Kembalikan, Kampung Halamanku…

July 25, 2008

Nafas Politik Taufik Kiemas

Filed under: Kolom — indrapiliang @ 8:49 am

Majalah Adil, Edisi 35, II, 24 Juli – 20 Agustus 2008, halaman 16-17Nafas Politik Taufik Kiemas

Oleh

Indra Jaya PiliangAnalis Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Jakarta  Dalam setahun terakhir ini, PDIP menjadi partai yang meraih posisi puncak dalam setiap survei yang diadakan oleh Lembaga Survei Indonesia, Indo Barometer dan lembaga lain. Kemampuan PDIP mempertahankan popularitasnya itu tidak terlepas dari strategi yang diambil untuk menjadi partai oposisi di tingkat nasional. Pasca-kenaikan BBM, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyalip Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono sebagai calon presiden pilihan. Kekecewaan kepada SBY menyebabkan pemilih mengalihkan suara ke Megawati. (more…)

Rezim Developmentalisme Demokratis

Filed under: Kolom — indrapiliang @ 3:02 am

Rezim Developmentalisme Demokratis
Padang Ekspres, Jumat, 25 Juli 2008

 

Oleh : Indra J Piliang, The Indonesian Institute, CSIS dan Alumnus SMA 2 Pariaman

Pertanyaan terpenting selama 10 tahun terakhir ini adalah apakah demokrasi di Indonesia sudah tumbuh subur? Banyak yang menjawab sudah dengan begitu banyaknya partai politik nasional, ditambah dengan parpol lokal di Aceh. Calon perseorangan juga sudah maju dalam pilkada. Kalangan intelektual bisa maju ke dunia politik, sebagaimana dicoba oleh almarhum Nurcholish Madjid dalam pemilu 2004. Sementara, kalangan politikus juga berhasil menjadi akademisi, seperti yang diraih oleh Akbar Tandjung.

(more…)

July 19, 2008

Minang dan Pemilu 2009

Filed under: Kolom — indrapiliang @ 1:33 pm
Minang dan Pemilu 2009
Sabtu, 19 Juli 2008

Oleh : Indra J Piliang, The Indonesian Institute, CSIS dan Alumnus SMA 2 Pariaman

Kampanye pemilu legislatif 2009 telah dimulai. Gempitanya sudah sampai di ranah Minang. Akan bertebaran gambar-gambar para calon anggota legislatif, lengkap dengan tanda gambar parpolnya masing-masing, di parak, jalanan, pasar, sampai tempat-tempat yang strategis seperti lapau.

Pertanyaan sekarang, apa arti dari hiruk-pikuk pemilu 2009 ini bagi ranah Minang? Akankah ia hanya lewat begitu saja, seperti banjir di bendungan yang tidak mengubah tepian? Konsolidasi demokrasi yang sekarang berjalan membutuhkan sumberdaya manusia yang baik. (more…)

July 16, 2008

Partai Baru Kontra Partai Lama

Filed under: Kolom — indrapiliang @ 4:28 pm

Sindo, 17 Juli 2008Partai Baru Kontra Partai Lama

Oleh

Indra Jaya PiliangAnalis Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Jakarta  Tanggal 12 Juli lalu adalah hari pertama kampanye partai politik peserta pemilu 2009. Pasal 81 UU No. 10/2008 tentang Pemilu menyebut kampanye itu berupa pertemuan terbatas; pertemuan tatap muka; media massa cetak dan media massa elektronik; penyebaran bahan kampanye kepada umum; pemasangan alat peraga di tempat umum; dan kegiatan lain yang tidak melanggar larangan kampanye dan  peraturan perundang-undangan. Yang belum dilakukan adalah rapat-rapat umum. Sebanyak 34 partai politik nasional akan menggunakan kesempatan selama sembilan bulan ini untuk memperkenalkan parpolnya masing-masing. (more…)

July 15, 2008

Warna Merah dalam Pilkada

Filed under: Kolom — indrapiliang @ 5:15 pm

Suara Merdeka, 14 Juli 2008
Warna Merah dalam Pilkada

  • Oleh Indra Jaya Piliang

DALAM sebulan terakhir, PDI-P memenangi pilkada gubernur dan wakil gubernur di Jawa Tengah, Bali dan Maluku. Kemenangan itu menandakan partai itu masih memenangkan basis-basis tradisionalnya.

Akan menjadi pukulan telak, apabila PDI-P kalah di Bali dan Jawa Tengah, sebagaimana Partai Golkar kalah di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Artinya, kemenangan partai itu tidaklah mengejutkan. PDI-P mampu mensingkronkan mesin partai politik dengan figur yang diusung.
(more…)

July 13, 2008

10 Tahun Reformasi

Filed under: Berita — indrapiliang @ 5:03 am

Memperingati 10 Tahun Reformasi: Reformasi Jilid II

Terakhir diperbarui: Senin, 30 Juni 2008. .

10YR_ERD_web.JPG

Jakarta, Kemitraan. Perekonomian di persimpangan, oligarki kekuasaan di daerah, hingga kecelakaan sejarah merupakan isu-isu yang diangkat para pakar dari berbagai bidang. Pendapat-pendapat tersebut disampaikan dalam diskusi meja bundar para pakar yang diselenggarakan Kemitraan untuk mendiskusikan dan membahas berbagai satu dekade Reformasi 1998. Selain Dasa Warsa Reformasi, acara ini juga bertujuan untuk memperingati momentum-momentum bersejarah lain yaitu 80 Tahun Sumpah Pemuda dan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, di Jakarta (27/6). (more…)

July 7, 2008

Parpol,Berbenahlah!

Filed under: Kolom — indrapiliang @ 4:31 am

Sindo, 070708Parpol, Berbenahlah! OlehIndra Jaya PiliangAnalis Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Jakarta 

Lembaga Survei Indonesia (LSI) dalam jajak pendapat terbarunya mengumumkan betapa legitimasi partai politik menempati peringkat terendah dalam menyuarakan keinginan rakyat. Urutan teratas ditempati oleh media massa (31%), ormas (24%), birokrasi (11%) dan parpol sendiri (11%). Parpol lagi-lagi hanya diyakini oleh 42% responden bekerja sesuai dengan perannya, jauh lebih rendah dari TV (76,5%), koran (72%), radio (72%), LSM (61%), ormas (57%) dan birokrasi (53%). (more…)

July 3, 2008

Tali Geni dan BIN

Filed under: Berita — indrapiliang @ 7:55 am

Catatan: Aku hadir di Tugu Proklamasi atas undangan Adian Napitupulu, dll. Berdiskusi disana. Tapi aku tidak ikut aksi. Nah, lalu ada anarki, penangkapan Ferry, dll. Rumit.

Senin, 23 Juni 2008 23:18 WIB

Aktivis Lintas Generasi Tolak Kenaikan Harga BBM

Penulis : Kennorton Hutasoit

JAKARTA–MI: Aktivis mahasiswa menggelar temu lintas generasi di Tugu Proklamasi, Jakarta, Senin (23/6). Pada pertemuan itu mereka menolak kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Temu aktivis yang diikuti mahasiswa dari berbagai daerah itu berlangsung 23-25 Juni 2008. Mereka menggelar rangkaian kegiatan seperti diskusi dan aksi unjukrasa.

Hari ini temu aktivis menggelar diskusi yang menampilkan mantan aktivis mahasiswa 1998 sebagai pembicara yakni Indra J Piliang, Roy Simanjuntak, Yanuharis Frans Banjarmasin, dan Asilema.
(more…)

Kembalikan (Lagi) Kampung Halamanku

Filed under: Catatan Lepas — indrapiliang @ 7:15 am

Kembalikan (Lagi) Kampung Halamanku  

Aku pulang kampung, sebentar. Pertama, aku mau sungkem dengan nenek dan kedua orangtuaku, karena minggu depan aku ada ujian di kampus. Kedua, untuk melihat perubahan sungai di kampungku, di depan rumah kami, setelah dibangun dam batu (batu baronjong) untuk mengendalikan banjir.  

Dan tiba-tiba, aku merasa sedih. Kampungku tidak lagi kampung. Aku sejenak terpana, betapa arus sungai tidak lagi berupa arus yang mencari jalannya sendiri, tetapi dibuatkan jalan. Jalan yang lurus, sungai yang lurus. Tidak lagi berbelok, lurus, belok lagi, sesukanya. “Tiap kali air banjir, tiap kali tepian berubah”, menurut pepatah lama, mungkin kini jadi kenangan.  

Mobil yang dulu jauh sekali ditaruh, kira-kira 2 km, kini hanya berjarak kurang dari 500 meter dari rumahku. “Magis” sebuah perjalanan pulang, sebagai tetirah, berjalan kaki, menginjak rumput berduri, celana tersingsih, sepatu yang dibimbing, apalagi kalau ada hujan dan banjir, tidak lagi terasa.  

Duh, aku menjadi tahu, mengapa aku tidak terlalu suka dengan pembangunan fisik. Mengapa aku tidak kagum dengan gedung-gedung tinggi. Mengapa aku takut pada ketinggian. Aku merasa sebagai manusia tanah dan lumpur, juga manusia air. Hidup dengan sawah, sungai, laut, ombak, gelombang, lalu terkadang badai, guruh, segalanya yang alami dan datang dari alam. Aku menjadi kesulitan menemukan tempat, kini, sebuah tepian berpasir dan berkerikil, lalu malam-malam pukul 10, aku tiduran, merebahkan diri, mendengar desis air dan desis angin, lalu memandang kepada bintang-bintang di langit, mengingat lagi mana bintang pari dan bintang-bintang lain.  

Aku merasa kehilangan kampungku, kampungku yang dulu. Lubuk yang paling dalam kini sudah berkerikil. Bumi yang kian terkelupas, dihimpit oleh benda-benda raksasa yang masuk kampungku, lalu membidangi tanah, membongkar menimbun, dan mengarahkan air bergerak lurus. Permukaan bumi yang dibangun oleh manusia, telah menghilangkan kampungku, hidupku, masa laluku, ingatanku, kegairahanku.  

Revi Marta Dasta, yang menemaniku ke kampungku, bersama satu mahasiswa lain, malah tercengang, “Bang, aku tidak pernah berpikir, ini kampung abang. Segeralah tulis. Bagaimana bisa kampung seperti menghasilkan orang seperti abang?”  

Begitulah komentar-komentar yang sudah lama hinggap di telingaku. Ah, kau, Revi, seandainya kau datang sebelum dam ini datang, sebelum sungai ini lurus, apa lagi komentarmu? Apa seperti komentar teman-temanku yang lain, Refly Harun, Saldi Isra, ES Ito, Miftah M Sabri, serta teman-temanku yang lain yang datang sebelum dam ini ada? Ketika sesuatu dibangun, saat itu juga sesuatu yang lain ditimbun. Manusia, dengan penuh gembira, membangun sesuatu, lalu menimbun yang lain. Yang aku rasa jauh lebih berharga, dibandingkan dengan listrik yang masuk ke kampungku tahun 2002, televisi yang datang, radio yang memekakkan telinga.  

Kembalikan lagi kampungku, kampung halamanku. Kemana ia pergi? Aku justru tafakur, sedih, dengan situasi yang tidak alami ini.  

Aku tidak bisa membayangkan, ketika nanti, suatu hari, jembatan juga berdiri, sehingga kami tidak lagi menjadi “orang seberang”, lalu mobil langsung masuk pagar halaman, sawah-sawah ditimbun untuk dibuatkan jalan. Aku tidak sanggup membayangkan itu. Kesedihan yang kurasakan, kehancuran yang memukul-mukul dadaku.  

Tapi itu yang diinginkan oleh orang-orang kampungku. Seperti biasa, ketika aku ketemu dengan amai-amai, etek-etek, nenek-nenek, para perempuan yang kuat berjalan, lalu kini menjadi renta dan nestapa, selalu saja mereka membisikkan kalimat-kalimat halus, “Yaya (panggilanku), sudah makin letih kaki ini menyeberangi sungai ini. Yaya, entah kapan kami bisa meniti di sungai ini. Yaya…”  

Jiwaku menggelegak. Apakah aku harus mengubah motto hidupku untuk itu? Tidak lagi mengalir bersama ombak?  

Kampungku, kembalikan ia.. 

Jakarta, 3 Juli 2008 

July 1, 2008

Hak Angket dan “Pengkhianat Besar”

Filed under: Kolom — indrapiliang @ 3:26 am

Jurnal Nasional, 1 Juli 2008 dan Padang Ekspress, 3 Juli 2008

Hak Angket dan “Pengkhianat Besar”

Oleh

Indra Jaya Piliang

Analis Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Jakarta 

Anggota DPR RI dalam Sidang Paripurna tanggal 24 Juni 2008 mengeluarkan keputusan penting, yakni menggunakan hak angket untuk kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak yang dilakukan pemerintah. Hak angket itu diatur dalam pasal 27 ayat (b) UU No. 23/2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD dan DPRD yang kini tengah direvisi. Penjelasan pasal itu menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan hak angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. (more…)

Next Page »

Powered by WordPress