Tafakur
Seharian, aku tafakur dalam sepi
Mencekam, mencengkram, membuat sakit pada punggung
Sepi yang datang berhari-hari dan memuncak hari ini
Sepi yang menjadi sahabat setia Kulamur mukaku dengan kencur doa
Kukirim ia ke langit-langit kamarKulantunkan dalam setiap ketukan palu dari tukang-tukang yang berkeringat
Di atap rumah Aku seperti balon itu
Yang dibelikan bunda buat anakku di Ancol
Sendirian ia di langit-langit kamar
Tanpa tali
Hanya mencari jalan untuk keluar menembus angkasa Tidak ada jalan yang kutapak hari ini
Seperti kemaren dan kemaren, besok dan besok
Hanya anak-anak tangga
Kamar mandi, meja makan, serta dunia tanpa batas di internet
Lalu siaran sepakbola di televisi
Sepi yang hening, sebelum semua berubah Ketika anakku datang, membongkar mainan, memencet tombol-tombol di laptop
Menggaruk punggungnya
Ya, kumandikan ia, bersama guyuran sepi
Kusuapi ia, tentu dengan indomie, makanan yang entah mengapa sering mengikat kami berdua Sepi yang hilang, bersama cerita bunda
Tentang anak-anak kurus dan tirus yang ditemui siang tadi
Di pedalaman sana, dua jam perjalanan dari sini Bunda tafakur dengan ceritanya
Tentang orang-orang yang menderita
Anak-anak yang lapar ditinggal ibunya
Bersama sang ayah hanya berteman sisa makanan tetangga
Buruh tani yang bekerja keras di musim paceklikKetika semua harga naik untuk benih-benih padi dan kedelai Sepi itu lenyap, bersama derita orang-orang
Di kampungku, nun di pantai barat Sumatera, tabut-tabut dibuang ke laut
Kisah keluarga Ali bin Abi Thalib yang mati di Padang Karbala
Dihantam sepi gurun pasir tandus, dibuang menelusuri hening samudera Hindia Ya, aku tafakur, bersama orang-orang yang menderita itu
Nyawa-nyawa yang hilang sia-sia
Dendam kesumat turun temurun Sungguh, aku di sini, terlalu dipenuhi dengan cinta tak bertepi
Dari hati yang suci Selamat malam… Jakarta, 18/01/2008
Saya terima kasih sekali atas undangan ini. Walaupun saya tidak terlalu lama kenal Indra Jaya Piliang, Saya sangat respek dari membaca tulisan-tulisannya. Dan terlihat betul bahwa beliau adalah seorang tokoh muda. Justru kalau tida ...
Terima kasih. Pada dasarnya Saya kenal Indra ini 15 tahun yang lalu. Jadi kebetulan waktu itu saya Ketua Senat Mahasiswa UI dan kemudian Beliau ini masuk dalam seksi kepengurusan.Sejak pertama saya kenal yang namanya Indra itu memang tukang kritik, tukang ribut, apapun dipertanyakan. ...