Berkemas, Membidik Tahun…
Sabtu, 1 Desember 2007
Setiap menjelang pergantian tahun, kita mestinya berkemas. Aku terbiasa melakukan evaluasi atas apa yang terjadi pada tahun yang ditinggalkan, lalu membuat semacam perencanaan pribadi atas tahun yang akan diraih. Ada banyak kegagalan atau bolong-bolong atas tahun yang ditinggalkan, tetapi juga keberhasilan untuk hal-hal yang diluar dugaan. Manusia, pada galibnya, hanya perencana, penjelajah ruang dan waktu, sementara Sang Khalik telah menentukan semua detil dari kehidupan. Ada tawaran menarik dari sahabatku, Karim Raslan. Ia paling ceriwis atas apapun yang sedang dan hendak kulakukan, selain Marisa Hamid, kolega terdekatku di kantor kami di Jalan Turi. Ia begitu nyinyir kalau sudah melihat aku berpetantang-petenteng dengan segala kegairahan atas dunia politik. Baginya, itu bukan aku atau itu bukan yang sesuatu tentang aku. Itu hanyalah godaan. Dulu, aku juga memiliki sahabat-sahabat seperti itu, sejak sekolah. Seringkali, apa yang hendak anda lakukan dan putuskan, atas pengaruh sejumlah orang, akan mengubah keputusan anda.
Bagi Karim, lebih baik akumulai menerbitkan buku-bukuku. Paling tidak, tahun depan, aku bisa menyelesaikan sekolahku di Ilmu Komunikasi UI. Setelah itu, aku bisa mulai mengaplikasikan dua bidang ilmu yang saling bertentangan, sebetulnya, dalam kiprahku sebagai penulis. Iya, dulu aku menamatkan Ilmu Sejarah. Sebagai historian, aku tidak begitu gigih. Yang kugunakan hanyalah kesadaran akan waktu dan ruang, beserta data, fakta dan peristiwa, sebagai bahan untuk dijadikan sebagai refleksi atas kekinian. Sebagai analis politik dan perubahan sosial, serta punya minat yang kuat pada bidang-bidang politik, sastra, otonomi daerah, separatisme dan lain-lain, aku menyediakan waktu banyak untuk berpikir, berjalan dan menulis.
JJ Rizal, Andi Achdian, dan teman-teman sealmamaterku di Ilmu Sejarah UI, berulangkali mengingatkan agar aku kembali menekuni ilmu sejarah, menulis sejarah, atau setidaknya menyinggung soal itu dalam kiprahku dalam belantara persoalan-persoalan kekinian. Aku memang mencintai sejarah, tetapi beban kekinian yang begitu hebat melanda bangsa ini, dengan keruwetan masalah, telah mengeluarkan aku dari kemewahan pengamatan atas sejarah. Ilmu sejarah dan karya-karya sejarah memang berharga mahal. Hanya bangsa-bangsa mapan yang menghabiskan waktu bertahun-tahun, bergenerasi-generasi, untuk menguliti sejarah.
Kesibukanku tahun 2007 ini memang bertumpuk, nyaris tanpa jeda. Selain kuliah, terutama semester 2 yang menyita waktu dan semester 3 yang semakin sedikit mata kuliahnya, aku tetap hadir dalam seminar, diskusi, pelatihan atau penelitian, di banyak tempat. Dalam sehari kadang harus hadir dalam tiga seminar. Orang bertanya, darimana energiku dan pengetahuan yang kubawa untuk seminar-seminar itu? Tentu, sangat tergantung pada topik dan temanya, serta sangat berhubungan dengan mood-ku. Aku bisa datang ke satu kota atau daerah tertentu dengan biaya sendiri, kalau aku menilai jauh lebih baik menggunakan waktuku dalam kegiatan di kota atau daerah itu, ketimbang memenuhi undangan lain di Jakarta atau kota-kota besar yang membuatku bosan.
Tahun ini, aku juga mengurangi intensitas pertemuan dengan kalangan aktivis di Jakarta. Bukan karena bosan, tetapi lebih disebabkan oleh tema-tema yang diusung kebanyakan tema-tema lama yang diulang. Ketimbang aku terus gelisah dengan tema-tema itu, bahkan setelah mengeluarkan apa-apa yang aku pikirkan dalam pertemuan-pertemuan itu, lebih baik aku tidak hadir sama sekali. Intensitas diskusiku di internet juga menurun.
Ya, aku begitu lelah. Kelelahan yang menumpuk terus mempengaruhi pikiran dan fisik. Sebelum menghadiri satu kegiatan, aku makin sering berlama-lama bolak-balik ke toilet. Ada saja yang mengganggu lambungku. Ini gejala stress pikiran. Dengan empat kantor defenitif, yakni di CSIS (Tanah Abang III), PT KRA (Jalan Turi), Yayasan Harkat Bangsa Indonesia (Gang Madrasah, Bidakara) dan The Indonesian Institute, aku hanyalah pelaju yang tergesa beranjak dari satu tempat ke tempat lain. Kadang, aku tidak hadir berhari-hari di salah satu kantor itu, tetapi juga beberapa kali aku begitu ingin datang dan duduk berjam-jam. Hanya The Indonesian Institute yang sangat jarang kukunjungi, mengingat kantornya sedang berbenah di Jl Wahid Hasyim. Aku juga tak begitu antusias lagi dengan pertemuan demi pertemuan yang ditawarkan oleh teman-temanku. Atas nama apapun. Dunia akan tetap berputar tanpa aku harus ikut memutarnya. Sumbu kehidupan masing-masing orang pastilah digerakkan oleh banyak hal. Manusia tentu bukan mesin yang tiba-tiba saja berhenti, karena kehabisan energi hewani dan nabati yang kini makin langka di muka bumi.
Tawaran Karim bagiku sangat masuk akal. Berkeliling ke berbagai tempat, mengamati, berbicara dan mengumpulkan data, lantas menulis dari sisi kemanusiaan, sastra dan barangkali juga hubungan kekuasaan. Dalam diskusiku dengan orang-orang asing, sering mereka tidak tahu bahwa satu pola hubungan kekuasaan itu tidak bisa diukur semata-mata dari perimbangan kursi di parlemen. Sudah semakin kering penjelasan-penjelasan hanya berdasarkan dikotomi nasionalis-relegius atau politik aliran. Ada penjelasan lain yang lebih rumit, bahkan sering juga terlalu sederhana, misalnya atas dasar desakan pihak lain yang tak tampak di panggung publik. Aku harus mulai berkemas. Membereskan tumpukan kertas dan buku-buku dan makalah dan undangan di ruang kerjaku di Tanah Abang III. Barangkali harus juga membaca buku-buku yang kubeli diluar buku-buku kuliah yang bertumpuk-tumpuk. Sebagian dari tumpukan-tumpukan kertas itu barangkali harus kubuang dan kubakar, serta kulupapakan, agar tidak terus menyeret langkahku atas masa lalu yang indah dan eksotik, tetapi hanya berfungsi seperti lumpur hidup yang membenamkan siapapun yang terseret.
Dan barangkali, aku juga harus mengurutkan lagi daftar orang-orang yang ada di sekelilingku, menemui orang-orang yang perlu kutemui, menempatkan yang lain pada nomor buncit. Terlalu banyak kartu nama yang kuterima tahun ini, nomor-nomor telepon, tetapi terlalu sedikit yang kujadikan prioritas hanya untuk sekadar menyapa. Anda tidak akan pernah bisa mendapatkan apapun dari orang lain, kalau anda tidak pernah memberi. Semakin banyak anda memberi, semakin banyak sebetulnya anda menerima. Apapun. Pengetahuan, pengalaman, pekerjaan, kasih sayang atau dukungan. Anda tidak bisa mengeluh hanya karena anda telah berikan banyak, sementara anda menerima sedikit, karena sikap itu justru muncul dari perspektif dan mentalitas yang keliru. Tahun depan memang tidak akan pernah jelas. Siapa yang bisa menebak masa depannya? Peramal terhebat sekalipun tidak pernah mampu mengetahui apakah ada satu atau dua pelanggan yang akan datang untuk dibacakan garis tangannya. Aku harus berkemas, bersiap, untuk sesuatu yang lebih mulia, sekalipun sangat pribadi sifatnya. Desember merupakan waktu untuk melepas apa yang patut dilepas, sembari menyusun apa yang layak disusun. Membidik tahun, membidik perasaan, membidik titik-titik untuk dijadikan garis, huruf, kata dan kalimat. Selain kata atau kalimat, apalagi yang kita punya, Saudara?
Catatan Lepas Sebelumnya