Tidak Ada Pahlawan di Aceh
Minggu, 11 November 2007
Tidak ada hari pahlawan di tanah Aceh. Aku berangkat pukul 4.30 pagi, tanggal 10 November 2007, disambut hujan di lapangan Iskandar Muda pada pukul 09.00. Iwan, seseorang yang kukenal waktu hari ke-delapan tsunami, tidak datang. Dia di Medan, mendadak. Dia jadi salah seorang pejabat penting sekarang, di sebuah lembaga. Yang menyapaku adalah Saefullah. Aceh banyak berubah dari udara. Dulu, pada hari kedelapan tsunami itu, aku langsung tertegun melihat bilasan air laut pada daratan. Lanun itu merenggut 200.000 nyawa lebih. Kini, rumah-rumah kembali muncul pada bekas sapuan lanun itu. Aku datang atas undangan mahasiswa Universitas Ar Raniri. Seminar dengan tema :”Eksistensi GAM pasca MoU”. Di depan aula kampus yang tidak seluruhnya penuh itu, aku berbicara dengan Pak Ghufron (Komisaris Besar) yang mewakili Kapolda dan Ibrahim Syamsuddin (Juru Bicara Komite Peralihan Aceh) yang didikan Libya. Ada banyak wartawan juga. Aceh kini lebih banyak diskusi seputar GAM. Padahal, GAM hanya satu elemen dari masyarakat Aceh. Ada juga diskusi tentang rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-tsunami, tetapi itu dilakoni oleh para bule yang memenuhi perut pesawat ke Jakarta, serta kalangan masyarakat sipil yang sebagian kukenal kiprahnya sejak di Jakarta.
Masyarakat Aceh sendiri tidak terlihat menjadi unsur yang aktif. Mereka seolah menghadapi begitu banyak kata dan kalimat, serta para tokoh yang berseberangan. Dari para anggota Badan Eksekutif Mahasiswa aku tahu, apa yang terjadi di kalangan elite lebih menyiptakan kegamangan dan ketidakpastian, ketimbang menuju arah yang tepat bagi masa depan. Karena tidak enak badan, aku tidak terlalu menikmati perjalanan kali ini. Seminggu ini aku kurang tidur. Banyak pikiran.
Hanya sempat makan ikan bakar dan ayam tangkap, bersama M Ja’far, Ketua Komisi Independen Pemilihan (semacam KPUD) Provinsi Aceh. Hanya Ja’far dan Iwan yang kukabari tentang kehadiranku di Banda Aceh. Satu lagi Dadang, staf Badan Rekonsiliasi Aceh, tetapi dia ada di Jakarta. Sejak awal, aku memiliki banyak teman di sini yang bekerja di berbagai lembaga. Tidak ada waktu menemui mereka semua. Dan, tidak ada juga pembicaraan soal pahlawan disini, selain upacara yang dilakukan oleh pejabat-pejabat pemerintah. Padahal, perlawanan atas Belanda begitu masif disini. Begitupula perlawanan atas Indonesia. Orang Aceh yang dikenal keberaniannya mungkin hanya melihat kematian atas kepahlawanan itu hanya sekadar kematian. Sama dengan kematian 200.000 orang korban tsunami. Yang terpenting kemudian adalah bagaimana mengurus mereka yang hidup.
Sebelum naik pesawat ketemu Agung (Demos). Di pesawat ketemu Anton (juga Demos). Serta orang lain yang kulupa namanya. Aku kedinginan, duduk sendirian di bagian belakang, kursi 25F. Kepala pusing, kedinginan, dan sakit perut. Mungkin karena pagi-pagi sekali aku minum vitamin C, hanya dengan bekal roti. Di pesawat pagipun aku tdk sarapan. Tidur. Sebelum naik pesawat setelah transit di Polonia, aku sempat sms adikku, Hayati: “Bilang emak, lihat ke langit tinggi, sejam lagi. Ajo mau melintas.” Setahuku, pesawat dari Medan akan melintas di atas langit kampung kami. Tidak ada pahlawan di tanah Aceh. Dan alangkah beruntung mereka yang tidak mempunyai pahlawan itu..
Catatan Lepas Sebelumnya