Setolak Serumpun
Senin, 22 October 2007
Tulisan ini dimuat di Seputar Indonesia, edisi 22 Oktober 2007. Namun, keterbatasan halaman membuat editor menghilangkan sejumlah bagian, termasuk soal tulisan Anwar Ibrahim yang saya kutip. Beberapa bagian sudah ada dalam catatan lepas yang saya buat, ketika di Kuala Lumpur, dalam "Dua Negara Serumpun" (tanggal 29 September di web ini). Ini versi lengkapnya. Sindo, 22 Oktober 2007
Hubungan Indonesia dengan Malaysia mengalami titik didih ketika kaum muslim di kedua negara sedang berpuasa. Terlalu banyak soal yang diungkit, mulai dari tenaga kerja Indonesia, lagu rakyat Maluku, penangkapan atas diplomat Malaysia yang membawa alat penyadap, sampai masalah-masalah perbatasan dan kabut asap. Padahal, kedua negara dianggap sebagai negara serumpun, terutama dari segi masyarakat Melayu. Etnis Melayu memang menghuni sejumlah negara, yakni Thailand bagian Selatan, Philipina Selatan, Malaysia, Singapura dan Indonesia. Jangankan menjadi masalah hubungan antar negara Indonesia dengan Malaysia, pada masing-masing negara sebetulnya masalah Melayu muslim selalu berhadapan dengan keadilan sosial, politik dan ekonomi.
Pada titik konflik tertinggi, etnis Melayu di Thailand dan Philipina berniat membentuk pemerintahan sendiri. Di Singapura dan Malaysia, hubungan Melayu dengan etnis Tionghoa dan India telah lama menjadi persoalan struktural. Negara menjaga betul hubungan itu agar jangan sampai menjadi api dalam sekam, bahkan dengan hukum represif dan kebijakan diskriminatif. Hanya di Indonesia persoalan Melayu tidak menjadi titik konflik, mengingat sejak tanggal 28 Oktober 1928 bahasa Melayu sudah dijunjung tinggi sebagai bahasa persatuan, yakni Bahasa Indonesia.
Dalam masa Orde Baru, hubungan dengan etnis Tionghoa yang dijaga lewat sejumlah regulasi, namun sekarang sudah dikoreksi. UU tentang Kewarganegaraan, misalnya, mencoba menjadikan keindonesiaan sebagai bagian dari tanah kelahiran, bukan hubungan tali darah. Menjadi Indonesia adalah dengan lahir di Indonesia, serta menjadikan apa-apa yang dihirup lewat udaranya, dimakan dari tanahnya, serta dipikirkan lewat ide-idenya sebagai sesuatu yang alamiah dan hidup.
Dalam ketegangan hubungan Indonesia dengan Malaysia, apa yang menjadi latar belakangnya? Pertama, orang Malaysia tidak begitu paham tentang apa yang terjadi di Indonesia. Soalnya berakar pada pendidikan model Inggris yang mereka anut dan bahasa Inggris yang menjadi modal intelektual mereka, sebagai peninggalan terpenting dari Inggris. Dengan model itu, anak-anak didik Malaysia berkejar-kejaran ke Eropa, Amerika dan Australia. Mereka semakin tidak mengenali Indonesia. Barangkali ini lebih sebagai faktor ketertinggalan Indonesia sendiri sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia, ketimbang alasan-alasan psikologis.
Kedua, orang Malaysia memandang Indonesia ada di dapur, kebun atau areal pertanian mereka. Indonesia hadir lewat pembantu-pembantu rumah tangga dengan keterbatasan pendidikan yang dimiliki. Indonesia datang dari Lombok, Flores, Wonogiri atau pusat-pusat ekspor tenaga kerja murah lainnya. Daerah-daerah paling terkebelakang secara ekonomi di Indonesia (atau bisa ditarik kepada indeks pembangunan manusia terendah), bersentuhan langsung dengan manusia-manusia Malaysia yang sedang tumbuh menuju kehidupan ekonomi yang baik. Biasanya, suku-suku perantau semacam Bugis, Minang atau Aceh tidak memiliki kendala-kendala berarti di Malaysia, karena dilengkapi secara kultural dan historis.
Ketiga, ironisnya, persoalan-persoalan yang dianggap penting oleh pers Indonesia, justru jarang atau tidak ditemukan sama sekali dalam pers Malaysia. Kemarahan Indonesia sama sekali tidak terlihat, sehingga masalah-masalah yang muncul itu terlipat di bawah karpet. Pers tertutup di Malaysia dan pers terbuka di Indonesia memunculkan hidangan yang berlainan. Kaum intelektual Malaysia sama sekali tidak terlibat dalam debat publik, sebagaimana saudara terdidiknya di Indonesia memikirkan hampir segala aspek hubungan Malaysia dan Indonesia.
Keempat, kesibukan elite Indonesia untuk membesar-besarkan masalah sederhana, sebagai pengalihan isu atas masalah-masalah yang besar seperti ketenagakerjaan dan pemenuhan kebutuhan pangan. Isu-isu hubungan buruk dengan Malaysia dengan sendirinya membuka peluang bagi loyalitas massa Indonesia kepada elitenya, dalam bentuk himbauan pemutusan hubungan diplomatik, pemanggilan pejabat sampai juga kepal tangan para politikus di Senayan. Mentalitas sebagai bangsa yang dilecehkan digerek ke permukaan sebagai capaian seorang politikus nasionalis. Saling Belajar
Manusia Malaysia sebetulnya semakin individualistik. Sementara, manusia Indonesia masih hidup dalam pengaruh kolektifitas. Dengan pertumbuhan ekonomi yang baik, kelas menengah Malaysia jauh lebih besar dari kelas menengah Indonesia, dalam artian rata-rata jumlah kelas menengah per penduduk masing-masing negara. Tetapi, kalau dilihat dari jumlah orang, kelas menengah Indonesia sebetulnya berjumlah jauh lebih banyak. Kekuatan ekonomi Indonesia masih terbesar di kawasan Asia Tenggara. Bagaimana bisa anda mengharapkan solidaritas serumpun kepada manusia-manusia global yang bercas-cis-cus dalam bahasa Inggris yang menekankan rasionalitas.
Sebagai gambaran, para presiden direktur, direktur atau asisten presiden direktur di lingkungan Khazanah –perusahaan milik negara yang aktif menanamkan investasi di Indonesia -- adalah anak-anak muda tamatan luar negeri, terutama lulusan Inggris dan Amerika, dengan gaji swasta. Pihak kerajaan membajak mereka dari perusahaan-perusahaan bonafid multi-nasional. Pemerintah justru Indonesia menyerahkan begitu saja banyak perusahaan besar (BUMN) kepada kelompok-kelompok tua usia yang jarang mencetak prestasi, selain hanya mampu menghabiskan apa-apa yang ada. Para pengelola perusahaan publik di Indonesia datang dari kelompok-kelompok politik, purnawirawan jenderal, juga bekas-bekas orang kuat di lingkungannya.
Malaysia pernah mengalami fase yang sama, bahkan sampai sekarang juga mengalami kendala serupa untuk perusahaan-perusahaan yang terhubung dengan UMNO dan para datuk dalam lingkaran pengaruh tokoh-tokoh lamanya. Hanya saja, kue ekonomi yang besar tidak menjadikan korupsi dan nepotisme sebagai isu nomor satu, sebagaimana di Indonesia.
Selain terbesar dari sisi ekonomi, untuk ukuran demokrasi, Indonesia jauh lebih unggul, sejak 1998. Anda bebas bersuara apapun. Media massa Indonesia berlomba-lomba menjajakan informasi terkini, tanpa ada sensor pikiran, termasuk berita-berita “orang menggigit anjing” yang jumlahnya menumpuk. Dimana anda menemukan keburukan dan kebusukan di Indonesia? Mudah sekali, pada seluruh halaman-halaman koran, dari koran terdidik sampai koran kriminal. Partai-partai politik tumbuh subur, begitupula kelompok masyarakat sipil dalam memperebutkan ruang publik. Indonesia adalah impian semua orang tentang kebebasan.
Dalam peta yang lebih luas, Indonesia menjadi taruhan terakhir dari hubungan antara Islam dengan demokrasi. Anwar Ibrahim menulis “Universal Values and Muslim Democracy” di Journal of Democracy, edisi Juli 2006. Secara khusus, Anwar menempatkan perkembangan demokrasi di Indonesia sebagai negara muslim terbesar sebagai tahapan terpenting dalam sejarah demokrasi terkini. Artinya, di kalangan terbatas, perhatian atas Indonesia melebihi pandangan mata underdog kita sebagai sebuah bangsa. Indonesia dipandang sebagai harapan oleh orang luar, sementara Indonesia terlalu mengiba atas kelemahan-kelemahannya, serta menjadikan kelemahan itu sebagai ajang mengutuk diri.
Lalu, bagaimana Malaysia dikenal di Indonesia? Dulu ada Siti Nurhaliza. Tetapi Siti kini orang rumahan. Selain Siti? Tidak ada yang dikenal lagi. Sementara Malaysia dapat apa dari Indonesia? Banyak. Sinetron penuh tangis yang juga dikonsumsi oleh para tenaga kerja wanita, lagu-lagu dari band-band anak muda tersohor, para tenaga kerja pria dan wanita (baik formal atau informal), kabut asap, atau kiriman-kiriman lain yang terus datang. Apa Malaysia peduli dengan kiriman-kiriman itu? Jangan harap. Kepedulian itu tidak bisa didapat, hanya dengan memprotes, membakar bendera Malaysia atau mengancam akan melakukan sweeping terhadap orang-orang Malaysia di Indonesia.
Dalam bentuk yang lain, Indonesia dapat apa dari Malaysia? Selain encik-encik kaya yang membawa uangnya yang ditanam dalam beragam bentuk investasi, Malaysia juga rajin mengirim para pelajarnya ke berbagai universitas di Indonesia. Memang, mereka membanjiri negara-negara bekas jajahan Inggris, seperti Australia, tetapi tidak melupakan saudara tuanya yang dulu mengirimkan para guru, dosen, pekerja, perawat, dan ilmu pengetahuan.
Hubungan kerjasama di bidang kebudayaan dan ekonomi layak menjadi perhatian, mengingat di bidang politik kedua negara kurang memiliki kesamaan. Indonesia tidak perlu terlalu dalam merunduk dan merutuk diri, kalau dilihat secara keseluruhan memang memiliki keunggulan komparatif. Maukah kita saling belajar? Bukan saling menolak, ketika kita serumpun.
Kolom Sebelumnya
Saya terima kasih sekali atas undangan ini. Walaupun saya tidak terlalu lama kenal Indra Jaya Piliang, Saya sangat respek dari membaca tulisan-tulisannya. Dan terlihat betul bahwa beliau adalah seorang tokoh muda. Justru kalau tida ...
Terima kasih. Pada dasarnya Saya kenal Indra ini 15 tahun yang lalu. Jadi kebetulan waktu itu saya Ketua Senat Mahasiswa UI dan kemudian Beliau ini masuk dalam seksi kepengurusan.Sejak pertama saya kenal yang namanya Indra itu memang tukang kritik, tukang ribut, apapun dipertanyakan. ...