Sumpah,Kaum Muda Bukan Sampah!
Senin, 29 October 2007
Seputar Indonesia, 30 Oktober 2007 Republik Indonesia ditengarai hadir lewat berjumlah sumpah. Yang paling terkenal adalah Sumpah Palapa yang dilakukan oleh Mahapatih Gajah Mada yang menginginkan kejayaan negerinya, Majapahit. Karena sumpah itu, sejumlah negeri lain digilas, termasuk Kerajaan Padjajaran yang berbuah kepada kematian Sri Baduga Maharaja dan Diah Pitaloka.
Sumpah Palapa berwujud satelit semasa Orde Baru yang menyatukan Indonesia dari Aceh sampai Papua atas bantuan insinyur-insinyur berkebangsaan Jerman. Tetapi kita tahu, Orde Baru juga menggilas pembangkangan dan keberagaman daerah yang mematikan banyak kebudayaan dan pengetahuan lokal.
Sumpah yang juga terkenal adalah Soempah Pemoeda: bertanah air satu, tanah air
Pada waktu Proklamasi 17 Agustus 1945 hendak dikumandangkan, kelompok pemuda binaan Tan Malaka dan Sutan Syahrir menculik Soekarno dan Muhammad Hatta ke Rengasdengklok, Karawang. Mereka disebut pemuda karena rata-rata berusia 20-an tahun. Soekarno dan Hatta disebut kaum tua karena Soekarno berusia 44 tahun dan Hatta berusia 43 tahun. Dalam tahun-tahun pasca-kemerdekaan, selalu saja lidah dan pena Soekarno dan Hatta berhadapan dengan sikap kritis anak-anak muda itu.
Nah, ketika pada 2007 ini terdapat begitu banyak ikrar atau sumpah yang ditelurkan kaum muda, saya bertanya: apakah saya ada dalam usia itu? Dan saya bersumpah: saya bukan kaum muda. Mengapa? Karena usia 35 tahun bagi rata-rata penduduk Indonesia berarti lebih dari setengah usia dewasa, apabila tingkat harapan hidup berkisar pada angka 60 tahun. Apabila diukur dari usia rata-rata itu,berarti saya hanya akan hidup 25 tahun lagi.Kalaupun saya sanggup memberikan sesuatu kepada hidup, itu akan dijalani dalam sisa usia orang Indonesia itu.
Visi 25 tahunan barangkali beranjak dari pemikiran tersebut, yakni jangka waktu paling jauh yang masih bisa dijelajahi secara rasional.
Karena itu pula saya merasa tidak berhak untuk menandatangani dokumen atau ikrar apa pun yang berkaitan dengan kaum muda atau terlibat dalam organisasi kepemudaan. Yang terbayang tentang anak-anak muda itu adalah banyak sekali generasi yang tidak sekolah, tidak punya pekerjaan, atau bahkan yang tidak merasa berhak punya masa depan. Anak-anak muda yang saya temukan di perjalanan ke banyak kota atau yang terlirik di jalan-jalan.
Anak-anak muda yang makin keras rahangnya, makin kuat genggamannya, atau makin tajam tatapan matanya. Mengapa? Karena kerja keras mereka dalam mencerna hidup. Bukan anak-anak muda yang mendapatkan keberlimpahan dengan menggunakan kertas, pulpen, atau laptop.
Sumpah, saya bukan kaum muda itu. Dan saya tidak berhak menyebut sebagai representasi mereka. Apalah saya? Hanya segelintir makhluk sosial yang rajin mencibir kepada kekuasaan yang rakus. Saya juga bagian dari kelas menengah Jakarta yang dengan gampang bepergian mengurus urusan-urusan saya.Sesekali memang saya menyapa kaum muda, misalnya dalam diskusi atau pelatihan, tetapi jarang sekali. Karena Indonesia bukan Jakarta, justru makin gawat lagi apabila saya menyatakan diri sebagai bagian dari kaum muda Indonesia atau menjadi wakil dari kaum muda Indonesia itu.
Sungguh, tuan, salah satu tugas dari kaum muda Indonesia sekarang adalah meruntuhkan hegemoni kaum muda Jakarta itu. Jakarta adalah ibu dari kolonialisme dan sentralisme, serta terus-menerus memancangkan simbol-simbol keangkuhan tanpa bisa dicegah oleh kaum muda Jakarta sendiri. Jakarta adalah pusat dari pemberhalaan kuasa dan kekuasaan sehingga Anda akan mudah menemukan patung-patung berharga mahal ketimbang mendapatkan perpustakaan bermutu yang berisi ilmu dan buku.
Kalau anak-anak muda Indonesia ditanya tentang siapa nama sejumlah menteri yang ada di Jakarta, tentu mereka bingung.Tidak banyak menteri yang bisa dihafal lagi namanya. Kalau pertanyaan itu lebih difokuskan lagi tentang siapa dari pemimpin-pemimpin kaum muda atau pemuda yang selama ini mewakili anak-anak muda, tentu jawaban kosong akan kembali ditemukan.
Padahal, banyak dari orang-orangtua yang memimpin organisasi-organisasi pemuda selama bertahun-tahun. Dari sisi usia saja sudah tidak lagi mewakili, karena termasuk kelompok usia Soekarno-Hatta ketika kemerdekaan dikumandangkan.Apatah lagi dari sudut visi, misi, dan cita-cita.
Kaum muda tidak bisa digerakkan setengah-setengah atau hanya mengambil semangatnya saja, sebagaimana pembelaan dari sejumlah orang atas kesetiaan kaum tua terhadap pergerakan kaum muda. Kaum muda adalah totalitas kehidupan dengan aneka masalah. Untuk tetap muda dan menggerakkan kaum muda,Tan Malaka tidak kawin, sekalipun menurut Harry A Poeze pernah mencintai seorang perempuan. Revolusi Pemuda, sebagaimana Benedict Anderson sebut dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, sangat diilhami oleh pikiran dan arahan Tan Malaka. Hatta juga ketika Indonesia merdeka masih bujangan.
Kaum muda tidak bisa didefinisikan sebagai pelanjut jabatan politik dari salah satu atau kedua orangtuanya.Hanya karena Anda adalah anak, cucu, atau cicit dari seseorang yang pernah mendirikan satu organisasi, lantas bisa katakan sebagai pewaris organisasi itu, apalagi untuk organisasi setingkat negara. Sekarang pun di Amerika Serikat sudah mulai muncul soal dengan "kevakuman regenerasi politik", mengingat penguasaan keluarga George Bush dan Bill Clinton pada Partai Republik dan Partai Demokrat.
Di Indonesia, oligarki berlangsung sempurna dan berjejak dalam banyak organisasi, termasuk organisasi pergerakan dan masyarakat sipil. Jadi,sumpah,saya bukan kaum muda itu! Lebih banyak yang berhak menjadi kaum muda di negeri ini, di luar saya. Mereka tersebar dari Merauke sampai Sabang.
Bagi Anda yang masih berpikir bahwa kaum muda tidak berhak menjadi pemimpin, sementara setiap saat Anda mengatas-namakan kaum muda untuk kepentingan Anda, maka kira-kira Soempah Pemoeda 2007 seperti ini layak dibaca: "Kami pemuda dan pemudi Indonesia tahun 2007 bersumpah untuk tidak lagi bersumpah karena sumpah itu tidak ada artinya lagi..."
Sumpah,kaum muda yang Anda atas namakan itu bukan sampah!(*)
Kolom Sebelumnya
» KOMENTAR (3)
-
ini pamflet kayak Tomas Paine !
kaum muda, pemuda, dan orang-orang muda lainnya hanya muncul sekali setahun di bulan oktober. bentuknya pun hanya retorika khas ibukota. yang muncul terus adalah istri muda hehe..
aku setuju dua ide pokok di artikel ini: sentralisme kaum muda jakarta dan pemuda "akar jenggot" yang bung kutuk keras itu.
sudah tak terhitung sumpah, ikrar, deklarasi, forum, dan antah berantah di tempat2 ini: monas, museum nas, arsip nas, perpus nas, tugu proklamasi, gedung joang, gedung pemuda, bundaran HI, dan entah dimana lagi.. aku lagi ngitung nih jumlah tepatnya.
dua gejala pokok tadi terekam dalam deretan nama2 forum dan tempat tadi.
soal pertama sudah sangat menggelisahkan. mind-set sentralisme yang kuat membuat buta pada kreativitas pemuda di daerah. anak-anak muda di daerah yang tak tampil di tv dan koran2 nasional, tapi berkarya nyata. profesi nya macam-macam dan tak teriak2 ingin berkuasa.
soal akar jenggot. coba hitung yang punya basis riil. di jakarta saja gak punya, apalagi di daerah. makanya bung, wajar mrk gak bisa lepas dari senior yang Anda tolak itu.
jadi soal apa ini? mungkin mentalitet. ulasan pak Koen dan Mochtar Lubis bisa membantu.
salam,
risih juga sih mengatasnamakan pemuda ketika tak punya jasa pada anak-anak muda untuk "kerja beneran"..
Marbawi A. Katon
Posted by Marbawi A. Katon on October 30th, 2007, 06:30:18 AM -
sy baru tahu bang indra punya website. selamat ya Bang. Kelihatannya Abang lagi marah...!. saya tdk mau berandai-andai kpd siapa Abang marah, yang pasti acara sumpah pemuda kemaren dihadiri oleh banyak orang dan sepertinya tua semua (menurut versi Abang). saya setuju dengan seluruh artikel ini. terlalu banyak yang belum sadar , merasa terlalu dibutuhkan, padahal belum berbuat apa-apa... semoga tulisan ini menggugah banyak pihak untuk menempatkan diri pada posisi dan proporsinya masing-masing.
Posted by ibnu zubair on October 30th, 2007, 06:24:52 AM -
Sumpah, kaum muda sekarang memang SAMPAH, bang...
Ta'zim
Posted by Aulia Postiera on October 30th, 2007, 03:32:23 AM
Saya terima kasih sekali atas undangan ini. Walaupun saya tidak terlalu lama kenal Indra Jaya Piliang, Saya sangat respek dari membaca tulisan-tulisannya. Dan terlihat betul bahwa beliau adalah seorang tokoh muda. Justru kalau tida ...
Terima kasih. Pada dasarnya Saya kenal Indra ini 15 tahun yang lalu. Jadi kebetulan waktu itu saya Ketua Senat Mahasiswa UI dan kemudian Beliau ini masuk dalam seksi kepengurusan.Sejak pertama saya kenal yang namanya Indra itu memang tukang kritik, tukang ribut, apapun dipertanyakan. ...