Lebaran Kampung (1)
Kamis, 1 November 2007
Malam ini Andi Alfian Mallarangeng meluncurkan buku, “Dari Kilometer 0,0”. Ia mengirimkan undangan dan juga sms. Aku berniat datang. Tapi, pas dalam undangan ada catatan “Reservasi diharapkan satu hari sebelum acara untuk menentukan ketersediaan tempat”, aku membatalkan. Padahal, aku di kantor Tenabang III, hanya beberapa meter dari tempat acara. Ya, lain kali saja kukirimkan sebuah kolom untuk Daeng. Terima kasih untuk beberapa pertemuan dengan kopi hitam, durian, teh telor, penganan Makasar atau Minang. Aku memutuskan menulis ini, serial, tentang kampung. Spirit ini datang, ketika seorang kawan satu SMA menelepon, dengan nada terbata: “Apa Indra masih mengenalku?” Aduh, tidak ada yang berubah denganku, kawan. Tadi siang aku juga sms-an dengan teman-teman SMA 2 Pariaman lainnya soal sebuah acara yang mau kita adakan di kota pinggir laut Samudera Hindia itu. Teman ini sekarang bertugas menjadi tentara di Kostrad. Minggu lalu, seorang teman asal Bengkulu juga menelepon, serta entah kenapa juga bertugas di Kostrad dengan pangkat Mayor. Ia juga bertanya dengan kalimat yang sama: “Apa masih mengenalku?” Duh, bagaimana mungkin aku berkenalan lagi dengan teman-teman lamaku? Delapan hari aku berlebaran di kampung halaman, bertemu dengan teman-teman. Ini lebaran pertama setelah aku menikah lima tahun lalu. Lebaran yang penuh berkah, mengingat kami diberi banyak kebahagiaan. Satu: Mardiah Hayati, adik perempuanku satu-satunya, melahirkan anak keduanya. Kali ini perempuan, setelah sebelumnya punya Ilham. Kedua: Yunas Setiawan, adik lelakiku, menikah, tentu dengan perempuan. Padahal, dulu, adikku ini dan aku mendapatkan dandanan perempuan ketika kecil di Mentawai, mengingat ibuku mengidamkan anak perempuan setelah dua kakak kami juga lelaki. Ketiga: Hadi Suwarman dan istrinya dan 2 anaknya, kakak iparku, juga ikut-ikutan pulang. Kalau Nyokap (Mertuaku), Afzaal, Ipeh, istriku dan aku pakai jalur udara, Maman (panggilan Hadi) justru lewat darat. Keempat: beriringan lewat darat juga ada kakakku, Ismet Novera dan Ahmad Busra, serta kakak sepupuku, Erizal Magas. Ada teman-teman sekampung lain yang menemani. Jadi, lebaran yang lengkap, kecuali Zaenul Bahri, kakakku, yang sudah dari kampung beberapa bulan lalu. Benni Perwira, adikku yang lain, selama ini di rumah saja, menjaga kedua orangtua, walau lebih banyak bikin pusing. Akbar Fitriansyah yang dagang sate Padang di Pluit, adik bungsuku yang kurasa paling dipuji oleh banyak orang – juga olehku --, juga pulang.
Dengan skuad yang lengkap itu, pekerjaan terberat apapun bisa dilakukan, termasuk menyeberang sungai malam-malam, baik naik sampan atau tanpa sampan. Rumah kembali ramai, bahkan ramai sekali, karena sejumlah keluarga juga pulang. Akibatnya, ketika Es Ito (penulis novel Negara Kelima dan Rahasia Meede yang trengginas itu), Miftah (Puskapol UI), dan satu mahasiswa di Padang ikut menginap, terpaksa tidur di bangku diluar rumah. Tentu dingin, karena hanya kubekali sarung. Keduanya mengaku tidak kedinginan mengingat kampung mereka di Bukittinggi lebih dingin lagi. Kampung, bagiku, adalah tanah asal, juga pusat dari peradaban. Siapa yang tidak ingin mencari akar? Orang-orang Malaysia hari ini mencari akarnya pada budaya Indonesia. Bangsa Yahudi mendirikan sebuah negara dengan cara mencaplok tanah Palestina. Para Alien yang sering kata pemuja dan penelitinya melakukan penampakkan di bumi, barangkali mereka berasal dari bumi juga sebelum ras Manusia diberi Tuhan kekuasaan. Bumi adalah kampung bagi tata-surya Bima Sakti ini.
Dan, pada malam pertama, aku begitu merasakan kekuatan kampungku. Energi alam masuk melimpah ke tubuhku. Ada bintang-bintang yang menyambut yang menurut Akbar, “Bintang-bintang pertama setelah beberapa hari ditutupi kabut dan hujan.” Untuk mengeluarkan kembali energi alam itu, aku bekerja fisik, mencangkul, berkeringat. Sisanya yang banyak kusimpan untuk kesehatan tubuh dan jiwaku di rantau seberang. Lebaran di kampung adalah tetirah. Dulu, aku mendapat cerita dari Pak Muradi, bos perusahaan perkapalan di Surabaya yang orang Jambi, betapa temannya yang selalu diledek tidak punya kampung tiap lebaran, suatu hari datang. “Hei, gue sudah punya kampung.” Apa yang ia lakukan? Membangun sebuah desa di pinggiran Jawa Barat. Tanah asal yang dibangun kemudian demi, lagi-lagi, sebuah akar.
Ada beberapa bangsa dan negara yang dihuni bukan oleh penduduk asli. Bahkan, terjadi deaboriginisasi, seperti Amerika Serikat dan Australia. Orang-orang Papua juga mulai merasa telah terjadi depapuanisasi. Apapun itu, kampung layak dihargai, begitu juga orang-orang kampung. Memang, banyak lahan kosong yang tersisa di Papua, misalnya, tetapi mintalah atau belilah lahan itu kepada para orang-orang kampung yang menghuninya. Jangan usir mereka, seperti dulu di Lampung ada teror kawanan gajah yang bercap “Golkar” di kepala – sebagai tanda gajah binaan di Way Kambas --, pada kampung dan tanah yang dihuni penduduk yang hendak dikuasai oleh rezim. Kampungku, sungguh, belum terkontaminasi. Bahkan oleh bising suara alias polusi suara atau polusi udara. Yang ada, baru polusi siaran televisi. Kalau mau ke kampungku, tinggalkan motor atau mobil anda di seberang, pada jarak 2-3 kilometer, lalu anda berjalan kaki menyingsingkan kaki celana, di tengah padang yang tumbuh banyak duri, beserta kerikil, batu dan pasir, lalu menyeberangi sungai dengan sampan – kalau ada – seharga Rp. 1000,- per orang, atau tanggalkan celana panjang anda, gunakan celana dalam, untuk menyeberang, seperti yang kami lakukan pada pukul 4.00 dinihari, setelah mengantar Yunas menikah. Kembalikan, kampung halamanku...!
Catatan Lepas Sebelumnya