Buku Greget Tuanku Rao

25 Desember 2007 40 komentar »

Dua hari ini aku membaca “Greget Tuanko Rao”, karangan Basyral Hamidy Harahap (BHH) terbitan Komunitas Bambu, Jakarta, September 2007. Dua bulan lalu, aku sempat diundang ke UI menghadiri launching buku ini. Sayangnya, aku tidak bisa hadir, karena dijadwalkan bertemu dengan Muladi, Gubernur Lemhannas, di kantornya, pada jam yang sama. Bukan aku lebih mementingkan Muladi juga, tetapi sejak awal aku menyepakati “model tak pasti” ketemu pejabat seperti dia. Jadwal ketemu Muladi juga dalam rangka penyusunan modul pendidikan di Lemhannas. Pada Gatra bidang politik, aku terlibat bersama Kusnanto Anggoro, Didin S Damanhuri, lalu belakangan Saldi Isra dan Denny Indrayana.  

Sejak awal aku memang tidak terlalu bergairah membaca buku ini. Apalagi kontroversinya juga mencuat di Majalah Tempo, yakni gugatan atas kepahlawanan Tuanku Imam Bonjol. Bagiku, sejak mengenali studi sejarah, Imam Bonjol memang hanya sekadar tokoh yang membenci sabung ayam, judi dan perilaku “amoral” lain untuk ukuran zamannya. Sama saja dengan yang dilakukan oleh Habib Rizieq dengan FPI-nya menyerang cafe-cafe atau tempat-tempat jualan minuman keras di zaman ini. Imam Bonjol adalah Habib Rizieq pada zamannya.   Tetapi, demi sebuah objektifitas, aku bisa katakan bahwa buku ini memang menarik dan penuh greget. Yang paling kusuka adalah petatah-petitih berbahasa Batak. Akar bahasanya sama dengan lingua franca Melayu. Kalau dipelajari, bisa dipahami, walau lebih banyak yang tidak kumengerti. Untung BHH menerjemahkan kedalam bahasa Indonesia.  Baca ini: “…tongkat di tempat yang licin, pelita di tempat yang gelap, si penambah yang kurang, si pembuang yang berlebih, pohon dadap yang tak bisa didekap..”  

Itu julukan untuk Bandaro, nenek moyang BHH. Ia memiliki pedang, dua bilah keris, lalu sebutir pusia ni tauru, insek semut tak bersayap. Ia pahlawan yang melawan pasukan Tuanku Tambusai, panglima perang pasukan Paderi.  Buku ini, makin diikuti, lebih mirip kisah silsilah keluarga dari BHH sendiri. Sejenis tambo di tanah Batak, khususnya yang berbatasan langsung dengan Sumatera Barat. Maka, emosi tampil disini. Buku ini melengkapi, atau lebih tepat mengkritisi, apa yang ditulis oleh Mangaraja Onggang Parlindungan (MOP). MOP menulis buku berjudul Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 1816-1833. gara-gara buku itu, MOP berpolemik dengan Buya HAMKA.  Buku melahirkan buku. Buku MOP yang menjadi sumber inspirasi penulisan buku BHH ini. Dari sini, aku menyenangi orang tua ini, BHH. Begitu juga aku menyenangi MOP dan hubungannya dengan Buya HAMKA. Boleh dikatakan mereka saling menghormati. Berpolemik sekeras apapun, mereka tetap berteman, saling mengimami kalau sholat. Ini yang menjadi soal dalam dunia politik sekarang. Kalau anda tidak suka seseorang, entah karena alasan pribadi atau ideologi, anda akan tidak mau lagi bertegur sapa. Lihat saja bagaimana Megawati dan Yudhoyono tidak pernah bisa bertemu sejak tahun 2004, hanya karena yang satu kalah, yang satu menang, dalam pemilu. Sungguh, satu kekerdilan jiwa yang tak patut. Bagaimana bisa mereka memimpin bangsa dan negara sebesar ini, dengan ego yang sebesar gunung itu?  Kelemahan terbesar buku ini adalah dari sumber-sumber yang digunakan, nyaris tanpa kritik. BHH hanya memindah-mindahkan apa yang ditulis orang lain, terutama sumber-sumber Belanda, lantas memintalnya dalam benang pikirannya sendiri.

Aku tidak bisa mengerti, bagaimana keseluruhan dialog bisa lahir, dalam peristiwa yang dia ceritakan, seolah dia hadir di dalam peristiwa itu? Ia mengutip Willer yang dikatakan mengenali langsung Datu Bange dan Raja Hurlang. Apa benar Willer melihat langsung seluruh peristiwa yang dia catat? Tulisan Willer penuh kebencian kepada Tuanku Tambusai. Ini tentu masuk akal, karena Belanda berperang melawan Paderi. Karena pihak yang diperangi Tuanku Tambusai adalah pihak Datu Bange, sementara secara psikologis Datu Bange dan roombongannya adalah pihak yang dibela BHH, maka sumber-sumber Belanda yang menistakan Tuanku Tambusai ditelannya juga mentah-mentah.  Yang juga kuheran adalah jumlah pihak yang dibunuh oleh Tuanku Tambusai, jumlah rumah yang dibakar, jumlah perempuan yang diperkosa, dan lain-lain. Kalau itu mencapai ribuan rumah atau ribuan orang, apakah populasi penduduk waktu itu, awal abad ke-19, sudah sedemikian banyaknya di kampung-kampung terpencil itu? Padahal, di halaman 63, BHH menulis jumlah rumah tangga di 11 distrik, dari sumber Willer lagi, yakni hanya 805 di Padang Lawas (distrik Batang Onang, Portibi, Batang Pane dan Kota Pinang), 1.235 di Dolok (Bukit, Simanabun, Simase dan Tambiski) dan 620 di Barumun (Aeknabara, Asahatan dan Hayuara). Bagaimana bisa ribuan rumah hangus di daerah luas yang dihuni oleh 2.680 rumah tangga? Sungguh, aku tidak bisa membayangkan model bumi hangus seperti apa yang dilakukan dan holocaust seperti apa yang terjadi.  

BHH juga rajin menggunakan istilah-istilah abad ke-20, bahkan abad ke-21 ini. Misalnya, holocaust itu sendiri. Bahkan dia yang juga menonton film 300, yakni kisah bangsa Sparta yang menghadapi balatentara dari Timur, juga memasukkan kisah Ja Sobob sama dengan kisah Ephialtes. Orang yang cacat fisik, hingga berkhianat kepada bangsanya. Ia juga mengutip karya-karya orang lain, termasuk psikolog Austria, untuk membenarkan “analisa”-nya. Tidak jarang kita temukan lembaran-lembaran Wikipedia dalam buku ini.  Untuk memperlihatkan keperkasaan Datu Bange, BHH malah menyamakan dengan Geronimo dan Winnetou, dua “pahlawan” Indian, satu historis, satu rekaan Karl May. “Trio Datu Bange, Geronimo dan Winnetou adalah pejuang hak-hak asasi manusia yang universal” (hal 83), tulis BHH. Padahal, BHH menyadari bahwa Winnetou hanyalah tokoh rekaan Karl May yang juga tidak datang ke Amerika ketika menulis karya-karya petualangannya itu. Karl May hanya bermodalkan peta ketika menulis kisah-kisahnya.  Jadi, aku sulit mengkategorikan buku ini sebagai karya sejarah. Ini hanyalah buku yang berisikan klipingan dengan cara merobek-robek buku-buku lain atau sumber-sumber wikipedia atau ingatan BHH tentang sesuatu, lantas ditempel-tempelkan menjadi sebuah buku. Greget Tuanko Rao hanya buku gombal alias buku yang berisi tempelan-tempelan buku-buku lain dan dijahit sembarangan.  Tetapi, apapun itu, buku ini memang bikin greget. Nilai terpenting buku ini memang pada kekerasan kepribadian orang-orang Batak Mandailing. BHH menunjukkan bagian-bagian yang justru menjadi inti dari kebudayaan, atau katakanlah, peradaban orang-orang Batak. Kalau BHH menggali dari sumur ini, dengan cara menelusuri sumber-sumber dari orang-orang Batak sendiri, saya yakin buku ini akan sangat bermutu. Karena tidak seperti itu, buku ini lebih mewakili sebuah kisah “terima kasih” atas Belanda dan sumber-sumber Belanda yang sukses menerapkan taktik dan strategi devide et impera selama berabad-abad, ketika menguasai Nusantara yang besar dan kaya ini.  

Apa karena itu juga, maka di Sumatera Utara sekarang muncul lebih dari 200 calon gubernur, jelang pilkada 2008? Sebagaimana yang kulihat tanggal 16-17 Desember lalu ketika singgah dan bermalam di Medan? Dengan 200 calon, berarti minimal ada 200 buku yang saling tikam, saling bunuh, saling perkosa. Ketika BHH menulis berkali-kali tentang perkosaan yang dilakukan oleh pasukan Tuanku Tambusai – yang juga terdiri dari orang-orang Batak –, maka buku ini turut memperkosa sejarah itu sendiri. Wallahu ‘Alam…

40 Komentar

  1. Nurul Wahyu Sanjaya says:
    Mengapa masih ada sentimen negatif terhadap tokoh-tokoh Perang Paderi yang juga merupakan pimpinan Negara Darul Islam Minangkabau, yang didirikan Tuanku Nan Ranceh yang berasal dari Kamang, Agam, yang idenya berasal dari Haji Sumanik, Haji Piobang dan Haji Miskin, yang merupakan utusan dari pendiri Kerajaan Arab Saudi, Raja Saud bin Abdul Wahhab. Abdul Wahhab merupakan pendiri mazhab Wahhabi yang pecahan dari mazhab Hambali. Sementara itu, Tuanku Imam Bonjol adalah kepala negara pengganti Tuanku Nan Ranceh yang berhasil ditangkap Belanda, dan Tuanku Tambusai adalah pengganti Tuanku Imam Bonjol yang menyerahkan diri kepada Belanda dan dibuang ke Menado (salah satu turunannya adalah OC Kaligis, pengacara nasional), karena salah satu anaknya yang BHH tulis dalam Greget Tuanku Rao adalah dibunuh Tuanku Tambusai karena pindah agama yang disebut Tuanku Imam Bonjol II, yang sempat dijadikan putra mahkota. Sentimen terhadap pemimpin Perang Paderi memang sengaja disebarkan Belanda dengan membentuk pasukan-pasukan Paderi palsu layaknya devide et impera, seperti yang dilakukan Westerling yang memakai jubah DI/TII di Jawa Barat dan Sulawesi, dengan melakukan pembantaian massal. Sementara itu, orang-orang Batak baru berkembang di wilayah Mandahiling (Tapanuli Selatan) sekitar 200 tahun yang lalu, semenjak ada pembantaian massal Belanda terhadap orang-orang Islam di sekitar Danau Toba, dalam rangka mewujudkan rencana Raffless untuk membentuk suku Kristen di Sumatera. Dan hasilnya sentimen kebencian terhadap pimpinan Paderi itu sampai sekarang terus dilancarkan orang-orang Batak. Apalagi sejak peristiwa Pekuburan Mandailing di Sei Mati, Medan, di awal abad xx, orang Batak-batak mulai memakai marga-marga di Mandahiling dalam ikatan persaudaraan walau pun beragama Islam, dalam rangka pem-Batak-an terhadap orang-orang Minang. Kebetulan ibu saya adalah keturunan Tuanku Tambusai, yaitu keturunan H. Babullah Batubara di Kotanopan (sebagian keturunannya ada di Malaysia) dan ayah saya Sutan Mangalobihi yang keturunan dari Bonjol. Dan ingat, semua Kepala Nagari dan Kuria di West Kust Sumatra adalah pimpinan Paderi yang tak mungkin membunuh rakyatnya sendiri, karena yang dilawan adalah Belanda, dan Raja Pagaruyung dukungan Belanda, karena Raja Pagaruyung yang sah dijatuhkan Baso Nan Ampek Balai karena siasat Belanda dalam memecah belah Sumatera, yang merupakan wilayah terakhir dari Kepulauan Nusantara yang belum berhasil mereka kuasai.
  2. jefri says:
    hahah.. memang Agama bisa merentangkan hubungan..
    buktinya orang Batak mandailing yang beragama islam pasti merasa bahwa mereka bukan batak. sementara saya punya beberapa teman batak mandailing yang beragama kristen mereka mengakui mereka asli batak, dan mereka memiliki tugu di TOBA. lihat saja banyak tugu HASIBUAN ada di TOBA kok.. dasar sejarah yg plin plan.
    dan BAgi SAYA ISLAM itu munafik..
    Tak satupun AGAMA yang mengajarkan kebencian. kalau anda mau bukti, Saya bisa bukti kan.. kalau di Alquran jelas2 tertulis Jangan dekat dengan orang Yahudi dan Israni. Emang Yahudi Dan Israni itu KAFIR??
    kita lihat saja, tak setu negarapun yang bisa melawan ISRAEL.
    karna Itu adalah tanah perjanjian ALLAH. I HATE ISLAM..
  3. munir says:
    saya jdi bingun, saya jawa, tpi sejka kecil saya tau nama t rao, t tambusia, panglima biru dll
  4. Palti says:
    Saya orang Angkola. Sewaktu saya kecil, ayah saya kerap kali berkata kepada saya tentang Imam Bonjol dan kawan2. Cita-cita perjuangan mereka tidak sama dengan perjuangan kemerdekaan 45 yaitu yg membentuk NKRI... seandainya mereka hidup sekarang mereka pasti angkat senjata memerangi Pemerintah RI untuk mendirikan Negara Islam seperti di Afghanistan... Ayah saya tertawa ketika saya membaca buku pelajaran sejara Indonesia yg mengatakan Imam Bonjol dan Tambusai adalah Pahlawan Nasional.
    Sindirnya, Pahlawan Nasional dari Hongkong...
  5. erwin r says:
    Saya sependapat dengan teman-teman yang mengatakan bahwa dahulu kita diadu domba oleh Belanda dikarenakan Nasionalisme sudah mulai tumbuh sejak belanda melakukan invasi ke Sumbar khususnya Rao yang merupakan perbatasan SUMBAR dan SUMUT ( ada benteng Belanda) , Perang Paderi yang diceritakan adalah karena perbedaan pandangan tentang masalah adat dan Agama Islam saat itu , jadi tidak ada hubungan dengan pengertian Batak (non muslim) , keterkaitannya dikarenakan selama perjuangan menegakkan Islam dan melawan Belanda dan gugur di Air Bangis karena Tuanko Rao berada sangat dekat dengan Perbatasan jadi kalau cerita dibumbui sedikit kan jadi mantep. Gitu loo
  6. Azhar Riyadi Sagala says:
    tiada kata bosan memang ketika kita membahas perang paderi, perang saudara yang telah membuat kita semakin lemah karena terpecah belah yang kemudian ini dimanfaatkan oleh penjajah Belanda. tetapi harus kita akui bahwa kisah ini menjadikan sisi kelam kehadiran islam di tanah batak, saya kurang sepakat islam masuk karena pengaruh perang paderi, jauh sebelum paderi datang islam telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat angkola dan mandailing. tetapi kemudian karena kekerasan yang ditonjolkan tentara paderi terhadap orang-orang batak di angkola dan mandailing sehingga memberikan satu kesan pembeda antara diantara sub-etnis yang ada di tapanuli.. kedepannya memang diharapkan suatu penelusuran sejarah yang lebih valid dan objektif tanpa kita harus saling menyalahkan lagi.
  7. Huriazqo says:
    Mohon kabari ya, dimana saya bisa mendapatkan buku Hamka yg berisi sanggapan buku MOP..
  8. Iwan Kurniawan says:
    Dalam buku ini dijelaskan masuknya agama Islam ke Indonesia pada abad ke7 di Jambi bukan abad ke11 di Samudra Pasai, dari buku sejarah SMP sampai ke jenjang atasnya selalu menerangkan demikian.. Mengapa demikian...???
  9. wsanjaya says:
    sebetulnya mandailing bukanlah batak, dan BHH sebenarnya dalam kebingungan dalam menentukan status dirinya, karena di dalam bukunya GTR, dia menulis di tengah-tengah kegalauan menentukan jati diri, karena sebelumnya dia telah dipengaruhi orang-orang batak untuk menjadi batak, karena pada masa orde baru, pengaruh batak sangat kuat dalam pemerintahan. tapi di dalam bukunya dia juga menunjukkan jati dirinya yang lain sebagai orang mandailing dan juga sebagai orang minang (kalau dibaca secara mendetail), karena asal-usul perang paderi berasal dari daerah mandailing juga, yaitu pasaman (Kuria Lubuksikaping), dimana Bonjol ada di dalamnya. Jelaslah yang terjadi adalah perang saudara sesama muslim yang berbeda mazhab. Orang Pasaman seperti orang minang lainnya, kalau memakai suku menjadi orang Minangkabau dan bila memakai nasab (marga) menjadi orang mandailing, begitu juga orang mandailing. sejarah pertikaian atau perang memang banyak disertai banyak hal-hal yang tak terjangkau pimpinannya, terlebih pada masa itu orang-orang muslim dalam pemahaman agamanya masih belum dalam, masih terlibat maksiat seperti judi, mabuk dan penjualan manusia, jadi bila terjadi saling menista antara kedua belah pihak yang berperang bisa saja terjadi. saya tak menista bahwa yang terzolimi dalam perang paderi juga bukan manusia yang suci, cuma biarkan keturunannya sendiri yang mengakui kejahatan nenekmoyangnya sendiri. Boleh ditambahkan Belanda juga mengirimkan tentara-tentara pribumi dalam melawan tentara paderi yang tentunya juga tak bisa dibedakan masyarakat antara kaum paderi dan tentara belanda, yang juga sering menyaru sebagai tentara paderi (sebagian mereka juga adalah pembelot dari tentara paderi). Jadi perang saudara yang terjadi di ranah Minang termasuk mandailing adalah perang saudara. Ingat Pagaruyung telah mengakui perpecahan yang terjadi sejak 200 tahun lalu dari antara orang-orang seketurunan yang diwakili Anwar Nasution ke Pagaruyung beberapa waktu lalu, akibat dipecatnya raja yang sah karena soal yang tak dilarang dalam agama Islam, namun terhina dalam adat. mudah-mudahan kita bisa saling membuka diri dari akar persoalan sebenarnya.
  10. almandyli says:
    jauh
    sebelum paderi datang ke mandailing.keturunanku sudah islam duluan.apa manfaat paderi kesana?mungkin adu cepat sama belanda.saya bangga dengan raja mandailing yang mau bahu membahu melawan panjajah lokal paderi.konon paderi berdarah mandailing menangis dan menyesali dan bergabung membela mandailing.tak perlu di sesali.sudah bagian sejarah.dendam menghasilkan dendam baru,ingat raja sm/batak.untuk mandailing, kita dijajah bukan masalah agama tapi dendam politik dibumbui mashab yang menyalahkan mashab lain.sekali lagi di mandailing sudah ada islam sejak abad 17,jauh sebelum paderi dengan bukti adanya makam waliyulloh di pagaran dan batang natal.jadi mandailing bukan proses islamisasi oleh paderi.luka oleh saudaraku sanggup memakan dagingku tapi luka oleh tetanggaku hanya sanggup mengiris kulitku.demikian para panglima paderi berdarah mandailing,sakit memang.tapi lihat mereka menangis perbuatan mereka kelewat batas dan ahirnya ikut membantu mengusir penjajah lokal keluar dari mandailing godang dan benteng mandailing julu.pada akhirnya belanda lebih berbahaya.putra mandailing tak dendam kepada saudaranya yang paderi.konon mandailing lebih dekat hatinya ke minang daripada batak sendiri.makanya ada istilah 'MANDAILING BATAK APA BUKAN'lucu tapi nyata.mungkin agamalah persoalannya hingga ego dinafikan.bagi saya batak rumahku dan minang saudaraku.salam dari bayo lubis
  11. Pane says:
    Buku ini benar tapi yang sudah brlalu jangan mecabik cabik persatuan yang sudah lama kita bina. Kita harus mengakui bahw tulisan itu benar, karena kami di Tapanuli Utara para oarng tua menceritakan tentang porang pidari berbaju purih sampai di pelosok terpencil di Taput. Orang tua kami tak kenal itu penulis buku pak Parlindungan, tetapi orang tua bisa cerita pada anak anak waktu mau tidur. Boleh dibaca, yang jelak jangan ditiru. tks
  12. Ivan Taniputera says:
    Dengan hormat,

    Saya sedang menulis buku mengenai sejarah kerajaan2 Nusantara pascakeruntungan Majapahit. Apakah ada rekan2 di sini yang mempunyai informasi dan data sejarah kerajaan2 di Tanah Karo, Simalungun, Mandailing, dll. Adakah pula yang memiliki info kerajaan2 di Rokan, seperti Tambusai, Gunung Sahilan, dll. Marilah kita lestarikan sejarah bangsa kita.

    Salam,

    Ivan T.
  13. pambaco buku says:
    Assalamu'alaikum...disini ada yang pernah hadir dalam seminar nasional tuanku imam bonjol di kabupaten pasaman awal tahun 2009 kemaren...?

    disana jelas menurut sejarah siapa sebenarnya kaum paderi dan bagaimana sebenarnya buku BHH dan MOP...dan kalau ada yang mengambil referensi dari keduanya alangkah naifnya kalau menjadikan keduanya sebagai landasan sejarah karena MOP sendiri mengakui bahawa bukunya itu "bukan buku sejarah" hanya sekedar bacaan buat para anaknya menjelang berbuka puasa agar menumbuhkan daya kritis anaknya"..jadi buku MOP bukan buku sejarah yang dapat dijadikan landasan teoritis sejarah...


    satu hal bukti yang diungkapkan doktor bidang sejarah waktu itu bahwa ternyata sebelum kaum padri memasuki ranah sumatera utara nama batak nyaris "tidak dikenal" nama batak masyhur di sumatera utara paska belanda masuk disana...pertanyaannya jangan2 ada upaya distorsi sejarah oleh belanda dengan penamaan batak tsb? (karena batak diidentikkan dengan kristen)
  14. ontalah says:
    Apa untung oleh kalian yang memperdebatkan masalah Tuanku Imam Bonjol, Tuangku Rao, yang berperang kan Batak sama Batak, tapi yang beruntung Batak yg telah menganut Agama Islam sekarang. Dan mereka yang Islam sekarang, tabu dia menyebut orang Batak, coba tanya sama orang Melayu Islam, ya kan ?. Awas pasukan asing yg bermain disini. kekuatan kita adalah ditanggan ALLAH Swt.(camkan itu)
  15. Parende says:
    Perang padri telah dijadikan muatan politis untuk menyerang Tuanku Imam Bonjol, Tambusai dan Rao. Bahkan oleh generasi sekarang.

    1. Para pengagum Belanda mengatakan bahwa ini peristiwa saat mengi-islaman Batak dengan kekerasa. Islam sudah masuk ke tanah Batak utara sejak abad ke 8. Dan saat orang Batak Padri-pun datang ke Sibiring-borong, orang Batak yang Islam-pun ikut melawan. Ini perang antara puritan dengan anti-puritanisme.

    2. Perang antara suku dan kampaung adalah sering terjadi saat itu.

    3. Orang Minang tak pernah menyerbu Batak. Perang padri di tanah Batak adalah antara orang Batak dengan orang Batak sendiri. Bunuh membunuh antara orang Batak adalah abgian sejarah. Bahkan belanda menggunakan orang Batak menyerbu orang Batak lain yang anti penjajah. Coba catat ada berapa ahli sejarah Batak yang anti-Batak dan Sisingamangaraja yang punya marga.

    4. Muara dari ini semua adalah "devide et impera" atau perang psikologis yang dilakukan oleh orang Belanda dan cucu-cucu korbannya masih ada yang hidup.

    5. Pendeta Burton dan Ward yang tak berhasil mengkristenkan Mandailing juga ikut serta dalam mengadu domba orang Batak sehingga Batak Padri ikut menyerbu ke Batak lain (animis dan Islam). Ini tak pernah dibahas tuntas.

    6. Bahkan militer Belanda saat itu, ikut menegor Burton dan Ward, karena takut Padri akan jadi kuat. Dan semua orang Batak animis dan Islam jadi Padri.

    7. Burton dan Ward kemudian dipecat dan Belanda kemudian mendukung Nomensen yang kemudian berhasil dan dikultuskan menjadi "rasul Batak"

    8. Batak Padri tidak meng-Islamkan Batak yang animis dan sebagain sudah ISlam itu. Buktinya mereka mundur akibat epidemik.

    9. Karena epidemik inilah, ditambah ratusan peperangan antara orang Batak dengan penjajah Belanda yang mengakibatkan Kematian SM Raja dan penghianatan raja-raja Batak (seperti Raja Pontas) yang membuat tanah Batak dijajah. Padahal sudah dibantu dengan resimen pasukan Aceh, tapi sia-sia.

    10. Sejarah Batak tak hanya di Siborong-borong, coba lihat tingkah laku Belanda di Sibolga dan Barus, dan bagaimana intel mereka sering berhubungan dengan orang Padri Batak, saat itu.

    11. Perang padri di tanah Batak, adalah perang antara orang Batak sendiri, dicampuri aroma agama dengan motif, dendam keluarga. Dendam keluarga ini masih eksis sampai sekarang
  16. olan syah munthe says:
    MOP menulis buku mengakui kesadisan kakek moyangnya dan meluruskan atau membela Tiga Tuanku (Imam bonjol,Rao,Tambusai,BHH menulis buku membela kakek moyangnya. Kedua buku mereka sebagian besar isinya adalah kisah sejarah beberapa marga. Khusus untuk IJ Piliang yg menyamakan Imam Bonjol sama dengan FFI ini agak kurang cocoklah. Apakah karena IJP benci sama FFI atau Imam Bonjol sehingga beliau menyamakannya atau bagaimana ini juga jadi sebuah cara pandang. Karena Imam Bonjol adalah orang minangkabau IJP juga. Sehingga sama dgn BHH karena kakek moyangnya dibantai paderi sehingga sumber belandapun sebagai penjajah yg pasti menyudutkan indonesia ditelannya mentah2 demi pembelaan.
  17. adrian says:
    sepertinya sejarah tuanku rao dan ismail memiliki kesamaan fersi peranjian lama kitab kejadian tentang abram sebelum menjadi abraham. mereka adalah pembawa garis keturunan yang keras akibat penentangan kultur. namun mereka adalah sebuah kehendak yang di ciptakan sebagai tandingan. tuanku rao tuanku rao menjadi tokoh yang dimasyurkan dari garisnya. tangannyapun memang sudah di ciptakan seperti itu, jadi tidak perlu malu. ingat, dia di ciptakan sebagai tandingan yang berjuang dengan tangan
  18. Humala says:
    sudahlah orang minang sedang merasa diserang harga dirinya...mereka sedang membentuk karakter...Tuanku Imam Bonjol sudah semacam "nabi" buat mereka, pantang diceritakan yang buruk2nya,hehehe
  19. taufik says:
    Padri, Tuanku Rao, Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai dll.. tolong jgn liat pelanggaran ham yang ada dalam buku tersebut. tapi coba rasakan niat mulia mereka diawal.... Ingin Menyatukan SUMATERA dan Nusantra untuk mencegah penjajah masuk ke nusantara. karena mereka belajar dari arab bagaimana tentara turky bisa keluar dari arab.

    Tolong lah jangan sempit menilai buku itu. yang bersalah dalam buku MOP itu sudah jelas, bahwa ada seorang Tuanku yang melakukan perbuatan hina tersebut. Tuanku Tambusai, Tuanku Rao dll membenci ulah tuanku yang melakukan perbuatan hina itu.

    Jadi tetaplah bersatu... Kalo bang Piliang menyatakan Padri sama aja dengan dengan yang sekarang yang benci pada sabung ayam.... itu mungkin salah, apakah zaman dulu belanda suka sabung ayam juga..?
  20. harajaon says:
    perang paderi bukan tak ada gunanya, tapi tidak layak untuk dibanggakan,Tuanku2 yang dijadikan pahlawan itu, apa motifnya menyerang Tanah Batak? emang ada belanda disitu?
  21. Ronald Rulindo says:
    Sejarah memang penting. Tapi pelurusan sejarah sebaiknya harus berhati-hati dan jangan sampai malah memperpanjang permasalahan dan memuat masalah-masalah baru. Pada dasarnya yang mesti di kecam adalah perang. Tidak hanya perang paderi, perang-perang lain pun, baik di Indonesia, Amerika, Irak, Afghanistan, semua melanggar HAM dan bukan perang namanya kalau tidak melanggar HAM. Lihat lah secara objekti. Saya curiga isu ini sengaja di munculkan kembali oleh orang-orang yang tidak senang dengan persatuan Indonesia. Cukup lah segala pembodohan, jangan timbulkan konflik baru terutama dengan berlandaskan agama. Sudah saat nya kita benar-benar tinggal landas bersaing dengan raksasa-raksana ekonomi dunia dari pada berurusan dengan hal hal sepele yang hanya akan melemahkan bangsa kita sendiri.
  22. Dalian says:
    ya ni buku aga2 berantakan kalo dari sisi ilmiah, namun pesan tersampaikan menurut saya, bahwa Perang Paderi patut dipertanyakan manfaatnya...
    beberapa orang mengatakan buku ini subjektip, buat saya tidak masalah, buku sejarah ga pernah obyektip, selalu subyektip...kalo orang minang yang bikin buku mengenai perang paderi, pasti akan ditulis yang bagus2, penyerbuan ke Tanah Batak dipandang perlu, pembakaran , penindasan pasti ditutupin dan ribuan bualan lainnya dibuat supaya perang Paderi itu hebat...buat orang Minang coba tulislah buku untuk menanggapi buku Pak Harahap ini, buat Pak SUryadi yang lama di Belanda cobalah tulis Buku anda sendiri, jangan cumen komentar sana sini tentang paderi
  23. Suryadi says:
    Kekuatan sebuah buku ilmiah adalah karena teori dan pendekatan, yang akan menjadi lem perekat untuk menarik benang merah dari bab awal sampai bab akhir. Dilihat dari sudut itu, buku ini betul-betul "berantakan". Data buku ini cukup lumayan, tapi bahasanya yang subjektif membuyarkan horizon harapan pembaca tentang keobjektifan dan keilmiahannya. Jika buku ini dimaksudkan sebagai buku ilmiah, apa pula relevansinya Basyral Hamidi Harahap memasukkan subbab "Balada Willem Iskander" (hlm. 241-49) dalam Bab X dimana ia menyuguhkan puisi-puisi bikinannya sendiri, sebagai apresiasi terhadap Willem Iskander. Subbab itu mendistorsi wacana ilmiah yang ingin dibangunnya dalam buku ini. Sayang memang....
  24. ipoel says:
    saya ga nyangka mas bg indra j pilliang sebodoh itu dengan mengkaitkan 200 calon gubernur dan dramatisasinya dengan sejarah ini...

    anda da buat malu kita para ilmuan politik.sukur anda telah menjadi praktisi politik dari golkar.

    buat yang di tanah batak, cerita dari nenek moyang sebaiknya di cari kebenarannya dengan ilmu penegtahuan bukan dengan kebencian dan dugaan...tolonglah yauda jelaslah harus terima kasih ma Nomensen karena gara-gara dia ente beragama kristen.

    anda-anda juga harus baca buku asli karangan mo parlindungan yang non eyd ntu, bhsa yang campur2 ada belanda juga inggrisnya.

    thanks
  25. dido says:
    ini sebagai komoditas politik ataukah sebagai sarana penyatuan negeri batak yang terancam mandailing menganggap diri mereka bukan batak
  26. oki says:
    tidaklah mungkin ada cerita negative kaum PADRI yg tumbuh di masyarakat BATAK ( tapsel) , kalo PADRI itu sendiri masuk membawa DAMAI,KABAR BAIK, dan toh mereka sesama ISLAM, yg satu SYIAH dan satunya HAMBALI, untuk apa menjelekan ISLAM sendiri ??, tapi itulah FAKTA dan sejarah kita tidak perlu MALU mengakuinya ... coba bedakan dengan KRISTEN masuk ke
    TANAH BATAK,khusunya TOBA, ceritanya akan lain, mereka bersyukur NOMENSEN masuk ke TANAH BATAK.
  27. Adek Satim says:
    Saya sdh kirim email (pesan buku) lewat alamt itu, tp belum ada balesan ya..adek
  28. indrapiliang says:
    anda bisa pesan lewat Komunitas Bambu [komunitasbambupemasaran@yahoo.com]
  29. Indra says:
    masih. sy kira msh byk.
  30. Adek Satim says:
    Maaf, sedikit bertanya..
    Buku ini masih beredar lagi? ada teman saya yang lagi nyari2 ni buku (pambaca gila..) tp belum dapat2..Saya berencana memberi dia buku ini sebagai hadiah milad, beliau sudah seperti adik saya sendiri..klo boleh tau, kira2 saya masih bisa dapat buku ini dimana ya? mohon bantuannya..Terima kasih..Adek -bandung-
  31. Ferry says:
    Kalau anda semua pernah tinggal di Mandailing dan mendengar cerita turun temurun terutama dari keturunan raja2 Mandailing, akan mendengar cerita turun temurun mengenai kaum Paderi yg datang ke Mandailing. (keluarga raja2 ini lebih memelihara cerita seperti ini). Adalah benar menurut cerita tersebut tentang perilaku kaum Paderi yang tidak segan berperilaku bengis. Tulisan pada buku MOP dan BHH tentang masalah ini menguatkan cerita ini dgn adanya literatur baik itu dari Belanda atau lainnya.
    Buya Hamka menghindari topik tersebut? Buya juga manusia biasa yg sy yakin memiliki ego untuk menutupi masalah tsbt, mkn karena kurang bukti atau literatur.
  32. Hamonangan says:
    @ EDI NASUTION says:
    Satu hal yang membuat saya takjub dan juga gemas adalah “mitos” tentang leluhurku (seseorang bermarga Nasution) yang memperkosa ribuan atau ratusan perempuan (?) … sorry lupa .., (ini kerjaan satu malam atau tahunan !!!), wah hebat nian … fantastis … “pisangnya” terbuat dari besi … kali ya !!!
    ---->karena itulah,makanya cocok dengan marga dia NASAKTION karena pisangnya terbuat dari besi,mamkanya mampu memperkosa sodari-sodarinya sendiri di MAndailing, ga peduli dia korbannya itu mungkin satu marganya sendiri, ya itulah hebatnya panglima2 PADRI lebih hebat lagi ya si TUANKU LELO NASUTION itu, mungkin Al Amin Amir Nasution adalah keturunannya
  33. Reski says:
    aku orang rao. lahir dan besar di rao, tinggal di rao kabupaten pasaman sumatera barat.
    bacaan diatas membuka mataku lebar
    menyisakan penasaran yang teramat sangat
    kenapa tak pernah ada cerita ini beredar di kampung ku
    walaupun sekedar cerita dari orang-orang tua
    Benarkah?
  34. edi nasution says:
    Orang Mandailing itu terdiri dari berbagai macam suku-bangsa, bukan hanya satu suku/puak saja, yang datang ke Mandailing dari berbagai penjuru untuk kepentingan yang sama yaitu mencari "sere". Mereka bukan dipersatukan oleh "darah" melainkan oleh adat-istiadat, makanya istilah untuk adat Dalian Na Tolu juga mereka sebut adat Markoum-Sisolkot. Markoum, karena adanya hubungan perkawinan, dan Sisolkot karena sedarah/semarga. Pelajari adat-istiadat masing-masing secara teliti dan komprehensif agar paham, karena adat-istiadat atau kebudayaan itu dinamis, sesuai dengan kebutuhan hidup mereka. Datanglah ke Mandailing dan bergaul akrab dengan masyarakatnya, namun masing-masing menggunakan bahasanya, apa yang akan terjadi? Apa bisa? Baiknya ada coba !!!
  35. Partomuan says:
    Yang membuat saya takjub dan gemas adalah perang paderi digambarkan sebagai perang suci dan menjunjung keadilan wah ini isapan jempol atau dongeng 1001 malam???

    dan yang terakhir Mitos Si BAroar dari Pagaruyung???? ini adalah reka2an Orang Mandailing agar tidak disamakan dengan Batak, begitulah orang Mandailing "BAroar KONON dari Pagaruyung" diterima mentah-mentah sedangkan Mandailing adalah Batak ditolak mentah2 lalu berpikir aku tertawa terbahak bahak mengenai "Konon dari Pagaruyung" tersebut
  36. edi nasution says:
    Sepertinya banyak hal penting lain yang terlewatkan dalam buku-buku yang pernah ditulis orang mengenai hubungan orang Minang dan Mandailing. Antara lain: (1) bagaimana menjelaskan tentang adanya tambang-tambang emas tradisional orang Agam yang disebut "garabak ni agom" di wilayah Ulu Pungkut, Mandailing Julu; (2) Sibaroar, moyangnya marga Nasution, konon dari Pagaruyung; (3) tidak sedikit "orang Minang" yang masuk dalam sistem kekerabatan suatu marga seperti pada marga Nasution dengan ketentuan adat "manopot kahanggi"; (4) orang Mandailing selalu digolongkan sebagai "orang Batak" oleh penulis asing dan lokal tanpa melakukan penelitian mendalam dan komprehensif dimana mereka hanya saling kutip-mengutip semata: adat Mandailing bukan "Dalihan Na Tolu" tetapi "Dalihan Na Tolu" makanya anak-laki-laki di Mandailing dipanggil dengan nama sebutan "Lian" atau "Dali" adalah singkatan dari kata "Dalian" yang artinya "tumpuan (harapan, generasi penerus, patrilineal)", bukan "tungku" untuk memasak, maknanya bukan berdasarkan materialnya tetapi dari fungsinya(batu) itu; (5) dan lain-lain.

    Satu hal yang membuat saya takjub dan juga gemas adalah "mitos" tentang leluhurku (seseorang bermarga Nasution) yang memperkosa ribuan atau ratusan perempuan (?) ... sorry lupa .., (ini kerjaan satu malam atau tahunan !!!), wah hebat nian ... fantastis ... "pisangnya" terbuat dari besi ... kali ya !!!

    Terakhir, ... aku "mikim-mikim" saja lalu tertawa terbahak-bahak ... ha ... ha ... ha ... ha ... ha ...
  37. Partomuan says:
    MOP & BHH bukan tukang bual mereka memberikan sudut pandang yang berbeda mengenai perang padri...masalahnya banyak orang Indonesia belum terbiasa atau mengoreksi aib sendiri...banyak yang belum membaca buku keduanya sudah berani memberikan komentar...
    Perang Padri di Tanah Batak tidak memberikan manfaat apapun selain penderitaan, kemiskinan, trauma dan hancurnya tertib hukum ada Dalihan Na Tolu...itu fakta yang tidak bisa dibantah...Hamka menulis buku yang menyanggah detail2 Buku MOP tapi ia diam soal kekerasan yang dilakukan orang2 padri...
  38. Hendriyadi says:
    Kedua2nya,MOP dan BHH,hanyalah tukang bual,menulis cerita bohong, yang sasarannya untuk membangkitkan emosi masyarakat awam agar terjadi konflik horizontal,seperti di ambon dan poso,dan ini atas dasar hasutan asing dalam suatu konspirasi utuk menghancurkan islam.
  39. indrapiliang says:
    Horas,bung. Tentu, ada catatan harian Tuanku Imam Bonjol dalam buku ini, walau tdk ada yang berkaitan langsung dengan kisah yang dituang oleh BHH. Tapi saya sendiri belum mengetahui secara detil, apakah buku harian itu benar-benar ada atau minimal dijadikan sebagai sumber primer dalam penulisan sejarah oleh sejarawan professional yang belajar ilmu sejarah dengan baik.

    Gerakan Paderi banyak melanggar HAM dan melakukan kekerasan, memang benar. Yang namanya perang. Saya sendiri bilang, bahwa gerakan Paderi untuk ukuran zaman kini sama dengan apa yang dilakukan Habib Rizieq beberapa waktu lalu. Ia menggunakan kekerasan untuk menegakkan syari’at. Dulu sabung ayam dan judi, kini minuman keras, prostitusi, dllnya.

    Yang jelas, saya tetap memuji sikap penulis dalam menulis buku ini, walau terkesan penuh dengan anakronisme. Banyak yang tidak relevan dan pantas masuk catatan kaki, malah dimasukkan kedalam bagian cerita. Apa hubungannya Winnetou dengan Datu Bange? Atau film 300 yang baru diproduksi tahun 2007 lalu?

    Saya kira memang yang pantas menanggapi buku itu warga Batak sendiri. Makannya, buku itu saya serahkan ke Landung Simatupang, penyair Yogya, ketika ketemu tanggal 29 Desember lalu di Jl Parangtritis, Bantul, dalam sebuah acara bertajuk ”Pembangunan untuk Perdamaian”. Landung membaca beberapa puisi Lao Tze. Anaknya, Tommy Simatupang, membawakan beberapa lagu. Indah nian.
  40. Partomuan says:
    Jangan lupa kekerasan Padri yang dilakukan Tuanku Tambusai, tidak hanya diperoleh dari arsip Belanda mas! cerita2 penduduk setempat yang merasakan juga mendukung bahwa Padri melakukan kekerasan juga mendukung buku greget Tuanku Rao tersebut! kita tidak boleh menutup mata bahwa gerakan Padri walaupun melawan Belanda juga mempnuyai ekses kekerasan di Tanah Batak (ini sudah menjadi crita turun temurun) Sumber BElanda itu diperoleh dari penduduk setempat teman! bukan karangan devide et impera!, jangan terlalu antipati terhadap sumber Belanda! Hamka banyak menyanggah buku Tuanku RAo! tapi dia menghindari satu topik dari buku tersebut! kenapa karena Perang Padri faktanya memang banyak melakukan kekerasan dan pelanggaran HAM, btw BHH juga menggunakan sumber lokal yaitu catatan harian Tuanku Imam Bonjol sewaktu di pembuangan, Tuanku Imam Bonjol menyadari kekeliruan gerakan Padri !!!

Tinggalkan Komentar