Cerita Lembah pada Desember

Selasa, 1 Januari 2008

Cerita Lembah pada Desember Lembah itu basah, ditiup angin Desember.Ia datang, menyapa angin, mengundang hujan.Bukit-bukit yang mengelilingi kadang terang, kadang membayang.Malam hanya menyediakan kerlap-kerlip lampu. 

Pada kunang-kunang ia titipkan pesan:“Katakan pada bintang di langit sana, disini juga banyak cahaya berpendar.”  Sering ia berharap, para malaekat membawa pesan itu. Dan bidadari menjawab lewat mimpi.  

Lembah itu dingin, membawa gigil. Para petani meneruka lahan, mengucap syukur. Lalat-lalat juga beterbangan, sembari mengatupkan kedua kaki depan, bersujud pada setiap sisa makanan yang tersentuh.  Ya, kita adalah anak-anak alam. Kita akan menderita bila mengutuk setiap pertemuan.  

Ada pertemuan pada Desember itu, tetapi juga ada penggal perpisahan didesak tahun. Namun, bukankah juga ada Januari yang meneruskan? Serta bulan-bulan lain, Maret, Juli.. sampai Desember berikutnya? “Telah kuselimuti kau, Desember, dengan hangat tubuhku. Telah juga kulingkari dengan rintik-rintik hujan. Pohon-pohon yang tumbuh tidak akan meranggas. Percayalah. Aku ada karena ia ada dan kita ada menjadi sempurna,” berkata Lembah. 

Desember tidak sempat berhenti. Ia hanya menunggu, setahun lagi. Ia berikan kesetiaan kepada waktu. Ia abadi, bersama waktu.   Hujan datang, setelah letusan mercon terakhir, pada malam tahun baru ini. 1 Januari 2008

Puisi Sebelumnya
© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com