Tafakur

Minggu, 20 Januari 2008

Seharian, aku tafakur dalam sepi

Mencekam, mencengkram, membuat sakit pada punggung

Sepi yang datang berhari-hari dan memuncak hari ini

Sepi yang menjadi sahabat setia  Kulamur mukaku dengan kencur doa

Kukirim ia ke langit-langit kamarKulantunkan dalam setiap ketukan palu dari tukang-tukang yang berkeringat

Di atap rumah  Aku seperti balon itu

Yang dibelikan bunda buat anakku di Ancol

Sendirian ia di langit-langit kamar

Tanpa tali

Hanya mencari jalan untuk keluar menembus angkasa  Tidak ada jalan yang kutapak hari ini

Seperti kemaren dan kemaren, besok dan besok

Hanya anak-anak tangga

Kamar mandi, meja makan, serta dunia tanpa batas di internet

Lalu siaran sepakbola di televisi 

Sepi yang hening, sebelum semua berubah Ketika anakku datang, membongkar mainan, memencet tombol-tombol di laptop

Menggaruk punggungnya

Ya, kumandikan ia, bersama guyuran sepi

Kusuapi ia, tentu dengan indomie, makanan yang entah mengapa sering mengikat kami berdua Sepi yang hilang, bersama cerita bunda

Tentang anak-anak kurus dan tirus yang ditemui siang tadi

Di pedalaman sana, dua jam perjalanan dari sini  Bunda tafakur dengan ceritanya

Tentang orang-orang yang menderita

Anak-anak yang lapar ditinggal ibunya

Bersama sang ayah hanya berteman sisa makanan tetangga

Buruh tani yang bekerja keras di musim paceklikKetika semua harga naik untuk benih-benih padi dan kedelai Sepi itu lenyap, bersama derita orang-orang

Di kampungku, nun di pantai barat Sumatera, tabut-tabut dibuang ke laut

Kisah keluarga Ali bin Abi Thalib yang mati di Padang Karbala

Dihantam sepi gurun pasir tandus, dibuang menelusuri hening samudera Hindia  Ya, aku tafakur, bersama orang-orang yang menderita itu

Nyawa-nyawa yang hilang sia-sia

Dendam kesumat turun temurun Sungguh, aku di sini, terlalu dipenuhi dengan cinta tak bertepi

Dari hati yang suci  Selamat malam… Jakarta, 18/01/2008 

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com