Tarian RMS, Balada Yudhoyono

Jumat, 6 Juli 2007

Seputar Indonesia, 5 Juli 2007



Tidak sampai seminggu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerlihatkan mimik muka yang berbeda. Di hadapan para korban semburan lumpur panas Porong, Sidoarjo, yang datang ke Cikeas, Yudhoyono menangis. Yudhoyono lantas melihat lagi areal semburan dari udara.





Sementara, di hadapan para peserta peringatan Hari Keluarga Nasional di Ambon, Yudhoyono memperlihatkan kemarahan. Sikap emosional itu dipicu oleh tarian perang para pemuda yang membentangkan bendera Republik Maluku Selatan (RMS). Bahkan, para pemuda itu juga mengenakan celana dalam RMS. Barangkali mereka belajar dari film-film Hollywood yang dengan enteng mencelana-dalamkan bendera Amerika Serikat, bahkan juga memamerkan untuk penutup aurat perempuan.

Jakarta memang tidak memberi perhatian kepada RMS. Selama ini, teriakan tentang RMS justru dilakukan oleh para pimpinan Laskar Jihad dalam dan pasca-konflik Maluku. Percampur-adukan antara persoalan identitas RMS dengan masalah-masalah keagamaan itulah yang menyebabkan pemerintah berhati-hati, karena bisa memicu kontroversi yang kontra-produktif.

Celakanya, kehati-hatian itu justru berujung kepada pengabaian. Terdapat kesan kuat kalau pemerintah jarang melakukan upaya pengisolasian atas persoalan-persoalan separatisme, dengan cara membangun pola komunikasi yang intensif dengan masyarakat. Dari sini, pihak-pihak RMS mengambil keuntungan, termasuk memanfaatkan kelengahan pemerintah, terutama aparatur keamanan. Dalam balada Yudhoyono kali ini, para penari RMS-pun mengambil kesempatan.

Tentu, terlalu jauh kalau kita melihat bahwa kemampuan para penari itu menunjukkan eksistensi RMS atau bahkan mengancam keselamatan negara dan kepala negara. Sejauh yang bisa kita perhatikan, pola aksi RMS tidaklah dalam bentuk unjuk kekuatan bersenjata, sebagaimana beberapa kali diperlihatkan oleh Organisasi Papua Merdeka. RMS hanya berbentuk balon-balon udara, layang-layang, bendera-bendera, lalu foto-foto yang disebarkan di internet. RMS lebih banyak sebagai kegiatan simbolis, daripada aksi-aksi sporadis yang bisa membahayakan diri para aktivisnya.

Ketika para penari muncul dalam balutan bendera RMS, berarti panggung sudah diubah kepada ajang kesenian. Perjuangan RMS-pun telah masuk ke ranah kebudayaan. Karena kebudayaan adalah jantung dari seluruh (hasil) capaian manusia, sebagaimana manusia juga menjadi unsur pembentuk kebudayaan, maka RMS sebetulnya telah menegaskan eksistensinya melampaui pola-pola perjuangan bersenjata. Kaum muda yang bergerak (digerakkan?) untuk menari atas nama RMS, tanpa mereka harus bertanya untuk apa dan dengan tujuan seperti apa gerakan itu dilakukan, sesungguhnya berada pada situasi kesadaran yang matang.

Tanggungjawab Aparat

Reaksi Yudhoyono atas penampilan para penari itu menunjukkan rasa ketersinggungan besar, bukan hanya kepada para penari, tetapi lebih kepada aparatur pemerintah yang bertanggungjawab atas kegiatan itu. Siapapun pasti merasa ternodai, apabila bendera yang dilarang berkibar langsung diperlihatkan di depan banyak mata. Yudhoyono bukan malah berhasil menjelaskan dengan baik tentang arti penting keluarga dalam kehidupan sekarang, tetapi seluruh perhatiannya tertuju kepada RMS.

Cara RMS merampas perhatian Presiden, berikut masyarakat nasional dan internasional, terbukti ampuh. Persiapan matang pemerintah dengan pembiayaan besar atas kegiatan di Ambon itu seperti lenyap tanpa arti, dikalahkan oleh persiapan “serabutan” selama tiga kali pertemuan oleh para penari yang bermodalkan penganan tradisional. Pengaruh media menjadi dominan dalam meraih legitimasi bagi RMS. Sementara aparat terlihat kedodoran, kebingungan, saling tuding, bahkan memberikan keterangan bertentangan.

Apabila setiap kegiatan, kebijakan dan tindakan Yudhoyono menemukan titik-titik perlawanan, bisa diperkirakan betapa gusarnya Sang Presiden. Dalam masalah semburan lumpur di Porong, Sidoarjo, Yudhoyono seolah berlomba dengan begitu banyak tuntutan dan keinginan warga yang disalurkan secara berlainan dengan beragam tokoh. Hampir semua saluran itu berujung kepada nada seru: Yudhoyono harus mengambil tindakan! Tidak lagi mudah bagi Yudhoyono atau siapapun yang menjadi penyelenggara negara hari ini untuk mengatakan bahwa mereka belum menerima laporan lengkap dari bawahan.

Protes demi protes yang dipertunjukkan oleh warga masyarakat pada setiap panggung yang disediakan untuk Yudhoyono, bisa jadi akan memunculkan sikap defensif dan serba ketertutupan oleh Yudhoyono. Selama ini, Yudhoyono selalu membuka banyak saluran untuk mendengarkan pendapat, laporan dan informasi warga, termasuk dengan membaca koran, membuka kotak pos pengaduan, menerima langsung lewat telepon seluler, sampai menugaskan staf khusus dalam menerima kiriman short message service oleh warga. Rupa-rupanya, beragam saluran itu berbuah kepada berjenis beban dan keluhan yang datang bersamaan.

Sementara, aparat yang kecewa dan ingin bertindak jumawa, tidak lagi bisa bersikap sembarangan, misalnya dengan melakukan aksi-aksi represif. Para wartawan pasti dengan enteng menulis laporan :”Wajah pelaku yang berdarah usai diperiksa” dan berita semacam itu. Kalangan masyarakat sipil juga akan menurunkan tim-tim independen pencari fakta, sebagaimana terjadi dalam kasus penembakan warga di Pasuruan oleh aparat marinir. Belum lagi anggota legislatif, baik lokal atau nasional, dengan cara memaksimalkan fungsi pengawasan.

Kehadiran para penari di Ambon dan penembakan warga di Pasuruan, dengan jelas menunjukkan tingkat degradasi profesionalitas aparat. Kuncinya terletak kepada ketidak-tahuan atas perkembangan yang terjadi dalam ranah sosial dan politik. Penataan profesionalisme aparat dengan cara menyuruh mereka kembali ke barak, dalam hal ini tentara dan serdadu, telah memunculkan garis demarkasi yang tidak saling berhubungan. Demokrasi yang membawa arus perubahan dalam masyarakat, ternyata meninggalkan juga persoalan-persoalan disinformasi di kalangan lembaga-lembaga struktural yang ditakuti di masa lalu.

Kita tentu tidak tahu, dimana ujung dari persoalan-persoalan sporadis sekarang. Yang jelas, balada Yudhoyono ke banyak tempat tidak selalu berakhir dengan rasa bahagia. Beragam usaha dari para warga untuk menarik perhatian Yudhoyono akan terus dilakukan, entah di Ambon, Sidoarjo, dan bagian Indonesia lainnya. Yudhoyono tidak hanya akan berhadapan dengan penari, petani, nelayan, pengungsi, para mahasiswa, tetapi juga elemen-elemen masyarakat lain yang semakin cerdas mengemas aksinya.

Dan Yudhoyono harus bersiap dengan perubahan-perubahan mimik muka lagi, atas apa-apa yang dilihat dan didengarnya...
Kolom Sebelumnya
© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com