Megawati dalam Tiga Skenario

Jumat, 14 September 2007

Sindo Sore, 9 September 2007


 


Rakernas II dan Rakornas PDI Perjuangan kali ini mempunyai nilai strategis. Selain melakukan evaluasi atas hasil Rakernas I di Bali, baik berupa implementasi dari pidato Megawati Soekarnoputri maupun rekomendasi yang dihasilkan. Kalau Rakernas I belum begitu jelas sinyalemen kearah posisi PDI Perjuangan dalam pemilu presiden tahun 2009, maka menjelang Rakernas II ini sejumlah permintaan datang agar Megawati menegaskan posisinya.



Untuk itu, terdapat tiga skenario yang bisa saja terjadi. Pertama, Megawati maju sebagai calon presiden bersama calon wakil presiden yang juga berasal dari PDI Perjuangan. Kedua, Megawati maju sebagai capres bersama cawapres dari luar, yakni tokoh yang bukan berasal dari partai politik. Ketiga, Megawati maju sebagai capres bersama dengan cawapres dari partai politik lain, namun diikat dengan koalisi permanen. Ketiga skenario itu memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Dengan mencari cawapres dari PDI Perjuangan, maka soliditas organisasi terus terjadi. Kompetisi dan kompetensi masing-masing cawapres itu diuji lewat parameter yang jelas, termasuk loyalitas kepada ideologi politik PDI Perjuangan, kinerja dalam organisasi, serta kemampuan dalam bidang-bidang yang dimasuki, misalnya sebagai legislator atau kepala-kepala daerah. Ukuran popularitas tentu dibutuhkan juga, tetapi yang lebih penting adalah kecakapan dalam organisasi dan kemampuan untuk membangun komunikasi politik secara luas dengan beragam kalangan.

Sementara, skenario mendapatkan cawapres dari kalangan luar sudah dilakukan dalam pemilu 2004, yakni lewat Hasyim Muzadi. Dampaknya cukup signifikan, yakni maju dalam putaran kedua, tetapi tidak cukup suara untuk menjadi pemenang. Skenario ala 2004 itu memang hanya mengarah kepada kemenangan, mengingat Hasyim adalah Ketua Umum Nahdlatul Ulama dengan jumlah pengikut yang besar. Apalagi, kala itu, Abdurrahman Wahid dianggap tidak memenuhi syarat sebagai capres oleh Ikatan Dokter Indonesia, sehingga praktis hanya Hasyim dan mewakili kelompok NU pada putaran kedua. Kita tahu, Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla tidak memiliki afiliasi dengan organisasi yang berbasis massa di Jawa Timur itu. Tokoh Populis

Nah, apakah skenario meraih tokoh populis yang didukung oleh organisasi massa besar itu kembali diulangi? Mengingat Hasyim masih menjadi Ketua Umum NU dan Gus Dur juga tampaknya masih disebut sebagai cawapres juga, maka apakah Megawati akan kembali bergabung bersama “pasangan tradisional”-nya itu? Pola hubungan antara kelompok nasionalis (dulu Partai Nasional Indonesia), sudah ditempuh sejak zaman Bung Karno. Selain Hasyim dan Gus Dur, mencari tokoh NU lainnya juga masih memungkinkan, sebut saja Saefullah Jusuf atau Muhaimin Iskandar. Ada juga sinyalemen bahwa yang dilirik adalah Yenny Wahid, terutama karena kedekatannya dengan Gus Dur dan Megawati pada 1999-2001, tetapi sinyalemen itu masih terlalu spekulatif. Kalau tidak NU, dari basis massa yang mana? Secara “statistik politik”, tersedia Din Syamsuddin sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Namun, identitas kepolitikan Din terlalu dekat dan lekat dengan Partai Amanat Nasional, Partai Matahari Bangsa dan juga kembali disebut sebagai mantan pengurus Partai Golkar, ketika Priyo Budi Santoso datang menyambangi beberapa waktu lalu. Karena bisa merangkul kalangan yang luas itu, baik di dalam atau di luar negeri, Din bisa saja menjadi calon unggulan.

Din bisa menjadi tetua bagi Soetrisno Bachir, Imam Abduruqutni dan Hajriyanto Thohari, serta para kader dan aktifis Muhammadiyah lainnya yang tersebar dalam banyak lembaga negara, partai politik, perguruan tinggi, pengusaha dan masyarakat sipil. Sekali lagi, tugas seorang cawapres Megawati yang paling penting adalah membangun komunikasi politik dengan beragam kalangan. Terbentuknya Baitul Muslimin dalam tubuh PDI Perjuangan adalah bukti awal bagaimana seriusnya upaya menjembatani kepentingan antara kelompok-kelompok nasionalis dengan Islam moderat. Berbeda dengan NU, nama Din tentu sendirian sebagai wakil kelompok Muhammadiyah. Selain mereka, terdapat juga nama Jimly Assidique dan Ryamizard Ryacudu. Jimly juga membangun basis di kalangan cendekiawan Islam, sekaligus juga memiliki perspektif yang baik di bidang hukum dan pemerintahan. Hampir semua produk hukum yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi mendapatkan sentuhan Jimly, bersama delapan hakim konstitusi lainnya. Sedangkan Ryamizard mendapatkan berkah dari pola hubungan sipil dan militer yang tentu makin meredup sebagai isu politik penting.

Koalisi Permanen Tinggal kini skenario terakhir, yakni PDI Perjuangan akan maju bersama partai-partai lain, terutama tetap dengan posisi Megawati sebagai capres. Koalisi ini sebetulnya sudah mulai dibangun, ketika Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla terpilih sebagai presiden dan wakil presiden. Tokoh kuncinya adalah Akbar Tandjung. Tetapi terbukti, koalisi permanen ini bisa dipatahkan pamornya oleh kolaborasi tokoh-tokoh lain dalam tubuh Partai Golkar, yakni dengan kekalahan Akbar untuk kembali menjadi Ketua Umum Partai Golkar.

Koalisi kepartaian rentan dengan pergantian kepengurusan. Ketika pengurus berganti, kebijakan strategis partai bisa jadi juga berganti. Apalagi di dalam sistem politik Indonesia tidak dikenal kekuatan hukum dari perjanjian antara dua partai politik atau lebih. Apakah perkara antara dua partai politik bisa diajukan ke pengadilan? Apa jenis pengadilannya? Kalau koalisi hanya menurut selera dari para ketua umum atau fungsionaris utama partai-partai politik, maka apa yang disebut sebagai kepermanenan mustahil bisa dijalankan. Jadi, apabila Megawati bersama dengan salah satu ketua umum partai politik, misalnya Soetrisno Bachir, Suryadharma Ali, Muhaimin Iskandar, Jusuf Kalla, atau Tifatul Sembiring, maka hubungan itu tetap bersifat personal. Nama-nama itu akan tetap harus berjuang di dalam partai politiknya masing-masing agar mendukung pemerintahan, apabila pasangan itu menang. Tidak ada makan siang yang gratis, sebagaimana terkenal dalam dunia politik. Apalagi, jabatan presiden dan wakil presiden adalah jabatan perseorangan, bukan jabatan politik, sehingga masalah apapun yang terkait dengan penyalahgunaan jabatan itu akan berhadapan dengan hukum perseorangan. Partai politik tidak bisa dibubarkan atau dipenjara, apabila presiden atau wapres dari partai politik itu korupsi, misalnya.

Dengan uraian itu, terlihat bahwa Megawati dan PDI Perjuangan lebih baik mencari orang, satu atau dua nama, untuk dipasangkan dengan Megawati. Apabila bertemu, tugas berikutnya adalah mempopulerkan nama itu. Satu tahun lebih untuk mempopulerkan satu nama bukanlah waktu yang pendek. Dalam sehari atau seminggu, satu nama bisa berkibar di hati rakyat, apalagi dengan keberadaan begitu banyak konsultan politik atau kehadiran media massa sekarang ini. Cukup satu atau dua nama, Mbak. Tidak perlu memikirkan yang lain...
» KOMENTAR (2)
  • kunjungi kami di www.pdiperjuangan-jatim.org

    thanks

    Posted by
    hanif arya on October 19th, 2008, 04:28:36 PM
  • asw.
    penting!
    prestasi mantan presiden kita yang kini mencalonkan diri kembali menjadi capres pemilu 2009:
    1.menjual indosat dengan harga sangat mirah kepada singa pura yang notabene merupakan "pencuri" kekayaan alam kita.
    2."memindahkan" perusahaan Sony yang cuma satu2nya di Asia tenggara ke Singapura.
    3.Cuma tamat SMA???
    4. tidak bisa pidato,bisanya cuma baca teks.???
    5.terkait penjualan tanker pertamina dengan harga sangat murah kepada asing.????
    6.tidak sportif.(saat kalah dari pres SBY tidak mau mengakui)???
    Mari kita renungkan sejenak.Hal ini benar adanya ,untk itu pintar2lah dalam memilih pemimpin,sebab pemimpinlah yang akan menentukan ke arah mana negara ini akan dibawa nantinya.Diskusikanlah hal ini dengan orang yang anda kenal ,apakah ini benar?
    Ingatlah saudara2 kita yang kelaparan,miskin dikejar2 hutang dan menderita,jika kita peduli pada mereka ,maka pintar2lah dalam memilih calon presiden.
    Maaf bila saya terlelu berapi2,tidak ada niat untuk meyudutkan satu pihak tertentu saya hanya ingin kita semua membuka pikiran kita semua.Sudah saatnya bangsa ini maju. Aku cinta Indonesia,kita senua cinta Indonesia.

    Posted by sadi on December 4th, 2007, 10:26:11 AM

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com