Dua Negara Serumpun
Sabtu, 29 September 2007
Anda mungkin berhak marah kepada Malaysia, saudara muda Indonesia, kalau anda merasa disakiti. Boleh saja anda katakan: “Jangan panggil kami Indon!” Tapi percayalah, suara anda akan menampar angin. Paling, seruan anda itu masuk ke kalangan elite Malaysia, para pengamat hubungan kedua-negara yan jumlahnya terbatas, sebagaimana masuk dalam presentasi orang-orang Khazanah di lantai 33 Gedung Menara Kembar yang kuikuti. Sudah beberapa kali aku diundang ke negeri ini. Kali ini, aku harus menjelaskan situasi atau perkembangan politik kontemporer Indonesia. Sebagai perusahaan besar milik Kerajaan Malaysia, Khazanah tentu berkepentingan dengan perkembangan apapun di Indonesia, termasuk hubungan bilateral Indonesia-Malaysia. Mereka sudah menanamkan investasi besar di Indonesia. Bank Lippo, Exxelminco, Bank Niaga, atau Astro TV adalah bentuk-bentuk investasi Malaysia di Indonesia. Aku mengikuti perkembangan itu, lewat angka, tabel dan grafik, dengan penuh kantuk.
Sungguh, orang Malaysia tidak begitu paham tentang apa yang terjadi di Indonesia. Bagi mereka, sebagaimana disampaikan oleh kolegaku, Karim Raslan, “Indonesia memandang Malaysia sebagaimana Malaysia memandang Singapura!” Mereka sendiri mengakui, betapa individualistiknya orang-orang Malaysia. Dengan pertumbuhan ekonomi yang baik, kelas menengah Malaysia jauh lebih besar dari kelas menengah Indonesia, dalam artian rata-rata jumlah penduduk. Tetapi, kalau dilihat dari jumlah orang, kelas menengah Indonesia sebetulnya berjumlah jauh lebih banyak.
Bagaimana bisa anda mengharapkan solidaritas serumpun kepada manusia-manusia global yang bercas-cis-cus dalam bahasa Inggris yang mereka warisi dari bekas penjajahnya, Inggris? Rasionalitas lebih akrab dengan mereka. Sebagai gambaran, para presiden direktur, direktur atau asisten presiden direktur di lingkungan Khazanah adalah anak-anak muda tamatan luar negeri, terutama lulusan Inggris dan Amerika, dengan gaji swasta. Pihak kerajaan membajak mereka dari perusahaan-perusahaan bonafid multi-nasional. Sementara, Indonesia menyerahkan begitu saja banyak perusahaan besar (BUMN) kepada kelompok-kelompok tua usia yang jarang mencetak prestasi, selain hanya mampu menghabiskan apa-apa yang ada. Para pengelola perusahaan publik di Indonesia datang dari kelompok-kelompok politik, purnawirawan jenderal, juga bekas-bekas orang kuat di lingkungannya.
Untuk ukuran demokrasi, Indonesia jauh lebih unggul, sejak 1998. Anda bebas bersuara apapun. Media massa Indonesia berlomba-lomba menjajakan informasi terkini, tanpa ada sensor pikiran, termasuk berita-berita “orang menggigit anjing” yang jumlahnya menumpuk. Dimana anda menemukan keburukan dan kebusukan di Indonesia? Mudah sekali, pada seluruh halaman-halaman koran, dari koran terdidik sampai koran kriminal. Partai-partai politik tumbuh subur, begitupula kelompok masyarakat sipil dalam memperebutkan ruang publik (public sphere, menurut Jurgen Habermas). Indonesia adalah impian semua orang tentang kebebasan.
Malaysia? Mereka punya siapa yang dikenal di Indonesia? Dulu ada Siti Nurhaliza. Tetapi setelah kawin dengan Datuk K, Siti adalah orang rumahan. Aku pernah semeja dengan Datuk K dalam acara yang digelar di Jakarta Convention Center. Ya, dia seperti lelaki Melayu lainnya. Dengan gelar keninggratan yang dipegang, uang melimpah, sepuluh Siti Nurhaliza akan didapatkan, setelah menyelesaikan urusan harta gono-gini dengan istri pertama. Selain Siti? Tidak ada yang dikenal di Indonesia. Sementara Malaysia dapat apa dari Indonesia? Banyak. Sinetron penuh tangis, lagu-lagu dari band-band anak muda, para tenaga kerja pria dan wanita (baik formal atau informal), kabut asap, atau kiriman-kiriman lain yang terus datang. Apa Malaysia peduli dengan kiriman-kiriman itu? Jangan harap. Kepedulian itu tidak bisa didapat, hanya dengan memprotes, membakar bendera Malaysia atau mengancam akan melakukan sweeping terhadap orang-orang Malaysia di Indonesia. Lalu, Indonesia dapat apa dari Malaysia? Selain encik-encik kaya yang membawa uangnya yang ditanam dalam beragam bentuk investasi, Malaysia juga rajin mengirim para pelajarnya ke berbagai universitas di Indonesia. Memang, mereka juga membanjiri negara-negara bekas jajahan Inggris, seperti Australia, tetapi tidak melupakan saudara tuanya yang dulu mengirimkan para guru, dosen, pekerja, perawat, dan ilmu pengetahuan. Aku punya kakak tertua. Baginya, tugas pertama sebelum menikah adalah membantu sekolah adik-adiknya. Dan setelah itu, ia akan mudah sekali marah, kalau sang adik tidak memberi rasa respek apapun.
Si sulung dalam sebuah keluarga biasanya juga orang yang paling mudah berseberangan dengan sang ayah. Ini tabiat manusia. Sebagaimana si bungsu merasa lebih dimanja oleh sang ayah dan ibu. Sejak Adam dan Hawa terhampar di bumi, maka si Sulung selalu saja tidak mau mengalah kepada adiknya. Bagiku, ada dua perbedaan mendasar antara Malaysia dan Indonesia.
Pertama, manusia-manusia Malaysia lebih individualistik, sementara manusia-manusia Indonesia lebih komunalistik. Kedua, Malaysia lebih tertata secara struktural, sementara Indonesia memiliki kekuatan kultural yang ==kalau dikelola== sulit ditandingi. Hanya saja, Malaysia berusaha terus memelihara keunggulan strukturalnya (pembangunan ekonomi, infrastruktur, sampai juga klaim sebagai The Truly Asia). Sementara, Indonesia jatuh bangun dengan hal-hal yang berbau struktural, sehingga terus menghabiskan dan memiskinkan keunggulan kulturalnya. Barangkali, ini soal mentalitas.
Dulu aku senang dengan buku-buku yang ditulis oleh orang Malaysia, terutama Syed Husein Al-Attas. Dialah yang menulis tentang sosiologi korupsi, sampai mitos pribumi malas. Gara-gara tulisan-tulisannya, dia terusir keluar Malaysia. Gambarannya yang buruk atas Malaysia telah menampar pada datuk yang mengendalikan negeri. Tetapi, setelah 30 tahun, buku itu mengubah sejumlah watak buruk manusia Malaysia. Sementara Indonesia? Kita terlalu sering membakar buku. Karya-karya terbaik sastrawan kelas dunia seperti Pramodya Ananta Toer kita masukkan kedalam tungku api, sementara anak-anak Malaysia mempelajari dengan tenang di ruang-ruang perpustakaan dan halaman-halaman kampus. Kita melupakan dengan mudah pelbagai pencapaian intelektual tertinggi yang pernah diraih. Ketika Muhammad Hatta membicarakan program ekonomi benteng, para kaum Orbais penganut rezim developmentalisme malah mencampakkannya.
Malaysia? Memungutnya, lantas menjadikan sebagai kebijakan resmi negara. Begitu pula karya-karya Hamka, siapa yang masih membacanya, di Indonesia? Iya, barangkali Malaysia sekarang kehilangan semangat humanitasnya. Ketika polisi Diraja Malaysia memukuli wasit karate Ronald, sebetulnya mereka terlebih dahulu sudah membuat lebam mata Anwar Ibrahim, malah membuat leher calon pengganti Mahatir Mohammad itu terkilir. Seorang artis Mongolia yang dikenal secara berbisik mempunyai hubungan asmara dengan Wakil Perdana Menteri Muhammad Najib, malah tubuhnya hancur berkeping-keping kena granat. Dua orang dijadikan tersangka, begitu pula analis politik kenamaan ISIS (semacam CSIS-nya Malaysia), Abdul Razak Baginda. Tetapi, apa di Indonesia semangat itu juga bertahan? Di Jakarta muncul peraturan daerah tentang ketertiban umum. Anda dilarang memberikan uang kepada pengamen, gelandangan, dan pengemis. Maksudnya barangkali seperti jalanan Bangkok dan Kualalumpur, dimana tidak ada gelandangan, pengamen atau pengemis. Namun, dimana letak humanitas? Bagaimana bisa tentara dan polisi saling tikam, tembak dan bunuh? Seorang bayi malah tertembak di kepalanya ketika tidur siang.
Aku tidak mengagumi Malaysia. Tapi, aku tahu, Indonesia sudah banyak tertinggal dalam hal yang disebut modernitas. Datuk Zulkifli, Komisaris Lippo Bank yang 92% sahamnya dimiliki oleh Khazanah, yang kuceritakan soal mitologi sejumlah suku di Indonesia, merasa harus bertanya:”Mana buku anda, saya ingin membacanya!” Aku menjadi malu soal ini. Tetapi, minimal, dia menunjukkan ketertarikan yang dalam. Hm, barangkali pepatah “hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri’, adalah bagian yang mengalir dalam sikapku juga. Pandangan nasionalis puritan itu tertanam dalam kurikulum pendidikanku. Hanya saja, aku merasa harus belajar tentang negeri melayu ini. Mereka bisa, dalam sejumlah hal, kenapa kita tidak? Seperti Menara Kembar yang dihubungan dengan satu jembatan penghubung, bagiku Indonesia dan Malaysia adalah dua pilar yang bisa saling menyangga. Mereka belajar dari Indonesia, dari dulu sampai sekarang, kenapa kita tidak ingin sedikit merunduk? Siapapun yang mau belajar pada apapun, akan lebih cepat memperbaiki diri, daripada siapapun yang tidak mau belajar pada apapun. Kuala Lumpur, 29 September 2007..
Catatan Lepas Sebelumnya
Saya terima kasih sekali atas undangan ini. Walaupun saya tidak terlalu lama kenal Indra Jaya Piliang, Saya sangat respek dari membaca tulisan-tulisannya. Dan terlihat betul bahwa beliau adalah seorang tokoh muda. Justru kalau tida ...
Terima kasih. Pada dasarnya Saya kenal Indra ini 15 tahun yang lalu. Jadi kebetulan waktu itu saya Ketua Senat Mahasiswa UI dan kemudian Beliau ini masuk dalam seksi kepengurusan.Sejak pertama saya kenal yang namanya Indra itu memang tukang kritik, tukang ribut, apapun dipertanyakan. ...