Lebaran Kampung (2)

Jumat, 2 November 2007
Dalam lebaran di kampungku selalu saja menjadi ajang untuk baralek (resepsi) pernikahan. Sebagai suku perantau, lebaran adalah ajang untuk mengundang orang. Anak-anak rantau yang pulang meramaikan perhelatan. Kalau anak-anak rantau pergi, sebuah perhelatan hanya akan didominasi oleh orang-orang tua dan anak-anak sekolah.  Untuk anak laki-laki di kampungku, Pariaman, pernikahan dianggap identik dengan jual beli. Kenapa? Karena di kampungku terkenal tradisi ‘uang hilang’, yakni sejumlah harga yang harus dibayar pihak perempuan kepada pihak laki-laki. Semakin banyak anak laki-laki, menurut persepsi orang-orang, kian beruntunglah orangtuanya, terutama orangtua perempuan.  Tetapi, saudara, praktek yang sebenarnya tidak seperti itu. Yunas juga mendapatkan uang hilang, sebesar Rp. 5 Juta menurut para niniak mamak. Menurut Yunas dan ibuku, jumlah itu adalah yang dikatakan kepada orang kampung, mengingat yang sebenarnya hanya Rp. 3 Juta, sisanya uang Yunas. Nah, ketika istri Yunas datang ke pesta pernikahan Yunas, orang-tuaku, paman dan bibi, menyerahkan seperangkat perhiasan dllnya kepada mempelai perempuan. Intinya, uang yang diberikan pihak perempuan sebetulnya kembali ke pihak perempuan itu. Kata pamanku, uang hilang sebetulnya tradisi membekali mempelai baru dengan barang atau uang yang menjadi modal pertama dalam melakukan usaha di rantau.  

Dulu, sebelum tamat kuliah, aku juga dilamar oleh beberapa keluarga. Mereka datang menyodorkan ‘proposal’ ke ibuku, termasuk dengan sering mengantarkan makanan, pisang, durian, kue, dll. Tentu ibuku – dan adik-adikku yang masih sekolah waktu itu – senang. Ada keluarga yang orangtuanya saudagar kerbau, pengusaha angkutan, guru, juga pemilik toko. Karena ada sejumlah kesalahpahaman antar keluarga-keluarga itu yang mengganggu hubungan dengan keluargaku, maka aku mengatakan kepada ibuku: “Aku bisa cari jodoh sendiri.”

Sebagai seorang perempuan Minang, termasuk alasan bahwa kedua kakakku menikah dengan perempuan luar Minang dari suku Jawa, maka ibuku bermuram-durja. Butuh 6 tahun untuk meyakinkan ibuku tentang perempuan pilihanku yang sekarang menjadi istriku.  Maka, Busra, Bahri dan aku tidak lagi memiliki garis keturunan Minang. Garis itu hanya milik kaum perempuan. Anak-anak kami bertiga menurut istri masing-masing adalah garis bapak, sementara menurut kami adalah garis ibunya. Cuma, perempuan Jawa dan Sunda memang bergaris-keturunan bapak. Dari sudut itu, anak-anak kami tidak punya garis keturunan, baik ibu atau bapak. Aku menyebutnya sebagai anak-anak Indonesia atau lebih tepat anak-anak Adam. Kami bertiga memang ketika disunat bareng-bareng, walau jarak antara aku dengan masing-masing kakakku dua dan empat tahun.  

Adik perempuanku yang akhirnya menjaga garis keturunan keluarga. Suaminya – yang kami panggil Sutan sebagai gelar adat – bekerja di Duri, Riau, pada perusahaan perminyakan. Pulang beberapa hari dalam dua minggu. Sekarang, Yunas ikut menjaga garis keturunan keluarga, tapi dari pihak istrinya, Mira Rizona. Sebagai perempuan, adikku Hayati juga pewaris tunggal harta kekayaan keluarga (pusaka tua, dalam istilah adat). Sebab laki-laki di Minang tidak berhak atas harta warisan. Maka, Hayati nanti adalah pewaris tanah, rumah, dllnya, dari pihak keduaorangtuaku. Kalau ada di antara keluarga laki-laki yang di usia tua nanti tidak ada yang mengurus, maka Hayatilah yang mengurusnya. Ia adalah Bundo Kanduang dalam keluarga kami. Soal ini sangat aku tekankan kepada seluruh kakak-kakak dan adik-adikku. Sebagai satu-satunya yang bergelar sarjana dalam keluarga kami, pendapatku paling otoritatif.   Yunas dinikahkan pada pukul 03.00 dinihari. Pukul 01.00, kami mengantarkannya ke rumah keluarga calon istrinya, di tengah hujan rintik-rintik. Sampan untuk menyeberangi sungai yang kutumpangi kandas. Terpaksa sebagian besar dari anak-anak remaja ini membuka celana, lalu menyeberang. Ada 50-an orang yang mengantarkan Yunas untuk menikah, seluruhnya laki-laki remaja dan beberapa orang dewasa. Calon istri Yunas tinggal di dekat jalan besar. Kami disambut hujan yang tak berhenti, beserta perempuan dan lelaki pihak keluarga calon istrinya.  

Setelah sejumlah petatah-petitih adat antara pihak kami dan pihak perempuan, prosesi yang nikmat, Yunas dinikahkan oleh kakak lelaki Mira. Aku memandang dari dekat, menemani. Akbar menjadi juru foto dan handycam. Tak henti aku melontarkan ledekan. Yunas dua tahun di bawahku. Dulu, aku sering berkelahi dengan Busra dan Bahri atau dengan anak-anak muda lain di kampung ibu dan bapak. Terakhir kali aku berkelahi dengan Bahri mungkin pas SMP. Aku kalah dan tidak berani lagi. Luka di kepalaku bekas lemparan batu tak sengaja Busra.  Sementara Yunas lebih sering berkelahi dengan Benni. Benni takut kepadanya, tetapi juga sering membuat masalah dengan anak-anak muda lain, sehingga bikin keduaorangtuaku marah. Akbar barangkali paling jarang berkelahi. Yunas dikenal sebagai ketua genk di kampung dan sekolahnya sampai SMA. Ia jarang bicara. Tidak heran kalau begitu banyak anak-anak muda yang datang mengiringi (Inspirasi ini membuat aku menulis, “Sumpah, Anak Muda Bukan Sampah!” di Sindo, edisi 30 Oktober 2008). Usai mengevaluasi seluruh prosesi acara yang kupimpin, Yunas bertangisan dengan Benni, juga Yunas dengan Akbar. Mereka berpelukan. Aku tahu, masa pertengkaran mereka sudah lewat, tinggal menjadi kenangan yang indah, sebagaimana aku dengan Busra dan Bahri. Dalam kondisi sekarang, pendapatku hanya berani disanggah oleh Bahri. Kalau tidak, barangkali akan menjadi kebenaran tunggal.  

Ayah tidak lagi seotoritatif dulu. 71 tahun jelas masih menyisakan ketegaran, keteguhan dan juga kelembutan. Ia tampak perkasa dan tentu terus keras kepala. Anak-anaknya lebih merupakan lawan perdebatan, ketimbang pihak yang menunggu perintah. Ia memakai celana jeans berbaju batik pas baralek (resepsi) yang digelar di rumah kami. “Ini celanaku, bajuku, kubeli dengan duitku. Dan kalian iri saja dengan kegagahanku,” katanya, ketika anak-anaknya melakukan protes. Aku tentu tak ikut protes, malah mendukung. Ia tetap menunjukkan kesejatian dan keteguhan pendirian.   Ibuku adalah pembisikku. Ia akan memanggilku untuk diperkenalkan kepada keluarga atau adik-adikku yang lahir bukan dari rahimnya, tetapi rahim perempuan lain. Betapa tidak, adikku bertambah sepuluh orang lagi setelah Akbar. Jadi, anak ibuku 17 orang! Sepuluh adik-adikku yang kecil-kecil itu “dijual” oleh orangtuanya masing-masing dan ibuku membeli dengan seliter beras. Kenapa dijual? Sebab mereka sakit-sakitan atau rewel. Karena kami tumbuh sehat, mereka percaya bahwa anak-anak mereka yang “dijual” itu juga akan sehat. Alhamdulillah, sugesti itu manjur.

Tidak heran kalau dalam hari lebaran atau apapun, meja keluargaku penuh dengan kue atau buah-buahan yang dibawa oleh orangtua masing-masing adik-adik kecilku itu yang tidak kuhafal nama-namanya itu. Aku juga harus menyiapkan angpao untuk kesepuluh adik-adikku itu. Ibuku juga penghubung dari keluarga dekat dan jauh, termasuk atas masalah-masalah mereka.  

Pamanku juga pembisikku. Sebagai lelaki satu-satunya, ia adalah kepala kaum. Anak-anak pamanku sembilan orang. Istri pamanku iburumahtangga yang pintar memasak. Mereka tinggal di Duri. Ibuku bersaudara kandung tiga orang, dua perempuan, satu lelaki. Ibuku yang tertua, pamanku yang nomor dua dan etekku yang bungsu. Kakekku dari pihak ibu juga punya istri yang lain, sehingga ibuku punya sepupu. Nenekku dari pihak ibu juga menikah lagi setelah kakekku meninggal dunia. Sekarang kakek tiriku itu sudah meninggal dan nenek tinggal bersama bibi dengan kegiatan rutin beribadah bersama nenek-nenek yang lain, bahkan tinggal di surau untuk Sholat 40 (selama 40 hari tinggal di Surau dan melakukan kegiatan di Surau).

Pamanku dengan sopan akan memanggilku, mengingat aku bersama dengan teman-teman SMA yang datang – atau temanku yang lain, termasuk Saldi Isra dan Dr Yuliandri yang datang dari Padang--, dengan ucapan: “Dua menit” atau “Lima Menit”. Biasanya, kalau itu menyangkut wakil pihak keluarga, aku mengatakan: “Ajo Busra saja. Dia kan kepala suku.”  Etekku adalah ahli strategi. Dia bersuami seorang polisi asal Mentawai. Empat anak-anaknya perempuan. Ia berpikiran taktis dan cepat bertindak. Dulu, ia menjadi penghubung kepentingan keluarga denganku, ketika kuliah. Kalau ada sesuatu yang sulit disampaikan oleh ibu atau ayahku, maka etekku yang mengatakannya, bahkan dengan datang ke Jakarta ketika aku kuliah. Kalau ada sejumlah urusan penting menyangkut kaum atau kampung, etekku yang kadang memimpin para lelaki. Ia berani, sejak gadis. Atas dasar itu juga ia menantang keluarga ketika memutuskan menikah dengan seorang polisi beragama Kristen yang akhirnya masuk Islam. Sulit untuk membayangkan betapa gigih usahanya meyakinkan pihak keluarga.

Cuma saja, kalau ada masalah menyangkut anak-anaknya – tiga sudah menikah --, maka aku sering menugaskan Yunas menyelesaikannya.  

Yunas mendapatkan jodohnya setahun lalu. Ia sedang tidur di rumah kami di Jakarta, ketika aku pulang usai mengisi pelatihan anggota DPRD di Hotel Quality di Jl Pangeran Jayakarta. Istriku mengatakan bahwa setiap minggu Yunas selalu mengeluh. Ada-ada saja sakit yang ia derita, entah kepala, gigi, telinga atau perut. Genius Umar, teman SMAku yang sekarang sudah bergelar Doktor dan menjalankan lembaga pelatihan DPRD bersama Arbi Sanit, kebetulan pulang membawa mobilnya. Aku telepon Genius dan minta ia menunggu Yunas. Dalam hitungan satu jam, aku membujuk Yunas ikut Genius ke Pariaman. Ia semula menolak, dengan alasan takut dinikahkan. Beberapa kali ia menerima kiriman foto-foto gadis dari ibuku. Aku hanya mengatakan: “Pernikahan itu hak kamu. Yang penting kamu segera pulang, menemui orangtua, menghirup udara kampung, agar sakitmu sembuh!”

Nah, dalam perjalanan pulang itulah ia menemukan jodohnya dan tidak pernah sakit-sakitan lagi.  Kini, Yunas sudah menikah.

Selamat, wahai, adikku. Jagalah istrimu dengan baik, sebagaimana kamu menjaga diri dan nyawamu... (3 November 2007)
» KOMENTAR (2)

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com