Pulang, Berpulang
Minggu, 27 Januari 2008
Soeharto, Mantan Presiden RI selama 30 tahun (1968-1998) dengan gelar Jenderal Besar, Bapak Pembangunan, juga Haji Muhammad, meninggal dunia hari ini, pukul 13.15, di kamar 536 Rumah Sakit Umum Pusat Pertamina, setelah dirawat selama 24 hari. Aku sedang tertidur di rumah, sambil sesekali marahin Afzaal yang memainkan pintu kamar, ketika Soeharto berpulang. Aku berpikir, nakal: “Wah, pulung Soeharto tentu tak masuk ke dalam diriku, melainkan kepada orang-orang yang terjaga ketika Soeharto meninggal!” Ada beberapa sms yang bertanya, menggugat atau melayangkan belasungkawa. Juga, telepon-telepon wartawan. Hanya satu-dua yang kujawab seadanya, pendek. Dan yang tertinggal memang jejak panggilan, karena hp kumatiin. Aku tidak terbiasa memberikan nomor telepon rumah kepada wartawan. Yang kurasakan adalah hari yang tenang. Udara panas. Tidak ada yang luar biasa. Hanya nenek istriku yang menontong tayangan televisi dan menanyakan kepada istriku, “Apa tidak pergi melayat?” Di mata nenek istriku, Soeharto adalah orang besar dan baik. Kepada istriku ia menyayangkan ulasanku yang dia tonton di televisi soal Soeharto. Hampir sepuluh tahun Soeharto sebetulnya sudah dihukum. “Hukuman” terberat adalah ketika teknologi kedokteran digunakan untuk menahan nyawa tetap bertahan di badannya. Kalau Mao atau Fir’aun diawetkan ketika sudah meninggal dunia, Soeharto malah dijadikan sebagai Frankerstein ketika masih hidup. Terakhir, lubang kecil dibuat di lehernya, untuk membantunya bernafas. Ia ditidurkan atau dibangunkan sesuai dengan dosis obat dan suntikan dokter.
Kini, Ia pulang menuju alam ghaib. Menggapai karmanya. Sulit melihat prosesi mengharu-biru ketika Soeharto telah meninggal, sebagaimana juga dengan Ibu Tien. Kalaupun ada doa para tokoh agama, itu berdasarkan “himbauan” atau berlabel “Majelis Zikir si Anu”, “Pesantren si Badu”, atau “Kiriman di Fulan”. Doa dan ulama yang punya label. Aku belum mendoakan Soeharto secara khusus. Tetapi, aku tentu tetap berdoa dalam hati untuknya. Mungkin, sebagian orang mengutuknya, lalu memberi label “Matinya Sang Tiran”. Namun, bagiku, ia tetap seorang manusia. Manusia yang hidup dengan segala macam persoalan. Manusia yang ditempatkan dan menempatkan diri sebagai penguasa. Manusia yang tidak bisa melawan usia tua, serta kematian.
Hari Berkabung Nasional sudah dicanangkan selama 7 hari 7 malam. Ya, hari “penciptaan” alam semesta, langit dan bumi beserta segala isinya. Akan ada beberapa upacara untuk menghormatinya. Jalan Cendana, Desa Kemusuk dan Astana Giribangun bahkan dilanda hujan, halilintar, gempa, sebagai tanda dari Sang Penguasa Langit. Soeharto berpulang ketika kontroversi atas kasus hukumnya mereda dan mulai mendapatkan kesimpulan. Ia barangkali akan dimaafkan dan diampuni atas kasus-kasus yang dituduhkan kepadanya. Walau, para ahli warisnya tetap diusahakan untuk menerima proses gugatan dari pengadilan. Surat-surat penting seputar kematian Soeharto bisa cepat keluar. Begitupun, akan banyak spekulasi atas Surat Wasiat Soeharto atas segala sesuatu menyangkut keluarga dan harta atau apapun yang dia tinggalkan.
Aku tak tahu, apakah ada artis atau seniman yang membuatkan karya-karya khusus untuknya, entah puisi, lagu, syair atau lukisan. Yang jelas, selama memerintah, Soeharto lebih besar dari Indonesia sendiri. Ia mengatasi pelbagai macam persoalan dengan cara yang teramat dingin. Program acara televisi dan halaman-halaman majalah dan surat kabar, juga sudah diisi dengan bagaimana kisah pencarian Soeharto atas kekuatan langit. Ilmu kanuragan yang ia dapatkan adalah bagian dari riwayat para penguasa di Tanah Jawa. Mungkin ada yang kecewa bahwa Soeharto meninggal awal tahun ini, bukan akhir tahun ini atau awal tahun depan. Mengapa? Karena mereka barangkali menyiapkan beragam skenario politik guna keuntungan masing-masing. Sentimen pro dan kontra Soeharto akan selalu menarik perhatian publik. Nenek istriku, misalnya, adalah satu dari sekian banyak orang yang bisa diminta simpatinya atas pernyataan apapun yang menyangkut Soeharto.
Sembari berharap bahwa hawa panas yang terasa sampai malam ini segera berakhir, aku mendoakan Soeharto bisa tersenyum di alam sana. Hukum manusia tidak akan sampai bisa menyentuhnya. Rahasia Allah SWT juga tidak bisa diduga dan ditafsirkan semau kita. Selamat pulang dan berpulang, Pak Harto. Selamat melewati fase akhir sebagai manusia, kematian. Bagi kami, di sini, yang tersisa hanya kehidupan ini dan bagaimana memaknainya...
Catatan Lepas Sebelumnya
Saya terima kasih sekali atas undangan ini. Walaupun saya tidak terlalu lama kenal Indra Jaya Piliang, Saya sangat respek dari membaca tulisan-tulisannya. Dan terlihat betul bahwa beliau adalah seorang tokoh muda. Justru kalau tida ...
Terima kasih. Pada dasarnya Saya kenal Indra ini 15 tahun yang lalu. Jadi kebetulan waktu itu saya Ketua Senat Mahasiswa UI dan kemudian Beliau ini masuk dalam seksi kepengurusan.Sejak pertama saya kenal yang namanya Indra itu memang tukang kritik, tukang ribut, apapun dipertanyakan. ...