Listrik Mati di Ngurah Rai
Rabu, 26 September 2007
Sabtu lalu, 22 sept, walau tidur terbatas, yakni baru tidur seusai sahur, setelah sebelumnya berdiskusi sampai larut malam bersama dengan anggota DPRD Provinsi Sumbar, aku terbangun menjelang pukul 6.30. sudah kuniatkan memang, walau hanya tidur kurang dari 2 jam. biasanya, kekasih hatiku membangunkan, tetapi mungkin dia juga ketiduran nun jauh di Jakarta. aku memutuskan untuk tidak mandi pagi...tidak ada debur ombak yang kunikmati, walau menginap di Hotel Haris Kuta. hanya numpang tidur. aku selalu merasa bersalah kalau pergi ke Bali dan tinggal lama-lama, tanpa keluarga. aku telepon Nanang (The Indonesian Institute) di hpnya, tapi tidak diangkat. ya, masih molor dia.
untung sopirnya lewat Jln Legian, karena masih pagi. jadi, tidak macet. kalau memutar lagi kearah by pass, bisa lama. dan sesuai janjinya, kurang dari 20 menit, sampai di Ngurah Rai. aku juga tidak sempat say hello kepada teman sekampung yang membuka warung nasi padang di dekat hotel Santika. khawatir merepotkan.
dan bandara gelap gulita. padahal, X-Ray utama hidup. check-in juga dilakukan lewat manual, tanpa komputer. saudara-saudara, kita harus menghidupkan ata membuka hp masing-masing, biar bisa melihat nomor penerbangan.
ini gila. sebuah bandara internasional tidak memiliki genset? siapa yang bisa menjamin keamanan bandara kalau terjadi sesuatu dengan kegelapan ini? tidak ada pengumuman apapun. yang bersuara hanya para calon penumpang dari beragam kebangsaan.
dan kita harus berdiri, menunggu naik ke lantai 2. ada yang menyuruh naik, tapi aku tidak melakukannya. siapa yang bisa memastikan bahwa di lantai 2, ketika kita harus membeli PJPU dan diperiksa pakai X-Ray lagi, keadaan sudah nyaman? dan benar, para calon penumpang bertumpuk pada tangga berjalan. tentu panas. beragam rombongan penumpang mencari nasibnya sendiri-sendiri.
ketika semakin banyak suara-suara dan gesekan-gesekan tubuh antar penumpang, aku memutuskan keluar pintu penumpang. ya, lebih segar udaranya. tidak ada pesawat yang naik atau turun. aku juga dengar orang-orang bicara tentang media: "besok akan ada di headline!" aku sms sejumlah pejabat negara, sampai istri pejabat negara, serta teman-teman wartawan. hanya beberapa yang balas. ya, pagi-pagi di hari sabtu, diberi info tentang sesuatu yang tidak menyejukkan.
untung, menjelang pukul 08.00 WITA, atau 07.00 WIB, listrik menyala. terjadi kegaduhan sedikit, penumpang yang bersikeras dan berteriak. juga rombongan orang-orang Bali berpakaian adat yang tergesa-gesa.
mengapa listrik harus padam di Bandara Ngurah Rai? apa bandara bukan fasilitas utama yang layak dapat prioritas? atau listrik lebih dibutuhkan di fasilitas-fasilitas pariwisata lain, alias domain swasta, entah pub, hotel, cafe atau tempat-tempat mahal bermandi cahaya lain? sungguh aku tidak mengerti.
atau karena bandara dianggap sebagai tempat datang dan turun kalangan hedonis? orang-orang yang memiliki uang dan kemewahan? yang bisa membeli liburan? sehingga, kalau ada kendala soal listrik, harus juga ikut-ikutan panik, entah karena tas ketinggalan, tiket pesawat jatuh, terpisah dari rombongan, dllnya.
bagiku, bandara sekarang makin seperti terminal bus, kalau anda membayangkan ada kesemrawutan. sekalipun bangsa ini mampu membangun bandara skala internasional, tetapi dari segi mentalitas, manajemen sampai pengorganisasiannya, sungguh masih terlihat bagai skala kampungku. barangkali, di kampungku lebih baik, karena tidak ada atau sedikit sekali yang berniat mencari untung (belakangan ini aku juga mulai tahu, di kampungku juga tumbuh subur sikap mementingkan diri sendiri).
kita mendatangkan perkakas dan teknologi mahal, seperti pesawat dan bandara. tetapi, kita tetap menganggapnya sebagai perkakas ke sawah, ke dapur atau ke laut. bahkan, para petani lebih sanggup menjaga perkakas pertaniannya, ketimbang para pekerja berdasi selevel di bandara.
untunglah, kita langsung masuk ke pesawat. tapi, satu soal lagi menggangguku. rupanya Nanang memesan pesawat ke Jakarta, tetapi transit dulu di Yogya. padahal, aku harus di kampus IPDN jam 14.00, dalam sebuah seminar nasional yang mereka adakan. aku bersyukur, tidak terlambat datang di Jatinangor. itu juga berdasarkan intuisi dan pertimbanganku: mengambil jalur ke kiri, dari arah bandara Soekarno-Hatta, yakni lewat tol Tanjug Priok. soalnya, di radio aku dengar ada acara "pembebasan jalur cepat" Sudirman-Thamrin dari kendaraan bermotor. aku meyakini, Semanggi pasti macet.
padamnya listrik di Ngurah Rai, meninggalkan satu balasan sms di hp-ku, dari nmr orang penting: "waduh, pagi-pagi sudah ngomel, ingat yg dikirimi sms lagi puasa lho"...
padahal, aku merasa tidak mengomel. aku hanya mengirimkan sms: "airport Ngurah Rai listriknya mati. operasional bandara terhenti total. penumpang menumpuk di dalam tanpa penerangan. tidak ada pesawat yang bisa take off atau landing. inikah Republik yang kita cintai?" aku pernah tahu, nmr hp ini memang selalu berlebihan dalam menanggapi satu infomasi atau kabar. dulu, Republik Mimpi juga mendapatkan sms dari nmr ini. bang Faisal Basri juga pernah. aku tidak tahu, bagaimana dia membaca smsku.
apa listrik juga mati di rumahnya ketika membaca smsku? nggak mungkinlah....
Catatan Lepas Sebelumnya