sms buat Fitri
Jumat, 12 October 2007
Sudah lebih dari 200 sms kukirimkan dua hari ini, untuk balasan ucapan selamat Idul Fitri atau kirimanku ke sejumlah orang. Aku berucap singkat: “I Syawal. 1 yang menjadi awal. Pada awalnya 1. Dia. Yang Maha 1. Yang menyatukan & yang memfitrikan. Kami: mohon maaf lahir & batin (Afzaal, Faridah & Indra@piliang)”. Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku mengikuti Muhammadiyah untuk berlebaran. Hari ini aku berlebaran, sementara mertuaku belum. Istriku tidak puasa, karena ia sedang lucu-lucunya, mabuk, mual dan segala macam persoalan dengan makanan. Dalam rahimnya sedang tumbuh Yang Ia Titipkan.
Ucapan Idul Fitri memang banyak berupa pengulangan. Duplikasi. Kadang membosankan. Tetapi, selalu saja ada kesenangan membaca setiap pesan. Satu ingatan seseorang atas kita atau ingatan kita atas orang lain adalah tali-temali hubungan kemanusiaan yang menggugah nurani. Sementara aku selalu mengirimkan ucapan berbeda. Tahun lalu, seingatku, Usman Hamid khusus mengirimkan komentar atas ucapan selamat Idul Fitriku. Tentu, kebih panjang dari tahun ini. Alasannya singkat: berhemat.
Bagaimana tidak, bulan lalu aku membayar rekening handphone sebesar Rp. 3,6 Juta lebih. Bayaran terbesar sepanjang karierku berdampingan dengan benda yang telah menghancurkan bisnis pedagang-pedagang kecil dekat kantor-kantor pos. Biasanya, rata-rata Rp. 1,5 Juta atau kurang. Tetapi selalu lebih dari Rp. 700 Ribu. Mengingat aku lebih suka mengirimkan sms, ketimbang berhalo-halo -- ya, karena aku sedang meeting, seminar, kuliah atau segala bentuk aktivitas yang tidak bisa berhalo-halo --, maka selalu saja ada biaya Rp. 350,- untuk setiap kata “Ok..”, “Sip..”, “Mantap..”, dllnya. Maka, aku senang dengan kiriman sms dari Bang Humam Hamid, calon gubernur Aceh yang kalah dari Irwandi Yusuf: “Selamat hari raya, Indra. Berikut sms yang saya terima dari seorang teman saya di pulau Aceh, seorang nelayan: Sejak HP hadir di bumi, silaturahmi berganti cara, dulu syedara saling kunjungi, sekarang ini sms saja. Pesan dikirim satu goni, kesana-sini bunyinya sama, asal ikhlas di dlm hati, tdk peduli habis pulsa. Operator HP senang sekali, setiap kali rezeki ada, baik Puasa atawa Idul Fitri, banyak sekali rezki mereka..”
Rupanya, bukan hanya aku yang berpikiran soal per-sms-an ini. Kalau ada kuiz atau acara idol-idol-an di televisi, aku selalu berpikiran negatif: “Nah, ditanggok lagi, tuh, dana masyarakat.” Karena hp datang dari negeri yang berteknologi tinggi, jangan heran kalau begitu banyak penipuan yang datang. Tahun ini memang jarang kita menemukan pengumuman bahwa kita jadi pemenang ini dan itu, tetapi ketika tahun-tahun awal hp muncul, banyak sekali jenis penipuan seperti itu. Teknologi baru selalu saja membawa unsur ikutan: penipu baru. Seperti tahun-tahun lalu, aku berlebaran di rumah mertua. Hari kedua biasanya kami sudah pergi ke kampung ibu dan nenek istriku, kawasan dingin di Kabupaten Bogor, jalan mendaki sebelum Leuwiliang. Hari pertama, kami menyambut tamu di rumah, terutama tamu ayah mertuaku. Iya, ayah mertuaku beristri empat, sehingga ia memiliki banyak anak, cucu dan cicit. Tidak jauh beda dengan ayahku yang juga beristri empat, tetapi tidak poligami alias kawin lagi ketika istri pertama meninggal atau bercerai.
Konon, menurut istriku, “persamaan nasib” itu yang menyihirnya pertama kali atas aku, selain tentu puisi yang kukirimkan kepadanya. Karena ia anak Ilmu Kimia, barangkali ia mengira puisi itu rumus atau zat-zat kimia yang aneh. Kakaknya yang juga anak Teknik Elektro sampai terpingkal-pingkal menemukan puisiku ditempel di kamar adiknya. Ia tidak melihat aku lari, ketika tahu ayahnya punya anak banyak, walau dengan ibunya hanya punya anak dua. Padahal, kukatakan pada istriku, dulu, bahwa aku memilihnya – dan dia sebetulnya yang memilihku --, karena aku menemukan ibuku pada ibunya. Di Jakarta yang kejam ini, sempat aku temukan para ibu yang begitu reaktif pada teman atau pacar anaknya. Tetapi, kalau ibu itu menyenangi teman atau pacar anaknya, maka semua proteksi akan diberikan, termasuk dari belalak sang ayah. Idul Fitri selalu menyediakan nafas baru tentang nasib manusia. Tentang orang-orang yang sekali setahun bisa makan daging, seperti di kampungku. Atau orang-orang tua yang stress memikirkan baju baru anak-anaknya. Begitupun anak-anak kecil yang tiba-tiba kedatangan rezeki, uang baru pecahan terkecil. Di Jakarta, Idul Fitri berarti jalanan yang lengang. Atau setiap berita adalah arus mudik dan arus balik. Dalam lingkaran tertentu, berarti juga open house, yakni acara dengan para pejabat. Ramadan tahun lalu aku masih sempat ikut buka puasa bersama Hatta Rajasa, Paskah Suzeta, serta sejumlah tokoh penting lainnya di kantor Departemen Perhubungan. Itupun karena kantorku dekat dan seorang anggota DPR menjemputku. Tahun ini, aku beruntung tidak menghadiri satupun acara-acara seperti itu.
Nah, untuk orang-orang itu aku mengirimkan sms. Modalnya kecil: Rp. 350,-, ketimbang datang, menemukan kemacetan, menghabiskan bensin, belum lagi uang parkir. Tentu, bukan karena itu, tetapi menurutku orang-orang itupun belum tentu menghafal setiap orang yang datang. Kalau bisa, mungkin mereka ingin menggunakan kacamata hitam, agar tetap fokus pada kekuasaan dan pekerjaan menjadi penguasa. Kiriman sms justru lebih berguna, paling tidak ada bukti, walau barangkali mereka juga tidak mau membacanya. Tidak punya waktu. Seperti tahun-tahun lalu, aku juga menerima kiriman sms dari teman-teman berbeda agama dalam bahasa yang Islamis, bahkan juga menggunakan ayat-ayat Al Qur’an. Barangkali, mereka hanya mem-forward sms yang masuk ke hp mereka ke teman-teman muslimnya. Untuk teman-teman yang non-Muslim, maaf, ya, atas analisa itu. Aku tetap yakin, selalu ada ketulusan yang disertai harapan guna kehidupan yang baik. Seingatku, ketika dulu FPI dan organisasi sejenisnya begitu giat di bulan Ramadan, sms dari teman-teman non-Muslim datang lebih banyak. Dan aku punya jawaban – atas nada khawatir mereka atau nada syukur melihat akhir dari sebuah bulan yang dibajak -- : “Dan semoga damai di bumi...” Bagi yang belum sempat kukirimkan sms, selamat Idul Fitri. Selamat menjadi fitri. Hidup adalah upaya memperbaiki diri, memperbaharui diri, mendirikan diri. Menuju kesucian...
Catatan Lepas Sebelumnya