Rekor Artikel dan Kolomku

Minggu, 23 Desember 2007
Aku pikir, ini rekor jumlah artikel/kolom yang kutulis sepanjang tahun 2007 ini, dibandingkan dengan tahun 2001-2006. Belum semuanya terkumpul, karena ada di bagian kliping perpustakaan CSIS. Sebagian kecil mungkin tidak berhasil dikliping, mengingat aku terkadang malas membawa koran-koran yang tidak menjadi langganan CSIS. Aku akan sangat senang kalau ada koran/majalah tempat aku menulis, lalu mengirimkan terbitannya ke kantorku  Walau kuliah dan dikejar dengan tugas-tugas kampus, tentu dengan pola sistem kebut semalam juga, aku tetap menulis. Sebagian tulisan ini memang berdasarkan unsur hard-news, alias isu yang berkembang sepanjang minggu. Ada juga yang berdasarkan keterlibatan dalam sejumlah aktivitas, misalnya aktivitas kaum muda – yang belakangan kutinggalkan dengan alasan-alasan yang tertuang dalam tulisan kritisku belakangan --, gerakan calon perseorangan, riset di CSIS tentang sistem proporsional terbuka, kesaksianku soal penghapusan electoral threshold di Mahkamah Konstitusi, serta persoalan ke-KPU-an.  

Tentu, sebagai bagian dari hard-news atau peristiwa politik, artikel atau kolom yang kutulis ini makin bersifat teknis. Terasa agak meninggalkan style yang kucoba bangun sendiri, yakni menggabungkan unsur sastra atau seni dengan politik, serta menyisipkan kalimat-kalimat ala kampung halamanku. Artikel dan kolom ini juga kusiapkan dalam waktu terburu, terutama kalau berdasarkan permintaan redaktur-redaktur opini media.   Ada artikel yang kutulis di dalam handphone Nokia 9300i yang dalam waktu setahun sudah uzur itu. Tentu kutulis di atas pesawat atau sedang menunggu take-off. Ada juga yang kutulis di atas pesawat dalam laptop yang kubawa. Belakangan, aku tidak bisa lagi menggunakan laptop di pesawat, sejak ada teguran tidak bisa menggunakan laptop. Padahal, pas aku naik pesawat bulan ini dari Ngurah Rai ke Jakarta, malam-malam, yakni pesawat Garuda dari Jepang, aku lihat ada beberapa penumpang yang menggunakan laptopnya.

Bahkan, ada yang kutulis di atas mobil, ketika bersama istri dan anak ke Bandung, lalu di perjalanan kuingat ada deadline pukul 06pm. Eh, laptopku error, karena gaptek. Untunglah artikel itu selesai kutulis, di ruang redaksi, setelah aku menghadiri acara dialog di televisi dalam kompleks yang sama.  Beberapa kutulis ketika kuliah atau bahkan dalam seminar yang menurutku membosankan juga.

Jadwal bepergianku yang banyak dalam tahun ini, juga menyebabkan punggungku cepat sakit. Barangkali karena tas ransel yang kubawa berisikan laptop, buku-buku, dan perangkat lainnya. Aku berencana membeli lagi satu tas ransel, khusus berisi kabel-kabel, baterai, charger, dan lain-lain. Itu juga berarti aku bepergian dengan tiga tas, ditambah dengan satu koper kecil berisi baju, obat-obatan, sabun mandi, odol, serta peralatan pria lainnya yang sangat lengkap diisikan istriku yang kadang nggak terpakai.  

Dulu, kupikir aku memerlukan seorang sekretaris untuk mengurus semua hal yang seperti ini, termasuk mengarsip artikel-artikelku, memilah-milah surat-surat dan email yang masuk, membuang apa yang perlu dibuang, serta kepentingan lainnya, tentu juga mengingatkan soal artikel-artikel yang deadline dan janji-janji yang molor. Tetapi kubatalkan, lebih karena aku mencintai kerepotan ini dan menikmatinya, sembari juga memberi ruang bagi sang kekasih hati untuk ikut repot atas kerepotanku.  Buktinya, lembaran-lembaran kertas masih menyemak di kamar kerjaku di CSIS. Lagipula, untuk memesan tiket pesawat, memastikan agenda seminar, dan lain-lain, aku masih memiliki sekretaris kantor.  

Lantas, apa beda artikel dengan kolom? Menurutku, artikel lebih bersifat teknis, mengandalkan data dan analisa, serta berisi sejumlah ”rekomendasi”. Sedangkan kolom bersifat personal, subjektif, reflektif, bisa juga emosional. Artikel mewakili profesi sebagai analis atau pengamat, sementara kolom menunjukkan hak-hak kewarganegaraanku. Maka, sebagai analis, aku tidak menolak menulis apa saja atas permintaan redaktur dengan tema khusus.

Sementara sebagai kolomnis, aku mencoba menjaga jarak. Kadang juga ada tulisan-tulisan yang menurutku lebih merupakan rekleksi dari ke-aktivis-ku, yakni aku sebagai aktivis. Analis, kolomnis dan aktivis, barangkali susah disatukan, walau itu juga ciri dari para intelektual pergerakan kemerdekaan.  Sebagian besar aku menulis di Sindo. Ya, seperti sebagian besar kolom Gus Dur, Emha Ainun Nadjib, Mahfud MD, dllnya tahun ini, hahaha. Apakah ini kesengajaan? Aku pikir tidak juga. Sindo memberikan kesempatan untuk menulis sekali seminggu. Itu saja. Media Indonesia sebetulnya juga memberi kesempatan sekali dua-minggu, sebagaimana halnya dengan Koran Tempo. Suara Pembaruan juga bisa menulis sekali sepuluh hari, atau tiga kali sebulan. Sementara, Kompas kita ketahui membatasi untuk dua atau tiga minggu sekali.  Mengingat aku bukan lagi penulis pemula, kesempatan besar menulis itu tidak termanfaatkan dengan sempurna. Tujuanku menulis lebih sebagai upaya menjernihkan persoalan dan mengajukan gugatan menurut versiku, ketimbang menjadikannya sebagai sarana penyaluran hobby atau mencari penghasilan.

Ada beberapa penulis yang terang-terangan mengatakan menulis sebagai sarana penyaluran hobby dan mendapatkan uang. Aku hormati pandangan itu, sekalipun aku tidak begitu. Gajiku sudah sangat luar biasa di kantor-kantor tempat aku bekerja. Penghasilan sebagai pengamen berjalan – beda dengan pengamen jalanan, ya -- lebih dari cukup.   Ada dalam satu bulan tulisanku sedikit, sementara bulan lain menjadi banyak. Mudah saja membacanya: dalam bulan tertentu, ada satu tema yang kubagi menjadi dua atau tiga tulisan. Pemuatan pada bulan yang sama membuat tulisan pada bulan itu meningkat jumlahnya. Juga ada alasan yang lain, yakni ketika aku menjalani “puasa” menulis, terutama atas saran teman-temanku. “Puasa” itu berkenaan dengan pencalonanku sebagai anggota KPU – yang berakhir di pengadilan itu-- .

Menurut teman-temanku itu, sangat riskan kalau aku terus-menerus berkomentar atau menulis dengan nada kritis, suatu “teori” yang sebetulnya tidak kupercayai. Aku pikir kegagalanku di KPU lebih disebabkan oleh Tim Seleksi-nya yang tidak paham apa yang dibutuhkan dari seorang Komisioner KPU. Dan kegagalanku itu mungkin karena aku tidak terlalu mengindahkan kesungkanan sang kekasih atas pencalonanku. 

Selain itu, tidak semua tulisanku dimuat. Aku tidak tahu penyebabnya. Tidak ada pemberitahuan. Aku kadang berpikir bahwa itu terkait dengan teknologi, yakni ketika server di kantor down, seluruh pengiriman surat-e gagal. Ada beberapa kali dalam setahun ini email-email yang kukirim tidak sampai ke alamat yang dituju. Kurirnya mungkin mulai pikun atau bebannya terlalu berat, hingga dijatuhkan di jalan, serta tidak dikembalikan ke aku. Tapi aju juga berpikir bahwa artikel-artikel itu tidak layak muat, walau biasanya pasti diberitahukan.

Kalaupun aku berbeda pendapat dengan media yang bersangkutan, misalnya soal Partai GAM, tetap saja artikelku dimuat. Jadi, memang artikelku tidak layak muat, tapi mbok ya dikasih kabar jugalah. Apakah rekor yang tentu tidak-akan pernah di-MURI-kan ini akan pecah tahun depan? Barangkali, iya, terutama tentu karena menjelang pemilu 2009. lagipula, aku tinggal mengejar tesis, kalau nilaiku keluar semua semester ini..  Daftar Artikel atau Kolom Sepanjang Tahun 2007  

Januari

  1. Alur Audit Dana Politik, Media Indonesia, 6 Januari 2007.

  2. Politik Tanpa Publik, Sindo, 8 Januari 2007.

  3. Menimbang Deperpres, Sindo, 17 Januari 2007.

  4. Toekang Kritik Tak Pernah Mati, Sindo, 23 Januari 2007.

  5. Mendahulukan Pilpres, Kompas, 23 Januari 2007.

  6. Delegitimasi Kekuasaan Yudhoyono: Cabut Mandat, Tancap Gas, Media Indonesia, 27 Januari 2007

  7. Muktamar PPP dan Rumah Lama, Jurnal Nasional, 31 Januari 2007


Februari

  1. Ka’bah Politik Ummat, Suara Merdeka, 1 Februari 2007

  2. Umpan Peluru Demokrasi, Sindo, 13 Februari 2007

  3. Membangun Benua Papua, Koran Tempo, 19 Februari 2007

  4. Tawaran Amandemen Bertahap, Sindo, 21 Februari 2007.

  5. Menghitung Hari-hari SBY, Kompas, 28 Februari 2007


Maret

  1. Fauzi, Koalisi & Oposisi, Majalah Adil, 22 Maret – 04 April 2007, hal. 43.

  2. All Bencana Idol!, Sindo, 14 Maret, 2007.

  3. Kuburan Manusia dalam Era Politik, Media Indonesia, 15 Maret 2007.

  4. Peradilan Kaum Intelektual, Koran Tempo, 28 Maret 2007.


April

  1. Sembilan Resi Yudhoyono, Sindo, 3 April 2007.

  2. Tradisi Revisi UU Politik, Suara Pembaruan, 4 April.

  3. Ideologi dalam Interpelasi, Sindo, 8 April 2007

  4. Andai Lumpur Sidoarjo Kering, Jawa Pos, 13 April 2007

  5. Berebut Pemilih Kosmopolitan: Pemilu 2009 dalam Pilkada Jakarta 2007, Media Indonesia, 14 April 2007

  6. Kalender Nihil Politik, Sindo, 17 April 2007.

  7. Kritik dan Audit Atas LSM, Koran Kontan, 23 April 2007.

  8. Reshuffle Tanpa Program, Sindo, 24 April 2007.

  9. Pemimpin Tua, Negara Muda, Kompas, 27 April 2007.

  10. Ironi Politik Kaum Muda Kita, Majalah Adil, April 2007.


Mei

  1. Lintas Fraksi Berebut Menteri: Tarik Tambang Senayan dengan Istana Negara, Media Indonesia, 5 Mei 2007

  2. Gubernur Jenderal untuk Papua, Koran Tempo, 7 Mei 2007.

  3. Telenovela Politik Ala Reshuffle, Sindo, 8 Mei 2007.

  4. Dalam Sandera Politik, Suara Pembaruan, 12 Mei 2007.

  5. Mengapa Ragu Atas Amendemen?, Kompas, 22 Mei 2007.

  6. Bom Politik Dana Dahuri, Sindo, 28 Mei 2007.


Juni

  1. Hak Interpelasi dan Politik Luar Negeri, Koran Tempo, 2 Juni 2007.

  2. Interpelasi untuk Lumpur Sidoarjo, Suara Pembaruan, 06 Juni 2007.

  3. Selamat Datang, Yudhoyono Jilid II, Sindo, 06 Juni 2007.

  4. Carut-Marut Lumpur Sidoarjo, Koran Kontan, 08 Juni 2007.

  5. Kepal Tinju Perseorangan: Kenisbian Kandidasi oleh Partai Politik, Media Indonesia, 9 Juni 2007

  6. Interpelasi untuk Bakrie, Sindo, 18 Juni 2007.

  7. Wajah Baru, Konfigurasi Lama, Sindo, 22 Juni 2007

  8. Nafas Segar Demokrasi, Kompas, 22 Juni 2007.

  9. Berpuisi, Bertemu Anak-Anak, Jurnal Nasional, 26 Juni 2007


Juli

  1. Politik Rajawali Surya Paloh, Majalah Adil, 12-25 Juli 2007, hal 16-17.

  2. Tarian RMS, Balada Yudhoyono, Sindo, 05 Juli 2007.

  3. Berebut Ruang Politik: Membaca Arah Pertemuan Presiden-DPR, Media Indonesia, 07 Juli 2007.

  4. Membuang Kolesterol Politik, Sindo, 08 Juli 2007.

  5. Aceh, Pilkada dan Separatisme, Serambi Indonesia, 21 Juli 2007

  6. Tinjauan Kritis Atas Calon Perseorangan, Suara Merdeka, 24 Juli 2007


Agustus

  1. Zaenal Zalimi Yudhoyono, Sindo, 1 Agustus 2007.

  2. Memilih Gubernur Ibukota Negara, Suara Pembaruan, 1 Agustus 2007.

  3. Skandal Seleksi Anggota KPU, Sindo, 07 Agustus 2007

  4. Dua Pemenang Jakarta, Sindo, 09 Agustus 2007

  5. Vox Populi Vox Adang?, Media Indonesia, 10 Agustus 2007.

  6. Perang Calon Perseorangan, Koran Tempo, 14 Agustus 2007.

  7. Kabar-Kabar Tan, SAYA Magazine, Agustus 2007.

  8. Sistem Politik dan Pemerintahan, Sindo, 21 Agustus 2007.

  9. Selamat Datang Mendagri Baru, Sindo, 27 Agustus 2007.


September

  1. Negara “Tidak-Tidak”, Majalah Esquire, September 2007, hal 56-58

  2. Megawati dalam Tiga Skenario, Sindo Sore, 9 September 2007

  3. ET dan Pembunuhan Partai Politik, Sindo, 13 September 2007.

  4. Mega: Menggapai Langit, Mendaki Bukit, Suara Merdeka, 15 September 2007.

  5. Presiden Yang Presidensial, Sindo Periskop, 16 September 2007.

  6. Partai Tanpa ET, Suara Pembaruan, 22 September 2007.


Oktober

  1. Yang Tua Yang Bersedia, Sindo, 04 Oktober 2007.

  2. Suara Terbanyak, Suara Khalayak, Kompas, 15 Oktober 2007

  3. Kalla Fokus ke Partai Golkar, Suara Merdeka, 22 Oktober 2007

  4. Setolak Serumpun, Sindo, 22 Oktober 2007

  5. Enam Kusir Pemilu, Koran Tempo, Sabtu, 27 Oktober 2007

  6. KPU dan Tantangan Pemilu 2009, Media Indonesia, 29 Oktober 2009

  7. Sumpah,Kaum Muda Bukan Sampah!, Sindo, 30 Oktober 2007.


November

  1. KPU Minus Kepercayaan, Kompas, 2 November 2007.

  2. Nasionalisme Gosong, Kaum Muda Papa, Koran Tempo, 21 November 2007.

  3. Golkar Buruk, Konvensi Diubah, Sindo Sore, 23 November 2007

  4. Sahara Megawati, Sabana Istana, Sindo, 26 November 2007

  5. Golkar Baru, “Ter-ordebaru”?, Jurnal Nasional, 30 November 2007.

  6. Yang Muda Yang Pahlawan, Majalah Adil, November-Desember 2007.

  7. Bekerja, Majalah Suara Mahasiswa UI,  No. 23, Tahun XIV, 2007, hlm 48-50.


Desember

  1. Demokrasi di Tanduk KPU, Sindo, 3 Desember 2007

  2. Ke Mana KPU Menuju?, Jawa Pos, 7 Desember 2007

  3. Pertempuran Terakhir Yudhoyono, Sindo, 11 Desember 2007.

  4. Kaum Muda Tanpa Kaum, Kompas, 15 Desember 2007

  5. Mahkota Rakyat untuk Mega, Sindo Periskop, 16 Desember 2007.

  6. Gubernur untuk Sang Jenderal, Sindo, 24 Desember 2007.

  7. Kalau Bukan Demokrasi, Apa?, Koran Tempo, 26 Desember 2007.

  8. Memelihara Bulir-Bulir Demokrasi, Media Indonesia, 27 Desember 2007.

» KOMENTAR (5)

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com