Sumpah,Kaum Muda Bukan Sampah!

Senin, 29 October 2007
Seputar Indonesia, 30 Oktober 2007 

Republik Indonesia ditengarai hadir lewat berjumlah sumpah. Yang paling terkenal adalah Sumpah Palapa yang dilakukan oleh Mahapatih Gajah Mada yang menginginkan kejayaan negerinya, Majapahit. Karena sumpah itu, sejumlah negeri lain digilas, termasuk Kerajaan Padjajaran yang berbuah kepada kematian Sri Baduga Maharaja dan Diah Pitaloka.

Sumpah Palapa berwujud satelit semasa Orde Baru yang menyatukan Indonesia dari Aceh sampai Papua atas bantuan insinyur-insinyur berkebangsaan Jerman. Tetapi kita tahu, Orde Baru juga menggilas pembangkangan dan keberagaman daerah yang mematikan banyak kebudayaan dan pengetahuan lokal.

Sumpah yang juga terkenal adalah Soempah Pemoeda: bertanah air satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu, bangsa Indonesia; dan menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sumpah itu lahir pada Kongres Pemuda Kedua, 28 Oktober 1928. Pada Kongres Pemuda Pertama, 1926, tidak ada sumpah, melainkan hanya pemaparan makalah-makalah dari anak-anak muda brilian pada zamannya, termasuk Muhammad Yamin yang berhasil menghipnotis para peserta dengan beragam "temuan historis"-nya tentang kejayaan Indonesia (lama).

Pada waktu Proklamasi 17 Agustus 1945 hendak dikumandangkan, kelompok pemuda binaan Tan Malaka dan Sutan Syahrir menculik Soekarno dan Muhammad Hatta ke Rengasdengklok, Karawang. Mereka disebut pemuda karena rata-rata berusia 20-an tahun. Soekarno dan Hatta disebut kaum tua karena Soekarno berusia 44 tahun dan Hatta berusia 43 tahun. Dalam tahun-tahun pasca-kemerdekaan, selalu saja lidah dan pena Soekarno dan Hatta berhadapan dengan sikap kritis anak-anak muda itu.

Nah, ketika pada 2007 ini terdapat begitu banyak ikrar atau sumpah yang ditelurkan kaum muda, saya bertanya: apakah saya ada dalam usia itu? Dan saya bersumpah: saya bukan kaum muda. Mengapa? Karena usia 35 tahun bagi rata-rata penduduk Indonesia berarti lebih dari setengah usia dewasa, apabila tingkat harapan hidup berkisar pada angka 60 tahun. Apabila diukur dari usia rata-rata itu,berarti saya hanya akan hidup 25 tahun lagi.Kalaupun saya sanggup memberikan sesuatu kepada hidup, itu akan dijalani dalam sisa usia orang Indonesia itu.

Visi 25 tahunan barangkali beranjak dari pemikiran tersebut, yakni jangka waktu paling jauh yang masih bisa dijelajahi secara rasional.

Karena itu pula saya merasa tidak berhak untuk menandatangani dokumen atau ikrar apa pun yang berkaitan dengan kaum muda atau terlibat dalam organisasi kepemudaan. Yang terbayang tentang anak-anak muda itu adalah banyak sekali generasi yang tidak sekolah, tidak punya pekerjaan, atau bahkan yang tidak merasa berhak punya masa depan. Anak-anak muda yang saya temukan di perjalanan ke banyak kota atau yang terlirik di jalan-jalan.

Anak-anak muda yang makin keras rahangnya, makin kuat genggamannya, atau makin tajam tatapan matanya. Mengapa? Karena kerja keras mereka dalam mencerna hidup. Bukan anak-anak muda yang mendapatkan keberlimpahan dengan menggunakan kertas, pulpen, atau laptop.

Sumpah, saya bukan kaum muda itu. Dan saya tidak berhak menyebut sebagai representasi mereka. Apalah saya? Hanya segelintir makhluk sosial yang rajin mencibir kepada kekuasaan yang rakus. Saya juga bagian dari kelas menengah Jakarta yang dengan gampang bepergian mengurus urusan-urusan saya.Sesekali memang saya menyapa kaum muda, misalnya dalam diskusi atau pelatihan, tetapi jarang sekali. Karena Indonesia bukan Jakarta, justru makin gawat lagi apabila saya menyatakan diri sebagai bagian dari kaum muda Indonesia atau menjadi wakil dari kaum muda Indonesia itu.

Sungguh, tuan, salah satu tugas dari kaum muda Indonesia sekarang adalah meruntuhkan hegemoni kaum muda Jakarta itu. Jakarta adalah ibu dari kolonialisme dan sentralisme, serta terus-menerus memancangkan simbol-simbol keangkuhan tanpa bisa dicegah oleh kaum muda Jakarta sendiri. Jakarta adalah pusat dari pemberhalaan kuasa dan kekuasaan sehingga Anda akan mudah menemukan patung-patung berharga mahal ketimbang mendapatkan perpustakaan bermutu yang berisi ilmu dan buku.

Kalau anak-anak muda Indonesia ditanya tentang siapa nama sejumlah menteri yang ada di Jakarta, tentu mereka bingung.Tidak banyak menteri yang bisa dihafal lagi namanya. Kalau pertanyaan itu lebih difokuskan lagi tentang siapa dari pemimpin-pemimpin kaum muda atau pemuda yang selama ini mewakili anak-anak muda, tentu jawaban kosong akan kembali ditemukan.

Padahal, banyak dari orang-orangtua yang memimpin organisasi-organisasi pemuda selama bertahun-tahun. Dari sisi usia saja sudah tidak lagi mewakili, karena termasuk kelompok usia Soekarno-Hatta ketika kemerdekaan dikumandangkan.Apatah lagi dari sudut visi, misi, dan cita-cita.

Kaum muda tidak bisa digerakkan setengah-setengah atau hanya mengambil semangatnya saja, sebagaimana pembelaan dari sejumlah orang atas kesetiaan kaum tua terhadap pergerakan kaum muda. Kaum muda adalah totalitas kehidupan dengan aneka masalah. Untuk tetap muda dan menggerakkan kaum muda,Tan Malaka tidak kawin, sekalipun menurut Harry A Poeze pernah mencintai seorang perempuan. Revolusi Pemuda, sebagaimana Benedict Anderson sebut dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, sangat diilhami oleh pikiran dan arahan Tan Malaka. Hatta juga ketika Indonesia merdeka masih bujangan.


Kaum muda tidak bisa didefinisikan sebagai pelanjut jabatan politik dari salah satu atau kedua orangtuanya.Hanya karena Anda adalah anak, cucu, atau cicit dari seseorang yang pernah mendirikan satu organisasi, lantas bisa katakan sebagai pewaris organisasi itu, apalagi untuk organisasi setingkat negara. Sekarang pun di Amerika Serikat sudah mulai muncul soal dengan "kevakuman regenerasi politik", mengingat penguasaan keluarga George Bush dan Bill Clinton pada Partai Republik dan Partai Demokrat.


Di Indonesia, oligarki berlangsung sempurna dan berjejak dalam banyak organisasi, termasuk organisasi pergerakan dan masyarakat sipil. Jadi,sumpah,saya bukan kaum muda itu! Lebih banyak yang berhak menjadi kaum muda di negeri ini, di luar saya. Mereka tersebar dari Merauke sampai Sabang.


Bagi Anda yang masih berpikir bahwa kaum muda tidak berhak menjadi pemimpin, sementara setiap saat Anda mengatas-namakan kaum muda untuk kepentingan Anda, maka kira-kira Soempah Pemoeda 2007 seperti ini layak dibaca: "Kami pemuda dan pemudi Indonesia tahun 2007 bersumpah untuk tidak lagi bersumpah karena sumpah itu tidak ada artinya lagi..."


Sumpah,kaum muda yang Anda atas namakan itu bukan sampah!(*)
» KOMENTAR (3)

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com