Politik Rajawali Surya Paloh

Selasa, 17 Juli 2007

(catatan: ini saran dari teman sekelasku, Anuri. dia katakan, agar aku menulis dalam keadaan apa dan karena apa aku menulis kolom. dia belajar jurnalisme presisi, sosiologi media, dll. wah, ini menarik. baik, kutulis sedikit. kolom ini bernama "kolom permintaan", alias diminta oleh Majalah ADIL, berikut temanya, lewat sms. karena tema laporan utama soal Surya Paloh, aku tulis kolom ini. nah, kenapa judulnya "politik Rajawali"? setiap kali ke Metro TV atau Media Indonesia, aku "terpana" melihat begitu anggun dan gagah patung Burung Rajawali yang menghiasi kantor yang termasuk paling megah untuk ukuran media itu. ada tulisan Surya Paloh juga pada dinding, tetapi aku lupa mencatatnya, tentang filosofi Rajawali ini. setelah membaca edisi cetaknya, ada satu bisnis Paloh lagi yang lupa kutulis, padahal sudah ada dalam "data impuls sarafku", yakni bisnis catering. sekian, dan semoga berguna bagi Anuri dan yang lain)...





Majalah Adil, 12-25 Juli 2007, hal 16-17

Dengan dalih silaturahmi, dua petinggi partai politik bertemu di Medan, berikut jajaran inti kepengurusan, yakni Partai Golkar dan PDIP. Dua tokoh penting itu adalah Surya Paloh dan Taufik Kiemas. Publik mengenal keduanya sebagai pengendali Partai Golkar dan PDIP. Sekalipun tidak menempati posisi sebagai ketua umum (eksekutif), Paloh adalah tokoh yang mengusung Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum Partai Golkar dan sekaligus menunjukkan kedekatan politik dengan Susilo Bambang Yudhoyono.

Paloh adalah generasi pengusaha yang berbondong-bondong memasuki dunia politik, setelah Sooeharto mengundurkan diri sebagai Presiden RI pada 21 Mei 1998. Ia memiliki keberanian politik, sekaligus kejeniusan dalam mengembangkan perusahaan penerbitan, sampai jaringan hotel. Pada masa Orde Baru, media yang dimilikinya, yakni Prioritas, pernah dibreidel oleh rezim. Tetapi, Paloh tidak patah arang, serta terus melangkah dengan beragam bisnis.

Lewat Media Group, yakni Metro TV, Media Indonesia dan Lampung Post, Paloh menjadi kekuatan bisnis penerbitan dan penyiaran nasional. Pilihan-pilihan posisi Media Group terpancarkan lewat editorial-editorial di Media Indonesia, sekaligus juga dipancarkan lewat informasi Metro TV. Editorial itu memberikan tekanan-tekanan tertentu atas persoalan atau isu yang disorot, sehingga sering dikatakan sebagai perspektif dari pemiliknya, Surya Paloh. Beberapa program televisi populer, seperti Republik Mimpi dan Kick Andi, juga dianggap sebagai representasi sosial dan politik dari pemiliknya. Tidak heran kalau media lain menghubungkan “kegagalan” Paloh sebagai anggota dan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden akibat “penolakan” Paloh menghentikan tayangan Republik Mimpi yang banyak menyindir para pejabat negara.

Paloh juga pernah dikalahkan oleh Wiranto dan Akbar Tandjung dalam pemilihan calon presiden Partai Golkar. Prosesi yang dikenal sebagai Konvensi Nasional itu melibatkan para calon seperti Akbar, Wiranto, Aburizal Bakrie, Paloh, dan Prabowo Subianto. Kekalahan Akbar dalam putaran kedua pemilihan disinyalir berasal dari “pelarian” suara pendukung Paloh ke Wiranto. Namun, dalam pemilihan Ketua Umum Partai Golkar di Bali, justru Wiranto dan Akbar yang dikalahkan oleh Paloh, beserta tujuh orang tokoh kuat lain yang disebut Akbar sebagai “delapan penjuru angin”, yang mendukung Kalla. (Nama-nama delapan pengusaha quasi politikus itu, menurut informasi yang kuperoleh, adalah Aburizal Bakrie, Agung Laksono, Fadel Muhammad, Ginandjar Kartasasmita, Jusuf Kalla, Prabowo Subianto, Siswono Yudhohusodo dan Surya Paloh. Ada juga yang menyebut bukan Fadel, tetapi Aksa Machmud, ipar Jusuf Kalla. Ijp).

Dalam model politik yang berlangsung secara tidak beraturan, langkah Akbar membentuk Koalisi Kebangsaan sejak pemilihan presiden dan wakil presiden putaran kedua – sebagaimana diketahui, Partai Golkar mendukung Megawati Soekarnoputri, setelah Wiranto terpental dalam putaran pertama – sampai perebutan pimpinan DPR, justru tidak diminati Paloh. Koalisi Kebangsaan berantakan, setelah partai-partai pendukung Yudhoyono-Kalla membangun Koalisi Kerakyatan. PDIP memilih oposisi, sementara Golkar beralih mendukung Yudhoyono. Hanya saja, ketika Akbar mulai kembali mendapat tempat pada sisi Yudhoyono, justru Paloh dan Golkar bermain mata dengan PDIP.

Poros Para Tokoh

Potret itu memerlihatkan betapa langkah Paloh di Medan bukanlah sesuatu yang luar biasa. Itu hanyalah model paling sederhana dalam politik di Indonesia, terutama yang digerakkan oleh para aktor-aktor yang terbatas sejak 1999. Upaya mengangkat Abdurrahman Wahid sebagai presiden, mencampakkannya di tengah jalan, membangun komitmen kepada Megawati, lantas beramai-ramai menistakan model pemerintahannya, sering dilakukan oleh orang yang sama.

Jadi, tidak ada jalan yang lurus bagi tokoh-tokoh itu. Ketika satu langkah sedang dijalankan, maka persiapan dan skenario langkah-langkah alternatif lain sebetulnya sedang dikerjakan, baik secara simultan atau paralel, maupun sebagai rencana cadangan.

Paloh termasuk aktor yang jeli melihat beragam peluang perubahan itu. Dan ia sudah melakukan sejak Orde Baru masih menjadi kekuatan dominan, represif dan otoriter. Sikap kritis yang Ia bangun, sekaligus juga diikuti dengan langkah-langkah lain dengan cara menyusun FKPPI. Paloh tidak lantas menjadi seorang fatalis atau ideolog politik murni, dengan cara berpegang teguh pada posisi politik tertentu. Ia terlihat menyukai dinamika, bukan kelembaman.

Kehadiran Media Indonesia Minggu yang “menampung” para anak-anak muda dan jurnalis kritis pada masa Orde Baru, telah menunjukkan bagaimana Paloh mengelola perbedaan pendapat, sekaligus melakukan manajemen konflik dengan baik.

Lalu, ada apa dibalik agenda Medan, selain hanya berputar-putar pada persoalan NKRI, Pancasila, dan UUD 1945? Satu hal yang mulai menguat sekarang adalah terbangunnya kesadaran tentang “persaingan Sumatera” di kalangan para elite politik. Terlepas dari isu primordial yang terbangun, sudah menjadi pakem politik Indonesia moderen betapa antara RI-1 dan RI-2 haruslah gabungan dari Jawa-Luar Jawa. Suara-suara itu muncul hampir pada semua elite politik, termasuk ucapan bahwa orang diluar Jawa tidak mungkin menjadi presiden. Pakem ini mirip dengan jabatan Perdana Menteri di Kanada yang harus berasal dari Quebec.

Pengganti Hatta-Malik

Pertarungan elite-elite Sumatera inilah yang kini mengemuka. Paloh dan Kiemas adalah tokoh politik yang berasal dari Sumatera, selain tokoh-tokoh seperti Aburizal Bakrie, Hatta Rajasa, Akbar Tandjung, Ryamizard Ryacudu, dan Jimly Assidique. Mereka sudah melewati batas-batas tokoh-tokoh lokal-primordial. Nama-nama ini akan bersaing menjadi calon wakil presiden ketiga setelah Muhammad Hatta (di bawah Presiden Soekarno) dan Adam Malik (di bawah Presiden Soeharto). Barangkali, di antara mereka juga akan bersaing menjadi calon presiden.

Terdapat satu nama yang pernah menjadi simbol Sumatera-Jawa, yakni Megawati Soekarnoputri. Megawati sampai hari ini masih menjadi pesaing utama Yudhoyono untuk merebut posisi presiden untuk kedua-kalinya. Kalaupun terdapat nama-nama selain tokoh-tokoh yang berasal dari Sumatera itu, terdapat juga Jusuf Kalla, Din Syamsuddin, Agung Laksono dan Hidayat Nurwahid yang potensial menjadi calon Presiden dan atau Wakil Presiden.

Memang, terdapat nama-nama lain yang mengemuka sebagai calon presiden, seperti Wiranto, Sutiyoso, atau bahkan juga Sultan Hamengku Buwono X dan Prabowo Subianto. Tetapi belum begitu banyak kerumunan orang-orang politik di sekitar mereka, mengingat eksistensi partai politik yang akan mendukung belum begitu terlihat. Sejumlah partai politik yang lahir belakangan ini disinyalir mencoba mendukung proses itu, tetapi harus melewati proses verifikasi administratif dan faktual oleh Komisi Pemilihan Umum.

Paloh, sadar atau tidak, sebetulnya sudah mulai mengangkat nama-nama tokoh ke permukaan sebagai calon pemimpin dari generasi lama. Ia juga memberi jalan bagi publik untuk melakukan inventarisasi, evaluasi dan juga proyeksi, jauh sebelum proses seleksi kepemimpinan nasional dilakukan. Barangkali, Ia ingin menghindari kesan ketiba-tibaan, yakni hanya karena kesalahan ucap Taufik Kiemas – misalnya --, popularitas seseorang lantas menanjak naik.

Seperti seekor rajawali, sebagaimana ikon perusahaan yang dia pimpin, Paloh terus mengawasi setiap wilayah perburuan politiknya, dengan tatapan mata nyalang dan suara menggelegar. Paloh memainkan politik rajawali, yakni berburu di waktu siang hari, ketika banyak pihak sedang bekerja dengan kewaspadaan penuh. Ciri-ciri ke-Acehan, dengan sikap yang luwes, tetapi juga penuh trik, serta keterbukaan berpikir, telah membantunya untuk mengenali persoalan politik secara lebih baik. Ciri-ciri itu juga mirip dengan yang dimainkan oleh Kiemas dan Kalla.

Sehingga, politik keterbukaan dan komunikasi langsung yang dilakukan oleh Kiemas dan Paloh, seharusnya tidak dicurigai sebagai langkah politik yang penuh tipu muslihat. “Ini Sumatera, Bung! Mari, Bung, rebut kembali!” Barangkali hentakan kalimat itu yang tidak sempat mereka ucapkan....
© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com