Hutan Kampus, Hutan Beton
Selasa, 22 Januari 2008
Kutelusuri lagi jejak kampus. Dalam seminggu, dua kali aku datang. Sabtu lalu bertemu anak-anak SMA. Mengisi acara pengenalan kampus bersama Mustafa Kamal (DPR), Helvy Tiana Rosa (Cerpenis), dan Dian Sastrowardoyo (Artis). Aku ajak Bunda dan Aza, tetapi tidak bisa turun mobil, karena kaki Bunda tersiram air panas. Padahal, wajah Bunda selalu bercahaya kalau mendengar kata kampus. Selasa ini, mengisi FGD di Labsosio FISIP UI. Juga bertemu teman lamaku, Syamsul Hadi, PhD yang lulusan terbaik di universitasnya di Jepang. Yang di Labsosio juga teman lamaku, Andi Rahman, penghuni setia kampus. Juga ada teman lama yang ikut FGD, Mohammad Qodari. Kampus selalu memanggil pulang siapapun yang pergi. Kampus yang mengajarkan aku tentang banyak hal. Kenaifan yang diasah. Keluguan yang ditempa. Keberanian yang dikepalkan. Serta puluhan puisi sebagai pelampiasan rasa hati. Kampus UI Depok bagiku adalah alam terkembang jadi guru itu. Ada banyak kisah duka dan suka di dalamnya. Juga jejak perjalanan, bolak-balik. Entah naik kereta api, jalan kaki, lari pagi, atau keliling dengan bis kuning. Ada belasan demonstrasi dan orasi. Puluhan seminar dan ratusan diskusi.
Dan satu kisah cinta yang dimulai, lalu diakhiri di pelaminan, jelang semester berakhir. Ada tangisan dan canda-tawa. Kegugupan, kelaparan, keberandalan. Tubuh yang kurus kering. Celana kedodoran atau kesempitan. Sepatu yang terlalu banyak jahitan. Kaos kaki yang bolong. Buku-buku yang sobek-sobek. Kerah baju yang berwarna beda berbulan-bulan kena keringat.
Tapi, hutan kampus selalu menyediakan kesegaran. Dulu ada embun di pagi hari. Kini kabut dan sinar matahari yang cepat datang. Dulu sedikit sekali spanduk dan reklame, kini semua adalah spanduk dan reklame itu. Segelas Capucinno kini seharga Rp. 16.000,-. Dulu, tidak ada Capucinno, kecuali teh setengah manis. Di kampus ini, ada banyak mimpi dan impian. Juga ada beberapa hati yang patah. Asa yang terluka. Ada teman yang diserempet kereta api. Juga mahasiswa yang ditangkap polisi – dan satpam.
Kini, ada juga pengandaian. Andai yang kupilih sebagai pilihan kedua adalah Antropologi FISIP UI, apa yang kuanalisis kini? Atau aku lulus pada pilihan pertama, Jurusan Meteorologi dan Geofisika ITB, dimana aku membikin puisi? Bahkan, andai aku masuk ke pusat kaum borjuis di FE-UI, sebagaimana sempat kupikirkan ketika mau pindah jurusan dalam UMPTN berikutnya, dasi apa yang kupakai esok hari? Kampus telah mencetakku sebagaimana ia kehendaki, walau diriku tetap diriku. Aku bersyukur, berada di kampus ini, bahkan juga kini di Salemba. Di kampus ini aku bertemu belahan hati. Di kampus ini juga aku menemukan teman-temanku, musuh-musuhku, sahabat-sahabatku, juga keluargaku. Dari kampus ini juga datang malaekatku, periku, kini.
Hanya saja, kenapa hutan kampus telah berubah menjadi hutan beton? Perpustakaan tidak lagi berisi debu dan buku berwarna kuning, tetapi ruangan ber-AC yang nyaman dengan rak-rak buku bagus dan buku-buku tebal yang mungkin baru dibuka sampulnya. Di kampus ini telah berdiri pusat dari pengejaran materi. Ilmu, mungkin hanya polesan. Wahai, kampusku, kenapa engkau terbeli? Darimana asal mobil-mobil mahal itu? Inikah kemajuan? Atau aku terlalu rindu pada kekunoan? Pada keluguan? Entahlah...
Catatan Lepas Sebelumnya
» KOMENTAR (1)
-
ah, jangan prasangka gitu dulu dong bang. justru sekarang sedang digalakkan kampus yang cinta ekologis. jalan-jalan utnuk sepeda (sepada way) sedang dibangun, dengan tanpa menebang pohon yang ada (berbeda ketika rektor sebelumnya yang membangun dengan benar-benar "babad alas"). bangunan kampus memang perlu diperluas, khususnya institusi yang diperlukan, tetapi tetap menjaga keindahan dan daya dukung lingkungan. hutan kampus kan masih virgin, malah akan semakin dibikin menarik.
era 1990-an ya jangan disamakan dengan era sekarang to... banyaknya bangunan menandakan banyaknya kepesatan. kedokteran juga akan dipindahkan nanti di depok kan. tapi memang, ada beberapa fakultas yang kekurangan lahan malah dibikin bangunan yang menghilangkan suasana indah...
Posted by zacky ku on January 26th, 2008, 10:22:55 AM
Saya terima kasih sekali atas undangan ini. Walaupun saya tidak terlalu lama kenal Indra Jaya Piliang, Saya sangat respek dari membaca tulisan-tulisannya. Dan terlihat betul bahwa beliau adalah seorang tokoh muda. Justru kalau tida ...
Terima kasih. Pada dasarnya Saya kenal Indra ini 15 tahun yang lalu. Jadi kebetulan waktu itu saya Ketua Senat Mahasiswa UI dan kemudian Beliau ini masuk dalam seksi kepengurusan.Sejak pertama saya kenal yang namanya Indra itu memang tukang kritik, tukang ribut, apapun dipertanyakan. ...