.
***
Pada lapisan terbawah, rakyat kian megap-megap.Kemiskinan yang berimpit dengan parade kekuasaan yang menggila. Ketidakpedulian yang menggurita.Nyawa yang bisa tercabut kapan saja hanya karena beras sulit didapat, pohon sagu yang meranggas,palawija penuh ulat, serta iklim yang semakin sulit ditebak.
Rakyat terkepung dalam ketidakberdayaan karena masalah datang bertumpuk- tumpuk, bahkan bagi kalangan menengah sekalipun. Penderitaan yang dialami begitu ekstrem, membuat putus asa, sehingga menghasilkan kasus-kasus bunuh diri. Hubungan kekerabatan yang kental bisa membuat seseorang yang mendapatkan posisi baik, lantas mengubah diri menjadi benalu bagi manusia- manusia lain.Jabatan-jabatan publik bisa dibagi-bagi seenaknya, berikut sejumlah proyek yang menyertai.
Tidak heran kalau tersangka koruptor kini bisa terdiri atas satu keluarga besar. Begitu pun politik diwarnai oleh nepotisme telanjang.Tidak ada lagi kewaspadaan betapa kemudahan mengangkat anak menjadi pimpinan politik atau pimpinan lain bisa berakibat fatal kalau mereka tidak memiliki kepekaan sosial atas penderitaan orang-orang lain. Kita percaya bahwa segala sesuatu yang dijalankan berlebihan akan memunculkan kerusakan yang parah juga.
Fakta itu yang terjadi di lapangan ekonomi dan politik, yakni penguasaan yang nyaris sempurna atas sumber daya apa pun oleh sekelompok orang, sementara kelompok lain yang berjumlah banyak menjadi terabaikan. Hanya saja,belum ada “kesepakatan sosial”tentang siapa yang bersalah, selain tuduhan betapa pemerintah makin tidak bisa diharapkan. Dulu,kita berpikir bahwa semakin kekuasaan itu tersebar ke banyak titik, maka akan lebih baik—ketimbang terkumpul dalam satu tangan.
Sekarang, dengan kekuasaan yang tersebar itu, justru upaya saling menyalahkan terjadi antara level pemerintahan. Egoisme sektoral yang bersifat kelembagaan memunculkan masalah. Begitu pula politisasi yang bersifat patrimonial. Orang semakin sibuk menyelamatkan diri masing-masing, kekuasaan masing-masing, keluarga masing-masing, partai politik masing-masing.
***
Kalau pemerintahan masih bekerja seperti ini,memang sebaiknya pemerintahan tidur saja atau hanya menjadi penjaga malam,ketika warga negara tertidur.Kekuasaan pemerintahan layak dikurangi.Tetapi,pilihan ini pun tidaksepenuhnya benar,ketika tidak ada yang berusaha untuk memelihara jalanan dan fasilitas sosial lain.
Vandalisme menjadi hantu yang menakutkan. Di tempat-tempat larangan buang sampah, justru terlalu banyak sampah terlihat. Telepon-telepon umum tidak lagi memiliki gagang. Mau tidak mau, pengembangan solidaritas sosial sangat diperlukan. Sudah saatnya masyarakat saling menolong sesamanya.Di Banyuasin, Sumatera Selatan, masyarakat membunuh buaya, karena buaya menerkam manusia. Di Jambi berhadapan dengan harimau.
Di Riau, gajah-gajah saling bunuh dengan manusia. Ekosistem yang semakin buruk membuat manusia berhadap-hadapan dengan binatang. Padahal, di perkotaan dan rumahrumah orang kaya, buaya, harimau, atau gajah sekalipun sanggup dibuatkan kandang dan diminta manusia sebagai pekerja dan pelayannya. Kita harus tetap terjaga, lewat uluran tangan para tetangga.Sebab, pemilu akan menyebabkan masyarakat berkelahi.
Pemilu menciptakan jarak sosial yang jauh antara rakyat yang sibuk dengan masalah-masalahnya dengan kelompok politikus yang bersiap-siap untuk mempertahankan atau merebut kursi-kursi kekuasaan. Masyarakat harus bersiap membantu diri sendiri,ketika pemerintahan tertidur dan politikus sibuk dengan tarian dan nyanyian mendayu- dayu.(*)